Home > Forum Paralel > Berbagi Suka sebagai Motivasi dalam Pengembangan Perpustakaan Kelas

Berbagi Suka sebagai Motivasi dalam Pengembangan Perpustakaan Kelas

Judul yang kepanjangan.

Pada puasa lalu (2014) saya mendapat beberapa buku pemberian Ali Abdulah, Direktur MGS (Mizan Grafika Sarana). Lumayan banyak. Semuanya buku baru. Buku berjudul “Pesan Al-Quran untuk Suami-Istri” sungguh mencerahkan. Selepas membacanya saya segera berkirim pesan kepada beliau agar buku itu dibaca orang sekantor yang menjadi bawahannya. Saya memang membayangkan keluarga-keluarga yang segar, dinamik dan penuh kasih kalau membaca buku ini.

Ternyata bukunya sudah habis didistribusikan. Tidak ada pembicaraan terkait buku itu. Lagian memang kami juga terhimpit dan sesak oleh ganjang-ganjing Pilpres. Baru menjelang Lebaran saya mendapat pesan singkat: Buku Bambang Q. Anes keren dan keren. Saya mau jadikan kado Leberan buat anak-anak. Oh!

Lalu, enatahlah bagaimana tersambungnya dengan ide lain, di Forum Paralel saya menceritakan kejadian di atas, termasuk kegembiraan lain saya untuk membeli buku itu agak banya dan memberikannya pada beberapa orang pada beberapa kesempatan. Haifa, anak berkebutuhan khusus SD Hikmah Teladan, mendapat hadiah buku itu menjelang pernikahannya. Ari, anak hilang yang aku sempat asuh sekitar setahunan saat usia menjelang SD, mendapat buku itu saat berkunjung untuk pertamakalinya bersama istri dan bayinya. Saya ingat meninggalkan buku itu di pelosok Cipatujah saat mendirikan sekolah baru pertama di tahun 2014. Tentu saja buku itu paling aktif saya promosikan kepada guru-guru SD Hikmah Teladan. Dan lain-lain, tapi tidak termasuk istriku. Buku untuknya sampai saat ini masih keburu saya berikan untuk yang lain. Kan, besar sekali kegairahan saya berbagi melalui buku itu. Apakah anak-anak dapat mempunyai kegairahan seperti itu?

Forum Paralel  sebelumnya kami sudah sepakat membuat pespustakaan kelas. Saya sudah mengumpulkan buku sekitar 40 per kelas untuk dijadikan bahan praktek mengelolanya secara mandiri. Memang disepakati pengelolan perpustakaan kelas tidak melibatkan guru. Setelah ‘satuputaran’ berjalan baru didoronglah anak-anak untuk menyertakan buku mereka sendiri sebagai koleksi buku perpustakaan kelas.

Terdapat beberapa syarat bagi penyedia buku perpustakaan kelas:

1. Hanya buku yang sudah dibaca yang boleh menambah koleksi perpustakaan.

2. Buku yang dirasa atau diketahui anak (penyedia buku) memberinya kebahagiaan, kesenangan atau manfaat diutamakan sebagai koleksi.

3. Setiap anak penyedia buku berhak menentukan sendiri cara peminjaman dan pengembalian buku.

4. Penarikan dan penambahan koleksi menjadi keputusan individual.

5. Kerusakan, kehilangan dan kejadian-kejadian lain yang tidak mengenakan diselesaikan sepenuhnya di antara anak-anak.

Bila berjalan perpustakaan kelas dan saya diberitahu oleh guru akan kejadian perbincangan anak tentang asyiknya sebuah buku, saya kan dibuat melayang-layang dalam kebahagiaan. Kalau ada buku yang anak titipkan hilang atau robek dan terjadi keributan, pertengkaran atau (terutama)permusyawarahan untuk menyelesaikannya, itulah keramaian sebuah sekolah yang saya inginkan. Eh, saya memang keranjingan untuk membuat medan kegiatan belajar mengajar yang menjebak anak-anak pada keramaian berpikir.

Banyak banget yang ingin saya tulis, tapi tetap saja yang panjang hanya sampai judulnya saja.

 

Categories: Forum Paralel
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: