Home > SekolahKu > Rupa-rupa Jejak Perceraian

Rupa-rupa Jejak Perceraian

Ada banyak perceraian terjadi pada orangtua murid SD Hikmah Teladan. Tapi setahu saya hanya ada kasus perceraian yang berlangsung baik-baik dan nampaknya berpengaruh baik pada anak Selainnya, perceraian kerap kami ketahui saat menyelusur akar permasalahan anak ke rumah. Masalah anak yang masuk kategori berat memang kerap bermula dari rumah tangga yang ‘berantakan’, terjadi KDRT, atau pasangan bercerai.

Berikut beberapa cerita atau kejadian yang membuat kami mengetahui kasus perceraian pada murid SD Hikmah Teladan.

1. Anak Kakek-Nenek

Sekalipun saya tidak terlalu faham, ada lho orangtua yang mewakilkan semua urusan sekolah anak pada kakek-neneknya. Biasanya karena kesibukan kerja dan tempat kerja di luar kota. Tahu lah. Tapi kakek-nenek yang menggantikan peran ayah-ibu yang bercerai kerap menjelaskan duduk-perkara kehadirannya.

Nenek berusia 70 tahun berkisah tentang perceraian anaknya dan anaknya yang melanjutkan studi tingkat S2 di Yogyakarta, Nenek lain yang mengeluarkan cucunya dari SD Hikmah Teladan disibukkan dengan HP-nya karena harus menjelaskan permasalahan, alasannya keukeuh mengeluarkan si cucu, sikap guru-guru dan kepala sekolah kepada ayah dan ibu si cucu secara, tentunya, berbeda kesempatan. Seorang kakek cukup sering datang ke sekolah di waktu jam istirahat, atau kalau pagi dengan cara sembunyi-sembunyi untuk bertemu dan memberi uang jajan cucunya. Ternyata ia adalah ayah dari ayah cucunya. Sementara setelah perceraian anaknya, si cucu bersama ibunya.

2. Gosip Bagian Keuangan

Ada larangan penyebaran informasi masalah keuangan siswa pada guru. Sebab teramat memalukan kalau guru tidak mengajar sebaik-baiknya karena alasan siswa yang telah bertahun-tahun menunggak SPP. Jadi, bagi para guru fakta tersebut hanya gosip atau sesuatu yang tak lebih sebagai angin lalu.

Teman-teman bagian keuangan pernah iseng menyampaikan tagihan yang biasanya pada ibu siswa menjadi pada ayahnya. Lho kok ada tunggakan? Ke mana sekian uang per bulan, termasuk untuk SPP, yang saya titipkan? Mulai bulan depan, saya saja yang membayarkan SPP. Keputusan si ayah ini menguntungkan pihak sekolah namun disertai ungkapan kesal si ibu: Kenapa sampai ayahnya diberitahu?

Kejadian lainnya serupa kecuali saat kejadian di atas mengambil versi penyelesaian berbeda. Yaitu, “si ayah” (: yang melunasi) meminta kami tidak memberitahukan “si ibu” bahwa pelunasan sudah dilakukan. Kami diminta tetap giat menagih dan “si ibu” melakukan pembayaran, uangnya dimasukkan ke tabungan anak.

3. Penyambutan Ilegal

Secara bergilir kepala sekolah dan guru-guru melakukan penyambutan murid. Lokasi penyambutan di gerbang masuk sekolah. Karena tidak ada penyambutan oleh manajer kelas ketika anak-anak masuk kelas, ya hanya sekali itu ada penyambutan. Sampai suatu hari dan dilanjutkan beberapa hari pemantauan berikutnya, ternyata ada anak yang mengalami 2 kali penyambutan.

Seorang Bapak berdiri di samping motor yang terparkir di depan kelas. Setiap rombongan anak yang muncul membuat pandangannya memindai mereka. Sampai akhirnya seorang anak mendekat. Meraih tangan ayahnya yang terulur dan menciumnya. Si Bapak membalas dengan ciuman di kening si anak. Terjadi perbincangan singkat yang berakhir dengan serah-terima uang jajan.

Versi berbeda ada. Salah satu di antaranya adalah anak yang pihak penjemputnya berganti saat hari jumat atau di antar dari rumah berbeda (dengan hari belajar lainnya) pada hari senin.

4. Guru yang Dicurhati

Kok bisa guru dicurhati masalah keluarga? Apalagi kasus perceraian atau KDRT?

Seorang teman dicurhati karena mereka temanan sejak kuliah. Kebanyakan kasus karena orangtua yang dimintai informasi terkait masalah anak –yang kalau masalahnya berat, dimintai informasi seakan-akan berubah menjadi dimintai tanggung jawab– malah membenarkan dan membeberkan bukti yang lebih rinci, kemudian memohon bantuan setelah mengeluhkan ketidakberdayaannya. Kalau sudah begini ceritanya, teman-teman tidak bisa mengelak. Juga sudah dapat dipastikan pelibatan ini berkepanjangan.

Perceraian berpengaruh pada anak. Perceraian yang tidak dapat diselesaikan dengan baik-baik dipastikan berpengaruh buruk pada anak. Karena itu, upaya keras guru dalam menyelesaikan masalah anak (yang berat-berat), paling banyak menjadi sebab terkuaknya status hubungan suami istri, ayah-bunda si anak.

Categories: SekolahKu
  1. November 24, 2013 at 1:17 am

    Sangat menarik ceritanya🙂

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: