Home > SekolahKu > Kali Ini Guru-guru Menjadi Petugas Upacara

Kali Ini Guru-guru Menjadi Petugas Upacara

Saya mengingat betul wajah-wajah riang itu.

Di sebuah kelas sedang berlangsung deklamasi. Di depan kelas hanya ada anak yang berdeklamasi. Meja guru ditinggal pemiliknya. Ternyata ia duduk di salah satu bangku bersama siswanya. Anak-anak bergiliran mulai dari bagian belakang sebelah kanan. Anak yang sedang di depan kelas duduk di kursi yang terhalang satu anak dari posisi guru. Tepuk tangan riuh menyertai setiap akhir penampilan. “Wah, sebentar lagi giliran Ibu.”

Selepas sang guru membaca puisi, tepuk tangan anak-anak sama saja: riuh. Tidak, tidak lebih riuh. Mungkin itu karena ada beberapa anak yang membacakan puisi lebih baik darinya. Mungkin anak-anak memandang itu hal yang sewajarnya terjadi. Bisa saja di mata anak-anak adalah tidak adil, tak berlaku kesetaraan, kalau guru hanya untuk diikuti, selalu minta dibedakan dengan segala keutamaannya.

Kejadian yang sama suasananya terjadi pada saat Upacara Bendera yang baru lalu. Itulah upacara yang semua petugasnya guru. Para guru tidak menjadikan upacara yang biasa riuh jadi syahdu. Sekalipun saya merinding saat lagu Indonesia Raya dinyanyikan, anak-anak tetap menyambut berakhirnya lagu dengan tepuk tangan. Hampir semuanya berlangsung seperti saat anak-anak yang jadi petugas upacara. Mungkin sebabnya karena pakaian guru yang tidak seragam. Yang ini lebih mungkin: saat guru-guru menyanyikan beberapa lagu yang terkait tema kepahlawanan, menyanyinya sambil melihat secarik kertas. Beberapa guru tidak menghafal liriknya.

Tentu saja guru-guru serius. Jangan menganggap mereka tidak serius sekadar karena tidak memakai seragam. Bahwa mereka juga tidak latihan terlebih dahulu, tak dapat digunakan untuk menyudutkan mereka tampil seadanya. Mereka sangat serius untuk menjadi teladan. Mereka sangat serius mempertontonkan keberanian. Guru-guru SD Hikmah Teladan sungguh berendah hati untuk mempertontonkan kesalahan, kekurangan, pun berbagai spontanitas dalam memperbaiki kekurangan dan kesalahan. Guru-guru baik hati karena memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk mengetahui bahwa keterbatasan bisa menerpa siapa pun.

Saya sangat menyukai foto ini. Anak yang maju ke depan itu Uji. Dia anak berkebutuhan khusus. Dia gemuk. Berat badanya pasti melebihi pak Mukhlis yang menjadi pemimpin upacara. Pak Muklis memang bapak guru dengan berat badan dan tinggi yang paling rendah. Namun demikian, mari kita sama-sama membayangkan apa yang dipikirkan anak-anak dengan peran pak Muklis sebagai pemimpin upacara? Beliau gagah. Suaranya lantang. Melihat penampilannya, ia sepenuhnya layak disebut pemimpin. Ia gagah, juga berwibawa. Apa yang akan membekas disanubari anak-anak yang menyaksikan pak Muklis tampil gagah dan berwibawa? Hari ini, hari upacara dengan petugas guru-guru akan terus menawarkan kepercayaan diri dan motivasi pada perjalanan anak-anak dalam merengkuh masa depan.

Categories: SekolahKu
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: