Home > darimanasaja > Menapaki Kembali Jejak Ustad Muthahhari

Menapaki Kembali Jejak Ustad Muthahhari

Kesenangan saya pada berpikir dengan disertai kepastian bahwa saya masih bodoh dan membutuhkan teladan adalah Murtadha Muthahhari. Demikian, sebebas apapun saya menikmati berpikir, kenikmatan terbesar saya adalah saat berpikir bebas untuk sampai atau membuktikan Kebenaran, pelajarannya diberikan beliau. Kebenaran yang saya maksud pun dalam tafsir Murtadha Muthahhari.
Sebagai penghormatan dan kebanggaan saya memuat tulisan tentang Murthada Muthahhari, terutama karena ada hal yang baru saya ketahui, yaitu hari syahidnya ditetapkan sebagai hari Guru.

Dalam situasi seperti sekarang, ketika dunia Islam tengah bangkit kembali, umat semakin memerlukan dukungan gagasan dan pemikiran besar para ulama dan cendikiawan semacam Ayatollah Syahid Muthahhari. Bisa dikata, pergerakan rakyat di negara-negara muslim yang kini tengah berjuang menuntut keadilan dan kebebasan sejatinya banyak berutang pada pemikiran revolusioner para ulama besar seperti Ayatollah Muthahhari.

Muthahhari bukan sekedar ulama ataupun teolog, tetapi ia juga seorang filosof dan guru bangsa. Karena itu, rakyat Iran selalu memanggilnnya dengan sebutan Ustad Muthahhari. Namun belum genap bangsa Iran menikmati panduan dan ajaran Sang Ustad, arsitek pemikiran Revolusi Islam itu pada tanggal 2 Mei 1979 gugur syahid hanya selang beberapa bulan setelah Revolusi Islam meraih kemenangannya pada 11 Februari 1979. Beliau gugur syahid dalam sebuah peristiwa teror yang dilakukan oleh sebuah kelompok teroris. Sejak saat itu, rakyat Iran menjadikan hari syahidnya sang pahlawan Revolusi Islam itu sebagai Hari Guru.

Dewasa ini, dunia Islam disibukkan dengan maraknya gelombang reformasi pemikiran dan sosial. Islam sendiri senantiasa menyerukan reformasi dan perbaikan sosial. Terkadang sebuah masyarakat menjalani rutinitas mereka selama puluhan dekade bahkan ratusan tahun tanpa ada perkembangan apapun. Perlahan-lahan masyarakat itu pun mengalami proses degradasi dan kejumudan. Saat itulah, harus muncul seorang figur yang mampu menyadarkan dan mendorong masyarkat tersebut untuk bergerak maju.

Seorang peneliti dan dosen universitas Iran, Doktor Hasan Azghadi mengatakan, “Berjihad dan pengorbanan tidak dilakukan hanya di sektor politik dan sosial saja. Ada saatnya saat melakukan penelitian ilmiah yang menggunakan pilar-pilar pemikiran, seseorang harus bersikap berani. Di satu sisi, ia harus berdiri tegak menghadapi berbagai pemikiran menyimpang di kalangan internal ummat Islam. Di sisi lain, ia juga harus melawan serbuan pemikiran dari luar yang menyatakan bahwa agama bukanlah hal yang penting dalam kehidupan manusia”.

Azghadi menambahkan, “Dalam sejarah, kita akan mendapati bahwa orang yang mampu melakukan perjuangan melawan dua kekuatan pemikiran itu bisa dikatakan sangat sedikit. Di antara pemikir yang sedikit itu adalah Syahid Muthahhari. Beberapa dekade lamanya, Muthahhari muncul sebagai pemikir Islam yang mampu membela agama Islam dari serbuan pemikiran luar ataupun penyimpangan internal. Ia mengemukakan pemikiran Islam yang hakiki dengan bahasa yang bernas, cerdas, dan menarik. Muthahhari adalah penjaga benteng pemikiran Islam yang kokoh di akhir abad 20. Pejuang pemikiran Islam itupun pada akhirnya mempersembahkan nyawanya di jalan agama dan gugur sebagai syahid.”

Jika kita telaah kembali pemikiran-pemikiran Syahid Muthahhari, kita akan mendapati fakta bahwa sebagian besar aktivitas ilmiahnya dicurahkan untuk mengungkap penyimpangan pemikiran Islam yang ada di tengah-tengah masyarakat, sekaligus memberikan bantahannya. Muthahhari juga memberikan penjelasan atas berbagai hal yang masih sering dianggap bias dalam ajaran Islam. Sebagai contoh, Muthahhari menulis tiga jilid buku berjudul “Perjuangan Huseini”. Di buku itu, Muthahhari secara detail menuliskan faktor-faktor yang membuat pejuangan Imam Husein di Padang Karbala menjadi begitu abadi. Ia juga menjelaskan hal-hal yang sering dipertanyakan oleh sejumlah kalangan terkait peristiwa tersebut. Syahid Muthahhari di buku itu juga menjelaskan pentingnya tugas muslimin dalam mengantisipasi upaya distorsi dan perusakan agama dan sosial.

Syahid Muthahhari menilai Islam sebagai agama yang dapat menjawab seluruh tuntutan pada zamannya. Di antara karya komprehensif beliau adalah buku berjudul “Islam dan Tuntutan Zaman”. Beliau berpendapat bahwa umat manusia memiliki ketergantungan terhadap unsur-unsur materi dan maknawi. Cara untuk memenuhi tuntutan tersebut pun sangat beragam dan berbeda-beda pada setiap zaman. Sebab itu, manusia harus menyesuaikan diri dengan tuntutan zamannya.

Menurut Muthahhari, tuntutan tersebut tidak dapat dielakkan atau dicegah. Namun pada saat yang sama, tidak seluruh tuntutan dan keinginan tersebut adalah pilihan terbaik bagi kehidupan manusia. Oleh sebab itu, setiap individu dituntut untuk dapat menyesuaikan tuntutannya serta mengontrol dan membenahinya. Artinya, umat manusia harus dapat menyesuaikan diri dengan kondisi zamannya seperti memanfaatkan teknologi yang terus berkembang. Namun pada saat yang sama mereka juga harus tetap menjaga diri dari dampak negatif yang muncul dari arus kemajuan teknologi.

Menurut Muthahhari, ajaran Islam adalah yang paling komprehensif, sempurna, dan terus hidup sepanjang zaman. Ajaran Islam juga dapat disesuaikan dengan tuntutan pada zamannya. Masalah inilah yang ditekankan beliau dalam bukunya berjudul ‘Matahari Agama, Tidak Akan Pernah Terbenam’. Ditegaskannya bahwa, fenomena sosial dapat dikokohkan jika disesuaikan dengan tuntutan masyarakatnya. Artinya, fenomena tersebut harus muncul dari dalam hati dan fitrah setiap manusia dan harus sesuai dengan tuntutannya.

Menyikapi perluasan pemikiran Barat yang menyerang dan menistakan kedudukan perempuan dalam Islam, Syahid Muthahhari menulis buku tentang hak-hak perempuan dan masalah Hijab. Dalam buku itu, Muthahhari mengemukakan berbagai argumentasi yang kuat dan bahkan balik mengkritik pendapat Barat mengenai hak perempuan dalam Islam. Beliau menepis pendapat Barat bahwa Islam telah menistakan hak perempuan. Dikatakannya, bahwa Islam menjunjung tinggi kedudukan perempuan. Dalam al-Quran disebutkan berbagai ayat yang menyebutkan bahwa takdir dan nasib perempuan dan laki-laki tidak dibedakan. Misalnya dalam masalah pahala dan azab, tidak ada perbedaan bagi kaum perempuan dan laki-laki. al-Quran bahkan menyebutkan keutamaan para wanita suci seperti istri nabi Adam dan Ibrahim, serta ibu nabi Musa dan Isa.

Salah satu pemikiran menarik Syahid Muthahhari adalah masalah pembedaan antara adat dan etika. Menurutnya, nilai-nilai etika akan kekal sepanjang masa. Karena etika seperti keadilan, kejujuran, menepati janji, cinta, dan lain-lainnya, sangat erat kaitannya dengan tuntutan dan kecenderungan manusia. Adapun adat sosial selalu mengalami perubahan. Sebab itu, Muthahhari menentang pihak yang berpendapat bahwa sejumlah adat harus tetap dijaga dan dilestarikan, karena menurut beliau, adat tersebut bisa jadi tidak sesuai dengan kondisi dan tuntutan zaman. Hal ini menurutnya akan menyebabkan kejumudan dan kemunduran.

Selain sebagai seorang pemikir dan filosof, Syahid Muthahhari juga dikenal sebagai seorang aktifis Revolusi Islam. Ia bangkit berjuang untuk membela Islam dengan pemikiran besarnya demi menghapus penyelewengan dan upaya mencomot ajaran agama sesuai selera. Beliau menjelaskan ajaran-ajaran Islam baik lewat metode rasional maupun tekstual sehingga membuatnya menjadi seorang pembaharu besar dan simbol sempurna pemikir Islam di masa ini. Syahid Muthahhari dapat disebut arsitek terbesar bangunan pemikiran dan sistem Islam. Berbagai tema dan kajian yang dibahasnya sangat relevan dengan persoalan yang dihadapi umat Islam saat ini dan bisa dijadikan sebagai solusi.

Sayid Hasan Nasrullah, Sekjen Hizbullah Lebanon mengatakan, “Mungkin saya dapat mengatakan bahwa pribadi paling berpengaruh bagi diriku dan dunia Syiah adalah dua orang peneliti Syiah; Syahid Muhammad Baqir Sadr dan Syahid Murtadha Muthahhari. Dua tokoh ini mampu menggariskan infrastruktur akidah dan ideologi seorang muslim pejuang dan peneliti yang kini banyak dimanfaatkan oleh orang-orang beriman dan penuntut kebebasan. Kami sebagai umat Islam di Lebanon mengenal Syahid Muthahhari lewat karya-karyanya. Saya pribadi dapat mencium semangat besar dan wewangian khusus dari karya-karyanya.”

Allamah Thaba’thaba’i, Filsuf besar dan mufassir al-Quran adalah guru Syahid Muthahhari. Saat ditanya komentarnya mengenai kepribadian muridnya itu, ia berkata, “Syahid Muthahhari adalah seorang cendikiawan besar, pemikir dan peneliti. Ia sangat cerdas, punya pemikiran yang terbuka dan realistis. Berbagai karya gemilang dan riset yang dilakukannya ditulis dengan argumentasi kokoh sangat menakjubkan”. (IRIB Indonesia)

Categories: darimanasaja
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: