Home > darimanasaja > Hak Orang Lain untuk Berbeda Pendapat

Hak Orang Lain untuk Berbeda Pendapat

Bila Tuhan tetap memberi rezeki pada manusia yang selama hidup tidak mempercayai-Nya, mengapa manusia beragama merasa harus bersikap berbeda?

Di antara hal yang saya ingat dari almarhumah ibu saya adalah sebuah cerita tentang Nabi Ibrahim. Ceritanya begini: Ibrahim tidak pernah mau makan tanpa bersama-sama dengan orang lain, sampai-sampai ia sering mengunjungi tempat-tempat umum dengan harapan bisa menemukan orang yang bisa menjadi teman makan.

Suatu hari, ketika berusaha mencari seseorang yang bisa ia ajak makan, ia bertemu dengan orangtua yang sudah berumur 80-an tahun. Setelah ia menyampaikan salam dan ajakan, mereka pun duduk dan Ibrahim berkata: “Saudaraku, ucapkanlah syukur kepada Tuhan, dan ayo makan.”

Sang tamu memandangnya dan menjawab: “Saya tak tahu ada Tuhan yang hadir, jadi saya tidak bisa sampaikan syukur kepadanya.” Ibrahim pun kesal dan bersusah payah meyakinkan orangtua itu kalau ucapannya salah. Merasa putus asa, ia membereskan makanan dan mengusir orang itu keluar dari tendanya.

Saat Ibrahim sendirian, Tuhan menegurnya lantaran apa yang ia perbuat kepada orangtua itu. Tapi Ibrahim coba berdalih kalau orang itu ateis dan kafir. Tuhan pun berkata kepadanya: “Saya telah mengenalnya selama 80 tahun, tapi Aku tetap memberinya rezeki. Tapi, kamu sudah tak sabar meski hanya untuk memberinya satu hidangan.”

Ibrahim lantas bergegas mengejar orangtua itu untuk meminta maaf. Terkejut, orangtua itu pun mendengarkan Ibrahim menerangkan apa yang terjadi, dan mengatakan: “Tuhan yang menegur orang yang menghamba kepada-Nya untuk membela seseorang yang memungkiri keberadaan-Nya, adalah Tuhan yang Pemurah.”

Saya mengisahkan cerita ini tidak untuk memperdebatkan apakah peristiwa itu benar terjadi, tapi untuk mengambil pelajaran yang dengan meyakinkan diberikan kisah tersebut.

Ada banyak teks agama yang meminta agar manusia dihormati terlepas dari agama mereka, dan hak untuk memilih agama tanpa paksaan diakui. Teks-teks ini mengarahkan kita untuk menghargai hak orang lain untuk berbeda dalam keyakinan maupun perilaku. Toh, Tuhan telah berfirman: “ Sungguh telah Kami muliakan anak cucu Adam” (Al-Quran, 17:70).

Mereka yang menolak hak orang lain untuk berbeda pendapat telah salah menafsirkan teks-teks itu dan membuat pemahaman mereka sebagai landasan keyakinan mereka sendiri, dan membatasi keluasan agama dan mendistorsi kasih sayang agama. Dengan begitu mereka sebenarnya cenderung mempersempit penghormatan kepada agama mereka – atau setidaknya sebagian darinya.

Walhasil, tanggung jawab yang dipikul oleh pemimpin masyarakat menjadi lebih besar dan lebih penting, dan mereka harus lebih keras berusaha membuktikan kepada khalayak bahwa hak “orang lain” untuk ada dan tak setuju adalah sejajar dengan hak “diri sendiri”, dan membela hak “orang lain” adalah cerminan pembelaan hak “diri sendiri”. Bila saling melengkapi, masyarakat akan kuat dan sejahtera. Konflik dan perselisihan mereka adalah kelemahan dan kekalahan.

Untuk membuktikan ini, tidaklah cukup untuk mengutip teks agama ataupun teks budaya, tapi perlu mematuhi pedoman-pedoman ini dalam kehidupan keseharian sehingga manusia bisa menyadari bahwa nasibnya terhubung dengan nasib “orang lain”, dalam keadaan baik ataupun buruk. Ini juga soal pendidikan dan bimbingan di samping soal doktrin dan filosofi.

Upaya-upaya bersama di antara para pemuka agama, pendidik, orangtua dan guru untuk memberi perhatian pada ruang-ruang bersama adalah contoh perilaku ini. Upaya bersama mereka jauh lebih besar dari sekadar perselisihan pendapat, dan menjadi faktor-faktor penting untuk merebut hati masyarakat.

Kita harus juga mengakui bahwa kekerasan dan konflik yang melanda berbagai masyarakat tidaklah pas dengan konsep menerima orang lain. Manusia tidak bisa berinteraksi secara rasional dan bertanggung jawab ketika mereka merasa keberadaan dan identitas mereka sedang terancam. Perasaan semacam itu menimbulkan reaksi yang punya dampak buruk memperbesar kerenggangan dan memperparah keretakan.

Mengetahui orang lain dari dekat akan mengungkap kesamaan mereka dengan “diri sendiri”. Ini akan turut memerdekakan seseorang dan membuatnya lebih bisa berkomunikasi dan bekerja sama. Semakin awal ini bisa terjadi, semakin besar manfaatnya.

*****

* Syekh Ibrahim Ramadan dulu menempuh studi di Lebanon Azhar Institute, Beirut, dan mendapatkan ijazah dalam bidang syariah dan dalam fikih perbandingan dari Beirut Islamic University.

Categories: darimanasaja
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: