Home > SekolahKu > 100 Hal yang Hanya Ada di SD Hikmah Teladan (7): Mereka yang Membuat SDHT Luar Biasa

100 Hal yang Hanya Ada di SD Hikmah Teladan (7): Mereka yang Membuat SDHT Luar Biasa

Bila saya diminta mengurutkan kelompok yang paling berjasa terhadap SD Hikmah Teladan, maka yang menempati urutan pertama adalah para guru. Yang kedua adalah mereka yang membuat guru-guru kuat dan selalu menimpali perjuangan berat yang dilalui dengan hadiah kebahagiaan, keceriaan, kejutan dan ketakjuban: anak-anak. Menduduki peringkat ketiga adalah para orangtua yang mampu menempatkan keseimbangan antara kekhawatiran akan eksperimen dan kenakalan yang dilakukan sekolah dengan harapan akan masa depan sebagaimana setidaknya terlirik dalam kecerian anak-anak sepanjang sekolah. Paling boncot adalah manajemen.

Walaupun diwakili satudua orang manajemen memiliki peran sentral, tapi dalam konteks kelompok, manajemen harus diurutan paling akhir. Apalagi kalau Anda tahu keadaan manajemen secara mendalam, maka Anda akan takjub bagaimana pada lingkungan yang kurang kondusif, guru-guru yang luar biasa masih mudah ditemukan. Wakil Ketua Komite Sekolah SDHT menegaskan dengan sangat yakin: Inilah sekolah yang mengusung agenda pembebasan namun dikelola dengan cara feodal. Sekolah pembebasan dengan kehendak kapitalis.

Seratus hal kali ini berkaitan dengan orang-orang yang berperan besar membuat SDHT luar biasa. Sangat subjektif. Betul-betul menurut penilaian pribadi. Karena itu saya tidak memerlukan persetujuan Anda, tapi kalau kritik boleh.

46. Sandi Sahrinurahman

Namanya melekat dengan SD Hikmah Teladan sejak diwacanakan pendiriannya sampai saat ini. Lebih dari hal lain, ia bukan hanya melekat bahkan identik dengan jargon “Berani Gagal Berani Mencoba”. Berbeda dengan sekarang, pada awalnya jargon ini berlaku setara baik untuk guru maupun anak. Pada masa awal SDHT, diberlakukan aturan yang melarang anak-anak menggunakan pensil dan membawa penghapus, juga membawa baju ganti karena bermain kotor itu asyik banget. Kalau ini yang terjadi, jargon yang lebih pas adalah “Coba lagi. Gagal lagi. Gagal lebih baik.” (Samuel Backett)

Saya sendiri menjadi saksi keteguhan keyakinan Sandi Sahrinurahman. Beliau orang yang sederhana, menyukai detail, teliti dan lembut. Saya sebaliknya dikenal provokator, grasak-grusuk. Maka bayangkan apa yang terjadi ketika saya dengan sifat-sifatnya bergabung di tahun kedua, padahal pada saat bersamaan saya juga terpana dengan pandangan-pandangan hebat yang teman-teman kemukakan?

Sekalipun belakangan bagian terbesar yang melekat pada saya kekaguman terhadap visi misi sekolah dan kegiatan unggulannya, tak pelak selama proses itu saya membawa ricuh. Yang menyelamatkan ricuh ini tidak meledak adalah ketabahan beliau. Sandi Sahrinurahman memilih mengalah. Temanku ini mencari alasan untuk menerima sebagian dari yang mungkin jadi kekuatan saya.

Hal lain yang perlu diketahui adalah daya tahannya untuk menjaga keutuhan sistem yang dinamik. Dengan memanfaatkan berbagai celah, ia mempangaruhi banyak orang. Melalui pembicaraan yang alot tentang peraturan ketenagakerjaan, perlahan tapi pasti digiringnnya guru-guru untuk berserikat. Perlahan tapi pasti juga, ia bermain politis untuk menjaga pemenuhan minimal standar kesejahteraan guru.

Yang mengejutkan bagi saya adalah keterpengaruhan guru-guru angkatan pertama oleh beliau. Tak jarang guru angkatan pertama menolak ide-ide yang saya usung dengan penolakan: padahal dulu… . Dulu yang dimaksud adalah masa setahun ketika pak Sandi menjadi kepala sekolah.

Sandi Sahrinurahman memiliki pandangan yang jelas tentang pendidikan ideal. SD Hikmah Teladan hanya salah satu karyanya. Kiprahnya sebagai praktisi bergerak di beberapa tempat. Termasuk di SDN tempat anaknya yang pertama sekolah. Ia begitu menikmati dinamika dan problem yang dihadapinya. Sandi memiliki pandangan tentang pendidikan ideal, tapi sungguh ia mau berangkat dari kondisi bagaimanapun dan dengan penuh ketekunan memulai perjalanan.

47. Lia Nur Amalia

Sebagai sekolah inklusi, SD Hikmah Teladan berbeda dengan sekolah inklusi lainnya. Hal ini karena dihilangkannya semua persyaratan untuk menjadi siswa SD Hikmah Teladan. Mudah lho menemukan landasan filosofis untuk aturan ini. Yang sulit adalah menemukan guru yang mau (tepatnya nekad) untuk menghadapi siswa yang tidak terbayangkan permasalahannya.

Di 4 tahun awal, tidak pernah ada tes apapun. Anak-anak diterima begitu saja. Persis begitu saja. Ada cerita: Mengerti kelaziman, seorang ibu ngotot kalau anaknya autis. Namun kami juga ngotot agar anak itu masuk kelas begitu saja. Tanpa penanda, tanpa pendamping. Sang ibu yang merasa yakin  anaknya autis pun memutuskan menjadi pendamping sang anak. Guru yang melarangnya masuk kelas membuat sang ibu hanya bisa menunggu di luar dan setiap hari menghabiskan setidaknya setengah jumlah halaman novel yang dibacanya.

Ada lagi cerita anak yang kini kelas 8. Di kelas 1, berbagai kebiasaannya membuat ia mudah dikenali berperilaku seperti orang gila. Di tengah keheningan belajar, tiba-tiba tertawa. Yang lebih sering spontan menyanyi. Karena alasan lagu-lagu yang dinyanyikan anak itu lagu-lagu baru remaja yang belum dikenal anak lain, bu Lili meyakini cerdasnya murid istimewa ini. Setelah berulang kali menyaksikan kebingungan pada wajah murid sekelas, juga orangtua, apalagi murid kelas lain, kecintaan seorang guru kepada muridnya memberi bu Lili ide: ketika belajar tiba-tiba anak istimewa ini bernyanyi, kegiatan belajar dihentikan berganti memperhatikan si anak istimewa bernyanyi. Bernyanyi selesai, tepuk tangan meriah dihadiahkan.

Ide yang luar biasa membawa pengaruh luar biasa. Si anak yang masih meracau di luar kelas dan menimbulkan reaksi wajah-wajah yang keheranan, dinetralisir oleh anak-anak sekelas. Berlombalah teman si anak istemewa menjelaskan betapa pintarnya ia di kelas. Dijelaskan oleh anak-anak bahwa temannya memiliki kemampuan menghafal lagu paling baik. Luarbiasa. Pengalaman-pengalaman seperti ini yang membuat saya tidak suka dengan segala hal yang ilmiah berupa test psikologi dan mendasarkan perlakuan pada anak berdasarkan tes tersebut. Saya memang fanatik dan berbangga pada guru-guru yang kecintaannya kepada anak didik sedemikian rupa sehingga membuatnya nekad. Saya juga fanatik dengan keluarbiasaan yang bisa dipersembahkan anak-anak sebagai makhluk sosial saat mereka bersama-sama di sebuah ruang yang disebut kelas.

Lili, nama panggilan Lia Nur Amalia, juga perlu dicatat karena menjadi guru yang berdisiplin, tegas dan memiliki kharisma. Di lingkungan yang memuliakan kebebasan, sosoknya menjadi penyeimbang yang sedikit banyak dapat menahan di antara kami yang menikmati kebebasan jadi kebablasan.

48. Dadang Salimin

Selepas acara Family Day, para guru berfoto. Dari sekitar 40 orang yang tertangkap kamera, satu di antaranya bukan guru. Dadang Salimin dengan nama panggilan Dadang atau Imin. Saya sendiri lebih suka dengan nama panggilan yang kedua. Beberapa kesempatan ia terlihat dikejar anak-anak; mondar-mandir di koridor dengan anak-anak digendongannya; duduk santai sambil ngobrol dengan kepala sekolah; diketahui beberapa kali menolak perintah dari direktur perguruan; di sekolah selalu dengan kaos oblong; tidak pernah diketahui memakai sepatu.

Saya pernah menegur pak Imin untuk menurunkan sebelah kakinya dari kursi, “Kamu itu lagi duduk di ruang tamu sekolah dan ngobrol dengan kepala sekolah”. Pak Imin itu salah seorang OB dari empat OB di SDHT. Karena cuma beliau yang begitu, maka saya menggelarinya OB Berkebutuhan Khusus.

Kehadiran pak Imin sangat istimewa. Beliau dengan segala tingkahnya telah membuat kami sungkan untuk menyuruh-suruhnya. Bahkan keanehannya mendorong kreativitas para bapak guru yang suka jail, kerap menggodanya. Apa yang terlihat oleh anak-anak untuk kedua kenyataan tersebut? Sikap kami yang tidak membeda-bedakan orang berdasarkan derajat atau latar belakang atau status sosial. Bukti bahwa hal ini berpengaruh pada anak-anak, ya itu tadi, kalaupun keringatnya bau apek, anak-anak berebut bergelayutan di tangannya yang tak kokoh.

Namun bisa dipastikan pak Imin bukan guru. Belum lama ini ia dipanggil menghadap wakil kepala sekolah terkait pengaduan bahwa ia mencubit beberapa kali anak ABK yang lebih dari beberapa kali mencubitinya. Ia membalas adalah bukti kalau pak Imin bukan guru SDHT. Dalihnya “Saya kan bukan malaikat” memang betul dan juga betul ia bukan guru.

49. Bambang Wisudo

Saat kami masih gamang dengan segala hal yang berbeda dari SDHT, Bambang Wisudo hadir memotret kami secara utuh, benar dan adil, kemudian memunculkan SD Hikmah Teladan di Koran Kompas 3 hari berturut-turut. Teman saya yang wartawan berkomentar: Gila! Sekali lagi saja dimuat, kamu ngalahin pemberitaan Presiden.

Bambang Wisudo mengaku sangat selektif mengangkat berita. Beliau mencari yang istimewa. SD Hikmah Teladan istimewa di mata beliau. Dicintainya hingga  saat ini. Hal ini menarik. Bambang Wisudo belakangan fokus perhatiannya pada pedagogi kritis: mendampingi dan membiayai penyelenggaraan pendidikan kritis untuk daerah pelosok; menjadi direktur Sekolah Tanpa Batas; dan, menulis bersama teman-temannya buku Pedagogi Kritis. Yang membanggakan, semoga demikian, kedekatannya sampai saat ini dengan SD Hikmah Teladan menunjukkan penilaiannya bahwa kami menyelenggarakan pedagogi kritis.

Kembali ke pemberitaan kami yang beruturt-turut di Kompas. Inilah yang membuat kami perlahan-lahan dikenal lebih luas. Dari pemberitaan ini, tamu-tamu yang jauh mengunjungi kami. Tentu saja menyenangkan menyakinkan banyak orang bahwa menyelenggarakan sekolah dengan memberikan ruang yang luas bagi ekspresi bebas adalah mungkin.

Saya masih mengingat foto Faika (kini sudah SMA) di jendela perpustakaan dengan keterangan anak yang memilih belajar di perpustakaan daripada di kelas, sempat dikhawatirkan berdampak negatif oleh pihak yayasan. Tanpa disangka, foto bidikan Bambang Wisudo ini memberikan penegasan bahwa hal seperti itu mudah terjadi di SD Hikmah Teladan; di sisi lain, waktu berjalan setelah pemuatan foto itu, ternyata tidak terbukti kok kekhawatiran akan munculnya pandangan tentang anak-anak yang kurang beretika.

50. Ary Nilandari and the Gang

Siapa yang lebih mencintai anak-anak SDHT, guru atau orangtuanya? Siapa yang lebih berkepentingan dengan masa depan anak-anak SDHT, guru atau orangtuanya? Siapa yang lebih mempengaruhi tumbuhkembang anak-anak SDHT, guru atau orangtua? Siapa yang berinvestasi lebih besar untuk kemajuan seorang anak, guru atau sekolah? Jawaban saya pasti orangtua. Ini jawaban yang kukuh sebagai pendirian. Karena itu SDHT memiliki keyakinan, semakin lebar pintu sebuah sekolah terbuka untuk keterlibatan orangtua semakin baiklah sekolah tersebut.

Resikonya besar. Sama persis kok dengan kebebasan yang diberikan kepada anak-anak. Sekali terjadi yang dominan di kelas jagoan bikin onar, peluang kebebasan menjadi kebablasan cukup besar. Begitu juga orangtua. Jika yang dominan itu orangtua yang memiliki pandangan sendiri yang kuat tentang bagaimana penyelenggaraan pendidikan, maka mereka mudah memancing kisruh. Karena itu sekolah harus berpolitik. Sekalipun kebebasan dimiliki mereka, suaranya dibuat bergema saja. ‘Dinding’ yang memantulkan mereka itu adalah orangtua yang kuat berwacana dengan pihak sekolah. Mereka kritis, juga berterimakasih terhadap upaya-upaya yang dilakukan pihak sekolah untuk anak-anak. Mereka mengajarkan kepada kami bagaimana seharusnya anak-anaknya dicintai dengan kehadiran anak-anaknya yang membuat suasana sekolah ceria. Kami berpolitik, karena kami mencari mereka. Bersahabat. Kami membuat mereka memimpin para orangtua yang lain. Dan, mungkin agak curang: kadang pintu yang terbuka untuk orangtua kami biarkan setengah tertutup (: Anda tahu ini bagi orangtua kelompok mana); sebaliknya, untuk Ary Nilandari and the Gang seringkali pintu itu terbuka tanpa penjaga.

Lalu siapakah Ary Nilandari and the Gang sehingga mereka cuma ada di SDHT? Dengan alasan yang sangat kuat, mereka pernah menolak, mungkin tepatnya menunda pendirian SMP Hikmah Teladan yang tawarannya disodorkan pihak perguruan. Mereka pernah ‘mengeluarkan’ guru dengan alasan yang sangat objektif yang tidak dapat ditemukan oleh pihak sekolah. Mereka terlibat dalam seleksi guru baru, mulai dari mikroteaching sampai wawancara untuk mengambil keputusan. Mereka menjadi pembicara inti pada sosialisasi sekolah untuk orangtua calon siswa baru. Dan lain-lain yang menegaskan bahwa mereka sungguh kenal betul dengan sekolah dan menjaganya. Mereka juga yang meyakini bahwa di SDHT, orangtua pun harus belajar. Mereka sangat senang belajar dari pengalaman anak-anaknya bersekolah di SDHT. Karena kami menempatkan anak-anak sebagai sumber belajar terbaik. Mereka bertemu dengan kami di sini.

Kenapa Ary Nilandari cuma ada di SDHT? Beliau pekerja buku. Saat lokakarya di mana guru-guru mendapat buku “Buku Kerja Kecerdasan Majemuk” yang diterjemahkannya, beliau seharian membahasnya. Jauh sebelumnya dalam program Teaching Parent, beliau mengajar di kelas 1-6 tentang bagaimana menulis. Masih banyak tentu saja, tapi 2 hal ini saja sudah cukup menjadi bukti bahwa Ary Nilandari cuma ada di SDHT.

51. Candra, Indri, Dimas dan Imam

Saat ini anak-anak SDHT naik kelas otomatis. Artinya jelas, tidak ada kondisi apapun pada anak-anak yang dapat membuat mereka tinggal kelas. Namun ada 4 anak yang pernah diputuskan tidak naik kelas: Dimas dan Imam, Candra, Indri. Mereka istimewa bagi SDHT karena mereka yang membuka jalan diberlakukannya keputusan lulus otomatis. Mereka sempat menyibak jalan ragu namun juga memaksa kami berwacana.

Dimas dan Imam tidak naik dari kelas 1 dan 2. Gurunya memberikan alasan demikian: Sengaja tidak naik karena metal age masih memungkinkan untuk mengulang. Anaknya pun tidak paham. Jadi aman. Mereka tetap dipegang guru yang sama.

Saya baru tahu alasan itu dan senang mengetahuinya. Yang saya ingat adalah pembicaraan dengan orangtuanya Dimas. Bagi kami naik dan tidak bukan urusan nilai melainkan tetap urusan baik buruk untuk perkembangan anak. Lebih membela keuntungan psikologis anak. Maksudnya, kalau tidak naik membuat orangtua pasrah (alias memaklumkan anaknya bodoh) atau bahkan menjadi senjata yang lebih kuat untuk memojokan anak (mudah terjadi dalam konteks keluarga), kami akan menaikan anak itu. Begitu juga kalau tidak naik membuat anak asing dengan kelas barunya dan terasing dari teman-temannya yang naik kelas, anak itu harus naik kelas. Nah, Dimas dan Imam di kelas satu masih sangat tidak bersosialisasi. Dimas, misalnya, sangat mudah melakukan kekerasan fisik kepada teman dan gurunya. Hal ini sampai sedemikian sehingga selama di kelas 1, Dimas lebih banyak belajar di luar kelas. Ah saya ingat betul kesenangan Dimas bermain air sepanjang selokan yang menghubungkan 2 kolam sekolah.

52. Imam dan Indri

Pengalaman membuat anak tidak naik kelas, pengalaman yang melukai hati. Pernyataannya bukan “anak tidak naik kelas” melainkan “membuat anak tidak naik kelas”. Bila ada 10 alasan anak tidak naik kelas, pasti ada 100 alasan untuk membuat anak naik kelas. Bila ada 100 cara menilai anak dan membuatnya tidak naik kelas, mudah dicari tambahan cara pandang pada 100 alasan untuk membuat anak naik kelas.

Imam dan Indri mengajarkan alasan untuk masa depan seseorang adalah ketidaktahuan. Berbeda dengan sekolah yang berfokus akademis, variabel pembentuk masa depan dapat disederhanakan pikiran (sekalipun salah juga); di sekolah dengan kebebasan berekspresi, jumlah ragam dan kerumitan hubungan variabel pembentuk masa depan sungguh tak terkira. Kata “tak terkira” adalah ketidaktahuan terhadap masa depan namun sikap yang luarbiasa optimis terhadap kemungkinan-kemungkinan masa kini.

Inilah cara kami bertaruh: Seharusnya tidak naik ke kelas 2, kami menaikannya. Di kelas 2 kan gurunya berbeda, semoga ada kecocokan atau setidaknya hal baru ditemukan. Setahun berjalan si anak hanya mempertegas bahwa ia pantas tidak naik kelas. Ia naik kelas karena di kelas 3 anak-anak diubah besar komposisi siswanya. Ayo cari anak-anak yang kemungkinan dapat memberikan “sentuhan malaikat” pada si anak. Di kelas 3 sungguh hebat, si anak itu merubah teman-temannya. Satu anak menjadikan anak sekelas juara empati. Kami begitu saja menaikannya ke kelas 4. Selain guru, kini dia sudah punya teman yang menemaninya belajar membaca dan berhitung. Hai, ia naik kelas 5 karena sudah senang belajar membaca dan berhitung! Kehadirannya di kelas 5, membubuhkan aturan larangan menerima siswa pindahan di kelas 5 dan 6. Lha, ia berhasil melahirkan guru-guru yang perkasa, pantang menyerah. Inilah yang membuatnya naik kelas 6.

53. Haifa

Hal serius paling akhir yang menjadi diskusi saya dengan ibunya Haifa adalah pernikahannya di usia ke 17. Haifa memang menikah muda. Kini dihitungan bulan pernikahannya, ia berencana mengambil kuliah jurusan musik. Haifa menyukai pertemuan terakhir dengan saya karena dipandang mendukung keinginannya untuk berpisah rumah dengan orangtuanya.

Hal serius pertama yang diketahui saya dari gadis cantik ini adalah banyaknya keluar masuk sekolah. Sebelum ke SD Hikmah Teladan, sekolah terakhirnya merupakan sekolah untuk anak-anak berkebutuhan khusus yang dikelola seorang dosen UPI. Ternyata di sekolah tersebut tingkat permasalahan anak-anaknya lebih berat. Haifa jadi terlihat beda sendiri. Juga, kata orangtuanya, lingkungan sekolah tidak memotivasinya untuk berubah. Saya yang waktu itu menerima mereka sekeluarga mepersilahkan Haifa menjadi murid SDHT. Waktu itu memang saat di mana kami seratuspersen tidak mensyaratkan anak untuk menjadi murid SDHT. Kami juga tidak mengenal pendampingan.

Sebetulnya berdasarkan pengalaman, catatan dan rekomendasi psikolog dan pedagog, terkumpul banyak alasan sehingga Haifa disarankan sekolah di tempat anak berkebutuhan khusus, cuma saya tidak mau tahu. Kalau ada yang bertanya tentang apa permasalahan Haifa, saya mengenalkan Haifa sebagai anak yang hipersensitif secara sosial dan kekurangan pengalaman dalam hidup sosial. Inilah anak yang menafsirkan suara dengan intonasi tinggi sebagai kemarahan; menghindar dan kadang takut membuka komunikasi dengan orang yang belum dikenalnya; tidak tahu bagaimana caranya melompati parit; dan lain-lain, dan secara akademis hanya sedikit menonjol pada pelajaran Bahasa Indonesia. Eh, setelah tidak masuk sekolah lagi, beberapa kali ia menemani ibunya ke sekolah. Pada beberapa kali kesempatan tersebut, ia tidak berani ke luar mobil dan di dalam mobilpun seraya nyungsep di sela-sela jok. Nungging.

Apa yang cuma ada di SDHT terkait dengan Haifa? Karena kondisi psikologisnya, sekolah dengan orangtuanya bersepakat bahwa Haifa belajar di rumah. Waktu itu kelas 5 dan Haifa baru satu tahun lebih belajar di SDHT, jadi hampir satu tahun Haifa belajar di rumah. Siapa yang mengajar? Yang mengajar adalah guru-guru SDHT yang punya jam kosong. Maksudnya, kalau di hari Senin jam pertama bu Dwi tidak ada jam mengajar maka ia akan diantar jemput dari sekolah ke rumah Haifa. Berikutnya di jam ketiga bu Dwi ngajar, maka bu Aty yang kosong menggantikannya. Begitu terus kami layani Haifa selama tidak mengambil keputusan keluar dari SDHT. Oh ya setengah perjalanan selanjutnya hanya bu Aty yang mendampingi Haifa. Haifa kembali bergabung dengan teman-temannya pada saat mengikuti EBTANAS.

Lulus dari tingkat dasar, Haifa diterima di Tsyanawiyah Asih Putera. Di sini Haifa hanya bertahan 3 bulan. Eh, kejadian ini membuat saya dan teman-teman kembali mendampingi Haifa. Kali ini dengan konsep Sekolah Rumah. Baru di tahun ketiga perjalanan Sekolah Rumah Kyoku Mama lahir SMP Semesta Hati. Inilah sekolah yang menjadi payung bagi beberapa komunitas homescholler. Di sinilah tempat berkumpul dan nyaman anak-anak seperti Haifa.

Categories: SekolahKu
  1. fais khurohman
    December 10, 2013 at 6:09 pm

    salam kenal,
    saya Fais ,ayah dari anak ADHD berumur 8 tahun,saat ini saya masih kesulitan mencari sekolah SD inklusi , untuk ajaran tahun 2014 ( real inklusi ,tidak hanya label nya aja ) di daerah Bekasi Timur ( Bantar gebang,jatimulya,Tambun selatan )

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: