Home > Kurikulum Esdehate, SekolahKu > 100 Hal yang Hanya Ada di (Kelas 1) SD Hikmah Teladan (4)

100 Hal yang Hanya Ada di (Kelas 1) SD Hikmah Teladan (4)

16. Menjadikan Kelas sebagai Tempat Paling Nyaman untuk Berekspresi Bebas

Target nomor 1 alias target utama yang harus dicapai guru kelas 1 adalah menjadikan kelas sebagai tempat paling nyaman untuk berekspresi bebas. Sebagian besar pendidikan anak sekarang dipenuhi target. Selanjutnya stigma berkaitan dengan target-target tersebut. Sebagai sekolah (dengan visi) “Menjadi sekolah terdepan dalam menerapkan konsep pendidikan anak merdeka” maka yang utama bagi kami bagaimana anak-anak menikmati dirinya apa adanya. Tidak boleh ada halangan apapun untuk berekspresi, termasuk target-target, terutama stigma.

Apakah anak yang diterima di sini harus sudah bisa membaca? Ditanya seperti ini saya kerap menjawab, kalaupun memang dibikinkan syarat untuk masuk SD Hikmah Teladan, syarat itu adalah anak belum bisa membaca, belum bisa menulis, pendiam, superaktif, pembuat onar, atau yang lainnya yang tidak termasuk perilaku atau kemampuan normal. Yang normal, yang penurut, sudah pintar, sangat baik, biarlah di sekolah Islam Terpadu atau di sekolah negeri.

Target ini harus dicapai karena di kelas 2 sampai 6 anak-anak SD Hikmah Teladan harus mengevolusi diri menjadi anak yang menikmati kebebasan (kemerdekaan) berekspresi dan memperluas jangkauan ekspresi kebebasannya. Perhatikan amanah dari Misi SD Hikmah Teladan yang ke-2: Memelihara kemerdekaan anak dan memperluas jangkauan kemerdekaanya seiring tumbuh kembang yang dilalui anak. Jelas kan kenapa target utama di kelas 1 demikian?

SD Hikmah Teladan memastikan setiap anak naik kelas, jadi tidak dimasalahkan kalau ada guru yang menyisakan beberapa anak yang naik kelas 2 belum bisa baca, tulis, berhitung. Lah anak di kelas 5 saja ada yang belum lancer membaca tidak dimasalahkan, kenapa di kelas 1 dimasalahkan? Tapi sungguh dipermasalahkan kalau ada anak yang pemalu, pendiam, murung, atau selama di kelas 1 seratuspersen baik. Beda sekali anak yang pemalu dan anak yang malu-maluin. Yang berekspresi bebas itu anak yang malu-maluin, dan yang pemalu lah yang terkekang ekspresinya. Jadi, bila ada guru yang menyisakan anak pemalu, penakut, selalu mengalah, tahun ajaran berikutnya tidak akan direkomendasikan kembali menjadi guru kelas 1.

17. Belajar Membaca dengan Membaca Nyaring Bersama-Sama

Namanya juga sekolah alternatif dengan pembiayaan yang sesuai untuk kelas ekonomi menegah, hampir 100% murid SD Hikmah Teladan terlebih dahulu masuk Taman Kanak-kanak, dan dengan demikian hampir 90% sudah bisa membaca sebelum menjadi murid kami. Namun karena di sini semua anak harus eksis, maka kami menjalankan metode membaca yang tidak memilah anak menjadi yang sudah bisa membaca dengan yang belum. Menjadi minoritas dengan pencitraan negatif pula (belum bisa membaca), sungguh keterlaluan kalau harus ditanggung anak seusia itu. Metode itu adalah membaca nyaring bersama-sama.

Bagaimana dengan anak-anak yang sudah bisa membaca? Tidak ada masalah apapun. Ambil kata-kata atau kalimat yang akan dibaca dari buku-buku yang menarik, kutipan dari buku-buku milik anak, dari buku koleksi perpustakaan kelas, akan menafikan kejenuhan. Apalagi membaca bersama-sama dengan menirukan atau menggunakan intonasi dan logat yang beragam. Wow, luarbiasa menyenangkan!

Menjadi alasan kuat untuk memustahilkan kejenuhan adalah juga program Wisata Buku. Program belanja buku bersama-sama semua teman kelas satu ini menjadi hal yang mengukuhkan alasan kita bisa membaca: mencintai buku! Semua mafhum betapa alasan ini tidak digubris. Artinya, anak-anak itu sungguh haus (atau kalau tidak, mereka perlu dibuat haus) untuk memiliki, bercengkrama, dan entah kapan akhirnya menjadi pembaca buku yang tekun.

Sampai kapan belajar membaca menggunakan metode membaca nyaring bersama-sama ini berlangsung? Jawabannya sampai semua anak bisa membaca. Mungkin selama di kelas satu, mungkin hanya beberapa bulan, mungkin dilanjutkan dilanjutkan di kelas 2.

18. Isi Tas Tanpa Buku

Hal yang belakangan saya ketahui tentang SD Hikmah Teladan adalah berbagai keseharian yang menjadi bukti keberadaan prinsip-prinsipnya. Salah satu di antaranya tentang isi tas anak-anak kelas 1: tempat minum/makan, tempat pensil dan/atau pensil (kadang ditinggal di sekolah), buku ABaTsa, mainan, buku tabungan. Isi tas yang aneh bukan? Tak diragukan ini cuma bisa terjadi di SD Hikmah Teladan.

Prinsip yang melatari isi tas demikian adalah keyakinan kami bahwa orangtualah yang membentuk karakter anak. Sekolah menjadi ruang demokratis bagi pertemuan keragaman karakter.  Tugas kedua sekolah adalah menguatkan kemampuan berpikir. Memajukan dan membela rasionalitas. Tidak ada yang bisa menjembatani perbedaan karakter dalam rentang waktu yang panjang dan dengan intensitas pertemuan seperti anak-anak di sekolah kecuali kemampuan berpikir. Di sekolah, pikiran yang terbuka lahir dari berpikir anilitik dan kritis. Kok jadi ngawur. Begini maksud saya, sudahlah jangan mengintervensi hal yang sudah jelas merupakan kewenangan orangtua. Begitu juga karena sukses itu lebih ditentukan karakter daripada pengetahuan akademik (IQ), marilah jadi sekolah yang tidak arogan dan kemaruk. Arogan karena kita mengatakan IQ lebih penting dari karakter sehingga masih membebankan urusan akademik ke rumah (orangtua). Arogan karena ketika agama, psikologi, budaya mengatakan yang membentuk karakter itu orangtua, sekolah masih berkepentingan melakukan peran yang sama. Berikutnya, kemaruk karena sudah semakin hari semakin banyak sekolah menggunakan waktu anak, kita masih mencuri waktu anak di rumah, waktu untuk bercengkrama, kesempatan orangtua membacakan buku untuk anaknya, menemani anak menonton televisi, mengaji di ‘surau’, diskusi keluarga.

SD Hikmah Teladan menegaskan pembeda urusan di rumah dan di sekolah. Kami berusaha terus belajar dan memperbaiki kualitas agar orangtua mempercayai kami untuk mengurus segala hal akademis dan cukup diurus di sekolah saja. Kami pun sangat mendorong komunikasi ‘bermakna’ terjadi antara anak dan orangtua (saat di rumah), dan anak juga memiliki kesempatan bergaul dengan lingkungan sosialnya. Pembeda kedua urusan ini sangat jelas bagi kami sedemikian sehingga segala atribut terkait sekolah dilarang dibawa ke rumah: buku pelajaran, buku catatan, bahkan banyak anak menyimpan alas tulis di sekolah.

19. Naik Kelas dengan Membawa Buku Cerita Karya Sendiri

Pelajaran Bahasa Indonesia (atau entah pelajaran Karakter, IPS atau PKn) kelas 1 memakai buku “Why I Love My Mummy”, ilustrasi oleh Daniel Howarth, penerbit Gramedia. Buku ini diberikan kepada anak-anak sekitar beberapa bulan akhir tahun ajaran. Namun sejak awal anak-anak melakukan banyak kegiatan yang berkaitan dengan hubungan mereka dengan orangtuanya, mengerjakanworksheet sehubungan tema, dan berkegiatan yang membuat anak senang dan bisa membuat buku: menulis bebas, mengomentari gambar, menggambar, menghias buku.

Di bulan-bulan terakhir buku “Why I Love My Mummy” sudah diberikan kepada anak-anak. Selama sebulanan buku ini dibaca, dibicarakan dan menjadi ‘isu’ kelas. Baru sebulan terkahir, biasanya, anak-anak mengerjakan proyek bukunya. Disebut bukunya karena “I” di sana berubah menjadi aku setiap anak dan “My Mummy” menjadi ibu masing-masing. Hai, mereka bikin buku dan itu autentik sungguhlah luar biasa.

Beberapa tahun sebelumnya hal yang sama pernah kami coba namun anak-anak hanya mengomentari gambar-gambar lengkap sebuah buku (yang dicopy setelah dihapus teksnya) dan mewarnainya. Cara ini masih memungkinkan ada anak yang meniru temannya. Sekalipun demikian, kami melalui ini dengan penuh kebanggaan karena kami punya tanggung jawab sejarah untuk mmembuktikan bahwa melepas diri dari kurikulum (standar isi) dan buku paket itu telah membuat kami lebih keren.

20. Salat Dzuhur Sebelum Adzan Dzuhur Berkumandang

Saya juga terkejut pertama mendengarnya. Belum lho belum seminggu lalu. Saya juga heran karena 6 orang MK (manajer kelas) kelas 1 dapat bersepakat melakukannya. Alasannya (hanya) kalau mereka salat sesudah adzan terdengar apalagi menunggu adzan sampai selesai, mereka tidak sempat makan siang. Hmm…

Alasan teman-teman sangat logis. Anak-anak yang masih belajar, sedang sulit-sulitnya diatur memang dapat menyebabkkan waktu molor. Bila mereka memaksakan diri (dan ini kemungkinan hanya karena menghindar dipermasalahkan orangtua), mereka dapat betul-betul terlambat makan. Terus, habis istirahat harus mengajar lagi. Repot. Itulah sebabnya, mumpung salat bagi anak kelas 1 jela-jelas belum wajib, bagiamanapun juga tetap jauh lebih baik salat (sebelum adzan) daripada terlewat jam makan siang. Cuma ya itu kok enteng banget mereka mengambil keputusan.

21. Menjadi Petugas (Lengkap) Upacara Bendera

Motto “Berani Gagal Berani Mencoba” mendapat tempat peragaan mulai dari di kelas dengan Panggung Balok, antar kelas atau paralel kelas di Panggung Berani Mencoba di depan perpustakaan, kemudian anak-anak ditantang nyalinya untuk tampil di depan warga sekolah pada sewaktu upacara. Masih ada satu lagi, menjadi utusan sekolah dalam lomba-lomba yang diadakan di luar. Setiap anak selama di SD Hikmah Teladan harus, paling sedikit 1 kali, mengalami mewakili sekolah. Sebab itu, utusan lomba di SD Hikmah Teladan tidak boleh dengan maksud untuk kepentingan mendapat juara, melainkan pemberian kesempatan.

Pemberian kesempatan pada setiap anak untuk tampil di semua level panggung menyebabkan pergerakan evolutif yang lembut dari nyali anak-anak untuk tampil di depan umum. Terutama, penilaian umum bahwa banyak hal diberlakukan umum di SD Hikmah Teladan, membuat anak-anak kecil itu (anak-anak kelas 1) enteng saja mengambil peran seperti kakak-kakaknya. Berikutnya, satu hal lagi, sekolah ini bukan sekolah ‘prestasi’ melainkan sekolah kebebasan berekspresi.

Pokoknya berani dulu tampil.  Berani saja dulu, ini yang pokok.

Kenapa takut, tidak dinilai kok. Ayo berani, semua keberanian akan dirayakan.

Kenapa takut, semua teman menikmati penampilanmu. Ayo mencoba, biar kamu segera mengalami semua teman yang bangga padamu.

Kenapa takut dengan kegagalan saat itu disambut dengan senyum manis dan bukan tawa mengejek dan mempermalukan. Ayo tanpa persiapan baik pun maju saja, dan Kau segera “mengukir di batu” yang kelak diingat dalam perannya membuatmu kokoh.

  1. March 2, 2011 at 3:00 am

    Shalat Dhuzur Sebelum Adzan

    Yth Pak Aripin, lama sekali kita nggak diskusi ya, kangen nih……..

    Ya, sebagaimana yang selalu saya ungkapkan dari dulu bahwa modal utama untuk menjadi guru (pendidik) adalah nurani. Apabila didasari oleh nurani, pekerjaan mendidik tidak akan jadi beban, atau membebani, termasuk mengatur dan membiasakan anak untuk disiplin dengan waktu. Kita seringkali “menghidari” resiko dengan cara “meminimalkan” persoalan dan tantangan. Ini ini merupakan cara-cara instan yang sering dilakukan. Cara insntan ini berbahaya apabila dibiasakan dalam dunia pendidikan. Maksudnya gini, ketika kita takut anak akan mengalami apa-apa di jalan, lalu si anak tidak dibolehkan berjalan. Sepintas tindakan ini tindakan yang benar, yaitu menghindari resiko di jalan, tindakan dianggap paling aman dan umumnya tindakan ini yang dilakukan. Namun bila dikaji lebih jauh, secara tanpa disadari ini akan berakibat jelek pada perkembangan anak karena kita berupaya meminimalkan “pengalaman belajarnya”. Betul Pak, anak-anak kelas 1 akan sulit diatur agar konsisten dengan waktu. Katakanlah antara waktu Adzan, sholat, dan makan siang sangat dekat atau ketat sehingga kita harus menjaga jangan sampai ada waktu yang terbuang, jika ada waktu yang terbuang, tentunnya anak menjadi telat makan. Ini kan sebuah persoalan, jika anak diberi kesempatan untuk mengalami ini, ia akan mendapat sebuah pengalaman baru tentang “sulitnya” mengatur diri sendiri. Pengalaman baru itu akan “mendewasakannya”, dan dia terbiasa mengatur diri dalam keadaan sulit. Artinya, bila saya jadi guru, saya akan dengan rela sedikit bersusah payah mendampingi anak yang “susah diatur itu” untuk mengalami persoalan yang sulit tersebut, sehingga ini akan menjadi sebuah kebiasaan, yaitu mengendalikan diri sendiri. Artinya, saya akan tetap mengikuti aturan ibadah yang sebenarnya, yaitu Sholat Dzuhur setelah Adzan, dengan segala resiko yang tadi. Jangan sampai, sebagai guru saya berpikiran, dari pada saya yang repot, lebih baik dipermudah melalui perubahan aturan. Hal yang perlu diingat adalah, memang betul anak seusia itu belum wajib Sholat, tapi jangan dianggap mengubah pola Sholat dan keluar dari ketentuan yang sebenarnya tidak berbahaya, bahayanya adalah, “melanggar” ketentuan akan menjadi kebiasaan, walaupun itu lebih awal dari waktunya. Salah satu sifat otak adalah “mengulang” sesuatu yang dianggap nyaman. Nah, jika yang dianggap nyaman itu adalah “mengubah” aturan Sholat untuk menyesuaikan dengan jadual makan, bukan sebaliknya, di khawatirkan setelah dewasa mereka terbiasa menganggap bahwa aturan bisa kita ubah sesuai kebutuhan kita pribadi. Mungkin analisis saya ini terlalu jauh, tapi dalam membangun karakter yang benar, jangan sepelekan hal-hal kecil. Sebagai contoh, kebanyakan orang kita merasa tidak bersalah untuk terlambat selama berjam-jam untuk datang pada sebuah pertemuan, mengapa itu terjadi?, itu karena kebiasaan yang berawal dari menyepelekan terlambat beberapa menit. Hari ini terlambat dua menit dianggap biasa (kan hanya 2 menit), besoknya kita akan terlambat lagi, tapi bukan 2 menit, melainkan 5 menit (juga tidak akan merasa bersalah), besoknya lagi terlambat 10 menit, kita tidak merasa bersalah karena dari 2 ke 5 menit kan ngga terasa, lalu dari 5 ke 10 menit juga nggak terasa, nah inilah yang akhirnya menjadi kebiasaan untuk terlambat, sehingga pada tahap selanjutnya terlambat berjam-jam tidak masalah. Bila dibiasakan, untuk tidak terlambat walaupun 1 menit, maka kita akan terbiasa, jangankan terlambat 1 jam, 1 menitpun kita tidak mau……

    Mungkin itu tanggapan sementara saya Pak. Selam buat teman-teman, dan sukses selalu, yang perlu diingat adalah “ketika kita menghindar dari persoalan berat yang ada dihadapan kita, berarti kita kehilangan kesempatan untuk meningkatkan kemampuan karena peluang untuk belajar dari persoalan itu menjadi hilang. Artinya, persoalan adalah anak tangga untuk diri kita menjadi lebih baik. Kebanyak orang kita berpikir dengan mencari persoalan yang lebih ringan, tapi ia ingin menjadi orang yang berkualitas, ini kontradiktif, karena orang yang berkualitas hanya akan lahir dari pengalamnya mengatasi persoalan yang sulit. Ini janji Allah pada umat manusia!

    wassalam

    Zulfikri Anas

  2. kampungharmoni
    March 2, 2011 at 10:33 am

    Dulu waktu masih kuliah, temen-temen Muslim suka diskusi tentang mendingan makan dulu atau sholat dulu. Ada yang memilih sholat dulu, ada yang memilih makan dulu. Kenapa makan dulu? Soalnya menurut mereka lebih baik sholat dalam keadaan tenang, perut kenyang, jadi sholat bisa khusyuk. Sekedar ingatan masa lalu he he…

    • March 2, 2011 at 2:06 pm

      He,he,………saya juga jadi ingat, lebih baik makan dulu, baru Sholat, mumpung watu Sholat belum masuk. Rupanya pengalaman seperti itu milik semua, dalam konteks itu saya juga ingat,bahkan sampai sekarang juga begitu, lebih baik ingat Sholat waktu makan dari pada ingat makan sewaktu Sholat, lalu mendahulukan makan, padahal waktu Sholat sudah masuk. Dalam konteks kasus di atas, waktu Sholat belum masuk, lalu Sholat dulu baru makan, lebih baik makan dulu baru Sholat, he.he………

  3. dewi
    March 4, 2011 at 3:39 am

    hai…
    kemarin aku salah baca sms, dikira sdh dikirim k alamat emailku, jd langsung ku buka email, tp ternyata ga… taunya nawarin kalau mau, bisa dikirim. mau donk!!
    Shalat dzuhur sebelum adzan?
    di sekolahku juga begitu (kelas 1). alasan gurunya, setelah selesai belajar, anak-anak wudlu, lalu masuk kelas untuk siap-siap shalat. proses pengkondisian untuk shalat ini lumayan bikin guru berkeringat. nah.. kalau sudah siap tidak langsung shalat tapi nunggu dulu waktu shalat tiba, bisa kacau lagi itu barisan (kata gurunya; “Lebar bu..!). itu alasan pertama. yang kedua, anak-anak kelas satu di sini jam 11 – 11.30 itu adalah waktu yang cukup melelahkan, jadi mereka ingin segera keluar. karena itu, jadwal wudlu yang seharusnya pukul 12.00, seringkali maju menjadi pukul 11.30. nah.. jadilah aktifitas yang lainnya juga maju.
    tadinya ku pikir ga apa-apalah karena mereka juga masih kecil (belum kena kewajiban shalat), masih dalam rangka latihan, tapi kalau baca komentar pak Zul (“Pak Zul, apa kabar?”), ada benarnya juga ya…kalau dbiarkan terus bisa menjadi kebiasaan dan bisa berbahaya.

    Kita (aku) selalu ingin menjadi diri yang lebih baik dan terus memperbaiki diri,tapi terkadang kita tidak siap atau bahkan menghindar dari tantangan yang ada dihadapan kita, padahal tantanganlah yang membuat kita berusaha untuk lebih baik. (gitu kan Pak Zul?)

    Sudah dulu ya… salam kangen buat teman-teman SDHT. Sukses selalu dan… tetap semangat!!!

  4. aripin ali
    March 7, 2011 at 5:05 am

    Apa yang paling saya suka ketika guru2 kelas 1 menceritakan salat sebelum adzan? Keriangan mereka. Tak ada sekat berupa norma, nilai, atau kuasa yang mengganggu mereka dalam pengambilan keputusan tersebut. Sepertinya fungsi teman-teman untuk menjaga kelas sebagai ruang ekspresi bebas lah yang kentara.
    Saya juga ingin menyatakan bahwa menjadi sekolah yang mengusung kebebasan ekspresi tidak mudah. Sedikit mendramatisir, kami sampai berdarah-darah. Contohnya upaya kami agar “membaca bersama-sama” terus dipertahankan selama ada anak yang masih belum bisa membaca, sungguh bukan perkara mudah. Kami butuh kreatif untuk memastikan anak tidak jenuh, anak-anak yang sudah bisa membaca hilang motivasi belajar, protes orangtua yang memiliki kebanggaan pada keterampilan calistung, kerjasama di antara guru-guru kelas dan guru-guru bidang studi, beban untuk memenuhi tuntutan kurikulum, dan lain sebagainya. Lalu, apakah kalau kami menghadapi itu semua sampai saat ini, kami … “menghindari” resiko dengan cara-cara instan…?
    Berikutnya, apakah kebiasaan salat sebelum waktunya itu berarti …”melanggar” ketentuan akan menjadi kebiasaan…? Tidak ada yang dilanggar kok bila tidak ada ketentuan atau nilai-nilai, norma atau syariat yang dinyatakan (melalui pengajaran oleh guru). Yang kami lakukan dengan serius malah sebaliknya: penghapusan ketentuan tersebut. Beberapa tahapan yang dilakukan:
    1. Menegaskan dipikiran guru-guru argumentasi yang kokoh bahwa salat belum wajib pada anak-anak usia kelas. Tidak ada hal apapun yang dapat dijadikan untuk menjadikannya seperti wajib. Tidak bisa ada alasan yang bisa digunakan untuk mengomentari, menilai, anak-anak yang buang angin ketika salat dan ia melanjutkan salat begitu saja. Situasi ini hanya mungkin kalau Anda tidak pernah mengajarkan kalau buang angin membatalkan salat.Artinya salat di sini tidak boleh dengan pengantar pengetahuan tentangnya.Anak-anak salat dengan mengikuti demonstrasi gurunya atau temannya.
    2. Mengaburkan kaitan salat dengan segala aturan hukumnya dengan menjadikannya sebagai media untuk hafalan Al-Quran juz 30. Salat menjadi waktu menghafal al-Quran, kadang sampai sambil teriak-teriak.
    (3. Namanya juga anak-anak, bila sudah bermain (berkaspresi bebas) mereka lupa segalanya dan hanya mengingat dan terpengaruh oleh semua yang muncul dari permainan yang meraka lakukan. Lalu bagaimana dengan anak-anak yang sudah mengenal ketentuan? Perhatikan komunikasi tentang adzan sebelum salat. Saya melarang dengan tegas guru yang menjawab anak yang bertanya, “Bu, sudah waktunya adzan?” dengan jawaban “ya” padahal belum waktunya. Ini 100% berbohong. Jawablah, “Siapa yang bertugas adzan kali ini? Ayo, adzan. Yang lain siap-siap salat ya.”)

    Selanjutnya apakah “…dikhawatirkan setelah dewasa mereka terbiasa menganggap bahwa aturan bisa kita ubah sesuai kebutuhan kita pribadi”? Saya menuliskan hal ke 20 yang terjadi di SD Hikmah Teladan ini dibagian yang hanya terjadi di kelas 1. Sekalipun saya menginginkan di kelas 2 hal sama masih terjadi, ternyata tidak.

    Pada pertemuan tadi, guru-guru kelas 1 mengatakan kalau waktu istirahat dan salatnya diperpanjang hal itu tidak akan terjadi. Saya cuma bisa menjawab kalau waktu yang ada membuat teman-teman bisa leluasa salat sesuai waktunya, maka waktu istirahat akan saya persempit. Sungguh apa yang terjadi di kelas 1 ini sebuah prestasi bagi upaya rumit yang berlangsung bertahun-tahun.

  5. March 7, 2011 at 1:26 pm

    Waduh, baca ini jadi malu sendiri……
    Tugasnya belum dikumpulkan oleh ananda tersayang niy Pak….. Maafkan…… Tadi saya lihat masih ada di tasnya. Nggak apa-apa terlambatkan Pak…….😦

  6. September 28, 2011 at 2:49 am

    Artikel menarik..dan blog yang keren dan bermanfaat…
    Nama saya Kak Zepe…
    saya juga punya tips mengatasi anak pemalu di
    http://lagu2anak.blogspot.com/2011/09/menghadapi-anak-didik-baru-dan-pemalu.html
    saya juga punya kumpulan lagu anak..
    lagu-lagu saya sudah banyak dipakai di TK dan PAUD seluruh Indonesia..
    Bisa didengerin di http://lagu2anak.blogspot.com
    Mau bertukar link?,,

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: