Home > Kurikulum Esdehate, SekolahKu > 100 Hal yang Hanya Ada di SD Hikmah Teladan (3): Yang Sudah Lalu

100 Hal yang Hanya Ada di SD Hikmah Teladan (3): Yang Sudah Lalu

Seperti halnya saya sudah merasa tua pada saat memasuki usia 40, saya merasa SD Hikmah Teladan juga tua ketika memasuki usianya yang ke 10. Salah satu alasannya adalah guru-guru yang awet bertahan. Bayangkan saja teman-teman angkatan pertama hanya satu yang meninggalkan SD Hikmah Teladan ketika beliau menikah lagi dengan lelaki dari Bekasi. Sepertinya pengenalan yang sudah mendalam dapat menghambat kreativitas. Prasangka (karena merasa sudah tahu seseorang luar-dalam) kerap menjadi dasar komunikasi. Sejauh ini cara yang dapat dipandang efektif menghindarinya adalah menghalau stabilitas, lebih menghargai kegelisahan dibanding kepastian dan merelakan prestasi yang dapat diulang digantikan tantangan ketidakpastian. Dalam perjalanannya, SDHT memiliki pencapaian yang kuat tapi harus direlakan terbenam menjadi yang lampau.

12. Magang

Perpaduan semangat berbagi dan kepercayaan diri membuat kami menjadi sekolah yang terbuka. Kami dapat berbagi kepada siapa saja dengan enteng. Tanpa biaya pula. Ada kunjungan sehari, paling lama sampai 3 minggu. Yang 3 minggu inilah yang disebut magang.

Seperti biasa kalau cuma disebut istilahnya tanpa penjelasan, banyak sekolah menyebut melakukannya juga. Mari kita mulai menunjukkan “Magang di SDHT” yang memang cuma pernah dilakukan di SDHT:

1. Saya menjadikan guru kelas 5 SDHT, waktu itu, dan teman-teman dari Bali menjadi 2 kelompok. Kelompok Bali dan kelompok SDHT. Saya memberikan bahan materi (dengan uraian singkat) yang belum pernah dikelola kedua kelompok. Mereka mendapat tugas membuat lesson plan, worksheet, dan menentukan siapa yang akan mengajar di kelas apa. Dari 3 kelas paralel, yang mengajar pertama adalah guru SDHT dan guru-guru yang magang menjadi observer. 2 kelas lainnya baru kemudian guru-guru magang yang mengajar dan guru SDHT menjadi observer.

Masih saya ingat betul, teman-teman dari Bali (ditambah beberapa teman dari UPI) sampai lembur. Dikerjain itu namanya. Padahal mereka sudah mendengar presentasi guru-guru SDHT tentang lesson plan yang sudah mereka buat dan diberikan worksheet terkait. Mungkin perlakuan demikian malah menantang mereka. Malu juga kali kalau cuma ngikutin saja. Kemudian setiap selepas mengajar ada diskusi. Boleh juga disebut disidang. Seperti pada umumnya SDHT yang mudah dikritik (: anak-anak yang kesiangan, tidak berseragam, ke sekolah pakai sandal, berkata-kata kasar, pada saat jam belajar berkeliaran di sekolah dan lain-lain), begitu juga KBM yang berlangsung: Kok anak-anak begini dan begitu dibiarkan? Kenapa rencana begini-begitu tidak dijalankan dan malah yang lain dimunculkan? Bagi saya, melebihi jawaban yang diberikan teman-teman, kebanggaan kepada guru-guru SDHT muncul saat mereka mempersilahkan begitu saja untuk diobservasi dan kemudian disidang. Ini keren lho. Berikutnya, teman-teman dari Bali yang mengajar di 2 kelas yang lain.

2. Magang yang dilakukan teman-teman dari Krueng Raya, Aceh menjadi magang ideal. Peserta magang adalah kepala sekolah, guru dan anak-anak. Guru-guru melakukan seperti apa yang dilakukan teman-teman dari Bali. Kepala sekolah menempel kepala sekolah. Anak-anak belajar di kelas. Sepulang sekolah mereka tinggal di beberapa rumah orangtua murid SDHT.

Bagi kami,  semakin orang dapat mempelajari dan memanfaatkkan apa yang kami miliki semakin baik. Tidak ada yang tidak boleh diketahui. Berbagai worksheet dapat digandakan, program-program dicopy, berbagai pertanyaan detail mendapat jawaban. Seloroh kami, yang enggak boleh itu dipindahkan sekolahnya.

13. Panggung Balok

Pelaksanaan terbaik dari motto “Berani gagal berani mencoba” adalah panggung balok. Sepertinya ukuran balok ini sisi-sisinya tidak lebih dari 1 meter. Semua kelas punya satu. Di panggung ini anak-anak membaca nyaring, deklamasi, bergaya suka-suka. Di panggung ini mereka sudah seperti berdiri di lantai saja padahal itu tempat yang lebih tinggi dari yang lain, tempat yang membuat yang berdiri di atasnya menyolok.

Untuk kepentingan acara antar kelas, penggabungan Panggung Balok menjadi Panggung Berani Gagal. Di sinilah lomba-lomba peringatan hari besar diadakan. Panggung Berani Gagal juga yang mendorong gagasan ulangan semester dalam bentuk lomba. Misalnya anak kelas 1 pernah ulangan berhitung dengan bergilir menjawab penjumlahan dalam waktu sekian menit. Jumlah pertanyaan yang dijawab menjadi dasar pemenangnya. Tentu saja, seperti biasa, kategori pemenang lain akan dikeluarkan sebanyak-banyaknya sebagai kejutan di penguman akhir: Kami panggil fulan sebagai juara dengan kategori anak yang paling banyak mengulang sebagai peserta. Karena lomba memang diadakan dalam beberapa hari dan anak yang belum puas dengan penampilan pertamanya dapat mendaftar lagi.

Sekarang Panggung Berani Gagal berubah menjadi Panggung Berani Mencoba dan sudah permanen. Ada yang hilang. Banyak yang tak bisa dilakukan lagi.

14. Jatah Lomba Spontanitas

Pada satu periode ada saat kami memiliki stock hadiah. Kami persilahkan guru-guru untuk mengadakan lomba, permainan, pertanyaan teka-teki dengan spontan di waktu istirahat untuk menghabiskan stock hadiah. Lomba dilakukan di tempat strategis. Dengan menggunakan megaphone guru-guru akan teriak-teriak mengumumkan lomba. Selalu ramai. Luarbiasa menyenangkan. Heboh. Ketika guru-guru baru melihat tayangan filem lama tentang itu, sungguh mereka amat terkesan.

Saya terkesan dengan lomba ini karena perannya untuk membentuk trend. Sempat guru-guru kekurangan ide sehingga lomba paling banyak teka-teki yang lucu-lucu. Dan inilah yang terjadi di kelas-kelas dalam waktu beberapa lama setelah lomba dilakukan.

15. Panggung Penampilan Spontan

Seingat saya spontanitas yang ini tidak ada namanya. Pokoknya di area dekat kantin tempat lalu-lalang anak-anak dalam setiap harinya ada saja kelas yang menampilkan anak-anak. Mereka bisa apa saja. Tidak ada ketentuan, juga tidak ada permintaan untuk menonton. Namun setidaknya kalau yang melirik atau menengok sih ada. Tujuan utamanya memang uji nyali, menantang keberanian. Sejak awal SDHT memang bernafsu membuat anak-anaknya berani.

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: