Home > MH. Aripin Ali, Walagri Aksara > Terimakasih 6: Masakin 10 Orang Misalnya

Terimakasih 6: Masakin 10 Orang Misalnya

Siti dan Ibah di rumah kami 2 hari semalam. Mereka datang dengan rencana tidak bermalam. Tentu saja saya dan istri tidak mengijinkan. Kami ingin menjamunya berbuka dan sekali sahur. Menjelang magrib kali ini, istri saya bisa bermalas-malasan di tempat tidur karena 2 gadis yang membantunya dapat mempercepat kegiatannya di dapur. Saat inilah saya mendengar istri menyampaikan keinginannya masakin Ibah dan Siti makanan yang awet. Wah.

Seingat saya baru saum kali ini, istri masak full. Saya jelas senang karena sungguh mengenal lezat masakannya. Juga, ia yang masih amatir dalam hal memasak menjadikan memasak pekerjaan yang melelahkan dan memakan banyak waktu. Saya tidak bercanda kalau hari Sabtu istri saya masak, maka kami memastikan sarapan bubur yang lewat depan rumah dulu atau sekerat roti biar bertahan sampai waktu istri menghidangkan makan pagi yang bisa saja itu sekita pukul 1o.oo-11.00. Berkait dengan Ibah-Siti, cerita saat makan, mengomentari kami yang lahap, bahwa ini, itu yang dimakan cuma dibeli sebesar harga yang jauh lebih murah dibandingkan kalau makan di luar, selalu menjadi kebanggaan istriku. Yah, inilah yang diceritakannya pada Ibah-Siti saat mendengar mereka membeli beberapa sendok sop seharga lima ribu. Besok kita masak ya, ajak istri saya pada mereka. Seulas senyum yang kuingat saat memacarinya menghibur hatiku.

Tentu saja dengan maksud mendapat penggantian, istri saya melaporkan belanja kali ini sampai 60 ribu lebih. Bersama-sama mereka mulailah masak. Oh ya yang dimaksud mereka kali ini adalah Ibah, Siti dan istriku. Mereka bergantian: siapa membaca resep, siapa meracik bumbu, siapa mempersiapkan bahan, siapa mengolahnya. Senang lho menyaksikan keramaian dan keriangan di dapur kali ini. Sudah selesai. Menurut perhitungan istri saya, Ibah dan Siti sudah punya bekal untuk setidaknya 5 hari.

Untuk 5 hari? Ibah dan siti sudah siap pulang. Selimut, sepatu untuk Siti, obat nyamuk elektrik, dibawa dengan makanan yang dimasak tadi dan kue kaleng dibawa serta. Saya menanyakan keadaan keuangan meraka. Siti ternyata hanya pegang 50 ribu yang didapat dari Eva (anggota Walagri Aksara) sehari sebelumnya. Ini berarti Siti tidak membawa uang sejak datang ke Bandung. Waduh. Keadaan inilah yang saya bicarakan setelah mereka pulang dengan tambahan uang dan bekal.

Apakah Ibah dan Siti bisa masak? Bagaimana kalau kita latih dan modali mereka untuk memasak buat teman-temannya dengan sedikit mengambil keuntungan? Berapa tambahan orang yang dimasakin yang tidak terlalu membebani mereka? Saya berpikir jumlah yang masih membuat mereka mengerjakan itu dengan menyenangkan dan bukan sesuatu yang disebut pekerjaan. Maksud hati sih ingin mereka tetap belajar dengan maksimal. Saya sudah sampaikan kepada mereka kalau mereka harus belajar mencari nafkah untuk keperluan sehari-hari, tapi tidak akan mereka mendapat beban keuangan untuk hal-hal terkait belajar. Mungkin saja mereka suatu hari tidak makan atau hanya makan satu kali, tapi dalam keadaan seperti itu mereka akan tetap menjadi mahasiswi dengan koleksi buku yang lebih banyak, atau seperti yang direncanakan untuk Ibah, kursus bahasa Inggri dan bahasa Arab di tempat yang terkenal dengan lulusannya yang baik.

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: