Terimakasih

I

Mungkin dasarnya adalah keterikatan yang secara alamiah terbentuk. Begitu saja, ketika saya mampir di rumah Ibah, muncul permintaan saya agar Ibah meneruskan sekolah ke perguruan tinggi. Jelas ini permintaan tanpa perhitungan.  Kunjungan ke desa Mekar Haruman saja hanya bisa 2 kali dalam setahun, bagaimana kami bisa memberikan beasiswa?

Perhitungan saya sesungguhnya mendalam: ada tim kuat di Bandung yang dapat membantu anak-anak desa Mekar Haruman (termasuk Ibah dan Siti) bersiap menghadapi SNMPTN. Ada Nia yang S1 dan S2 diselesaikan di Matematika ITB. Ada, banyak lho, setidaknya saya leluasa meminta bantuan teman-teman di 4 sampai 5 sekolah; Ada sekolah Semesta Hati yang saya dampingi yang membuka kesempatan untuk anak-anak kami di pelosok dapat magang atau menjadi tenaga honorer sehingga keguruan mereka terasah dan mereka punya penghasilan untuk menutupi kebutuhan sehari-hari; Saya sudah mulai punya beberapa sahabat yang semangatnya memberikan keyakinan bahwa saya harus melakukan segala kebaikan. Bagaimana nanti, ya sahabat-sahabat saya itu yang berjanji untuk menemani saya dengan setia; Terakhir, saya tidak bisa menyia–siakan semangat warga yang saya dampingi untuk mulai mempertaruhkan masa depan melalui keberhasilan pendidikan.

Saya pikir, Anda juga akan dengan senang hati bekerja kalau mempunyai motivasi sekuat itu. Jadi sekalipun tidak punya uang tapi berani menjanjikan beasiswa, saya bukanlah orang nekad. Yang sebenarnya adalah, jika program ini mandeg, saya tak lebih dari seorang pemalas, bahkan pengecut.

II

Selepas UN saya ditanya beberapa kali tentang jumlah anak yang dapat kami, Walagri Aksara, tanggung pembiayaan kuliahnya. Saya mempersilahkan berapa saja. Mereka juga bisa sangsi dengan kapasitas saya. Saya sih tidak peduli, pokoknya siapa saja dan berapa saja anak yang lulus SNMPTN akan saya urus semuanya. Tentu saja Tuhan tahu kapasitas saya. Maka konon hanya 2 anak yang mau. Keduanya lulus di UIN Sunan Gunung Djati. Keduanya menjadi tanggungan beberapa sahabat saya. Terimakasih.

Hanya 2 anak? Ibah-Siti adalah 2 anak pertama di desa Mekar Haruman yang masuk universitas negeri. Masyarakat tentu saja bangga. Adik-adik Ibah-Siti sudah mengetahui bahwa berkuliah di universitas negeri di kota Bandung itu bukan perkara sulit. Yang sulit adalah mampu menembus SNMPTN-nya. Ibah-Siti akan cerita bagaimana guru-guru SDHT mengajar mereka sehabis tugas mengajarnya. Ibah-Siti akan cerita bagaimana mereka diperlakukan di rumah kami. Ada cerita yang banyak untuk adik-adik Ibah-Siti di desa Mekar Haruman. Sungguh jumlah tak berarti, yang menggebrak perubahan adalah dinding yang menutupi luasnya kesempatan yang telah dirubuhkan.

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: