Home > Walagri Aksara > Wajah-wajah dalam Ingatan (5): Kali ini tentang Diri Sendiri

Wajah-wajah dalam Ingatan (5): Kali ini tentang Diri Sendiri

Karena kegiatan Walagri Aksara saya jadi banyak di foto. Hasil jepretan, sebagian besar, membuat saya terbiasa melihat wajah sendiri yang tidak menarik, kurang menyenangkan, tak mengekspresikan keramahan. Kenapa demikian, saya belum terlalu berani mencari jawaban.

Saya ingat waktu diambil gambar oleh Bambang Wisudo untuk tulisannya di Kompas. Beliau berulangkali memberikan pengarahan bagaimana seharusnya saya tampil dan bermimik yang wajar, kemudian pengambilan gambar pun harus dilakukan beberapa kali. Hasilnya? Saya semakin percaya saja kalau tidak bisa berekspresi yang alamiah di depan kamera dengan arti yang tidak alamiah itu saya tampil jelek.

Adanya alamiah saya lumayan. (Kalaupun sudah ada perbaikan sebagai pengaruh wajah istri saya yang manis), anak-anak saya dapat membenarkan pernyataan bahwa saya lumayan. Apalagi orang yang bilang anak saya ganteng atau manis, dapatlah dikatakan, sama banyaknya dengan yang mengatakan mereka seperti bapaknya. Lalu kenapa?

Saya sempat mendiskusikan hal tersebut dengan istri. Jawaban sementara atau jawaban diskusi waktu itu, semuanya berkaitan dengan cara saya dalam menilai anak-anak. Saya mempunyai standar seperti apa anak saya sehingga belum bisa menerima mereka apa adanya pada ruang kontemporernya. “Belum bisa menerima” artinya kebanyakan mengkritik, kesal, khawatir, kurang bersyukur, dan banyak sifat lain yang kemudian semuanya menjadi sumber ekspresi wajahku yang ‘alamiah’.

Anehnya foto-foto selama di Ciwidey menunjukkan perbaikan yang signifikan. Saya lebih banyak tampak ceria. Mimik saya di pagi hari seiring dengan cahaya matahari yang ditunggu kehangatannya. Ekspresi saya di sore hari layaknya seseorang yang dengan sukarela mengajak duduk santai sambil menikmati jagung organik rebus. Wajah saya di malam hari dapat kau bayangkan umpama bulan yang terlihat dari tempat kita berada yang sedang diguyur hujan. Maksudnya, kayaknya sekarang saya sudah mulai mengada-ada nih.

Secara pribadi tentu saja saya menikmati perubahan ini. Sungguh saya sangat menginginkan perubahan dalam menghargai dan berkomunikasi dengan anak-anak. Karena apalagi yang paling intens dalam komunikasi selain dengan keluarga, maka saya berharap ada kesejajaran antara kehangatan dalam keluarga dengan perbaikan alamiah dari ekspresi keseharianku. Juga, berbeda dengan komunikasi suami-istri, komunikasi saya dengan anak masih sebagai komunikasi antara penguasa dan yang-dikuasai. Dengan demikian, keberanian saya menghargai keutuhan dan keunikan anak, atau terhapusnya keperluan membuktikan kekuasaan dengan menunjukkan kekuasaan; semoga menjadi bagian yang turut serta dalam perjalananku ke depan.

Categories: Walagri Aksara
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: