Home > Walagri Aksara > Wajah-wajah dalam Ingatan (4)

Wajah-wajah dalam Ingatan (4)

Di Cieceng tokoh agama masih memiliki peran sentral. Selain rutinitas mengisi pengajian dari masjid, madrasah atu mushala di tingkat kepunduhan, beberapa di antara mereka juga mengelola madrasah dan pesantren (sebetulnya berupa tempat pemondokan yang disediakan bagi siswa yang jauh dengan disertai program pembinaan keagamaan). Bila ditambah berprofesi sebagai guru, beberapa di antara mereka tidak memiliki waktu lagi untuk bertani. Inilah yang dialami ajengan Parman.

Tokoh yang saya maksud tampak di foto sedang memimpin doa. Ini doa sebelum mereka, ratusan orang, bergabung dalam arak-arakan demonstrasi peringatan Hari Anti Korupsi Internasional. Bila ajengan berdoa dalam lingkaran ritual, apalagi ajengan dari desa, saya dengan enteng menggelarinya “Tukang Doa”; namun sekalipun doanya doa yang sama, kehadiran ajengan di tengah jantung pergerakan masyarakat di mana ia berada, dapat meneguhkan makna spritual pada kerja.

Perkenalan lebih dekat yang membuat saya menghormatinya sebagai ajengan dimulai saat beliau datang ke Bandung untuk ikut pelatihan Peace Generation. Pelatihan yang pernah kuikuti sehingga kutahu ‘gaya’ materi, penyampaian dan lingkungan pesertanya metropolis, membuatku terdorong mendandani ajengan baik pikiran maupun penampilan. Sewaktu saya terpaksa memberinya deodorant, saya disadarkan dengan adanya kesungguhan dan semangat membara sehingga sebuah keputusan diambil dengan menutup mata pada keterbatasan dan kekurangan. Hari itu memang leluasa untuk berbincang, beliau bermalam di rumahku.

Mengetahui peran sentralnya di masyarakat, saya menghadiahi beliau buku-buku yang berhubungan dengan pendidikan anak (dan pembinaan rumah tangga) dan buku terkait tasawuf. Buku terkait pendidikan anak disertai diskusi dalam berbagai pertemuan. Sungguh saya bahagia bahwa apa yang kami diskusikan meluas ke warga lain, menjadi prinsip yang dihidupkan di Pendidikan Anaka Usia Dini (PAUD), juga menjadi materi ajengan dalam pengajian dengan ibu-ibu. Ha! Saya kangen ketemu ajengan, euy.

Categories: Walagri Aksara
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: