Home > Walagri Aksara > Bola Liar Cieceng (1): Inseminasi Buatan

Bola Liar Cieceng (1): Inseminasi Buatan

Namanya Andi. Kukira usianya kisaran 20 tahun. Ia satu di antara beberapa anak Cieceng yang lulus SMA dan mengajar di SMP Darul Hikmah. Bagiku Andi spesial karena beberapa kali tubuhnya yang kurus kupeluk erat saat kunjungaku ke Cieceng. Andi dan motor off  road-nya bagian dari kerinduanku melakukan perjalanan ke Cieceng. Wah, apalagi musim hujan nih.

Pemuda yang Menarik Berkat Semangatnya

Secara umum warga Cieceng memiliki semangat menggebu. Namun demikian, selalu memikat hati mengetahui orang yang bersemangat berbakti untuk yang lain. Kan lumrahnya orang bertumpu pada kepentingan pribadi, termasuk ketika kepentingan pribadi terlebur dalam kepentingan bersama, akan ada saat kita pada umumnya, kembali menegaskan pemihakan pada diri sendiri.

Saya jelas bukan orang seperti itu. Belum bisa euy. Akibatnya ketika kutemukan pada Andi sifat altruisme, saya dag dig dug menjaganya. Sampai akhirnya kukenali ternyata cara terbaik menjaganya adalah mengenalinya. Dan kubiarkan diriku terbuka untuk dipengaruhi oleh setiap pengenalan.

Pada saat guru-guru Cieceng magang di beberapa sekolah di Bandung, yang membantu, tepatnya menanggung akomodasi dan transportasi adalah pak Ali Abdullah dan rekan. Beliau sungguh murah hati dan bersemangat. Maka ketika pak Ali menunjukkan apresiasi terhadap kesemangatan Andi di forum yang dimoderatorinya, dalam hati saya mengakui kesemangatan Andi setidaknya selevel dengan pak Ali.

Semangat yang ditunjukkan Andi muncul dari lubuk dirinya terbukti saat hal mengenai inseminasi buatan yang muncul saat magang itu, serta merta menggelegak ke permukaan bersamaan dengan kepastian kesempatan magang inseminasi buatan dapat dilakukan di Pos IB, Soreang, Kabupaten Bandung Barat. Andi, setelah mendengar berita ini dari koordinator SPP Tasikmalaya, langsung menelepon saya “Pak, wah, terimakasih banyak. Saya sampai mau pingsan mendengarnya. Pak, saya bakalan gak tidur semalaman nih. Semoga Bapak diberi panjang umur.” Kemudian Andi berkirim SMS: Pak. saking senengnya.saya.kyknya gak bkln bsa tdr..! mudah2an.kebhagyaan yg.saya rasa.bsa ketemudunya dan akhirat.. ! oleh bpa amien..

Kalimat “Semoga Bapak diberi panjang umur” membuat saya dan teman-teman yang mendengar cerita saya tertawa. Kemudian, lebih dari semingguan kesempatan yang sudah terbuka itu tidak saya tindaklanjuti. Maklum, saya kebingungan dengan pendanaan IB yang tidak mungkin kecil mengingat lama magangnya yang mencapai sebulan. Ketika Andi sudah untuk kesekian kali menanyakan, akhirnya saya hubungi penanggung jawab POS IB. Tidak termasuk akomodasi, biayanya 3 juta. Di luar dugaan dari uang sendiri (kata Yayan, Andi jual motor) Andi menyangggupi 2 juta. Berarti saya tinggal mencari 1,5 juta, 500 ribu untuk biaya makan Andi selama 1 bulan.

Berikutnya besaran uang yang mengejutkan adalah harga tabung untuk penyimpanan sel telur, sperma dan sejenisnya yang saya sendiri tidak tahu yang mencapai 12 juta. Inilah alat IB yang kami duga menjadi syarat pokok Andi bisa berpraktek di Cieceng selepasnya magang. Berkaitan dengan tabung ini, saya akan menulis SMS Andi yang lain yang saya fahami itu berbeda dengan semangat biasa, yaitu semangat dengan selipan manis kenekatan: Asalmualikum PakSaya sudah.dapt kbr dri yayan. Soal harga tabung.meskipun keadaan saya yg trbatas.! akan terus berjuang.dan saya tetap OPTImis.! Gk kn puts asa.

Bola Liar Itu!

Ternyata biaya magang 3 juta itu termasuk sebuah termost untuk penyimpanan sel telur yang semula kami sangka sebagai tabung. Tabung ternyata digunakan untuk menyimpan stock. Artinya, sepulang dari magang, Andi bisa langsung berpraktek. Karena magang juga mencakup kesehatan hewan dan reproduksi, Andi akan menjadi tumpuan semua warga Cieceng dan sekitarnya (suatu wilayah yang cakupannya bisa sangat luas) dalam menjalankan peternakan.

Andi menjadi model yang sangat bagus bagi upaya kami untuk memberdayakan guru yang sekaligus karena guru di Cieceng menjadi tokoh perubahan sosial, memberdayakan masyarakat. Hal yang sangat membanggakan dari guru-guru Cieceng adalah kenyataan bahwa mereka mengajar tanpa gaji tidak menjadikan mereka mengharapkan pemanjaan sosial. Misalnya, salah satu guru yang semula pembuat gula aren, beralih menjadi penyadap kelapa dengan alasan waktu yang digunakan dalam keseluruhan proses pembuatan gula aren tidak memungkinnya mengajar.

Andi, bagi kami-Walagri Aksara, bukan hanya kami banggakan karena menjadi ‘pelindung’ sekian ratusan ekor sapi (dan kelak ternak lain), melainkan juga membanggakan karena membuat kami menemukan model yang bagus tentang penyelenggaraan dan penguatan sekolah swadaya di pelosok, kemudian karena guru-guru yang tidak dibayar, pengembangan program pemberdayaan guru dalam hal ekonomi. Andi menjadi contoh yang khas, karena guru yang berdaya menjadi teladan dan kekuatan yang mendorong kuat pemberdayaan masyarakat.

Categories: Walagri Aksara
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: