Home > MH. Aripin Ali > Kelas Kecil Pluralisme (1)

Kelas Kecil Pluralisme (1)

Saya sangat berhasrat mengelola sekolah dengan siswa yang beragam agamanya. Tanpa terasa Semesta Hati, nama sekolah itu, telah lebih satu tahun menjadi tempat berkumpul sekitar 25 anak, di antaranya siswa dengan orangtua beragama Katolik dan Kristen. Seperti pertanyaan Dika kelas VIII, “Kapan aku dapat memutuskan agama yang menjadi pilihanku?” ketika ia menemukan klaim kebenaran pada setiap agama, saya lebih senang mengkaitkan agama seorang anak yang belum dewasa sebagai agama orangtuanya.

Hari Minggu kemarin, dari sore sampai selepas Isha, yang  beragama Katolik, Dika sekeluarga, komplit menjadi tamu terhormat di rumahku. Mereka mengucapkan selamat Idul Fitri dan membawa sekian oleh-oleh. Eh, si ibunya malah dengan jelas mengucapkan, “Minal aidin wal faidzin. mohon maaf lahir dan batin”. Ini oleh-oleh yang membuatku terhenyak.

Terus-terang kusampaikan bahwa saya belum bisa seperti mereka. Jangankan berinisiatif berkunjung, sepertinya, misalnya saja  diundang ikut dalam suka cita Natal sekalipun, saya belum pernah mampu menghadirinya. Pada pernyataan “undangan suka cita Natal” saya belum bisa memisahkan antara memenuhi undangan yang dapat saya penuhi dengan mengunjungi rumahnya, bercerita tentang anak-anak, tentang sekolah, tentang pekerjaan masing-masing, atau seperti kemarin itu, tentang pergaulan anak-anak, persahabatan anaknya dengan anakku; selalu terikat pada hatiku bahwa yang lebih utama pada pernyataan itu bukan perihal undangannya melainkan perihal Natal-nya. Terasa betul bagaimana aku dibesarkan dengan serta-merta menyodorkan seribu telunjuk yang mengingatkanku bahwa memenuhi undangan perayaan tersebut sama dengan membenarkan Yang Dirayakan. Musyrik deh.

Kegalauan itu persis terkait bagaimana kudibesarkan. Saya kan sudah menunjukkan seharusnya bisa memisahkan antara memenuhi undangan sebagai kewajiban sosial dengan tak memenuhinya karena undangannya berkaitan dengan Tuhan yang berbeda, dengan ritual yang lain. Namun lain pikiran, lain hati yang bergelora dengan penolakan berdasar pandangan teologis. Ada kekhawatiran. Ah, muncul arogansi. Terkuak kelemahan diri (dalam  kompetisi sosial dan kultural) sehingga membabi-buta mencari pengutamaan diri dengan dalih teologis. Eh, kok jadi ke mana-mana.

Ada waktu sekitar 2 bulan untuk berpikir dan merenung tentang diri; diri yang tak lama lagi akan menerima undangan untuk berkumpul menikmati hidangan dan perbincangan di suatu hari, saat teman-teman Katolik dan Kristen, menyebutnya Hari Natal. Semoga kumau yang kutahu jadi bagian pengalaman hidupku.

Categories: MH. Aripin Ali
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: