Home > Walagri Aksara > 50 Kerudung untuk Korban Gempa Tasikmalaya

50 Kerudung untuk Korban Gempa Tasikmalaya

Jumat, 4 September 2009, pukul 21.45, saya mendapat telepon dari koordinator SPP Tasikmalaya bahwa kami tidak dapat masuk Cieceng. Mendadak memang. Kami sudah siap 100% dan waktu keberangkatan, di luar jam tidur dan jam kerja, hanya tinggal beberapa jam saja. Alasan yang disampaikanlah yang membuat kami tidak bisa kecewa, namun demikian persiapan yang sudah dilakukan pun mengharuskan kami tetap meneruskan perjalanan.

Cieceng Kembali Bergolak

Status tanah Cieceng sebagai tanah sengketa kembali diusik. Perhutani menggaet 100-an tentara untuk membuat ketakutan warga Cieceng dan bergerak melakukan pembusukan SPP. Mereka sudah sampai di desa yang hanya beberapa kilometer jaraknya dari Cieceng. Konflik sudah mendekat perbatasan.

Tentu saja semua teman siaga I, katanya sih hari-hari mereka lalui dengan kesibukan menyiapkan ‘peperangan’. Tanah ternyata memang darah. Mempertahankannya sama dengan menyelamatkan hidup. Sampai kudengar cerita memikat: Ini kan Ramadhan. Sehabis salat Isha kami biasa tarawih. Di Cieceng beberapa hari tersebut salat tarawih sempat dihentikan dengan alasan bahwa memperjuangkan hak terhadap tanah adalah wajib, sedangkan salat tarawih tak lebih sebagai sunat.

Selain untuk kepentingan pengambilan gambar bagi kegiatan Live In dan Tour of Charity, kami (para lelaki Walagri Aksara) senang sempat menangkap situasi Cieceng yang sedang sarat secara emosional. Betul, semua asa ini kami miliki sebelum gempa 7,3 skala Richter. Gempa yang berpusat di Tasikmalaya ini menghancurkan juga banyak basis (:di mana SPS melakukan advokasi kasus pertanahan) SPP, baik itu di Tasikmalaya, Ciamis, juga Garut. Mau tak mau, seluruh pengurus SPP terjun ke lapangan tanpa menyisakan seorang pun yang mungkin mendampingi kami  di Cieceng yang padahal demikian genting keadaannya.

Kesepakatan

Sahabat saya di Jakarta bertanya tentang apa yang bisa teman-temann Walagri Aksara bantu dengan kejadian 100-an tentara itu. Berhadapan, dalam pengertian berkonflik, dengan tentara sudah sewajarnya kita takut. Cuma orang-orang yang punya alasan mempertahankan hidup berhak untuk nekad. Dan, aku dengan teman-teman Walagri Aksara tidak dalam posisi itu.

Alasan kami terlibat dalam pusaran sengketa terutama pertimbangan strategis, yaitu bila betul konflik pecah menjadi ‘perang’ dan teman-teman, warga yang dewasa dan guru-guru terhalang menjejak kaki di Cieceng, muncul pertanyaan “Siapakah yang akan mengurusi anak-anak?” Berposisi tanpa dapat dibaca bahwa kami terkait dengan SPP akan membuat kami leluasa masuk ke Cieceng. Sesungguhnya perlu kami tegaskan, sejak awal keterlibatanku sampai kini aku melebur di Walagri Aksara, kami semata hanya mengurusi pendidikan. Walgari Aksara identik dengan pendidikan di pelosok, bukan terkait dengan advokasi sengketa tanah. Alasan paling kuat untuk hal ini, wah aku tidak mumpuni secara pikir, ketangguhan jasmani, keteguhan hati untuk beraktivitas layaknya teman-teman SPP. Jadi, ya mau apalagi, bersepakatlah kami untuk sama-sama menjaga jarak dan kegiatan kami di Cieceng murni sebagai wujud kepedulian terhadap sesama yang kini sedang tertindas.

Sumbangan Islamisasi

Kami akhirnya tidak jadi ke Cieceng  melainkan ke Taraju di mana ada basis yang cukup parah menanggung akibat gempa. Yang menarik, banyak bawaan kami tidak berubah termasuk dalam hal ini al-Qur’an, kerudung sebanyak 50 buah dan sarung 20 buah. Bawaan yang aneh kan. Bawaan lainnya, selain kopi, ditambahkan sengaja untuk kebutuhan daerah bencana.

Yang rada aneh mengenai kerudung yang merupakan sumbangan salah satu butik besar busana muslim.  Aku menyebutnya kerudung islamisasi. Mirip-mirip niatan dengan dimunculkannya perda syariah yang terjadi di beberapa tempat.  Aku sendiri menyamakan penyebutan islamisasi semakna kristenisasi. Permintaan dari pemberi agar kerudung, terutama, diberikan kepada mereka yang belum mengenakannya memang membuatku agak banyak meracau. Padahal bila disampaikan begitu saja pun rasa terimakasih mereka pasti mempermalukan kita.

Namun demikian, hai, kami dibuat terpana melihat kegembiraan mereka menerima kerudung. Aku jadi berpikir lebih jauh, betapa senangnya kalau mereka-mereka yang memiliki kapasitas meneguhkan hati, memaknakan kesabaran, dan membangun kebersamaan, yaitu para ulama, menjadi relawan yang menemani korban bencana. Puasa bersama mereka. Berbuka sambil membincangkan kedatangan para malaikat pada mereka yang berpuasa. Memimpin salat tarawih dan membacakan ayat-ayat tentang keutamaan salat bersabar, tadarus, atau entahlah.

Categories: Walagri Aksara
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: