Home > Kurikulum Esdehate > Melibatkan Orangtua ke dalam Komunitas Sekolah: Studi Kasus di SD Hikmah Teladan, SMP Semesta Hati dan SD-SMP Darul Hikmah

Melibatkan Orangtua ke dalam Komunitas Sekolah: Studi Kasus di SD Hikmah Teladan, SMP Semesta Hati dan SD-SMP Darul Hikmah

I

Mengapa melibatkan orangtua ke dalam komunitas sekolah perlu bahkan mutlak keharusannya? Saya memperhatikan siapa saja orangtua SD Hikmah Teladan yang ketika ada acara besar sekolah menyebabkan area parkir penuh sehingga meminjam pinggir jalan raya dan halaman parkir Bank Lippo: sekian doktor (beberapa dari luar negeri), banyak S2, pada umunya S1, beberapa penulis profesional, lumayan banyak wirausahawan, pegawai negeri, pekerja BUMN, ada anak yang masuk menggatasnamakan kakeknya yang profesor, aktivis LSM yang di antaranya sudah berkeliling dunia karena aktivismenya, para guru, pun politikus. Tuh kan kami hanya guru.

Hanya Guru Versus Belenggu Kurikulum

Sekolah-sekolah kita masih terbelenggu kurikulum. Intervensi negara (birokrasi pendidikan) sampai pada keseharian proses belajar, artinya, seperti saat pergantian Kurikulum Berbasis Kompetensi dengan KTSP, ada begitu banyak kebijakan di luar kendali kita, kita hanya baut-baut dari mesin birokrasi. Kini pun, dengan penuh curiga, kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada dunia-pendidikan Indonesia sebagai sebab kepentingan politik saat kabinet baru “SBY-Boediono” diumumkan Oktober mendatang.

Belenggu birokrasi pendidikan, orientasi politik dari pendidikan, membuat kita, guru-guru, berfungsi sebagai makmum. Akibatnya, cara kita bertahan menjadi defensif: sesuai kurikulum. Dalam hal ini posisi orangtua menjadi pelik. Orangtua persis berhadapan dengan sekolah yang tidak berpusat pada anak (-anak mereka) melainkan berpusat pada kurikulum. Sementara dengan berpusat kepada kurikulum, sekolah-sekolah adalah makmum. Sekolah hanya perpanjangan tangan birokrasi pendidikan. Sayangnya orientasi politik pada pendidikan kita, tangan-tangan yang kita perpanjang itu tangan-tangan yang terselubung, mungkin tangan-tangan gaib. Sebagai sekolah-sekolah penunggu ‘instruksi’ dan pemberi instruksi memikul beban kepentingan politik, sangat wajar kita berdiri kukuh dalam berhadapan dengan orangtua dengan dalih “sesuai kurikulum” saat mengharuskan orangtua bermakmum pada sekolah.

Belenggu kurikulum, dengan segala kuasanya, telah menggeser posisi guru berhadapan dengan orangtua yang semula “hanya guru” berbalik. Yang hanya sekadar itu menjadi orangtua. Orangtua telah diposisikan hanya sebagai penitip anak dengan segala kewajibannya.

Franklin: Model Interaksi Orangtua, Sekolah, Kurikulum

SD Hikmah Teladan itu sekolah umum yang kemudian dicitrakan orangtua sebagai sekolah Islam. Orangtua anak-anak kami itu multi partai, beragam mazhab, ada yang fundamentalis, ada yang liberal, ada yang berpaham pendidikan konservatif, juga alternatif. Guru-gurunya multi partai (sangat mungkin ada yang golput), keislamannya berlatar beragam golongan mulai dari yang fundamentalis sampai Islam Liberal, sarjana dari non kependidikan lebih banyak. Gabungan sederhananya, kami adalah sekolah Islam alternatif. Sejak awal sampai saat ini, label Islam sangat kuat.

Franklin adalah serial cerita anak dengan tokoh Franklin yang diterbitkan penerbit Kanisius yang notabene milik Katolik. Pada seri ini ada buku dengan judul “Hadiah Natal Franklin”, “Franklin’S dan Pesta Helowen”, “Franklin di Hari Valentin” yang pasti diketahui orangtua karena tertera di cover belakang semua  buku Franklin.

Berkaitan sebagai (sekolah yang dicitrakan) Sekolah Islam pada guru-guru juga orangtua muncul rumor “kristenisasi”, peraguan masal sebagai Sekolah Islam. Namun demikian saya hanya peduli dengan pertanyaan yang mempertegas penjagaan dan perlindungan orangtua kepada anak: mau dibawa ke mana anak  saya? Pemakaian buku Franklin yang didasarkan pada kepentingan anak untuk mendapatkan sumber belajar terbaik, melanjutkan pertanyaan orangtua “Apakah tidak ada buku Islam yang sebaik Franklin?” Saat itu, dengan memberikan banyak contoh, jawabannya saklek: Tidak ada! Ada dua, tiga orangtua yang mengeluarkan anak dengan membawa isu dan cap sekuler untuk kami. Banyak yang khawatir dengan pengaruh ke depan. Seperti biasa, lebih banyak yang tidak peduli. Saya senang dengan orangtua yang pragmatis, “Ayo, kita lihat saja buktinya.” Dari semua tanggapan terhadap buku Franklin (sebelumnya pemakaian lembar anak Kompas hari Minggu sebagai sumber belajar Bahasa Indonesia) terlihat bagaimana Franklin menarik semua orangtua yang beragam itu untuk terlibat, memperhatikan dan mempedulikan sekolah. Sekarang bagaimana kalau mereka mewacanakan masalah ini dalam sebuah forum orangtua dan sekolah? Ruang demokratis yang ditandai adu-argumen, penghujatan, dan kesepakatan untuk tidak bersepakat, menjadikan kami mengenal dengan cukup dekat. Secara alamiah orangtua membentuk kelompok kedekatan yang tak kentara karena tetap bersama-sama sebagai orangtua murid.

Pemakaian Franklin sebagai rujukan (awalnya Bahasa Indonesia, kemudian Karakter) bagi sekolah menjadi penegasan asyiknya mengobrak-abrik kurikulum, senangnya mencuri-curi melawan hegemoni kurikulum. Dengan kapasitasnya sebagai buku yang tepat, baik dan menyenangkan untuk anak, Franklin memang mempengaruhi kami dengan mendalam. Keberhasilan kami mengelola pembelajaran, membuat worksheet pendamping buku Franklin, manjadi penanda historis bahwa kami lebih baik (sebagai pribadi maupun sebagai guru) dengan membaca kurikulum dan kegiatan belajar dari sudut pandang kepentingan anak.

Berhadapan dengan orangtua, bagi saya, guru tetaplah hanya guru. “hanya” yang berarti tak seberapa dapat mendorong kita menutup diri dengan bersandar pada dalih mengikuti kurikulum yang kini berarti mentaati undang-undang dan bersyukur dengan budaya “menitipkan anak” pada sekolah dari masyarakat; atau kita terbuka yaitu dengan rendah hati mengakomodir dan mengelola kekuatan yang beragam (dan nyatanya selalu lebih baik dari kita)  dari orangtua.

Apakah Orangtua (Masyarakat) Selalu Lebih Kuat?

Orangtua secara alamiah membentuk kejiwaan anak. Kapasitas sekolah dan masyarakat hanyalah menguatkan atau melemahkan, hanya menambah warna-warni. Bahkan sekalipun dibandingkan masyarakat, peran sekolah dalam menguatkan atau melemahkan kejiwaan anak yang dibentuk orangtua masih lebih lemah pengaruhnya.

Ini sebuah kisah. Saya (bersama teman-teman Walagri Aksara) melakukan pendampingan di pelosok Tasikmalaya selatan, Jawa Barat, tepatnya di desa Cieceng yang dimulai 4 tahun lalu: merintis pendirian SMP Darul Hikmah dang menguatkan SD Darul Hikmah yang sudah lebig dulu berdiri. Warga desa Cieceng yang kami dampingi hidup di atas tanah sengketa. Sengketa yang melegenda adalah teror selama 3 bulan yang berujung sengketa antara 15 orang warga yang sebagian besar ibu-ibu dengan 7 truk preman sewaan.

Dengan dampingan dari Serikat  Petani Pasundan (SPP) yang giat melakukan advokasi sengketa tanah di Jawa Barat, mereka tumbuh menjadi masyarakat dengan nilai-nilai khusus: jiwa merdeka (kehendak untuk tidak dibawah subordinasi lian), besarnya tuntutan berorganisasi, mungkin secara umum boleh disebut semua nilai-nilai yang bergerak dari jiwa perlawanan, kebebasan dan berakhir dengan kemandirian.

Pada saat kami melakukan observasi terakhir beberapa bulan ke belakang ditemukan betapa semua standar penyelenggaraan sekolah mereka adalah minimal. Serba dibawah standar: bangunan memang seperti kandang kambing; tidak ada guru lulusan S1; semua guru yang petani itu ada lulusan SD, SMP, dan SMA; mata pelajaran agama hanya ada 2 buku yang dipegang guru dan keadaan buku lain yang tak jauh berbeda; waktu guru mengajar adalah waktu di antara aktivitas bertani. Adakah setitik harapan bagi anak-anak untuk menggantungkan masa depan melalui sekolah?

Satu anak lulusan SMP Darul Hikmah melanjutkan sekolah ke aliyah di kota Tasikmalaya, yang tentu segala standar penyelenggaraan sekolah sudah terpenuhi. Si Gadis kampung ini juga bertemu dengan teman-teman, siswa lain, yang semuanya juga hampir lebih dari dirinya dalam banyak hal. Sekarang mari kita bayangkan apa yang akan  terjadi pada seorang anak yang tumbuh dan menjadi saksi nilai-nilai “kejuangan” masyarakatnya berada di lingkungan seperti itu? Apakah keberadaan teman-teman baru itu membuatnya rendah diri karena alasan asalnya (termasuk mutu rendah SMP Darul Hikmah); atau nilai-nilai masyarakatnya membara sehingga ia menggebu berkompetisi? Kabar terakhir saya mendengar si gadis menjadi salah satu dari anak berprestasi, dan saat kabar terkahir itu pula saya tahu ia sedang diskor karena membawa teman-teman sekolahnya turut berdemonstrasi terkait kasus pertanahan.

Dengan demikian, bila sekolah hendak tidak melulu berbicara di ranah ilmiah dan mau merambah ranah kejiwaan anak dan budaya, sekolah harus terbuka pada peran serta orangtua dan menjadikan sekolah sebagai bagian dari masyarakat. Menjadikan sekolah dunia yang hanya terkait kurikulum padahal kapasitas kurikulum kita sangat rendah dalam mengakomodir dan berkontribusi terhadap lingkungan sosial adalah masa depan yang rentan dalam kerangka pembentukan kejiwaan anak. Belajar dari si Gadis Kampung, dari Neng Geulis, pilihan antara sekolah yang kuat dengan ikatan nilai-nilai sosial yang rapuh dengan sekolah yang seadanya dengan nilai-nilai sosial-budaya yang kokoh adalah  pilihan yang mengajak kita untuk menggabungkan perolehan hak anak terbaik dari sekolah, masyrakat dan rumah.

II

Sekalipun pelibatan orangtua di SD Hikmah Teladan karena hal-hal kontroversial yang terus menyertai perjalanan kami, menurut saya itu bisa menjadi salah satu strategi yang digunakan terutama ketika keterlibatan oranngtua perlu didorong dengan sedikit pemaksaan. Setidaknya, demikianlah yang akhirnya yang saya lakukan di SMP Semesta Hati yang baru berusi setahun dengan pernyataan di brosur dan spnaduk bahwa sekolah ini menerima siswa dari home school.

Visi, Misi

Silahkan bayangkan apa yang ada dipikiran orangtua yang hendak menyekolahkan anaknya ke sekolah baru dengan Visi “Menjadi sekolah terdepan dalam menerapkan konsep pendidikan anak merdeka”? Pada umumnya ‘ketakutan’ dengan visi demikian. Hanya 1, 2 orangtua (yang sudah dipastikan adalah orangtua yang merupakan pasangan muda) yang memilih SD Hikmah Teladan karena visinya, sedangkan siswa kami lainnya, sampai tahun ke-4 pada umumnya siswa ‘buangan’. Sampai-sampai kami dikenal sebagai sekolah anak buangan lho. Namun, Tuhan Maha Adil, semakin dikenalnya kami sebagai Sekolah Anak Buangan –yang kemudian menjadi promosi kami paling jitu yaitu melalui kekuatan rumor, gosip, isu dari mulut ke mulut– disertai dengan bertambahnya orangtua muda yang memilih kami karena visi yang keren itu.

Orangtua muda angkatan awal yang memilih SD Hikmah Teladan karena visi-misinnya luar biasa jasanya mengingat posisi mereka yang rawan: selain berhadapan dengan tantangan untuk bersama-sama menemukan ragam model kegiatan dan pembelajaran yang mengejawantahkan visi-misi yang masih prematur; di sisi lain, mereka juga berperan jadi agen sekolah untuk mempertahankan visi-misi dari serangan orangtua yang kovensional dan menyebarkan pemahaman pada orangtua yang tidak peduli alias hanya menjadikan sekolah sebagai tempat penitipan.

Sekitar pada tahun keempat awal para orangtua yang memilih SD Hikmah Teladan karena visi-misinya berhasil memformulasikan warna keislaman pada Misi  SD Hikmah Teladan, yaitu “Menumbuhkan sikap tauhid anak sejak dini dan kemampuan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari”. Misi SD Hikmah teladan selengkapnya adalah,

2. Memelihara kemerdekaan anak dan memperluas jangkauan kemerdekaannya seiring tumbuh kembang yang dilalui anak;

3. Mengokohkan pemahaman bahwa sesungguhnya belajar merupakan pemenuhan dari rasa ingin tahu;

4. Menempatkan peran penting guru untuk menumbuhkan keingintahuan anak dan mengarahkannya dengan cara yang paling mereka harapkan, paling mereka minati;

5. Mendidik anak agar berani gagal berani mencoba sebagai pandangan kami mengenai pendidikan sekaligus metode pembelajaran yang dikembangkan;

6. Menumbuhkan anak yang percaya diri dan berkembang menjadi dirinya sendiri melalui pemberian rasa aman, penghindaran rasa aman, penghindaran dari celaandan cemoohan, serta pemberian keleluasaan untuk berekspresi dan bereksplorasi.

Sekolah Penyelenggara Program Inklusi

Namanya juga sangat membutuhkan siswa, di tahun-tahun awal (usia kami sekarang masuk tahun ke 10) masuk SD Hikmah Teladan tanpa seleksi. Akibatnya, yaitu tadi, kami jadi Sekolah Anak Buangan: limpahan dari sekolah Islam alternatif yang terdekat dan sudah mapan; anak-anak yang dikeluarkan dari sekolah lain karena masalah perilaku; anak yang oleh sekolah asal dinyatakan akan tidak naik kelas kecuali pindah; atau anak-anak yang lain yang sudah ditolak di sana sini dan hanya mendengar kata “Silahkan” saat menyampaikan maksud bersekolah di SD Hikmah Teladan. Karena sudah begitu sejak dari awal, maka pada saat pemerintah menyelenggarakan program inkusi kami menjadi sekolah inklusi dengan sendirinya. Sebagai sekolah inklusi, anak-anak di SD Hikmah Teladan tidak mengenal tidak naik kelas. Seorang anak tetap naik kelas sekalipun di kelas 5 ia masih melancarkan membaca dan seorang anak yang mengalami trauma dengan perlakuan guru di sekolah sebelumnya (pindah ke SD Hikmah Teladan di kelas 5) bersamaan dengan semua persiapan ujian akhir yang diikutinya, terus mendapat pendampingan untuk dapat “memahami arti” sebuah kalimat yang dibacanya dengan lancar.

Hubungan antara Sekolah Inklusi dengan pelibatan orangtua dalam komunitas sekolah terjadi sebagai akibat daya tarik dari anak-anak dengan permasalahan akut. Misalnya, salah satu anak kami tumbuh di lingkungan pasar, bergaul dengan anak-anak muda yang sebagian di antaranya preman pasar yang menjadikannya secara alamiah berbahasa yang kasar, jorok, wah pokoknya. Ah, ia juga pandai bergaul. Hal lain yang mencolok padanya adalah kesehariannya berkomunikasi dengan bahasa Sunda. Semua ini membuatnya dominan di kelas, membuatnya kuat mempengaruhi yang lain. Semua anak dipengaruhinya! Akibatnya, semua orangtua menjadi tahu bahwa anaknya yang katanya bersekolah di sekolah Islam, memperoleh kemampuan yang tidak pernah dikuasai sebelumnya selama anak sebelum masuk SD Hikmah Teladan: berkata-kata kasar dan jorok.

Hai! Setelah satu-dua orangtua menemui kami untuk menyampaikan protes dan kami bersikukuh mempertahankan setiap anak seperti apapun dia setelah dinyatakan sebagai siswa, orangtua kesal dan memutuskan melaksanakan pertemuan POM (Persatuan Orangtua Murid) dengan agenda permohonan agar anak tersebut dipindah kelas atau dipindah sekolah. Banyak yang hadir, seingat saya kecuali orangtua si anak yang dimasalahkan; terjadi persinggungan prinsip dan kepentingan; konfrontasi argumentasi; yang semua ini menjadi isu besar di orangtua pada umumnya dan antitesis dalam wacana prinsip-prinsip sekolah. Perlu diketahui pula karena sampai saat ini kami tetap sebagai Sekolah Inklusi, setiap angkatan  selalu memberikan kami anak-anak istimewa demikian. Kenyataan yang membuat seorang guru baru angkatan ke-6 pindahan dari sekolah terkenal dan mapan berhadapan dengan situasi itu (yang disertai program sekolah yang kerap berubah-ubah) berseloroh, “Welcome to the jungle”.

III

Categories: Kurikulum Esdehate
  1. October 15, 2009 at 2:20 am

    Penulisan-penulisan artikel seperti ini perlu dikembngkan terus mengingat banyaknya kemanfaatannya untuk kepentingan orang, khusunya bangsa kita Indonesia, paling tidak dapat menggugan daya pikir orang agar koreksi diri ke arah yang lebih baik, thank’s!

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: