Home > terbata-bata > Guru yang Baik (2)

Guru yang Baik (2)

Namanya Diki. Kurus, pendek, berkulit sawo matang. Nyali dan kenakalannya berlawanan dengan keadaan tubuhnya, karena alasan inilah saya diminta hadir dalam pertemuan persatuan orangtua murid (POM) kelas 2, 2 tahun yang lalu. Tentu saja saya sudah tahu cukup banyak informasi tentang Diki, sebab setiap pertemuan kelas yang mengundang saya berarti orangtua menilai guru tidak dapat menyelesaikannya, jadi guru-guru pun sudah menyampaikan permasalahannya atau dapat dipastikan sudah kami diskusikan di Forum Paralel.

Berkaitan dengan guru, saya biasanya mendalam mengelola informasi pendahuluan karena guru harus dibela, tetap dapat diterima kehadirannya, dan wajib bagi saya untuk memberikan alasan bagi respek orangtua pada mereka. Dan ini waktu itu berhasil. Cuma sebaliknya dengan Diki, kenggenan orangtua (saat kami mendiskusikan anaknya sang ibu sempat menerima telepon dengan leluasa) membuat saya mewajarkan Diki sebagai biang masalah. Memang gitu lho kenyataannya.

Sebagai biang masalah, inilah pencitraan yang melekat dalam pikiran saya tentang Diki dan membentuk persepsi saya kepadanya. Sampai 2 hari lalu, saat kami salat dzuhur berjamaah, cara pandang saya tidak berrubah: iqamat sudah selesai, Diki dengan teman ngobrolnya masih duduk. Diki yang paling juga berjarak 4 langkah, kudatangi dengan wajah marah. kuangkat untuk memksa dia dalam posisi beridiri. Dia berdiri saya kembali ke tempat semul dan pada langkah ke 4 saya berbalik ke arah kiblat, dan bersamaan dengan imam yang menginstruksikan rukuk, Diki dengan santai massih ngobrol dengan temannya. Diki memang begitu. Diki ternyata belum berubah.

Kemarin, 27 Agustus 2009, sehari setelah kejadian salat dzuhur berjamaah, saat 3 wali kelas kelas 4 mengoleksi anak-anak bermasalah, spontan saya menyebutkan nama Diki. Apa respon teman-teman terhadap spontanitas saya? Diki sudah berubah perilakunya. Diki tidak seperti dulu lagi. Diki jauh berubah dari seperti yang saya citrakan. Memang diakui kalau motivasi belajarnya masih rendah. Aih, 2 wali kelas memang membenarkan perihal motivasi ini dan satu wali kelas meragukannya. “Sewaktu lomba ‘Detektif’ kelompok Diki menang. Dan jangan salah lho, Diki faktor menentunya,” begitu berita dari wali kelas ketiga yang mendorong kami meragukan akan rendahnya motivasi belajar Diki, “Sepertinya kita gak tahu kesenangannya. Ah, kayaknya kalau menemukan gaya belajarnya asyik tuh,” tegasnya.

Kebebasan Mengekspresikan Keunikan Berhadap-hadapan dengan Keragaman Guru

Perhatikan bagaimana perubahan cara pandang saya terhadap Diki. Berbekal pencitraan saat di kelas 2 yang begitu kuat saya selalu mempersepsikanya negatif. Saya tak acuh terhadap perilaku biasa-biasa dan positif dari Diki, sebaliknya akan serta merta mengukuhkan pembenaran terhadap perilaku negatif. Berkah dari kehadiran teman-teman yang mendidik tanpa prasangka, mencintai tanpa syarat, menemani perjalanan belajar anak dengan segala harapan lah yang menyelamatkan saya dengan segera.

Jadi guru yang baik adalah (1) guru yang tumbuh di sekolah yang menjunjung dan menghargai keunikan anak (2) guru yang tumbuh di sekolah yang memberikan kebebasan pada guru mengekspresikan diri (3) guru yanng tumbuh di sekolah yang menjadi tempat ‘beradu’ dan ‘berbenturan’ antara keunikan dna keragaman guru dengan murid. Saya tegaskan, guru yang baik adalah guru yang nyaman berada di tempat di mana ketiga hal tersebut membentuk budaya sekolah.

Categories: terbata-bata
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: