Home > terbata-bata > Guru yang Baik (1)

Guru yang Baik (1)

Sekolah adalah tempat keramaian berpikir dalam keragaman modelnya berlangsung. Semua komponen sekolah harus memiliki wakil yang secara serius terlibat keramaian berpikir ini. Wakil di sini adalah mereka yang dalam posisinya tersebut dapat menjadi individu yang dinilai lebih baik dari yang lain yang diwakilinya.

Keramaian berpikir perlu hadir dengan keragaman modelnya karena jika tidak sekolah menjadi tempat pemihakan terhadap individu (dengan kapasitas dan kekuatan tertentu). Sebagai contoh, kurikulum nasional dengan jelas hanya menghadirkan model berpikir yang terbatas, maka setiap sekolah yang tidak kritis berarti membawa diri pada manajemen dan administrasi yang membelenggunya. Kita sering menolak anak yang hanya dinilai kecerdasan IQ-nya saja, tapi sungguh, lebih sering kita tidak dapat menolak (atas nama profesionalisme) kungkungan manajemen dan administrasi sekolah yang mengoperasionalkan kurikulum dimaksud.

Penghargaan terhadap keramaian berpikir menjadikan belajar selalu bergerak pada keumumannya; ke mana saja ke arah setiap pribadi yang memancarkan keunikan. Kita kerap menyebut ini dengan gaya belajar, tapi saya sendiri ingin menyebut ini semua sebagai hasrat  yang memberi jalan rasa ingin tahu.

(Jadi bagaimana aku bisa menjawab siapa guru yang baik itu sebagaimana ditanyakan seorang teman di Solo. Wah aku jadi terkenang kopi istimewa beliau, juga diskusi berkepanjangan dengan suami beliau. Walau bingung, kadung janji, saya akan jawab sedikit-sedikit dan acak saja.)

Bagian dari Keragaman

Pada keunikan ada identitas, inilah yang dihadiahkan setiap anak yang hadir di sekolah. Identitas. Guru yang baik pun mengetahui keunikan dirinya, melakoni identiasnya. Atas nama apapun (:kurikulum, status sosial, dll) ia tidak akan melemahkan, mengaburkan, apalagi melacurkan identitasnya. Kehadiran yang lain melalui berbagai bentuk pergesekan selalu menjadi informasi baru tentang diri kita dan yang lain. Sebut saja Guru yang baik itu menggabungkan (nilai) percaya diri dan rendah hati.

Tentu saja siapapun saya, saya perlu rendah hati untuk menjadi bagian dari keragaman. Demikian juga, siapapun saya, saya tidak terseret arus masa kalau percaya diri. Setidaknya, maka Guru yang baik tidak rendah diri dihadapan kurikulum, pejabat diknas, kepala sekolah, tuntutan masyarakat; juga tidak over percaya diri dihadapan dan dalam memperlakukan anak-anak, pembantu sekolah, pembantu yang  menemani anak-anak di rumah dan ke sekolah, terutama jangan over percaya diri dengan profesionalisme.

Categories: terbata-bata
  1. ummuarifah
    October 4, 2009 at 2:04 am

    Tentang keunikan anak… ya.., ada murid saya yang hanya ingin belajar 4 dari 7 pelajaran…, saya nggak maksa.. biar saja…, karena pelajaran itulah yang benar-benar “diinginkannya”…, hehe…, kalau mau ujian kita akan berlatih soal-soal yang nggak pernah dipelajari…. karena kalau dari sekolah sih sudah mau belajar sudah dianggap “lulus”.
    Kumaha tah… apakah saya guru yang baik atau guru yang menjerumuskan..??, tapi walau pun masuk katagori guru yang menjerumuskan mudah-mudahan anak itu terjerumus pada jalan yang benar…hahaha….

    • kusekolah
      October 8, 2009 at 7:59 pm

      Kegiatan belajar mengajar adalah timbal balik. Guru yang baik belajar ketika mengajar. Ketika anak hanya belajar 4 dari 7 mata pelajaran, bahkan untuk sebuah kasus, maunya anak belajar selain yang 7 mata pelajaran, sebaiknya mendorong guru terjebak pada kompleksitas permasalahan: bukankah berbagai metode pengajaran dapat membuat formalitas hanya belajar 4 mata pelajaran (bahkan kurang) sesungguhnya belajar 7 mata pelajaran dan bahkan lebih? Bagaimana kesenangan si anak “4 dari 7” karena diikuti kemauannya menjadi hal positif bagi anak yang lain, baik anak “kurang dari 4” atau anak “7 dari7”? Bagaimanakah mengelola kebaikan anak pada umumnya agar merubah anak yang kehilangan kebaikan itu? Sebagai guru juga masalah ini dengan adil harus dihadapkan pada kepala sekolah dan orangtua yang lain. Pertanyaan-pertanyaan ini (yang hanya sebagian dapat saya sebutkan) bila kita senang (-senang saja) menghadapinya, saya kira belajar-mengajar memang beresiko timbal-balik.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: