Home > MH. Aripin Ali > 18 Guru Pelosok Magang di Bandung (4): Oh

18 Guru Pelosok Magang di Bandung (4): Oh

I

Di hari Sabtu saya dapat kepastian perihal dana: nihil. Tentu saja kami berpikir melakukan penghematan.

Hari Minggu, 9 Agustus 2009, kakak Yuki menikah. Yuki berniat mengundangku, entah sebagai atasannya di sekolah atau sebagai Ketua Walagri Aksara. Kata Lili, jangankan undangan pernikahan saudara kita, diundang pernikahan guru SD Hikmah Teladan saja enggak pernah datang. Akhirnya undangan dengan nekad dialihkan ke teman-teman dari Cieceng asal datang tidak lebih dari pukul 14.00. 2 mobil dengan isi 22 orang, enggak salah tuh!

Tamu dari Cieceng datang di basecamp Pondok Baca sekitar pukul 18.30. Oh.

II

Ketika Lili begitu kukuh untuk tidak mangkir dari tugas mengajar, semua mendengar ambisinya untuk masuk sekolah 100% dan menjadi guru paling disiplin saat di SD Hikmah Teladan diberlakukan secara ketat peniliaian kinerja. Saya kira karena Lili sangat full di luar jam kerja termasuk selalu bermalam selama acara, tak mungkinlah ada celah mempermasalahkannya. Dan, hari Rabu, 12 Agustus 2009, guru-guru Cieceng memberikan kejutan padaku: Lili, karena ini dan itu yang terkait kegiatan, memutuskan tidak masuk sekolah. Oh.

III

IMG_4353Bu Ade bawa anaknya! Begitu bunyi SMS Lili setibanya di Lengkong, Cikatomas. Lengkong ini daerah yang dilalui jalan raya ke Cikatomas, Tasikmalaya. Dari Lengkong ke Cieceng bisa makan waktu 2,5 jam. Lili dan Rian, Azmi istirahat di sekretariat SPP (Serikat Petani Pasundan), tiba di Lengkong sekitar pukul 13.00. Hai, teman-teman guru Cieceng sudah di Lengkong pukul 09.00.

IMG_4448Tentu saja aku tidak bisa protes. Bahkan aku senyum-senyum lho, inilah ibu yang ketika pelatihan PAUD di Cieceng dengan santainya memperlihatkan payudaranya, dari sudut pandangku, saat menetei anaknya. Jadi apakah beliau akan melakukannya di Bandung? Di antara kami di basecamp atau, ini yang saya belum yakin menghadapi situasinya, di TK tempat magang.

Sebagaimana kusampaikan kepada Lili, biarlah bu Ade bawa anaknya nanti saya yang berbicara dan meminta izin kepada kepala sekolah tempatnya magang. Telah kusampaikan, pagi di hari pertama magang, dan ijin kuperoleh. Cuma tetap saja sih kalau khawatir ada. Makanya siang kutengok lagi mereka, dan kujumpai saat itu, mereka sedang asyik belajar ditemani seorang guru yang secara sengaja dioffkan dari mengajar oleh kepala sekolah. Mana si kecil?

Saya pamit pulang. Eh, sebelum pintu ke luar, saya berpapasan dengan si kecil yang sedang diasuh salah seorang guru sekolah tempat magang. Oh.

IV

Selain bawa gula aren, teman-teman bawa 2 ekor ayam. Gula aren, telah kubiasakan pada teman-teman di pelosok sebagai oleh-oleh yang wajib kubawa dari mereka. 2 ekor ayam! Kutanyakan pada mereka, mana ikan gurema ibu Kuwu?

Selesai pembukaan, ayam betina mati. Ayam jantan, kan tidak mungkin diurus oleh teman-teman panitia yang sesibuk begitu, maka ditawarkan kepada Sandi membawanya. Sandi menolak, saya merayu. Akhirnya mau juga, malam itu pukul 23.00, Sandi pulang membawa seekor ayam jantan yang gagah.

Hari Rabu, Sandi ikut acara refleksi yang berakhir pukul 24.00. Sandi numpang motorku, katanya sampai Cicaheum tapi saya berkehendak lain dengan mengantarnya sampai ke rumah. Wah, jauhnya. Jauh lho. Dan kata Lili, perjalanan sejauh ini biasa ditempuh dengan berjalan kaki. Dan terbayanglah malam Sandi dengan seekor ayam jantan yang gagah. Oh.

V

Dengan hanya bisa satu hari satu orang yang mendampingi peserta, jelas, pendokumentasian kegiatan menjadi masalah serius. Kami cari sukarelawan: Irfan sudah menghubungi teman-temannya di Education for All (Edfora) yang antusias untuk membantu namun karena kesibukan Irfan jadinya batl; Eva memastikan keponakannya (mahasiswi Unpad) membantu full di hari Senin.

Rian adalah anggota Walagri Aksara paling muda. Beliau kepala sekolah. Rian selalu memanggil semua anggota Walagri Aksara yang perempuan diawali teteh. Malam itu, Rian panggil Eva dengan awalan bibi, dan Lili bareng Eva ketawa. Saya melongo saja.

Terlambat memang saya menyadari perubahan panggilan itu. Rupanya ada yang kasmaran. Oh.

VI

Perlukah kami mendandani teman-teman Cieceng? Sungguh ini pernah kami bicarakan. Bagaimana tidak, bukankkah teman-teman dari pelosok Tasikmalaya selatan itu akan kami bawa magang di sekolah-sekolah elite? Yang suka sibuk mengurusi hal-hal seperti ini Eva.

Eva juga di antara kami yang nampaknya paling bergegas dengan kekurangan pendanaan. Ia berkali-kali minta proposal, bahkan minta dibuatkan proposal yang lebih memikat supaya dapat diedarkan ke beberapa perusahaan yang dia punya kenalan di antara pegawainya. Entahlah kenapa kok kami semua, yaitu kecuali Eva, santai berurusan dengan problem pendanaan sehingga keinginan dibuatka proposal yang menawan tak ada yang memenuhinya.

Di satu pertemuan Eva membawa kabar bahwa ia sudah mendapat sumbangan 20 buah kerudung. Setelah itu bila ada di antara kami atau pada kami menanyakan persiapan dana atau berapa dana yang sudah diperoleh, saya menjawab, “Kami memerlukan dana 20 juta (sebenarnya sekitar 13 juta), alhamdulillah sekarang sudah ada 20 kerudung”. Oh.

Categories: MH. Aripin Ali
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: