Home > terbata-bata > Model Pengelolaan Materi Akhlak (4)

Model Pengelolaan Materi Akhlak (4)

Saya baru saja mendiskusikan 4 metode mengajarkan akhlak dengan guru-guru SD Hikmaah Teladan di Forum Paralel:

1. Membahas materi akhlak per defenisi, penjelasan dan contoh-contohnya. Misalnya setelah menjelaskan apa itu empati, kenapa ada orang yang mudah berempati, sementara yang lainnya sangat sulit berempati. Kemudian, memberikan contoh yang banyak tentang tindakan empatik.

Kebanyakan orang membahas akhlak dengan pendekatan ini. Silahkan saja Anda periksa di toko buku. Entahlah alasan sebenarnya apa, mungkin karena pendekatan ini mudah memutuskan hubungan ilmu dengan amal, alias bisa semata kognitif. Mungkin juga kerasa banget, misalnya sebagai Muslim, kemusliman kita sebagai guru karena yang dibicarakan selalu dalam posisi menafsirkan (setidaknya merujuk) al-Quran dan atau hadis, kemudian penegasannya dengan sirah nabawiyah. Ini juga masih mungkin, pendekatan ini sangat mudah dilakukan.

2. Sebut saja pendekatan kedua ini sebagai pendekatan proses atau pembiasaan atau pergerakan untuk menjadi. Di sinilah kesempatan untuk menjadi berakhlak, tepatnya menjadi orang berakhlak mulia dijalani. Dengan menegaskan kuatnya pengaruh keluarga, pertemanan dan lingkungan sosial dalam membentuk karakter anak, nampaknya agama Islam sangat menekankan kontrol terhadap pembiasaan ini.

Pembiasaan yang berlangsung berbeda dengan kontrol terhadap pembiasaan, setidaknya jangan disamakan. Jika di satu sisi dinyatakan orangtua sepenuhnya membentuk anak (bahkan agamanya), sedangkan di sisi lain Rasulullah mengatakan anak sampai usia 7 tahun sepenuhnya punya kebebasan; menjelaskan bahwa menjadi orangtua berpribadi baik (sebagai dirinya sendiri) akan menjadi lingkungan yang membentuk anak yang tumbuh dengan segala kebebasannya. Bila sekolah disesaki dengan orang-orang baik, kebebasan anak akan menjadi syarat sosial untuk melakukan pilihan “berlomba-lombba dalam kebaikan”. Bila kita kekurangan orang-orang baik, ayolah berani demokratis; atau silahkan ekslusif.

3. Sesuai dengan tulisan tentang “Boneka Diri” (yang asalnya merupakan pelajaran Bahasa Indonesia), metode ini menempatkan anak-anak dalam pengalaman dengan orang lain yang mendemontrasikan kepada mereka, tindakan, sikap yang menegaskan melekatnya akhlak diimaksud pada orang tersebut.

4. Manajemen Diri. Penyebutan lain bisa dimunculkan, karena misalnya kita menggunakaan buku Ken Watanabe, “Problem Solving” sebagai keterampilan berpikir yang kita kuasai, maka kita pun dapat menggunakannya dalam tujuan menjadi problem solver moral. Hal yang sama dapat kita lakukan  untuk “7 Habbits” Stephen R. Copey, dan saya kira masih banyak contoh lain dari “manajemen diri” yang dapat kita gunakan.

Sekian. Semoga kesempatan berikutnya saya bisa mengeksplorasi keempatnya sampai kerincian pembelajaran. Saya memang belum membahas pendidikan akhlak di sekolah.

Categories: terbata-bata
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: