Home > SekolahKu, terbata-bata > Model Pengelolaan Materi Akhlak (3)

Model Pengelolaan Materi Akhlak (3)

Saya terjebak prase “Materi Akhlak”. Prase ini membuat saya berkutat tentang akhlak sebagai nilai atau doktrin moral, bukan bagaimana berakhlak yang menegaskan rasinalitas dan mendekatkan pada etika. Bahkan saya melupakan keutamaan ‘demonstratif’ dari teladan yang sesungguhnya merupakan inti dari pengajaran akhlak.

Boneka Diri

Saya mengingat peristiwa ini karena saya memang ada di kelas, tepatnya kelas 1 dengan manajer bu Ninuk yang sudah sekitar 4 tahun memilih beraktivitas sebagai psikolog.

Anak-anak mendapat tugas untuk menghias gambar yang menyerupai boneka dengan hanya berupa garis luarnya saja itu dengan membayangkan dirinya. Bunyi instruksi “..dengan membayangkan dirimu sendiri” mengejar ekspresi gambar yang personal. Maka sejak dari awal saya pun memberikan instruksi pada guru untuk memberikan penilaian yang dapat menempatkan setiap anak juara. Saya ada di kelas mungkin karena tidak yakin bahwa guru bisa menyatakan penilaian yang menempatkan setiap anak juara satu. Setidaknya ada lah sekitar 20-an anak.

Anak selesai menggambar. Guru melihat sekilas dan segera menempatkan gambar anak yang berupa coretan yang acak dan ada bagian kertas yang robek di paling bawah tumpukan gambar anak-anak. “Hai lihat! Gambar keren ini gambar yang paling…” seru sang Guru. Bersamaan dengan gambar yang terus berganti, semua anak ke luar dari bangkunya, mengerumuni guru untuk berlomba mengekspresikan kegembiraan dan menyatakan kebanggaan.

Lihat gambar keren ini! Gak ada sedikitpun arsir yang ke luar garis. Inilah anak yang sempurna mengarsirnya. Kalau dibandingkan, yang lain di bawah pencapaiannya.

Wuih, keren! Campuran warnanya serasi. Di antara semua gambar, inilah anak yang menampilkan komposisi warna paling rancak.

Guru tersenyum manis di depan anak-anak dan sebuah gambar boneka diri di samping wajahnya. Senyumannya manis siapa? Jawaban anak membenarkan bahwa gambar yang dipegang bu guru adalah gambar dengan senyum yang menawan.

Wah, keren banget! Lihat, sepatu kaki kiri dan kaki kanannya berbeda. Sorak-sorai dan tawa berderai menyertai deskripsi guru terhadap detail perbedaan sepatu. Sebagaimana guru, tidak ada terdengar ungkapan yang mempertanyakan sepasang sepatu yang berbeda.

Ha, ha, ha, apa coba yang paling hebat dari gambar ini? Ketika ada anak yang menjawab arsirnya rapih, guru menegaskan bahwa yang paling rapih arsirnya sudah ada juaranya. Di bajunya ada label SDHT? Tebak seorang anak. Guru membenarkan jawaban itu dan segera keriangan merebak. Tepuk tangan tak ada lelahnya.

Begitu seterusnya semua anak menjadi yang paling atau menjadi anak yang hanya dia sendiri begini-begitu; sampai gambar terakhir. Gambar yang diakhirkan karena guru bingung mengomentarinya. Lihat! Saya tahu ada jeda dari guru dan keheningan dari anak-anak yang tentu tahu itu gambar temannya yang berkebutuhan khusus. Gambar yang dibuat saat tantrum. Hmm lihat! Ini Abi lagi kena angin ribut. Ada angin topan! Pakaian Abi compang-camping. Abi yang baru saja lulus dari SDHT berkomentar, “Bukan. Bukan begitu”. Tapi tak ada yang mendengar. Suara Abi telah ditelam riuh kegembiraan.

Demonstrasi

Kejadian “Menghias Boneka Diri” bukan berbicara tentang apa itu menghargai, bagaimana menghargai diri sendiri dan orang lain, tapi memberikan pengalaman dihargai pada anak-anak melalui demontrasi guru dalam menghargai dan memuliakan anak-anak.

Kejadian 6 tahun lalu itu bukan mencontohkan menghormati, mengungkapkan pujian, memiliki kebanggaan, melainkan menghadiahi anak-anak kesempatan yang meriah untuk mengalami dihormati dan menghormati, diakui dan mengakui kapasitas setiap diri.

Sejumlah Pertanyaan

Bukan sedikit sejumlah pertanyaan yang diajukan, melainkan banyak. Apakah menjadikan setiap anak juara 1 tidak memungkiri kenyataan? Bagaimana anak belajar dari kekuarangannya kalau hanya yang positif yang boleh dibicarakan? Apakah cara demikian akan melahirkan anak-anak yang manja? Bagaimana menilainnya? Dan lain-lain pertanyaan yang…

Saya telah pernah menjawab semua pertanyaan. Semua pertanyaan. Tapi itu kesalahan besar. Bukankah sungguh merupakan hadiah teramat besar yang diterima setiap anak saat guru mendemostrasikan penilaian yang menempatkan setiap anak juara 1? Sudah.

Terimakasihku dengan segala kebanggaan dan uraian air mata bahagia kepada bu Ninuk dan bu Lili yang mengukir di kepalaku kecenderungan untuk mencintai tanpa syarat.

Categories: SekolahKu, terbata-bata
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: