Home > terbata-bata > Model Pengelolaan Materi Akhlak (2)

Model Pengelolaan Materi Akhlak (2)

Saya agak intensif mencari bahan materi akhlak. Juga mengajukan permintaan kepada teman yang bekerja dengan beberapa ulama untuk menjelaskan beberapa problem filsafat akhlak yang tak saya pahami. Memang sedikit lebih serius, sebab itu akan berpengaruh besar bila teman-teman mengkritisinya.

Berbagi itu Sulit, tetapi Menyenangkan

“Berbagi itu Sulit, tetapi Menyenangkan” merupakan judul artikel Claudia Shantika Primaswari, kelas V SD Santa Maria II Sidoarjo, yang menjadi juara III Tingkat SD lomba “Karya Tulis Tupperware Children Helping Children 2008”.

1. Cerita Selengkapnya

Hallo! Perkenalkan nama saya Claudia Shantika Primaswari. Di sekolah nama saya disingkat Claudia S.P Saya biasanya dipanggil Claudia atau Audi. Tapi orangtua saya sering menggoda saya, katanya S.P. singkatan dari Caludia Super Pelit. He…he…he… nakal ya mereka!

Padahal, saya tidak pelit-pelit amat loh! Buktinya saya suka traktir teman-teman sekelas! Rasanya bahagia jika bisa mentraktir dan membuat senang teman-teman. Padahal saya hanya membelikan kue, makanan ringan, minuman dingin, atau permen. Mereka juga kadang-kadang mentraktir saya. Benar kan saya tidak pelit? Lalu apa alasan orangtua saya mengatakan saya pelit? Karena saya sangat sulit berbagi barang-barang yang sudah menjadi milik saya. Saya sayang sekali jika harus berbagi mainan, sepatu, atau pakaian meskipun sudah kekecilan. Saya ingin, barang-barang saya tetap utuh di lemari.

Di sekolah pernah diadakan bakti sosial, setiap murid diwajibkan membawa satu pakaian bayi bekas. Saya meminta Ibu untuk dibelikan pakaian bayi baru untuk disumbangkan, tetapi Ibu tidak mau membelikan. Saya terpaksa mengambil beberapa pakaian bayi bekas saya. Saya merasa sayang dan sedih sekali. Tetapi ternyata perasaan sedih itu hanya sebentar. Setelah itu saya sudah lupa. Lemari saya jadi malah terlihat kosong dan rapi.

Suatu hari, saya membantu Ibu membersihkan gudang. Ibu mengumpulkan koran-koran bekas dan majalah, lalu mengeluarkan pakaian-pakaian lama Bapak dan Ibu. Tiba-tiba Ibu memberikan semua itu kepada Bu Kemi, pembantu yang membantu Ibu menyetrika. Saya tidak setuju, karena koran bekas masih saya perlukan untuk membuat kliping sedangkan baju lama Ibu masih bisa saya pakai jika saya sudah besar. Tetapi menurut Ibu, barang-barang tersebut sudah tidak berguna bagi kami. Ibu tetap memberikan semua itu kepada bu Kemi. Saya jadi kesal dan marah terhadap bu Kemi.

Keesokan harinya, Bu Kemi datang sambil tersenyum-senyum. Ia mengucapkan terimakasih karena berkat barang-barang bekas yang diberikan kemarin, Bu Kemi bisa membayar uang sekolah anak sulungnya yang sudah tertunda tiga bulan. Saya terkejut, appakah koran bekas bisa untuk membayar uang sekolah. Tetapi ternyata itu benar. Berarti benar kata Ibu, barang-barang yang tidak berguna untuk kami dapat menjadi berharga untuk orang lain. Hi..hi..hi.. Saya jadi malu sendiri. Ternyata saya pelit juga ya.

Mulai saat ini saya mencoba berbagi. Kemarin tas-tas lama saya dan beberapa boneka sudah saya berikan pada Rochma, anak bungsu bu Kemi, yang usianya sebaya dengan saya. Saat melihat tas saya dipakai Rochma, saya merasa pedih dan ingin saya minta kembali. Tetapi melihat dia gembia, kesedihan saya sedikit berkurang.

Bukti lain bahwa saya sudah bisa berbagi, saat ulang tahun saya yang kesebelas, saya tidak membagi cokelat untuk teman-teman sekelas, tetapi saya berbagi kue-kue dengan anak-anak di sebuah panti asuhan. Mereka sangat gembira. Ternyata, berbagi pada orang yang membutuhkan jauh lebih berguna.

Sekarang saya memang masih belajar berbagi, saya belum bisa selalu berbagi. Tetapi setidaknya nama saya sekarang Claudia Shnatika Primaswari bukan Claudia Super Pelit lagi. Saya sudah tidak begitu pelit kan? He..he..he..

Makanya teman-teman, kita harus belajar berbagi terutama untuk orang-orangt yang benar-benar membutuhkan. Sebab, masih banyak sekali orang yang membutuhkan bantuan kita. Setuju? Harus!

Sudah dulu ya cerita saya.

2. Nilai Lebih Cerita

Pertama, cerita ini ditulis anak kelas 5. Dari banyaknya penggunaan tetapi, beberapa kalimat kehilangan kata untuk maksudnya, menjadi contoh kalau Claudia bukan penulis profesional. Dengan ini, saya berharap anak-anak dapat mudah menilai bahwa dirinya juga bisa membuat cerita seperti itu. Namun demikian cerita ini hebat, alurnya kuat karena begitu jujur menceritakan diri sendiri. Perhatikan pergerakan dari aku “Super Pelit” ke “Saya sudah tidak begitu pelit kan?”.

Kedua, munculnya tema kejujuran, keterbukaan, hubungan orangtua-anak, hubungan sosial yang terbaca jelas pengamalan nilai, kecerian, kapasitas anak untuk intropeksi diri dan berubah; mempertontonkan bahwa membicarakan kehidupan, terutama kehidupan itu sendiri, adalah bahan terkaya pelajaran akhlak. Semoga kita tak lagi terpincut definisi dan tergesa merujuk contoh dari yang lampau.

Ketiga, dari sekolahnya, boleh lah kita menegaskan pada anak-anak untuk menonjolkan budaya malu sehingga anak-anak bisa mengatakan “masa kita sebagai muslim tidak bisa seperti itu?” atau bahkan menantang dengan dasar teologis untuk lebih baik.

Beberapa Alternatif Pengelolaan

1. Aku dalam Perspektif Akhlak

Bosan kan mengenalkan aku itu dalam lingkup identitas diri, silsilah keluarga atau pohon keluarga. Dengan Claudia, anak-anak diajak membuat ‘biografi’ berdasarkan kapasitas berkahlak dirinya.

Mulailah dengan (berbagai cara) untuk mengenalkan ‘biografi-akhlak’ Claudia. Memastikan pengenalan ini bisa dilakukan dengan cara standar, yaitu pertanyaan tertutup. Kesempatan anak-anak untuk menilai Claudia harus terfokus pada kecerdasannya dalam mengenali diri dan melakukan perubahan. Bila anak-anak sudah bersepakat akan keutamaan Claudia, mungkin kita bisa mencari kisah lain yang mengantarkan pada penjelasan umum tentang taubat. Kan fondasi taubat adalah mengenali diri juga. Ajaklah kemudian anak-anak (dalam suasana spritual) untuk menghendaki jujur pada diri sendiri, tak malu sedikitpun dengan kekurangan karena sigap berubah.

2. Bersama anak-anak tetapkan alur cerita (mis: sifat kurang baik dan contoh-contoh pengalaman aku dengan sifat tersebut;  peran lingkungan yang mendorong perubahan atau mempertanyakan sikap tersebut; pengalaman berubah). Anak-anak membuat cerita dengan alur yang telah disepakati bersama. Bila sudah berhasil membuat anak-anak ‘mengekspresikan’ keunikan dirinya, maka kita punya narasumber dan sumber belajar sejumlah anak. Jadilah guru yang cerdas, empatik, ha..ha.. demokratis!

3. Sebenarnya kan banyak sekali di antara kita yang “berkat barang-barang bekas yang diberikan kemarin, Bu Kemi bisa membayar uang sekolah anak sulungnya yang sudah tertunda tiga bulan”, tapi kenapa ya ini menjadi hal yang istimewa bagi anak-anak kita? Saya jadi ingat kegiatan mengumpulkan buku-buku tulis bekas dari anak-anak saat tahun ajaran baru, kemudian memisahkan lembar yang sudah ditulis dan yang masih polos. Ketika lembar yang masih kosong ini disimpan di loose lift yang keren, anak-anak di pelosok memeluk buku itu dengan kebanggaan. Bagaimana ya kalau hal-hal semacam ini menjadi kegiatan yang biasa dilakukan anak-anak?

Categories: terbata-bata
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: