Home > darimanasaja > Kegiatan Sandi Sahrinurahman di Cieceng

Kegiatan Sandi Sahrinurahman di Cieceng

Perjalanan kami mulai dengan pemberangkatan dari Cimahi pada Rabu malam (20-5-2009), tepatnya pikul 19.00 WIB.  Selama perjalanan, kami singgah di Terminal Cicaheum untuk menjemput beberapa teman, mengambil in focus Pak Ali di Arcamanik, dan makan malam di Mergosari.  Perjalanan cukup melelahkan karena kami ber-13 berada di dalam 1 mobil Suzuki APV!  Rasa pegal harus kutahan hingga akhirnya kami tiba di rumah mertua Pak Aripin jam 01.00 WIB dan beristirahat di sana.

Kamis (21-5-2009)

Pagi-siang :

Pagi-pagi kami bertolak ke Cieceng.  Masih di dalam kota Tasik, kami mampir di sekretariat SPP untuk menjemput rekan-rekan SPP yang hendak ke Cieceng pula.  Karena rekan-rekan SPP membawa 1 mobil bak terbuka, akhirnya kami memutuskan para lelaki dan barang-barang diangkut dengan mobil pick up dan para perempuan menaiki APV.

Perjalanan cukup panjang dan melelahkan, terutama saat memasuki kawasan Cieceng.  Rute yang dipenuhi batu-batu, lubang-lubang legokan, genangan air, tanjakan dan turunan, membuat kami hanya dapat berjalan lambat.  Beberapa kali lantai mobil bergesekan dengan benda-benda di jalan, bahkan terkadang kolong mobil tersangkut atau ban selip sehingga mobil tak dapat bergerak.  Jika begini, para lelaki harus mendorong atau mengangkat kendaraan.

Siang-magrib :

Pukul 14.00, akhirnya kami tiba di Cieceng.  Perjalanan melelahkan memaksa kami beristirahat panjang, bahkan ada yang tidur siang.  Beristirahat sambil menikmati penganan lokal dan kopi hangat membuatku lupa waktu.  Tak terasa, diselingi urusan jamban dan sholat, obrolanku tentang Cieceng, SPP, dan kasus-kasus versus pemerintah dengan pak sopir pick up (rupanya ia salah satu aktifis SPP, aku lupa namanya), telah menyampaikanku hingga waktu maghrib.

Malam :

Malam hari, ada acara nonton Laskar Pelangi.  Sempat berdebar dengan berbagai kesulitan teknis, akhirnya pemutaran dilangsungkan juga.  Warga, mulai dari anak-anak hingga orang tua cukup antusias.  Satu ruang kelas berukuran 7×8 m tak cukup menampung mereka, sehingga cukup banyak yang “no’ong” dari kaca jendela dan pintu ruangan kelas.

Berbeda dengan suasana pemutaran Laskar Pelangi di kampungku sendiri yang beberapa penontonnya malah kerap saling mengobrol tak memperhatikan film, atau beberapa anak yang satu-satu meninggalkan tontonan karena mungkin tak mengerti isi film.  Di Cieceng, ini tak terjadi.  Mereka apresiatif.  Tertawa ramai saat ada kelucuan, hening saat momen film sedang menampilkan plot renungan.  Apa yang membuat perbedaan ini, aku tak tahu.  Apa karena di Cieceng jarang ada TV dan tontonan, sehingga penayangan Laskar Pelangi menjadi istimewa, atau karena apa?

Jumat (22-5-2009)

Pagi-siang :

Pagi hari, mulai pukul 07.30, aku sudah asyik berbincang-bincang dengan dua orang bapak dari sebuah kawasan bernama Taraju di Tasikmalaya, jauh dari Cieceng.  Satu orang kupanggil dengan sebutan pak ustadz, yang kukenal saat bersua dengannya di Kota Baru Parahyangan dua tahun lalu.  Satu bapak lagi, Kang Yayan (aktifis SPP) memanggilnya sebagai “muallaf”, sebutan yang disandangkan kepadanya yang baru bergabung dengan SPP.  Focus obrolan kami tentang sharing upaya pemberdayaan masyarakat dengan memunculkan kegiatan pendidikan yang semarak, utamanya PAUD (pendidikan anak usia dini).  Yang kutangkap dari bincang-bincang ini adalah keperluan mereka yang kuat terhadap bantuan materi, misalnya bantuan gedung atau alat permainan.  Tentu saja mereka juga haus terhadap kebutuhan soft skills, dan itulah yang menjadi salah satu sebab mereka berkunjung ke Cieceng.  Obrolan berakhir karena Kang Yayan meminta sang muallaf bergabung dengan rekan SPP lainnya di tempat lain untuk lebih focus mengkaji masalah keorganisasian.  Pak ustadz pun menyertainya.

Lepas dari pertemuan dengan dua rekan dari Taraju, telah berada di hadapanku ajengan Koko, salah satu guru di SD dan SMP Darul Hikmah Cieceng.  Di usianya yang tak muda lagi, ia terlihat semangat.  Ini kemudian terbukti dari keantusiasannya bertanya tentang sertifikasi guru.  Ia ceritakan upaya yang ia lakukan, salah satunya dengan mendatangi Pesantren Manonjaya, tempatnya menuntut ilmu beberapa waktu lampau.  Ia menanyakan bisa-tidaknya Manonjaya mengeluarkan ijazah untuk para santri lulusannya.  Di luar dugaannya, ternyata ia bisa memperoleh ijazah setara sarjana!

Sang ajengan juga menceritakan bahwa ia telah mendatangi dinas untuk bertanya perihal sertifikasi ini.  Pantas saja ia bisa tahu, bahwa berbagai diklat atau forum ilmiah yang diikutinya dapat ia masukkan ke dalam portofolionya.  Aku lalu berinisiatif menggali lebih dalam pengetahuan sertifikasinya.  Setelah itu, barulah aku berani sharing kepadanya.  Kujelaskan kesepuluh komponen portofolio, apa saja yang dapat digolongkan ke dalamnya.  Kugali pula keseharian pak ajengan, lalu kuhubungkan kegiatannya dengan portofolio dirinya.

Setelah cukup lama bercakap dengan Pak Koko, Kang Yayan memberi kode kepada Tim Walagri dan warga belajar untuk memulai acara sharing per bidang kajian.  Aku, sesuai rencana yang kami bawa dari Cimahi, mendapat jadwal masuk ke kelas PAUD.  Di sana sudah berkumpul banyak ibu dan segelintir bapak.  Aku memberikan kuliah umum sekitar 45-60 menit tentang esensi PAUD.  Saat aku melakukan kegiatan apersepsi, seperti yang kuduga, mereka telah mengetahui apa saja yang menjadi kesenangan anak, diantaranya bermain, menyanyi, dan menggambar.  Nah, kesenangan anak itulah yang kutekankan agar menjadi kegiatan utama PAUD.  Kukemukakan dalil, karena kuduga mereka masyarakat agamis, bahwa bermain adalah suruhan kanjeng nabi.  Ajaklah bermain anakmu (hingga) pada usia tujuh tahun, (kemudian) ajarkan adab kesopanan (“belajar”) dan temani dia pada (setelah) usia tujuh tahun.  Hadits lain mengatakan bahwa sebelum anak menjadi budak (disuruh belajar) dan menjadi mentri (ditemani/menjadi mitra dan diberi kepercayaan), pada tujuh tahun pertama anak adalah raja, ia berhak bermain apa saja, bahkan menjadikan orang tuanya sebagai obyek, misalnya dengan menungganginya seperti yang dilakukan Hasan dan Husain kepada kakeknya, Muhammad saw.

Lebih dalam tentang bermain, kusarankan (doktrin?) mereka untuk tak menyepelekan bermain bebas.  Dibandingkan bermain terikat dan terstruktur, bermain bebas memiliki keunggulan-keunggulan seperti ruang eksplorasi yang lebih luas, aktualisasi diri anak yang lebih maksimal karena mereka sebagai pelaku utama dan pembuat rule of the game, dan yang tak kalah penting, proses komunikasi saat bermain bebas biasanya lebih intensif, dan ini akan memberikan kontribusi positif terhadap kapasitas berkomunikasi anak.  Memang, sempat muncul kekhawatiran  dari mereka tentang bahaya-bahaya yang dapat mengemuka dari bermain bebas.  Lalu kutanyakan kepada mereka, ada berapa kasus anak di Cieceng jatuh dari pohon lalu patah-patah, atau ada berapa anak bermain di sungai lalu hanyut dan tenggelam, lalu adakah kasus anak bermain di hutan dan hilang?  Ternyata jawabannya tidak ada!  Memang, sering kali kekhawatiran kita terlalu besar, dan terkadang digeneralisir.  Kupaparkan hasil temuan BPS, bahwa ternyata lebih banyak orang mati di atas tempat tidur daripada mati jatuh dari pesawat!  Apa artinya?  Ya, terkadang apa yang kita khawatirkan sebenarnya hanya bersifat kasus saja, bukan suatu gejala umum.  Rasanya terlalu picik jika kita tidak melakukan sesuatu yang besar manfaatnya hanya karena takut terhadap resikonya.  Jika kita hanya melakukan yang “aman-aman” saja, maka bersiaplah hanya memetik hasil yang “aman-aman” juga, bukan memetik panen yang melimpah.

Tentang bahaya, bukankah dapat dilakukan langkah penyegahan.  Misalnya, listrik memang berbahaya.  Maka bisa saja kita menutup lubang listrik dengan soletip jika kita tak ingin anak kita yang berusia 2 tahun tidak tersengat listrik.  Tentang barang-barang berharga yang tak ingin hilang/rusak karena dimainkan anak, ini pun dapat dipreventif.  Ganti saja (misalnya) semua gelas kaca di rumah (kecuali gelas untuk tamu) dengan gelas plastik.  Ini contoh nyata yang kulakukan saat anak pertamaku berusia 2-3 tahun memasuki fase gemar bermain perkakas pecah-belah.  Sebagai penguat, lagi-lagi kukemukakan dalil, bahwa kanjeng nabi pernah mengatakan bahwa semua wadah memiliki ajal.  Maka, saat anak memecahkan atau menghilangkan piring, jangan mutlak salahkan anak, karena bisa saja memang piring itu telah menemui ajalnya!

Hal luar biasa lainnya dari bermain bebas adalah bermain bebas biasanya lebih memungkinkan terjadinya konflik diantara anak!  Lho, kok, luar biasa?  Ya, dengan sering berkonflik, anak akan semakin lebih terlatih membaca hal-hal yang dapat memunculkan kesenangan dan ketidaksenangan dari teman-temannya.  Anak dapat meluruskan hal yang salah dan menerima kebenaran bersama, bukankah ini sebuah kontrol sosial?  Anak yang membela diri dan mengemukakan “kebenaran” dapat beradu argumentasi, bukankah ini melatih bahasa komunikasi anak?  Mereka dapat berbaikan setelah bermusuhan sesaat, bukankah ini cerminan anak terampil menyelesaikan masalah?  Wih, selain membawa kegembiraan yang lebih besar, bermain bebas memang membawa manfaat yang luar biasa!

Doktrin kedua yang kusampaikan adalah tentang menggambar.  Kusampaikan bahwa sejatinya menggambar adalah bahasa komunikasi.  Komunikasi adalah menyalurkan isi kepala melalui media lisan dan tertulis, termasuk gambar.  Dengan keterbatasan kosa kata dan pengetahuan struktur kalimat, serta belum dimilikinya kemampuan menulis, menggambar adalah bentuk komunikasi termudah bagi anak balita.  Maka, tak aneh jika anak gemar menggambar apa saja, di mana saja.  Hanya saja, kecenderungan masa kini, beberapa “tindakan” dari orang dewasa cenderung mematikan proses menggambar sebagai bahasa komunikasi.  Penyeragaman bentuk gambar dan pengajaran bentuk-bentuk obyek, serta pengajaran teknik menggambar seperti teknik mewarnai, membuat anak kemudian hanya menggambar untuk meniru gambar dan menggambar untuk fokus pada teknik, bukan menggambar untuk menuangkan isi kepalanya.  Penilaian baik/buruk gambar anak dengan sudut pandang aliran realisme atau naturalis, membuat sebagian besar anak mogok menggambar.  Oh, apa jadinya jika anak berhenti menggambar, berhenti menuangkan isi kepala, menghentikan latihan komunikasinya.  Aku memberi ibarat, jika kita tak pernah menyalurkan isi perut yang seharusnya dikeluarkan dengan menahan (maaf) pipis dan berak, apa jadinya?  Bukankah penyakit yang akan muncul?!  Uh, mungkin itu pula yang akan terjadi pada anak yang berhenti menggambar.  Dengan keterbatasan kemampuan bercakap anak, dengan belum terkuasainya kemampuan menulis, dan anak enggan menggambar, maka dengan cara apa isi kepala anak akan keluar?  Lalu apa yang akan terjadi kemudian jika anak tak pernah mengeluarkan isi kepalanya?  Bisa-bisa anak menjadi sakit kencing batu seperti halnya mereka yang gemar menahan-nahan pipis!

Pada bagian terakhir dari doktrin kedua, kuperlihatkan contoh-contoh gambar anak sulungku, Hanif Almadaniy, dengan pesan bahwa ketimbang menilai gambar dari baik-buruk bentuk gambar, maka yang lebih penting dari gambar adalah ia menjadi media penuangan isi kepala, bahwa gambar bercerita tentang sesuatu.  Maka, tertawa kami bersama melihat gambar hanif dengan judul antara lain gitar menangis, kura-kura sedang e-e di air, telur babi menetas.  Gambar-gambar yang menuang isi kepala anakku saat itu.

Doktrin ketiga, tentang pengajaran calistung yang marak diberikan kepada anak usia dini.  Aku tak menyetujui hal ini.  Dari beberapa kajian psikologi yang kusimak, secara umum konsep calistung yang bersifat abstrak belumlah dapat menjadi konsumsi anak usia dini. Nah, apa yang akan terjadi seandainya kita melakukan sesuatu yang belum saatnya kita lakukan?  Aku bertanya secara retoris, apa jadinya jika anak balita diminta membawa 1 sak semen, atau apa jadinya jika seorang bayi lebih sering meminum coca cola ketimbang susu?  Tentu ini menjadi masalah bagi seorang anak, tetapi tidak demikian jika ia telah memasuki periode biologis berikutnya, yaitu beranjak remaja dan dewasa.  Yah, pada intinya aku ingin menyampaikan, segala sesuatu itu ada masanya.  So, lebih baik kita maksimalkan potensi anak berdasarkan apa-apa yang muncul/berkembang pada dirinya dan masanya!

Setelah puas “mendoktrin” dan puas dengan respon peserta yang cukup banyak mengajukan pertanyaan-pertanyaan, akhirnya tugasku pagi itu berakhir.  Masih ada waktu tersisa sebelum aku harus menunaikan sholat Jumat.  Maka kumanfaatkan waktu untuk melihat-lihat (observasi?) kegiatan teman-teman lainnya.  Aku menyaksikan sejenak kegiatan Bu Lili dengan kelompok guru IPS-nya, kegiatan Pak Asep dengan kelompok guru IPA-nya (Pak Asep benar-benar memanfaatkan media papan tulis, hingga penuh dengan coretan-coretannya), Pak Rian dan Pak Irfan dengan gabungan anak-anak SMP (tapi aku tak melihat guru Bahasa Indonesia), dan Bu Eva-Bu Zaki-Bu Yuki dengan kelompok PAUD-nya.  Wah, kelas Pak Rian dan kelas PAUD marak sekali.  Kelas PAUD marak dengan beraneka games yang menjadi selingan penyegar dan materi-materi keterampilan yang aplikatif.  Kelas SMP ramai dengan ketawanya, dan saat kutanya Pak Rian, ia berseloroh, “Ah, saya sih jadi pelawak saja…”  Sayangnya, aku tak menyaksikan siswa SD.  Entah mereka diliburkan atau dipulangkan lebih awal.

Jumatan tiba.  Kang Yayan menjelaskan bahwa jumatan di Cieceng berlangsung singkat.  Yang lebih lama malah pengajian sebelum jumatan.  Jadi, warga Cieceng sudah datang ke mesjid sejak pukul 10, saat pengajian dimulai.

Aku dan kawan-kawan datang tepat sebelum jumatan.  Lebih dari dugaanku, jumatan di Cieceng memang sangat singkat!  Mereka hanya menunaikan rukun-rukunnya saja.  Aku pernah beberapa kali jumatan di sebuah pesantren kolot, yang hanya menggunakan bahasa Arab dalam prosesi jumatan.  Jumatan berlangsung singkat, sekitar 5 menit.  Namun, di Cieceng lebih singkat lagi!  Saking singkatnya, kulihat Pak Zazuli yang sangat mudah tidur di manapun dan kapanpun, menjadi tak sempat tidur saat itu!

Selepas jumatan kami menyempatkan mampir di rumah Pak Parman, salah satu tokoh masyarakat Cieceng.  Tak lama di sana, kami diundang mengikuti 7 bulanan salah seorang siswi SMP Darul Hikmah angkatan pertama (menikah selepas SMP).  Katanya, kehadiran kami yang safar (melakukan perjalanan jauh) membuat doa kami diijabah, dan itu sangat mereka harapkan.

Sore-malam :

  1. Obrolan dengan Pak Omat (Kepala SD), dengan materi :
    1. Sertifikasi guru (jalur-jalur sertifikasi, jalur portofolio, komponen-komponen portofolio, kegiatan Walagri dapat dimasukkan ke portofolio, mekanisme tahunan sertifikasi)
    2. Mencari jalur untuk kesejahteraan guru, mulai dari memperoleh tunjangan/honor daerah (tunda/honda) atau tunjangan fungsional, mengusahakan status guru bantu/honor daerah, hingga kemungkinan menjadi PNS
  2. Obrolan dengan kepala SD dan SMP, serta 2 guru (TU?)
    1. Bantuan Operasional Sekolah (BOS) : ketentuan penggunaan, permasalahan pemotongan-pemotongan dari dinas, resiko yang kita hadapi berkaitan dengan pengelolaan, sikap/strategi yang harus dibangun berkaitan dengan pemotongan-pemotongan dari dinas
    2. Akreditasi sekolah (penggalian segala hal yang telah dilakukan sekolah dikaitkan dengan komponen-komponen akreditasi, komponen-komponen besar secara umum, pembahasan rinci per komponen meliputi apa-apa yang harus dikerjakan, disiapkan, dirapikan, dan jawaban yang harus disiapkan)
    3. Sharing tentang profesionalisme guru: Gambaran ideal, kendala-kendala yang dihadapi, langkah perbaikan ke depan, harapan kepada Walagri untuk membuat acara bertema komitmen guru, selain pengelolaan pembelajaran

Sabtu (23-5-2009)

Pagi-sore :

  1. Obrolan lanjutan tentang akreditasi sekolah dengan kepala SD dan 1 guru (TU?) : pembahasan rinci per komponen meliputi apa-apa yang harus dikerjakan, disiapkan, dirapikan, dan jawaban yang harus disiapkan
  2. Rekreasi ke Curug Dendeng (dari sungai yang menjadi perbatasan Tasikmalaya-Ciamis) dan pertunjukan anti malu kepada siswa SMP (setiap anggota tim Walagri unjuk kebolehan di depan siswa SMP.  Pesan yang hendak disampaikan adalah hilangkan malu agar kita dapat mengaktualkan diri)
  3. Kunjungan ke PAUD …… (tak sengaja karena tersesat saat pulang)

Sore-malam :

  1. Mengamati anak-anak yang asyik membaca buku.  Mula-mula 1 anak, kemudian semakin banyak anak yang bergabung
  2. Menonton anak yang bermain boy-boyan.  Wah, tampak siapa yang cukup kuat leadership-nya, siapa yang cakap secara fisik, tampak mereka berkonflik namun selesai dengan segera!, dan yang terpenting: mereka tampak gembira)
  3. Games dengan anak-anak SMP dan penguatan pesan akhir.  Pesan moral acara ini menguatkan pesan moral acara di Curug Cidendeng
  4. Mengobrol evaluasi kegiatan Walagri dengan rekan-rekan SPP dan warga
  5. Mengobrol tentang SPP dengan Kang Yayan
  6. Mengobrol tentang warga dengan Pak Parman dan Pak ……….. (rumahnya di depan home based utama tim Walagri).  Obrolan dilakukan terpisah.

Ahad (24-5-2009)

Pagi :

  1. Obrolan lanjutan tentang akreditasi sekolah dengan kepala SD: pembahasan rinci per komponen meliputi apa-apa yang harus dikerjakan, disiapkan, dirapikan, dan jawaban yang harus disiapkan
  2. Pulang dengan Toyota Hi-Ace pick up. Kendaraannya lebih besar dan kolongnya lebih tinggi daripada Mitsubishi SS, Suzuki Carry, dan Daihatsu Zebra. So, kendala mobil tersangkut di jalanan menjadi lebih minim.  Namun, tetap saja perjalanan mobil kerap dibantu dengan kegiatan mendorong dan mengangkat kendaraan.  Mungkin idealnya kita berkendaraa Izuzu Elf atau jeep 4×4!

Cimahi, 29 Mei 2009

Sandi Sahrinnurrahman

Categories: darimanasaja
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: