Home > Rumah Ibu > Suntuk, Komik, Nyekar

Suntuk, Komik, Nyekar

Sudah lama aku tak menulis. Bukan tak ada bahan atau kehilangan ide, tapi lagi suntuk. Perjalanan ke Cieceng yang sukses dalam pengertian manfaat bagi warga Cieceng, juga bagi progresivitas teman-teman Walagri; adalah bahan yang kaya untuk menulis. Sayang hidupku sedang di bawah komando segala akibat terpisahnya aku dengan istriku dan si kecil Ali yang sudah hampir 3 pekan tidak mau berkomunikasi denganku. Bukan ngambek. Cuma belagu lah. Istriku dan Ali balik tanggal 8 Juni. Obat suntukku adalah menghibur teman-teman dengan mengirim kutipan dari buku atau lelucon, ketololan, humor dalam hidupku yang memang pantas dijadikan sandaran duka. 2 hari lalu kukirim SMS ke teman-teman cerita Adry, si sulung. Nyekar Kamis dinihari, 28 Mei 2009, kakak sepupu ibuku meninggal dunia. Karena setelah bermukim di Bandung tak pernah balik lagi ke Medan, kenangan ibuku padanya adalah saat bertiga dengan 2 adiknya, selepas ditinggal mati ayahanda, sempat di bawah pengasuhannya. Sudah lama sekali dan tidak dikenalnya siapa istri, anak dan apalagi keluarga besar yang terbentuk. Begitu juga alamat rumah duka itu baru akan kami cari. Kamis pagi aku sudah siap dengan rencana ke rumah duka sampai tiba-tiba ada telepon yang mengabarkan kalau ibu ditemani adik segera berangkat ke Cimahi, ke rumahku. Karena satu dan lain hal, ibuku yang tiba sore di rumah, baru bisa pergi melayat Jumat pagi. Sial. Jumat pagi aku sudah punya beberapa kewajiban. Kumohon maaf dan kumohon pula kedua anakku untuk menggantikanku. Adry juga Azmi tak masalah. Oke. “Jangan bawa komik!” Begitu peringatanku tanpa terhalang oleh pikiran lain. Hari-hari setelah ujian nasional (UN) memang sebagian besar diisi Adry dengan membaca komik, tanpa novel, dan kemarin juga menolak ketika aku tawarkan untuk membeli buku non-fiksi untuk remaja. Memang sebagai ganti buku non-fiksi itu, Adry, dengan alasan dariku supaya ia tetap punya perbendaharaan pengetahuan untuk berpikir kritis, kuminta membaca tulisan Prof. Muhsin Qiraati tentang pandangan dunia Islam untuk remaja. Ia mau. Seperti biasa, membaca buku serius pun, ia tak ubahnya membaca komik. Membaca bagi Adry tak perlu dikaitkan dengan keharusan pemahaman dan ketidakbolehan sebaliknya. Baca ya baca. “Di angkotnya lama Yah. Cuma di angkot saja.” Kalau pun ragu, aku urung menolak permintaannya. “Cuma di angkot ya,” tegasku. Adry, Azmi, adik dan ibuku pergi ke rumah duka dan aku ke sekolah. Sesampai di sekolah aku langsung dengan Forum Paralel. Baru lepas forum aku menghubungi adikku menanyakan apakah mereka sudah sampai atau belum. “Sudah. Sedang makan,” begitu jawabnya. Aku tidak sempat bertanya urusan komik. Sampai aku pulang dan kumpul dengan mereka, karena Adry dan Azmi segera ke Purwakarta, aku pun tak sempat bertanya dan hanya sibuk memastikan mereka tidak meninggalkan bawaan untuk segala kebutuhan mereka beberapa hari di Purwakarta. Dari adikku lah kudengar fakta hubungan Adry dengan komik. Katanya, sepanjang 2 kali naik angkot, Adry tak lepas dari komiknya. Ia tidak jadi penunjuk jalan. Ia naik angkot yang distop adiknya, ia turun dengan pemberitahuan adikku. Di rumah duka, selepas bersalam-salaman, ia mendahului duduk dan menjadi satu-satunya orang terpekur membaca komik. Selang menyiapkan makan komik tergeletak yang kemudian selama makan dibuka-bukanya lagi. Habis makan disepakati nyekar. Mungkin karena almarhum dari NU atau saudara-saudaranya yang ke makam yang NU, yang nyekar selain menabur bunga juga membacakan Yassin. Buku Yasin-an, kau tahu lah, sama besarnya dengan komik. “Betul yang Adry baca komik, bukan Yasin-an?” aku mempertanyakan penglihatan adikku. Tuhan maafkan aku, apa jadinya mayit dibacakan komik? Beberapa Jawaban 1. Hihi, komik Jepang memang tidak bisa kirim doa. Tapi komik jepang bisa membuat yang wafat bangga karena ada anak yang minat bacanya tinggi. Baca adalah belajar. Belajar pan bagian dari ibadah. Baca komik = beribadah. Ha, ha, ha… begitulah kira-kira. 2. Yaa… ada kemungkinan yang meninggal itu, menuntut dibacakan komik jilid berikutnya. Yang berarti Adry harus sering nyekar tuh…

Sudah lama aku tak menulis. Bukan tak ada bahan atau kehilangan ide, tapi lagi suntuk. Perjalanan ke Cieceng yang sukses dalam pengertian manfaat bagi warga Cieceng, juga bagi progresivitas teman-teman Walagri; adalah bahan yang kaya untuk menulis. Sayang hidupku sedang di bawah komando segala akibat terpisahnya aku dengan istriku dan si kecil Ali yang sudah hampir 3 pekan tidak mau berkomunikasi denganku. Bukan ngambek. Cuma belagu lah. Istriku dan Ali balik tanggal 8 Juni.

Obat suntukku adalah menghibur teman-teman dengan mengirim kutipan dari buku atau lelucon, ketololan, humor dalam hidupku yang memang pantas dijadikan sandaran duka. 2 hari lalu kukirim SMS ke teman-teman cerita Adry, si sulung.

Nyekar

Kamis dinihari, 28 Mei 2009, kakak sepupu ibuku meninggal dunia. Karena setelah bermukim di Bandung tak pernah balik lagi ke Medan, kenangan ibuku padanya adalah saat bertiga dengan 2 adiknya, selepas ditinggal mati ayahanda, sempat di bawah pengasuhannya. Sudah lama sekali dan tidak dikenalnya siapa istri, anak dan apalagi keluarga besar yang terbentuk. Begitu juga alamat rumah duka itu baru akan kami cari.

Kamis pagi aku sudah siap dengan rencana ke rumah duka sampai tiba-tiba ada telepon yang mengabarkan kalau ibu ditemani adik segera berangkat ke Cimahi, ke rumahku. Karena satu dan lain hal, ibuku yang tiba sore di rumah, baru bisa pergi melayat Jumat pagi.

Sial. Jumat pagi aku sudah punya beberapa kewajiban. Kumohon maaf dan kumohon pula kedua anakku untuk menggantikanku. Adry juga Azmi tak masalah. Oke.

“Jangan bawa komik!” Begitu peringatanku tanpa terhalang oleh pikiran lain. Hari-hari setelah ujian nasional (UN) memang sebagian besar diisi Adry dengan membaca komik, tanpa novel, dan kemarin juga menolak ketika aku tawarkan untuk membeli buku non-fiksi untuk remaja. Memang sebagai ganti buku non-fiksi itu, Adry, dengan alasan dariku supaya ia tetap punya perbendaharaan pengetahuan untuk berpikir kritis, kuminta membaca tulisan Prof. Muhsin Qiraati tentang pandangan dunia Islam untuk remaja. Ia mau. Seperti biasa, membaca buku serius pun, ia tak ubahnya membaca komik. Membaca bagi Adry tak perlu dikaitkan dengan keharusan pemahaman dan ketidakbolehan sebaliknya. Baca ya baca.

“Di angkotnya lama Yah. Cuma di angkot saja.” Kalau pun ragu, aku urung menolak permintaannya. “Cuma di angkot ya,” tegasku. Adry, Azmi, adik dan ibuku pergi ke rumah duka dan aku ke sekolah. Sesampai di sekolah aku langsung dengan Forum Paralel. Baru lepas forum aku menghubungi adikku menanyakan apakah mereka sudah sampai atau belum. “Sudah. Sedang makan,” begitu jawabnya. Aku tidak sempat bertanya urusan komik. Sampai aku pulang dan kumpul dengan mereka, karena Adry dan Azmi segera ke Purwakarta, aku pun tak sempat bertanya dan hanya sibuk memastikan mereka tidak meninggalkan bawaan untuk segala kebutuhan mereka beberapa hari di Purwakarta.

Dari adikku lah kudengar fakta hubungan Adry dengan komik. Katanya, sepanjang 2 kali naik angkot, Adry tak lepas dari komiknya. Ia tidak jadi penunjuk jalan. Ia naik angkot yang distop adiknya, ia turun dengan pemberitahuan adikku. Di rumah duka, selepas bersalam-salaman, ia mendahului duduk dan menjadi satu-satunya orang terpekur membaca komik. Selang menyiapkan makan komik tergeletak yang kemudian selama makan dibuka-bukanya lagi. Habis makan disepakati nyekar.

Mungkin karena almarhum dari NU atau saudara-saudaranya yang ke makam yang NU, yang nyekar selain menabur bunga juga membacakan Yassin. Buku Yasin-an, kau tahu lah, sama besarnya dengan komik. “Betul yang Adry baca komik, bukan Yasin-an?” aku mempertanyakan penglihatan adikku.

Tuhan maafkan aku, apa jadinya mayit dibacakan komik?

Beberapa Jawaban

1. Hihi, komik Jepang memang tidak bisa kirim doa. Tapi komik jepang bisa membuat yang wafat bangga karena ada anak yang minat bacanya tinggi. Baca adalah belajar.  Belajar pan bagian dari ibadah. Baca komik = beribadah. Ha, ha, ha… begitulah kira-kira.

2. Yaa… ada kemungkinan yang meninggal itu, menuntut dibacakan komik jilid berikutnya. Yang berarti Adry harus sering nyekar tuh…

Categories: Rumah Ibu
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: