Home > MuridKusekolah > Nyali dalam Bersikap

Nyali dalam Bersikap

lesson-study (19)Saya mau cerita tentang anak kelas 6 yang sedang UASBN. Kalau gambar di samping ini anak kelas 3. Namanya Angga. Benar, dia duduk di meja di pojok bagian belakang, bukan di kursi sebagaimana selayaknya, juga seharusnya. Seperti tampaknya, dia sungguh memang sedang  memperhatikan guru. Sampai bisa-bisanya Angga leluasa dengan kehendaknya demikian, bukan tanpa pengingatan. Cuma mengingatkan yang cukup sekali saja itu memang dimaksudkan untuk tidak mengganggu yang sungguh disenangi anak. Guru pun cukup sekali saja mengingatkan karena semua anak kecuali Angga memerlukan guru yang dapat mengajar dengan suasana hati yang senang.

lesson-study (24)Ini gambar Angga beberapa menit kemudian, bukan Angga setelah kelas 6 karena sampai hari ini pun Angga kelas 3. Dia, kalau menulis, tidak bisa dalam keadaan seperti foto pertama. Instruksi untuk mengerjakan worksheet membuatnya harus beranjak ke mejanya yang terletak di depan, menyiapkan alat tulis dan mengerjakan worksheet yang ia hamparkan di meja yang tidak mungkin secara bersamaan didudukinya.

lesson-study (14)Masih bersama Angga. Lihat saja fotonya. Angga tetap dihormati gurunya, mendapat kesempatan yang sama dengan anak-anak yang lain, dan dia mendapat respek dari teman-temannya. Tanpa cacat, cela, stigma, Angga sepenuhnya bagian dari kami.

Saatnya sekarang sebenar-benarnya berbicara anak kelas 6 yang saat ini masih bergulat dengan soal Matematika sebagai mata pelajaran yang di-UASBN-kan di hari kedua. Kita akan langsung menuju Ruang 147. Di ruang ini ada yang berbeda karena terjadi pergantian pengawas. Kenapa?

Pengawas UASBN tidak boleh dari sekolah setempat. Kami hanya boleh jadi panitia. Pengawas di SD Hikmah Teladan datang dari sebuah sekolah yang sudah ditetapkan sebagai Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI). Bukan cuma urusan pengawas yang menunjukkan betapa direncanakan begitu ketatnya penyelenggaraan UASBN, yang lainnya adalah larangan terhadap guru kelas 6 untuk hadir di lingkungan sekolah. Tentu saja administrasi yang terkait dengan soal yang dinyatakan sebagai rahasia negara akan membuat Anda geleng-geleng kepala karena seakan lembar ujian itu dikelilingi orang-orang jahat.

Kita lanjutkan. Pukul 10.00, 11 Mei 2009, anak-anak berhamburan menikmati selesainya UASBN hari pertama. Sekelompok anak, laki-perempuan, yang terukir kemarahan di wajahnya, mendekati seorang guru. Semuanya berebut menyampaikan omelan. Guru yang kebingungan memohon anak-anak tenang dan mewakilkan pada seorang di antara mereka berbicara. Jelas sekarang, mereka memprotes pengawas yang berbaik hati (sebagaimana disepakti oleh semua pengawas saat kejadian dipermasalahkan sebagai maksud sesungguhnya) memberitahu jawaban. Setelah semua kemungkinan maksud lain dibantah anak-anak, guru yang kebingungan menjanjikan untuk membicarakannya dengan kepala sekolah. “Kalau pengawasnya tidak diganti, aku tidak mau lagi ikut ujian,” ancam seorang anak, tepatnya gadis mungil, tambah membuat ketar-ketir si guru.

Kirain sudah selesai. Saya sendiri tadi cuma menceritakan kembali. Saya baru tahu sesudah keramaian itu. Kuawali dengan sedikit katanya lagi, sekelompok anak tadi meneruskan perjalanan sambil berbagi cerita: Aku sebal setiap dia lewat kalian, sambil menunjuk soal, bilang that right that wrong. Kututup saja lembar jawabanku saat di persis lewat di sampingku; (Satu yang anak menangis ditanya temannya kenapa menangis) Aku dikasih tahu 5 jawaban. Aku takut dosa; Pas bapak itu bilang nomor 9 jawabannya C. Aku bolak-balik memeriksa jawabanku yang berbeda. Mana sih yang benar?; Setelah lihat lembar jawabanku, bapak itu cuma bilang: baguusss. Belum selesai obrolan mereka itu, seorang ibu yang menjemput gadis kecil kecintaannya ikut mendengar. Betul? tanyanya serta merta. Tanpa tanya ini, itu dahulu, beliau langsung melabrak sekelompok ibu-ibu pengawas dengan kata-kata yang berkisar seputar peran guru dalam merusakkan generasi harapan Bangsa. Jelas saja, kan oknumnya seorang bapak, ibu-ibu itu naik pitam. Terjadilah apa yang sepantasnya terjadi. Silahkan.

Menurutku sebaiknya memang dipersilahkan saja. Tidak ada yang salah dengan keputusan dari ibu si gadis mungil untuk langsung melabrak dengan hujatan. Kan bukan boleh-boleh saja kalau begitu di SD Hikmah Teladan. Wajar saja sekelompok ibu-ibu pengawas itu meradang. Masa sih sebagai guru RSBI malah merusakkan generasi harapan Bangsa. Mungkin kita wajarkan saja lah kalau kepala sekolah yang mengajak menyelesaikan masalah ini baik-baik dan mengajak ibu si gadis mungil masuk ke ruangan ditolak mentah-mentah. Walau begitu kami kembali duduk rapi mencoba menyelesaikan baik-baik.

Saya sempat marah dengan kehendak menyelesaikan baik-baik. Saya juga sebal kita tindakan si bapak guru itu disimpulkan sebagai kesalahan dengan maksud sesungguhnya adalah kebaikan dan kami terpojok untuk tidak bisa membela membabi-buta ibu si gadis mungil. Saya sendiri hanya bisa berargumentasi bahwa, terserah apa maksud lainnya, tindakan itu tidak boleh dilakukan di SD Hikmah Teladan, kemudian demi anak dan sesuai permintaan mereka, si bapak oknum tidak boleh mengawas lagi.

Itulah yang terjadi hari ini: si bapak oknum tidak masuk kelas. Kau tahu kalau itu semua episiode yang begitu membuatku bangga? Kau tahu anak-anak yang bisa begitu itu adalah yang sempat menjadi bagian dari “para Angga”? Tahukah kau bahwa kami semua terperangah dalam mengagumi anak-anak yang demikian? Beberapa guru yang mengawas di sekolah lain datang ke sekolah dengan membawa keributan, dalam kepalaku terbersit kata kesetanan tapi tak sedap yang mengucapkannya sekalipun memang mereka heboh banget. Apa perkara? Teman-teman membongkar sindikat kunci jawaban! Wajar heboh karena hari pertama kedua bapak guru ini membanggakan keadaan kelasnya yang baik-baik dan terkendali, dan bahwa kunci jawaban hanya terjadi di kelas yang diawasi teman guru perempuan. Tahu rasa deh ternyata yang mereka hadapi adalah konspirasi.

un-kunci jawabanSambil mengumpulkan kunci jawaban dari semua anak dengan mata berkaca-kaca salah satu dari mereka berfatwa bahwa “Tahukah kalian kalau kalian sedang dijadikan binatang!” Diajaknya anak-anak untuk menolak diperlakukan demikian dan dilatih, di waktu sisa ujian yang masih lumayan, bagaimana strategi memboikot penyusupan kunci jawaban.

Sudah sore. Mohon doakan untuk semua mereka yang engkau pun akan bersimpati agar tak Tuhan uji dengan kenyataan bahwa yang bathil bergembira terlepas dari kegagalan sebagaimana mata duni melihatnya.

Categories: MuridKusekolah
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: