Home > Kurikulum Esdehate > 3 Kategori Buku sebagai Sumber Belajar

3 Kategori Buku sebagai Sumber Belajar

3 Kategori Buku sebagai Sumber Belajar

Secara pribadi saya tidak menyukai penggunaan buku paket. Kalau SD Hikmah Teladan memakai buku paket, alasannya bukan karena ini bukan sekolah saya, karena kalau pun sekolah milik saya tetap saja sikap wajar terhadap kenyataan mengharuskan pemakaian buku paket. Yang dipastikan adalah ada mata pelajaran yang tidak memakai buku paket. Mata pelajaran apa?

Alasan pokok saya tidak menyukai pemakaian buku paket:

1. Keputusan setengah hati untuk memberikan otonomi dalam pengelolaan kurikulum, dengan buku paket, ditarik mundur lagi untuk sepenuhnya sentralistik karena penerbitan buku mengharuskan jangkauan nasional dan penulis pun akan selalu menjadi pihak lain bagi sekolah. Mereka adalah pihak yang melayani kurikulum dan kepentingan penerbit.

2. Sebaik apapun buku paket, kerap kali menyodorkan beban materi yang harus disampaikan melebihi waktu efektif belajar. Bahkan cukup banyak buku paket yang pula menambahkan instruksional pemakaian buku paket pada buku yang dimiliki anak.

Pada Dokumen Negara untuk Standar Isi Kurikulum Nasional, mata pelajaran Bahasa Indonesia menjadi Standar Isi yang paling longgar ikatan ‘isi’ materinya karena berfokus pada komunikasi atau keterampilan berbahasa. Perhatikan contohnya Kompetensi Dasar Bahasa Indonesia kelas 1 semester 2 berikut:

Memahami wacana lisan tentang deskripsi benda-benda di sekitar dan dongeng

Bagaimana cara kita mendeskripsikan? Benda-benda apa yang akan dideskripsikan? Adalah pertanyaan yang mempersilahkan siapapun pengguna kurikulum berkehendak sendiri, sebagaimana kami bisa menetapkan “di sekitar” berarti di lingkungan SD Hikmah Teladan. Silahkan Anda cobakan apa yang saya lakukan pada keseluruhan Standar Isi mata pelajaran Bahasa Indonesia dan rasakan sensasi kebebasannya.

Akibat larut dengan sensasi kebebasan tersebut muncullah di SD Hikmah Teladan istilah buku rujukan. Buku rujukan adalah buku bacaan umum untuk anak-anak. Pada jumlah yang sangat banyak dan tema bahasan yang teramat beragam, yang lolos jadi buku rujukan diupayakan yang terbaik. Biasanya terlalu banyak pilihan. Namun demikian yang utama dari buku rujukan adalah (1) buku tidak diperuntukan untuk sesuai kurikulum (2) tanpa disertai, pada umumnya, lembar kegiatan dan evalusi.

Pernyataan “buku tidak diperuntukan untuk sesuai kurikulum” memunculkan syarat “mengetahui kurikulum” sebagai salah satu syarat dalam memilih buku rujukan. Semula rigid. Ada keinginan, saat yang berlaku Kurikulum Berbasis Kompetensi, setiap indikator ingin diikuti. Karena merepotkan, kami nekad saja hanya mengikuti yang menurut kami esensial. Bahkan kalau melihat awalannya, pemakaian lembar anak Kompas hari Minggu, kami nekad untuk bersiap menghadapi apapun yang tersodorkan. Ternyata kami mampu lho. Begitu juga ketika yang esensial saja dari kurikulum yang kami bawa dalam memilih buku rujukan, ternyata target di kelas 1 (sebagai kasus yang sedang dibicarakan) dapat kami lampaui. Simpulnya kami pun jadi kukuh untuk mensyaratkan bagi buku rujukan bahwa itu adalah buku anak-anak terbaik yang muncul pada waktu pemilihan. Enggak lagi tuh dipikirkan kesesuaiannya dengan kurikulum dan (apalagi) disertai-tidaknya kegiatan dan evaluasi.

Kategori ketiga buku sumber belajar adalah lembar kerja siswa (LKS). LKS merupakan buku sumber belajar yang paling dapat mengakomodasi aktualitas, baik dalam hal tema ataupun kesempatan. Dengan kata lain, LKS menjadi buku sumber belajar yang paling menantang sekaligus mempersilahkan kami menjadi diri sendiri. LKS dapat lepasan (berdiri sendiri) atau pendamping buku rujukan. LKS juga dapat berupa materi yang mengganti suatu bab tertentu dari buku paket. Pada semua jenis LKS ini diberikan royalty bagi berhasil membuatnya sesuai standar SD Hikmah Teladan. LKS “Problem Solving” dan LKS yang mengelola sumber belajar filem “the Tale of Despereaux” contoh terkini LKS yang pas standar SD Hikmah Teladan.

Ngotot Pilih Buku Terbaik

Penting untuk menjadikan hanya buku bacaan anak terbaik yang ditetapkan sebagai rujukan sangat penting. Lakukan ini pada diri kita dengan profesional. Saya ingat ketika memakai lembar anak Kompas yang berbarengan pemakaiannya dengan beberapa buku dari seri Franklin, saya dituding menjerumuskan anak-anak ‘agama’ Kristen. Untuk Kompas ditanyakan kenapa saya tidak memakai Republika, Pikiran Rakyat, atau majalah anak-anak Muslim yang cukup banyak. Untuk Franklin apalagi, sangat banyak penerbit yang kental keislamannya dirujukkan.

untitled-11Agak aneh juga dengan reaksi saya ketika digugat demikian, karena sama sekali tidak menjadi pikiran saya ketika memilih sumber belajar tersebut dengan latar belakang keagamaan, suku bangsa, dan lain-lain dari penulis atau penerbit. Dengan mudah saya mengungkapkan fakta kenapa yang dipilih lembar anak Kompas dan bukan lainnya. Karena akhirnya sudah jadi kebiasaan setiap hari Minggu setidaknya membeli 4 koran berbeda, saya pun menunjukkan satu per satu perbedaannya. Yang ingin saya katakan di sini, saya tidak pernah mempersiapkan jawaban. Saya hanya tahu-tahu punya kekuatan untuk berargumentasi dengan dukungan kenyataan yang sangat dekat. Bahkan akhirnya, ini agak menyebalkan, saya menyampaikan ‘ceramah’ tentang strategi menghadapi kenyataan sosial dan pemikiran yang semakin membahayakan anak-anak.

tambahanTahun berlalu, kini giliran saya yang dipermalukan. Ketika pelajaran karakter akan memakai seri buku “Elf-help Books for Kids” yang beberapa buku sangat kentara pemikiran dan pengenalan pola hidup Katolik, sekalipun itu buku terbaik yang saya temukan dan saya dapat menjelaskannya, tetap saja kekhawatiran menyerbu saya. Sampai lah cerita sekitar 10-an buku seri tersebut, setelah saya menjelaskan kelebihannya, diperiksa oleh teman-teman. Saya terkejut bahwa mereka dengan santai mengatakan buku ini dan itu tidak dapat dipakai karena dengan jelas merujukan kebaikan-kebaikan yang dibacarakan kepada Al Kitab. Sedangkan buku ini dan itu yang lain merujukkan pada sudut pandang psikologis dan menghargai nilai-nilai yang dibicarakan sebagai universal.

Categories: Kurikulum Esdehate
  1. Ichwan
    November 7, 2013 at 9:55 am

    kecerdasan menerima adanya perbedaan agama, suku, ras, derajat sosial adalah tingkat kecerdasan yg dapat dipelajari, tapi sayangnya banyak orang memilih sebaliknya, eksklusivisme, kebodohan yg juga dipelajari…

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: