Home > Kurikulum Esdehate, SekolahKu > Motivasi Internal Menggekspresikan Diri yang Kompetitif

Motivasi Internal Menggekspresikan Diri yang Kompetitif

Perhatikan worksheet yang luar biasa menggambarkan budaya demokratis di SD Hikmah Teladan.

ps-aripin-okeBagian ekor “Hanif dimarahin pak Aripin” diisi permasalahan yang dihadapi anak. Masalah beragam, mulai dari bagimana supaya masuk surga sampai hilang penghapus. Pemilik lembar worksheet yang berhak menentukan masalah. Sekalipun guru menetapkan masalah dimaksud adalah “masalahmu”, beberapa anak menyatakan masalah temannya.

6 ruang kosong rangka ikan: 5 diisi jawaban penyelesaian masalah dari teman-teman dan 1 ruang diisi guru. Hampir keseluruhan jawaban berbeda.

Pada ekor ikan “Ikhsan selalu nakal”, seorang teman (Adnin) menjawab, “Puas. Ngeyel sih kalau dikasih tau.”  Fahri di rangka sebelahnya menjawab, “Kamu teh Adnin jangan ngejek.” Tak ada hambatan psikologis kan untuk mengkritik. Pada beberapa jawaban juga tak perlu malu (dan memang tidak akan dipermalukan) bila menyampaikan jawaban ‘negatif’. Kok egaliter sekali mereka.

Kepala ikan adalah jawaban terpilih. Pemilihan jawaban mandiri dilakukan anak yang mengemukakan masalah. Semua guru yang diikutsertakan menjawab (5 orang) mengalami jawabannya tidak digubris. Jawaban ditulis dengan cara berbeda (termasuk pada kasus contoh di atas tidak menjawab): menuliskan jawaban, menuliskan nama, menuliskan nomor.

Beberapa Kenyataan yang Rumit

1. Jawaban guru yang tidak digubris. Tentu saja menyenangkan bila (sebagaimana saya impikan) anak-anak mendasarkan jawaban pada rasionalitas objektif. Benar-salah bukan perkara siapa yang menyampaikan. Juga bisa terjadi (sebagaimana diketahui dilakukan beberapa anak) jawaban terikat kuat dengan subjektivitas. Namun demikian, kedua kasus menegaskan bahwa kebebasan sudah menjadi tanah lapang bagi setiap individu.

2. Saat mengisi 6 rangka, semua penjawab bisa leluasa melihat jawaban yang lain. Kenapa tidak ada jawaban yang sama? Ekor ikan “Hanif dimarahin pak Aripin” mendapat jawaban dari Vika “jangan nakal”, Uti “jangan nagis. cengeng”, “minta maaf ke pa Aripin, Aulia “makanya jangan nakal”, Daffa “marahin lagi aja pak Aripinnya”, Friz “Minta maaf agar bapak tidak marah lagi”. Bila setiap anak leluasa melihat jawaban temannya bahkan menyempatkan diri membacanya, perbedaan jawaban menjadi bukti bahwa berbeda bagi anak-anak (dalam hal ini anak-anak kelas 2) adalah wajib. Dapat dinyatakan demikian karena ternyata wilayah asal beda pun dirambah anak-anak. Ada motivasi internal untuk berbeda menyertai kebebasan berekspresi. Bukankah ini menjadikan kebebasan berekspresi kompetitif?

3. Ada anak yang menjawab ‘negatif’ secara berulang. Misalnya, untuk anak yang kehilangan uang Rp5.000,- ia memberikan jawaban “copet saja 5000”. Kepenasaran saya padanya dijawab oleh gurunya kalau anak itu pintar namun besar di rumah dengan konflik ayah-ibu yang kuat. “Saya juga sampai nangis di ruang guru karena diusir dari kursinya saat berinisitif menemani temannya sementara ia duduk di bawah,” lanjut guru yang kutanyai sambil senyum-senyum malu. Bagi anak-anak (kelas 2) sangat wajar jika mereka jadi duta rumah. Namun kewajaran ini pula yang menjadikan rumit setiap upaya untuk ‘meluruskan’ pikiran dan tindakannya. Dapatkah Anda membayangkan bahwa ini sesuatu yang rumit?

Cara Membudayakannya

Worksheet ini memang berkaitan dengan saya, pertama anak-anak itu bermasalah dengan saya dan guru pembuat worksheet mendapat inspirasi dari buku Stephen R. Covey, “the Leader in Me”, yang karena alasan kemampuan saya yang rendah dalam Bahasa Inggris menugaskannya membaca buku tersebut.

“Pak sini. Lihat LKS Problem Solving anak-anak yang tadi Bapak marahin,” panggil Ibu Guru yang saya maksud saat saya jalan-jalan ke ruang guru. Saya tertahan agak lama di ruang guru. Melihat gelagat serius saya, “Nanti ya Pak, karena ini baru anak-anak yang terlibat masalah dengan Bapak,” pintanya dan saya segera mohon diri.

Setelah kemudian saya mendapat pekerjaan anak sekelas, saya pelajari sungguh-sungguh, saya nyatakan sebagai LKS yang berhak mendapat royalty, dan saya bahas mendalam di Forum Parallel kelas 2. 2 kelas lain meminta ijin menggunakan LKS tersebut. Saya tidak berhenti, karena ini tugas utama Litbang SD Hikmah Teladan, menjadikan LKS ini sebagai bahan diskusi di Forum Parallel kelas lain.

Oke, setidaknya dengan semua yang dilakukan, guru-guru akan tahu kegiatan, sumber belajar, LKS, atau apa pun termasuk diri kita yang dapat menjadi tempat yang mewah bagi anak-anak untuk berpesta dengan dirinya dan dengan yang lain yang sama-sama memuliakan diri. Hari yang indah.

  1. helena agustien
    December 28, 2013 at 7:43 am

    “Setelah kemudian saya mendapat pekerjaan anak sekelas, saya pelajari sungguh-sungguh, saya nyatakan sebagai LKS yang berhak mendapat royalty”..
    royalty nya mana dong..????hahahaha

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: