Home > MH. Aripin Ali > Kena Batunya

Kena Batunya

Undangan Komite Sekolah

Alhamdulillah Guru-guru SD Hikmah Teladan telah berhasil menulis buku yang Insya Allah akan berguna dan bisa menjadi salah satu sumber belajar bagi siswa. Kita tentu harus mengetahui isi buku tersebut dan mengkajinya bersama-sama sehingga kita bisa menentukan apakah buku tersebut layak dijadikan sumber belajar atau tidak. Berkaitan dengan hal itu, kami mengundang Bapak untuk hadir pada pertemuan yang Insya Allah akan dilaksanakan pada:

Hari/Tanggal      : Rabu, 22 April 2009

Pukul                    : 10 s.d 12.00 WIB

Tempat                  : Ruang Inklusi SD Hikmah Teladan

Acara                    :  Diskusi dan kajian buku karya guru SD Hikmah Teladan bersama Penulis Buku, Kepala Sekolah, Litbang, POMG, dan Direktur Perguruan Darul Hikmah

Itulah undangan yang saya dan semua yang hadir menerimanya. Saya sendiri tidak ada masalah dengan undangan tersebut, karena hampir setahun sebelumnya sudah mempelajari dan mengetahui keberadaan buku teman-teman. Bahkan saya yang menerima dan mempersilahkan penerbit untuk langsung bertemu dengan guru-guru dan memperlakukan guru-guru secara profesional sebagaimana keumumannya. Sebab itu saya menegaskan bahwa pihak sekolah tidak punya kewajiban memakai buku yang dibuat guru-guru, dengan penetapan bahwa buku mereka akan diperlakukan sama sebagaimana buku dari penerbit lain. Kau tahulah di hatiku sudah terbersit akan pemihakan yang leluasa kulakukan. Entahlah apa yang membuat waktu itu saya cukup kuat menegakkan hubungan profesional.

Mungkin lain dengan orangtua dalam hal pengetahuan terhadap buku teman-teman yang kebanyakan baru mengetahui saat penerbit buku teman-teman mempunyai stand di Family Day. Buku yang konon habis terjual, saya tidak tahu jumlah eksemplarnya, memang buku yang sangat menarik penampilannya dan 2 mata pelajaran menonjol dalam metodelogi. Wajar jadinya kalau Komite Sekolah dengan segera ingin mengetahui dan membedahnya.

Bedah Buku yang Berubah jadi Bedah MH. Aripin Ali

Acara dimulai terlambat sekitar 20 menit karena menunggu Direktur Perguruan Darul Hikmah yang sedang mewawancara guru (sebagai kegiatan rutin di akhir tahun). Kami yang menunggu, terutama orangtua murid dan teman-teman penulis buku yang datang dengan tim lengkap sudah terjadi perbincangan yang santai tapi nampak dari ekspresinya juga serius. Yang jelas bahwa presentasi tentang buku dan penghargaan yang setinggi-tingginya dari orangtua sudah dilalui, ah kayak komunikasi politik, tepatnya lobi politik menjelang rapat dimulai.

Setelah Direktur mempersilahkan acara berjalan saja sebelum kehadirannya, Ketua Komite Sekolah membuka acara. Dari mulut beliau, yang selain sebagai pengundang merangkap sebagai moderator dan pembahas, agenda acara berubah. Setelah ucapan syukur dan terimakasih, selanjutnya disampaikan penghargaan yang sedalam-dalamnya, turut berbangga, dan ungkapan pujian dan penghargaan yang disertai bukti-bukti pendukung lainnya; bahwa alur acara dimulai dengan penjelasan dari Litbang SD Hikmah Teladan yang berwenang dalam penentuan buku yang akan dipakai siswa SD Hikmah Teladan (sehingga fokus pertanyaan tersiratnya adalah kenapa buku teman-teman yang hebat itu tidak diketahui orangtua pemakaiannya oleh anak-anak? Dan mau tidak mau tentang moralitas, kok tidak menghargai, tidak respek, tidak punya kebanggaan, mementingkan diri sendiri, dan lain-lain); dilanjutkan Direktur dan terakhir teman-teman guru-penulis buku, baru diskusi. Direktur Perguruan Darul Hikmah sudah bergabung.

Saya yang dipersilahkan, dalam hitungan detik sempat bengong, bingung, dan grogi. Saya mengalami detik-detik yang asyik untuk memutuskan apakah mengikuti alur tersirat atau menjelaskan apa yang diminta. Kepala Sekolah memberikan catatannya apa yang akhirnya saya bicarakan mengenai mekanisme penentuan buku di SD Hikmah Teladan (huruf miring dari saya):

1. Sebelum ditentukan judul bukunya oleh Litbang, dari beberapa penerbit yang datang, buku selalu diperlihatkan pada guru-guru untuk diminta tanggapannya apakah bagus/tidak untuk digunakan di tahun ajaran depan. Lebih dari itu, selain buku rujukan bahkan sepenuhnya guru yang menentukan. Saya yang tidak menyukai menggunakan buku paket memang tidak mau peduli dengan buku paket dari penerbit manakah yang akan dipakai.

2. Khusus untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Pendidikan Karakter tidak menggunakan buku paket tetapi menggunakan buku rujukan yang kemudian dibuat LKS-nya. Buku rujukan hampir sepenuhnya saya yang menentukan. Buku rujukan tetap dipertahankan di SD Hikmah Teladan karena kenyataan buku tersebut tidak diperuntukan untuk memenuhi kebutuhan kurikulum, ya teman-teman harus berpikir menyesuaikannya atau pun kalau tidak, dipastikan pemakaian buku rujukan lebih baik dari pemakaian buku paket. Teman-teman juga harus berpikir karena pada umumnya buku rujukan (buku-buku umum yang diperuntukan untuk bacaan anak) tidak disertai kegiatan.

3. Adapun prosedur pembuatan LKS dimulai dari draft LKS yang diajukan guru kepada litbang lalu diedit kemudian diperbanyak. Dalam proses edting tersebut terjadi pembelajaran bagaimana membuat LKS yang terbaik untuk anak-anak. Tahun ini LKS yang diproduksi sampai pada jumlah yang paling sedikit. Saya sampaikan, salah satu kemungkinannya karena banyaknya buku paket yang digunakan dan Bahasa Indonesia dan Pendidikan Karakter kelas 1 buku rujukan yang dipakai menyertakan lembar untuk mengelola kegiatan, demikian juga bahasa Indonesia kelas 3, 4, 5, 6, sedangkan Pendidikan Karkater kelas 5 dan 6 kami memakai buku Peace Generation yang notabene buku kerjanya. Mau apalagi, hampir semua buku rujukan hanya membuat guru-guru belajar bagaimana mengajarkan bahan yang baru dan bagus tapi tidak membuat kegiatan dan LKS.

4. Adapun mengenai buku paket yang dibuat oleh guru-guru yang menjadi permasalahan utama mengapa tidak dipakai adalah harga yang mahal dan proses pembelajaran guru dalam membuat LKS menjadi tidak ada. Saya sempat menjawab pernyataan seorang guru senior bahwa buku yang dibuatnya sudah SD Hikmah Teladan banget pun tidak dapat selalu bisa dipakai karena ada guru-guru baru yang perlu diberikan kesempatan belajar membuat LKS atau buku yang pada kenyataannya prosesnya itu sekaligus menjadi peluang mereka menemukan budaya sekolah SD Hikmah Teladan, sebagaimana si guru senior itu mengalaminya lebih dahulu.

Selesai saya menjelaskan hal-hal umum tersebut, entah kenapa yang semula setelah saya dilanjutkan Direktur yang berbicara malah yang dipersilahkan teman-teman. Oh ya sebelumnya saya heran (tapi tidak sempat saya kemukakan) kenapa Kepala Sekolah tidak secara khusus diberi kesempatan berbicara.  Ada 4 guru-penulis yang mengemukakan penilaian.

Guru pertama: Beliau ini paling sengit dan di luar dugaan dalam hal kecanggihannya mengkaitkan semua hal yang terkait dengan banyak orang hanya semata tertuju pada saya. Menurut penilaiannya LKS itu kurang efektif, saya suka terlambat dalam melakukan pengeditan sehingga pembelajaran berlangsung tanpa LKS (dan pada kesempatan berikut menambahkan, sekedar LKS saja terlambat apalagi kiranya kalau yang diedit buku yang dibuat guru-guru sebagai proyek umum tahun ini), saya tidak menghargai karya teman-teman dengan mempersulit pemakaian buku mereka (termasuk bukunya yang bagian dari seri Thank You Allah), tidak mempromosikan, tidak adanya buku mereka di perpustakaan, dan ada lagi yang aku ingat, “Kok untuk Wisata Buku ke Erlangga anak-anak bisa beli buku yang mahal. Buku yang teman-teman buat dibilang kemahalan.” Saya suprise euy dengan pemaparannya, apalagi ia kerap berbicara dengan teman di sebelahnya, baik guru maupun orangtua, pada saat saya bicara dan itu rasanya pada hal-hal yang disalahkan atau tidak disetujuinya dariku. Saya benar-benar terdorong untuk melakukan perang barbar saling menyerang pribadi. Sayang ia perempuan.

Guru kedua. Semoga ia tidak salah kusebut guru kedua. Bicara sambil bercucuran air mata. Benar itu air mata hati yang terluka. Ia benar-benar merasa tidak dihargai sama sekali oleh SD Hikmah Teladan, eh ralat, oleh Litbang. Buku mata pelajaran Sains yang saya tahu memang SD Hikmah Teladan banget ini, buku yang dibuat dengan model dasar LKS (berupa buku) kami dan pengalaman mengajar di SD Hikmah Teladan, memang beliau perjuangkan dengan ulet untuk dipakai sejak setahun lalu waktu cetak pertama buku tersebut. Beliau menapikan alasan harga yang mahal karena buktinya buku Sain yang dipakai di kelas 5 dan 6 adalah buku Yohanes Surya yang bahkan lebih mahal dari buku mereka. Beliau juga sakit hati, saat saya minta guru Sains kelas 1 dan 2 untuk menentukan buku rujukan (karena setahun ini juga memakai buku rujukan). “Kenapa sih malah buku-buku dari penerbit lain yang disodor-sodorkan?” tanyanya dengan tisue di tangan yang sudah kuyup.

Guru ketiga. Beliau laki-laki dan menyatakan diri mewakili para lelaki, jadi wajar saja kalau saya berharap suasana yang terlalu emosional berkurang. Setidaknya sebagaimana biasa saya dapat memperoleh masukan atau gugatan argumen yang rasional. Namun selain hal-hal umum, bahwa betapa sulit menjangkau idealisme saya (hi, hi, kenapa bukan idealisme SD Hikmah Teladan ya?) dan penegasan bahwa permasalahan hanya terjadi dalam mekanisme di tataran praktis, secara mengejutkan ia menyebutkan adanya rumor kalau pemilihan buku (:dibaca yang dipilih dari penerbit lain dan bukan buku teman-teman) terkait kepentingan pribadi memanfaatkan perbedaan discount. Luar biasa. Sekarang juga saya jadi lupa apa hal lain yang dibicarakannya, lupa hal khusus dari dia yang kukomentari. Menjadi saksi perkataannya diluncurkan ke telinga orangtua yang bertemu pandang denganku, sungguh menjadikanku sepenuhnya merasa dikhianati. Hancur euy hatiku.

Guru keempat. Ketika pada tahun lalu membicarakan anggaran “uang buku” yang tidak memadai untuk membeli semua buku teman-teman dan dengan demikian harus memilih di antara buku mereka, guru keempat ini mempersilahkan bukunya tidak dipilih dengan alasan ia merasa apa yang diinginkannya sebagai guru SD Hikmah Teladan banyak ditolak oleh editor penerbit. Ternyata ada perkembangan yang tidak saya ketahui termasuk penggantian editor penerbit, sedemikian sehingga pada pertemuan ini ia menyampaikan bahwa bukunya SD Hikmah Teladan banget.

Mau bagaimana lagi saya bila keluh guru pada pada harap Ketua Komite Sekolah seperti itu adanya? Beberapa keluh saya jawab sekadar untuk memberi contoh ada sudut pandang, setidaknya persepsi berbeda. Selanjutnya tidak ada yang baik pada saya karena terlalu emosional. Lebih baik diam sambil makan hati sendiri. Memang dibeberapa kesempatan di mana saya menangkap dan memperjelas ide dari guru pertama dan beberapa orangtua tentang kemungkinan penyelesaian masalah, secara alamiah masih muncul sebagai pertahanan diri.

Baik Kepala Sekolah maupun Direktur yang kemudian berbicara tidak sedikitpun mencoba menganalisis permasalahan dan memberikan penilaian. Seakan saya benar-benar berdiri sendiri dalam membuat peraturan dan menjalankannya. Lagian siapa yang mau dipermalukan? Sudahlah. Eh saya sempat ketawa sendiri di akhir pembicaraan saat tahu pada tahun kedua ini Kepala Sekolah termasuk salah seorang penulis buku.

Kena Batunya

Sungguh untuk pertamakali dalam sejarah saya di SD Hikmah Teladan, saya dikhawatirkan tidak bertahan dan ambruk dalam menghadapi permasalahan. Mereka yang mengkhawatirkan itu teman-teman di administrasi (yang salah satunya ikut) dan istri Direktur yang seraya menahan airmata meminta saya untuk bersabar. Jangan ngebut, hati-hati, berdoa dulu, adalah kata-kata yang keluar dari teman-teman administrasi, termasuk tawaran cashbon untuk menemui istri (dan si Kecil Ali) yang sedang berdinas di Palembang.

Sore hari setelah menemani pertemuan “Rabuan” dengan teman-teman Semesta Hati, saya menelepon istri. Namanya juga istri, kekasihku lebih marah dariku. “Ayah seharusnya melawan. Serang saja habis-habisan!” Saya faham bila kekasihku begitu sengit. Ia satu-satunya yang tahu bahwa saya orang yang pertahanannya paling lemah saat dikhianati. Ia lah yang mengalami ketidakberdayaan akal sehat saat saya dalam keadaan demikian. Pembicaraan dengan istri berakhir dengan nasihat jangan berlebihan menyukai dan berbuat untuk orang lain. Biasa saja, jangan pernah mengistimewakan yang lain.

Lha wong diprovokatori, selepas telepon istri ternyata hati ini masih bergemuruh dengan kecewa dan marah. Khawatir, segera kuhubungi Sandi, partner saya sebagai sesama Litbang. Berbeda dengan keinginan menumpahruahkan isi hati ketika berbicara dengan istri, dengan Sandi tuntutan memaparkan kejadian secara objektif dan berargumentasi dengan rasional lah yang mengemuka. Hasilnya, dibantu oleh buku untuk melelahkan mata, saya tertidur malam itu sampai pukul 02.00. Dini hari sampai pagi mengurusi 2 anakku, tak henti saya bergumul dengan diri sendiri. Satu pertanyaan yang kupertahankan untuk mendapat jawabannya: Siapa sih Aripin itu sehingga kejadian tersebut begitu mudah dan lancar terjadi?

Aneh jawaban yang diperoleh. Kau ingat dengan anak-anak yang kebablasan dalam menikmati kebebasan (dan membuat guru mereka tertekan)? Kau ingat dengan orangtua yang kebablasan dan itu membuat guru tertekan? Seperti anak-anak,  guru SD Hikmah Teladan pun menikmati kebebasan. Bukan cuma itu, mereka pun dipersiapkan dengan sungguh untuk meraih kebebasannya. Lho kok saya jadi kalang-kabut dengan adanya di antara mereka yang kebablasan? Sepertinya ini sekadar giliranku saja. Senangnya punya alasan untuk dapat kuat.

Penyembuhan Tahap Akhir

Hari Kamis jadwal kesekian dengan guru baru. Seperti biasa, saya sukanya ngomong yang aktual. Jangan sangka semua yang ditulis di atas diceritakan pada guru baru. Saya hanya mengatakan menghadapi masalah serius yang seharusnya bisa disampaikan dan diselesaikan sambil bergurau. Kalau kata Kepala Sekolah itu akibat peristiwa (kecil) yang membuat kesal hati tapi tidak terungkap dan tidak terkomunikasikan, pun selanjutnya ia punya kesempatan membesar karena penambahan orang yang terlibat. Pertanyaan saya kenapa kedekatan selama ini dengan teman-teman tidak menjadi ranjau penghalang penyerangan pribadi?

Sewaktu Forum Paralel dengan kelas 3 pagi hari sebelum pertemuan (dan sebagaimana Forum Paralel kelas lainnya) pembahasan tentang worksheet “Problem Solving”  menimbulkan pertanyaan berkaitan dengan anak (yang punya masalah) memilih jawaban salah yang diberikan salah satu temannya (1 dari 5 jawaban teman dan 1 guru): Apakah demi kebebasan kita mensahkan jawabannya atau demi kebenaran kita meluruskannya? Saya memberi umpama yang ekstrem, yaitu anak yang sulit banget bergaul sehingga ia hanya punya satu teman. Kata saya, keberadaan ‘hanya satu teman’ itu layaknya urusan hidup dan mati. Apakah kalau ia menapikan benar-tidak, rasional-irasional penyelesaian masalah yang tersaji dan hanya mengharuskan memilih ‘hanya satu teman’ itu, kita masih terhalang mensahkan pilihannya? Saya juga sampaikan bahwa reaksi keheranan, penuh tanya atau bahkan protes terhadap jawabannya dari teman-teman lain, adalah tindakan-tindakan yang dapat sepenuhnya diartikan sebagai pelurusan. Di sini setiap guru yang mengenali anak-anaknya akan adil mengambil sikap. Saudaraku, inilah persisnya yang tidak aku lakukan pada guru penulis-buku, menilai kengototan mereka dalam hal pemakaian buku pada kenyataan pribadi hubungan mereka dengan penerbit: masa sih buku bagus kalau sekolah tempat gurunya mengajar saja tidak memakainya? Ini kan juga dapat dikategorikan sebagai perkara hidup-mati. Sementara saya malah hanya menilai itu sebagai kepentingan pribadi dan saya harus menegakan kepentingan lembaga, mengembalikan pada perjanjian semula, mengutamakan buku rujukan dengan LKS-nya sebagai proses belajarnya. Pokoknya semua deh yang membuat saya terkungkung oleh kebanggaan diri.

Tentang anak tadi, saya sampaikan pada guru kelas 3, kita mulai boleh saja meluruskan jawaban si anak kalau dipastikan ia sudah (dibantu oleh guru melalui proses belajar) mempunyai banyak teman. Namun demikian, meluruskan itu sesungguhnya memadai diwakili kesungguhan pertanyaan “kenapa” terhadap sebuah fakta tersodor. Idealisme dan otoritas telah membuatku sulit berlama-lama bertanya kenapa. Sudah, saya tinggal mengambil kesempatan seperti yang saya anjurkan pada guru-guru.

Categories: MH. Aripin Ali
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: