Home > Rumah Ibu > Mohon Doa untuk Hafalan (Pancasila)

Mohon Doa untuk Hafalan (Pancasila)

Adry, si sulung, sekarang 3 SMP. Tahu lah apa yang dijelangnya. Anaknya sendiri sepertinya masih bisa disebut biasa-biasa saja. Masih berimbang antara mempersiapkan UASBN dengan membaca komik dan novel. Bahkan ia kerap begadang, karena itulah waktu membaca novel yang tidak direcokin ayah-ibunya yang sudah lelap. Kami memang masih khawatir.

Beberapa alasan kekhawatiran:

1. Kelas 3, Adry sekolahnya di SMP Semesta Hati yang kusiapkan dengan seorang teman. Karena belum dapat ijin, ujian akhir sekolah dan UASBN masih menginduk (ke SMPN 3 Cimahi). UASBN tak masalah, tapi anakku tidak belajar bahasa Sunda dan beberapa mata pelajaran yang dujiankan untuk kelulusan dari sekolah.

2. Kekhawatiran kedua yang kerap ingin kutepis adalah harapan kami agar ia masuk ke SMA Negeri. Jadinya aneh, kepada anak yang kami berdua sepakati telah berperan banyak menciptakan suasana yang lebih hangat dan santai di rumah, sekarang dituntut serius.

Kemarin sore ada kajadian yang mewajarkan kekhawatiranku akan kesiapan anakku mengikuti ujian akhir sekolah. Begini ceritanya: Adry menanyakan pada ibunya, bunyi dari Pancasila yang ketiga. Sebelum menjawab, ibunya meminta Adry menyebutkan yang ke-1 dan 2. “Satu ketuhanan yang Maha Esa. Dua, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Dasar! “Tuh, tanya sama adikmu!” Azmi yang baru datang, disodorin pertanyaan. Anakku yang kedua ini sama dengan kakaknya sedang dikejar-kejar UASBN. Azmi kelas 6. Seperti biasa ia tentu bersikap dan berekspresi percaya diri. “Pancasila. Satu, kemanusiaan yang adil dan beradab.”

Tentang Adry yang membuat suasana komunikasi kami sebagai keluarga lebih santai dan akrab (: mulai berkurangnya “menuntut” sebagai yang mendorong komunikasi keluarga), belum lama jadi pembicaraan saya dan istri. Bagi kami, tentu saja itu sebuah prestasi, lha wong kami saja kesulitan merubahnya. Jadi, inilah prestasi terbesar Adry pada masa sekolahnya di SMP. Aku tetapkan sekarang ya: Hai, Adry anakku, telah kau raih prestasi terbaikmu. Jadi, kenapa aku harus mengkhawatirkan untuk prestasi lainnya? Jalani saja hari-harimu seperti biasa. Tetaplah membaca komik dan novel. Hadapi UASBN tanpa bimbingan belajar.

Sudah ah. Intinya aku minta doa agar Adry dan Azmi yang mau beranjak level sekolah tetap menjadi anak baik-baik dan kami semua tetap jadi keluarga yang terus belajar mewarnai rumah dengan berbagai kegembiraan.

Categories: Rumah Ibu
  1. April 4, 2009 at 2:41 am

    Klo baca tulisan2 ayah teh jadi menerawang masa lalu. Jadi pengen kembali ke SDHT……cuman. Ya, itu……SD…HT….HT ini peurih…hehehe….bukan karena ayah lho! Klo dengan ayah mah tetep ‘sono’……salut lah sama sistem ayah mah. Klo punya anak nanti…pengen deh kayak ayah….anak-anak dibiarkan ‘merdeka’. Setidaknya mereka tidak ‘dibentuk’ seperti pengennya orang tua….. Udah ah…..kayak monolog jadinya.
    Wassalam.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: