Home > SekolahKu > Yang Remeh dari Lesson Studi (1): Biasanya Lebih Heboh

Yang Remeh dari Lesson Studi (1): Biasanya Lebih Heboh

Pada 2 kesempatan, observer lebih banyak karena kami kehadiran kepala sekolah, wakil kepala sekolah, dan 2 guru dari SD Gagas Ceria. Pada kesempatan yang kedua ini yang akan diobservasi adalah pelajaran bahasa Indonesia di kelas 2. Ketika ditanya, apakah jadi atau tidak oleh kepala sekolah SD Gagas Ceria, saya jawab belum dapat memastikannya. Sebabnya jelas, Helena, guru yang akan mengajar, baru 2 bulan jadi guru dan guru pasangannya lagi cuti hamil. Dalam hati aku bertanya, maukah ia ditongkrongi sekitar 10 orang observer?

Sehari sebelum jadwal lesson studi, Helena bersama 4 guru lainnya, sebagaimana diberlakukan pada semua guru baru, mengikuti pembekalan. Pembekalnya aku sendiri. Jadi, aku memang niat menanyakan kesiapannya. Pembekalan selesai, Helena bertanya tentang sebuah buku cerita anak yang pernah dibaca bareng-bareng di Forum Paralel, karena katanya, itu mau dijadikan sumber pelajaran bahasa Indonesia besok. Ia, biasa saja, tidak nampak kekhawatiran akan jadi guru model di lesson study. Ya, sudah.

Hari H tiba. Kegiatan berlangsung. Uh, kelasnya rame banget. Tapi tentu saja aku maklum. Selanjutnya adalah pertemuan observer (5 dari SD Hikmah Teladan dan 4 dari SD Gagas Ceria) dan guru model untuk mendiskusikan tentang segala kenapa dalam kegiatan belajar yang sudah berlangsung. Semua memberikan penghargaan, terutama saat harus menghubungkan Helena sebagai guru yang baru 2 bulan (tanpa pengalaman mengajar sebelumnya) dengan 30 siswa yang, tahulah anak-anak SD Hikmah Teladan. Pertanyaan kenapa yang merupakan kritik positif pun, berkaitan dengan pengendalian kelas yang hanya berhasil pada sebagian anak. Di luar jawabannya, aku terkejut dengan tambahan informasi bahwa “Biasanya anak-anak lebih heboh.”

Pernyataan “Biasanya anak-anak lebih heboh,” pada 2 hari berikutnya kudengar dari guru yang keriangan dan sorak-sorai anak-anak ketika berebut berpendapat, memekakan telinga. Di kelas ini, anak yang paling antusias pada pelajaran, juga paling heboh, bahkan setelah menyampaikan pendapat yang dibawanya ke depan kelas, ia menggandeng sang guru dan mencolek pipinya. Sambil kubawa keterpanaan bahwa bagaimana bisa pada susana kelas yang demikian proses belajar berlangsung (pula) dengan baik; aku sungguh berhasrat mengintip yang lebih heboh dari itu.

Categories: SekolahKu
  1. Eva
    March 24, 2009 at 7:19 am

    Hmmm Lesson study…Membuat deg-degan kalau mendengar kata itu, knp ? karena saya juga guru baru yang belum punya pengalaman dalam mengajar. Di kelas apapun bisa terjadi, anak-anak dengan segala macam permasalahannya yang harus diselesaikan oleh gurunya pada saat itu. Kehebohan yang terjadi di kelas mungkin tiap hari guru rasakan, namun tergantung gurunya bagaimana mengatasi kehebohan itu sendiri. Yah..intinya saya masih ingin banyak diberi wawasan tentang bagaimana caranya mengajar?dan tentunya saya masih perlu banyak dibimbing…Selamat buat guru baru yang sudah melakukan Lesson study, dan selamat atas penghargaan dan keberhasilannya..semoga nanti saya pun bisa seperti itu Amien….

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: