Home > Rumah Ibu > Baca yang Aneh

Baca yang Aneh

Ali masih tetap dengan hobinya menggauli buku, termasuk dibacakan buku. Berbeda dengan kedua kakaknya, Ali itu lengket sama ibunya. Hanya sekadar mengalihtugaskan mengantar dan mengangkat Ali ke WC duduk pun sangat lama. Kalau cebok sih sampai sekarang harus sama ibunya. Yang lainnya yang termasuk sangat lama harus dengan ibunya adalah dibacakan buku.

Aku keruan saja kesal diacuhkan begitu. Apalagi niat baik ini disertai permintaan istriku untuk rehat sejenak dari penat seharian mengurusi Ali, wajar ya kalau kecewaku bagai yang jatuh ketimpa tangga akibat kasihan juga pada istri. “Padahal,” kata istriku lirih seraya menunjuk buku yang kubelikan untuknya, “mendongeng itu sebaiknya oleh ayah.” Aku terpaku. Tanganku menjulur meraih buku international bestselleer “Read-Aloud Handbook”, Jim Trelease, dan bertanya kenapa. Hai, katanya anak-anak itu tidak boleh mengidentikan seorang ayah hanya dengan hal bernuansa aktivitas fisik saja. Mendongeng membuat seorang ayah tampil dengan menyeimbangkan maskulinitas dan feminimitas. Ini kan seperti pendidikan adil gender. Aku suka info ini.

Membaca Gambar

Kadang-kadang Ali mau aku bacakan buku. Saat seperti itu, tentu saja aku tidak boleh membaca buku yang sama dengan yang dibacakan ibunya dengan cara yang sama; selain memainkan intonasi dan meragamkan ‘suara’, dapat juga dengan membahasakan cerita dengan kata-kata sendiri, menghilangkan teks dan hanya menginterpretasikan gambar. Yang terakhir, sebut saja membaca gambar, inilah yang biasa kulakukan.

Membaca Gambar sejenis dengan mendeskripsikan gambar. Dengan menggunakan gambar tunggal, biasanya ini sudah dimulai di kelas 1. Kalau gambarnya sudah komplek atau gambar yang merekam peristiwa, karena paling tidak anak sudah didorong menyusun beberapa kalimat, biasa dilakukan di kelas 2 dan 3. Berikutnya adalah beberapa gambar yang membangun cerita. Ah, ternyata berurusan dengan Ali berbeda. Semua buku yang dibacakan ibunya sudah dia tahu isinya. Membaca Gambar akan jadi menyenangkan kalau aku bisa mengintepretasikan gambar secara berbeda dengan maksud teks tapi tetap ada tautan. Otak Ali kan perlu mendapat sensasi.

Akibat beberapa kali sempat kehilangan ide sehingga aku merasa tampil garing, aku yang khawatir kesempatan yang sudah terbatas ini ditolak sama Ali, mencari beberapa pendekatan lain. Ternyata lho pendekatan lain itu dihadiahkan oleh kegembiraan yang Ali tunjukkan dengan aktivitas Membaca Gambar. Eh, kan kalau Ali senangnya berlebihan artinya ia tidak tidur-tidur. Seperti biasa, Ali bisa terpaksa tidur kalau lampu kamar tidur dimatikan. Gelap membuatnya tidak bisa loncat-loncat, bergerak memperagakan cerita, atau bermain akrobat apapun. Gelap menghentikan gerak aktraktifnya, tapi tentu aku tidak boleh menghentikan kesenangannya dibacakan buku. Muncullah ide untuk membaca buku dalam gelap. Tadi malam Ali sempat bilang, “Gak mau baca gelap”.

Baca Aneh

Bila aku kehilangan ide saat Membaca Gambar, maka cerita aku selesaikan dengan membaca teks yang tersedia. Cuma aku selalu segera mendapat protes. Bukan, bukan, selalu itu yang ke luar dari mulut Ali saat aku membaca teks. Kau perlu tahu ini, interupsi Ali “Bukan, bukan” selalu terucap dengan iringan segala keriangan.

Tersebutlah suatu rentang saat aku lama tak berkesempatan membacakan buku dan Ali pun enggan. Membacakan buku identik kembali dengan ibunya. Mengakhiri suatu rentang itu, istriku didera kebosanan dan dikejar tuntutan menyiapkan bahan-bahan kuliah, namun apa boleh buat Ali tak hendak dibacakan buku oleh yang lain. Di kesempatan inilah istriku menyampaikan kutipan tentang kenapa sebaiknya yang mendongeng itu sang ayah.

Serta-merta aku berpikir serius, apa gerangan ide yang dapat membuat Ali terpana. Aku berpikir serius karena istriku juga tak yakin kalau anaknya bisa berbagi hati. Kutawarkan bertubi-tubi: baca begini; baca seperti waktu itu; baca yang… Susah-payah pun Ali akhirnya mau beralih. Aku membacakan Franklin di Rumah Sakit dengan teks yang benar-benar heboh: ketika Franklin berpamitan ke kamarnya, cerita kubikin Franklin berpamitan ke kamarnya. Ketika Franklin pamit ke lemarinya, si lemari malah pingin ikut. Aku mengajak Ali menggotong lemari.

Kapanpun, sekarang ini, sampai tadi malam, Ali tidak bisa menolak ajakanku untuk dibacakan buku. Beberapa kali ia sempat meminta dibacakan. Namun, tegas pula aku dibebani kewajiban: membaca yang aneh. Kalau lagi tidak mau aneh-aneh, si bungsu akan mencari ibunya.

“Kok satu halaman saja gak pindah-pindah,” komentar Adry yang mengecek keributan apa gerangan di kamar ibunya. Komentar Adry itu petunjuk aku sedang membaca yang aneh.

Categories: Rumah Ibu
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: