Home > SekolahKu > Program Unggulan SD Hikmah Teladan (2): Wisata Buku

Program Unggulan SD Hikmah Teladan (2): Wisata Buku

Bulan ini belanja buku anak-anak SD Hikmah Teladan mencapai sebelasan juta rupiah. Angka yang terhitung besar untuk pembelian buku bacaan umum. Angka yang membuat sales penerbit Erlangga yang mengkoordinirnya mendapat ucapan selamat dari bosnya di Jakarta. Jangan tanya betapa sumringahnya diriku.

Samadengan Pengertian Kamus

wi.sa.ta v 1 berpergian bersama-sama (untuk memperluas pengetahuan, bersenang-senang, dsb); bertamasya; 2 piknik

Utamanya Wisata Buku menginginkan agar anak-anak senang membaca buku, tentunya buku yang menjadi jendela (menuju) dunia; bukan seperti buku paket yang menjadi jendela (dari) dunia.

Langkah pertama senang pada buku adalah menempatkan anak-anak di tempat yang dapat membuatnya terpikat pada buku. Inilah toko buku, dan toko buku yang paling memanjakan rasa senang anak-anak mendapat prioritas untuk dikunjungi. Tempat lain yang memungkinkan adalah perpustakaan dan penerbit buku. Perpustakaan kebanyakan penghuninya kusam dan dari lampau, kami pun enggan.

Memilih toko buku yang nyaman dan lengkap, wajib. Anak-anak perlu dibuat terpana, betapa semua aspek kehidupan diwakili oleh buku. Biarkan ia melihat semuanya: buku-buku olahraga, memasak, arsitektur, filsafat, psikologi, sastra, dsb. Biarkan anak-anak merujuk sumber yang berlimpah untuk pengetahuannya. Biarkan anak-anak dihadapkan pada pilihan yang banyak dan beragam untuk kesenangannya.

Perjumpaan dengan banyak buku, tentu saja harus dipastikan disertai, bahkan didahului, rasa senang. Kita pada umumnya tidak menganggarkan belanja buku, alias buku bagi kita adalah kebutuhan sekunder yang mahal. Maka pertama-tama Wisata Buku adalah piknik, dan karena perjalanan dibiayai sekolah, ia menjadi tamasya gratis. Kedua, anak-anak tidak diwajibkan membeli buku. Yang wajib adalah mengikuti kegiatannya. Semuanya menyenangkan, kan?

Tidak diwajibkan membeli buku, artinya kita mafhum semua, boleh dong kalau anak membelinya. Selain kepentingan agar kesenangan individu terkawal dan supaya lebih menjerat anak-anak membeli buku, buku yang dibeli tidak boleh ditentukan. Cara ini membuat “tidak diwajibkan” pun yang beli buku selalu kisaran 90% anak. Ruh ditidakwajibkannya membeli buku adalah pengalaman anak untuk menempatkan pribadi dalam pergumulan melakukan pilihan.

Belanja Buku

Kata seorang ulama, rasa ingin tahu adalah fitrah, alias kan melekat sepanjang hayat. Maka buku yang merupakan jalan tol bagi rasa ingin tahu, pengenalan padanya akan berarti memperangkapkan diri pada pikat dunia buku.

Sungguh kejutan dalam perjalanan ber-Wisata Buku, belum juga anak-anak senang membaca buku, anak-anak jadi suka belanja buku. Sampai sekitar kelas 2, Wisata Buku identik dengan belanja buku. Kontan mulai terdengar keluhan, “Buku yang dibeli kemarin saja belum dibaca, kok sudah dibaca lagi.” Kami sempat berpikir membuat kegiatan, worksheet, dan semacam test yang dapat memastikan buku yang dibeli dibaca anak.

Kenapa buku yang dibeli harus dibaca? Pertanyaan ini celoteh saja. Berikutnya pertanyaan serius, kenapa buku yang dibeli harus dibaca sekarang? “Sekarang” artinya setelah dibeli. Lama waktu setelah dibeli relatif, dalam kasus Wisata Buku, mungkin jangan lewat Wisata Buku berikutnya. Aih, anakku yang sulung, yang sekarang overdosis dalam membaca novel, baru membaca novel pertamanya setelah 5,5 tahun ber-Wisata Buku.

Kenapa buku yang dibeli harus dibaca? Kau tahulah siapa itu orang yang sewot kalau buku yang dibeli anaknya cuma dibolak-balik atau dijadikan kebanggaan doang telah memilikinya? Hargai sebagai prestasi, seorang anak yang mau membeli buku. Kalau Anda sebagai orangtua tidak punya kebiasaan membaca buku, minta anak Anda bercerita tentang bukunya. Kalau Ananda tidak suka diminta begitu, jadilah reader untuknya. Kalau tidak, ah pajangkan saja buku di tempat yang anak Anda memergokinya leluasa, atau tunjukkan kecintaan pada buku dengan memeliharanya.

Cara yang paling mudah membuat buku yang dibeli dibaca adalah menentukan buku yang dibeli dan ini sesuai dengan mata pelajaran. Karena dijadikan sumber belajar, dibahas sama guru, dan ada ulangannya, pasti dong dibaca. Namun demikian dapat dipastikan juga dong hilangnya kegembiraan menjadi diri sendiri. Punya pilihan yang berbeda, juga punya pilihan yang sama dengan alasan yang berbeda tak bisa rampok oleh rupiah harga buku yang tak seberapa. Lagian yang lebih banyak itu orangtua yang tak mengapa buku yang dibeli anaknya tak dibaca. Kami sekarang sudah menetapkan senang “belanja buku” sebagai tahapan menuju senang buku.

Buku Melulu

Terekam dari yang Terserak

Kelas 3 Sehari Rp2.407.880,-

bersambung

Categories: SekolahKu
  1. March 12, 2009 at 2:50 pm

    Kang Aripin adalah satu dari sedikit orang yang konsisten pada gagasannya.
    Orang semacam kang Aripin ini biasanya pandai menemukan cara untuk bersyukur, mensyukuri hal-hal yang dipandang orang lain biasa, tetapi bagi beliau itu adalah ‘tanda-tanda’ kebenaran gagasannya. Dengan cara itu ia semakin teguh pada gagasannya.

    Gagasan besar dari konsep pendidikannya adalah ‘membebaskan anak’. Anak yang tidak terkungkung akan cepat menemukan dirinya. Dan siapapun manusia yang telah menemukan dirinya akan segera menemukan Tuhannya.

    Masalahnya Indonesia adalah surga bagi ‘keseragaman’. Setiap orang menjadi risi ketika berbeda dengan orang lain. Dan itulah masalah yang menghadang kang Aripin. Semua orang, termasuk para orangtua, tidak rela jika anaknya berbeda.

    Sekedar berbeda mungkin tidak tepat. Tetapi keberanian untuk berbeda adalah mutlak.

    Tidak takut untuk berbeda dari yang sudah ada adalah pintu untuk penemuan-penemuan yang menakjubkan.

    Saya percaya pikiran dan perasaan kang Aripin dipenuhi dan disesaki dengan ketakjuban itu. Betapa indah cara beliau bersyukur kepada Tuhannya.

  2. June 22, 2009 at 7:30 am

    iKh kAnGenD mMa wIsBuk(wIsAtA bUku) eUyY….

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: