Home > SekolahKu > Program Unggulan SD Hikmah Teladan (1): Panggung Berani Gagal

Program Unggulan SD Hikmah Teladan (1): Panggung Berani Gagal

Hari Jumat, seperti biasa, kami memulai dengan Upacara Khas SD Hikmah Teladan. Khasnya banyak: paling jelas dilaksanakan hari Jumat bukan Senin; ada pembacaan Mutiara Hikmah; petugas upacara dirotasi per kelas dengan dimulai oleh para guru; juga ada Pentas Kreasi Siswa. Cuma empat kok dibilang banyak?

Pada upacara hari ini, seluruh petugasnya bagian kelas 5 Syam dan Pentas Kreasi Siswa kelas 6 Andalusia. Berbeda dengan kelas lain, karena semuanya bagi kelas 6 sudah fokus UASBN, mungkin juga karena sudah pengalaman, mereka biasa tidak persiapan sama sekali. Dan, hari ini kami dapat hiburan mengejutkan. Anak-anak Andalusia menyanyikan lagu “Goyang Duyu” Project Pop. Di semua bagian ref diikuti ramai siswa yang jadi penonton, bahkan anak kelas 1 Badar mah bergoyang bersama. Tidak ada teguran, sangsi, yang ada kami semua lebih gembira. Terjadinya semua ini khas juga kan!

Bisa juga disebut khas dinilai dari posisi kegiatan tersebut yang merupakan bagian dari Panggung Berani Gagal yang dibagi menjadi 4 tingkat berdasar keluasan ruang ekspresinya: kelas, paralel kelas, sekolah, dan (di dan bersama) umum.

Uji Nyali Bukan Uji Kompetensi

Tampil di Panggung Berani Gagal tidak mempersyaratkan bisa, tapi berani. Anak kelas 1 yang menjadi petugas upacara pembaca Mutiara Hikmah, maju ke tengah lapang dengan santai, gak tuh kelihatan gugup, dengar saja betapa lantang dia mengucap “Mutiara Hikmah” yang diikuti semua siswa dan guru-guru. Namun, setelahnya, suasana jadi agak riuh, karena kami harus mengikuti nasihat yang dibaca dengan dieja.

Persis itulah gambaran makna yang kami inginkan diemban Panggung Berani Gagal. Benar-benar membesarkan nyali dari kemampuan, apalagi dari prestasi.

Sebagai program unggulan atau program yang mengusung pengimplementasian visi, misi sekolah, keikutsertaan anak-anak di semua level ‘panggung’ wajib mengalaminya.

Panggung Balok

Balok dengan ukuran sisi 0,5 yang ada di setiap kelas disebut Panggung Berani. Seperti halnya maksud tempat yang disebut panggung, di balok ini anak-anak memang manggung. Yang dipertontonkan bisa membaca cerita, unjuk hafalan surat-surat pendek Quran, menjawab pertanyaan (kalau di kelas 1 misalnya) penjumlahan, menyanyi, deklamasi, atau jadi tempat main-main kalau tidak sedang dipakai sesuai peruntukannya.

Secara khusus Panggung Berani terkait dengan pelajaran dalam hal kedudukannya sebagai pengganti ulangan. Misalnya, daripada mengisi ulangan “Berhitung” pada selembar kertas, maka anak-anak bergilir naik ke panggung dan dipersilahkan menjawab pertanyaan dalam waktu 1 menit. Tentu saja tidak ada ketegangan, yang ada keramaian.

Panggung sengaja sebuah balok selain sesuai kebutuhan, juga mudah untuk digabungkan menjadi panggung besar yang digunakan anak-anak untuk kegiatan tampil dengan/di paralel kelas atau antar kelas. Penggabungan beberapa panggung balok inilah yang kami sebut Panggung Berani Mencoba.

Panggung Berani Mencoba

Sesudah berani tampil di kelas di depan teman-teman sekelas, penonton pada tampilan berikutnya ditambah teman-teman dari lain kelas. Di sini pada beberapa kasus, terutama yang berhubungan dengan mata pelajaran, sudah boleh perwakilan kelas. Namun demikian, guru harus (sampai pusing) menemukan kegiatan yang beragam agar banyaknya ragam kecerdasan anak terwakili. Kalau menampilkan apa saja kemampuan anak tentu saja tidak perlu pusing. Kayaknya yang biasa bikin pusing memang yang sesuai dengan tuntutan kurikulum.

Sekadar memastikan anak-anak tampil di Panggung Berani Mencoba sih mudah, adakan saja lomba paduan suara yang bersyarat pesertanya sejumlah siswa sekelas. Jadi, jangan mempersulit diri, pokoknya pastikan anak-anak mendapat kesempatan tampil di depan penonton yang bukan hanya teman-teman sekelas dan gurunya saja. Boleh juga tuh dicoba lomba deklamasi dengan cara seperti paduan suara. Oh ya coba juga lomba salat berjamaah.

Upacara Jumat Pagi

Panggung sebesar lapangan bola, tentu saja keren. Upacara di Jumat pagi yang biasa disebut Upacara Khas SDHT dengan Pentas Kreasi Siswa adalah panggung yang memberikan kesempatan anak-anak tampil di depan seluruh warga sekolah. Hai, ini juga wajib dialami semua anak.

Sesuai minggu efektif dalam setahun, kira-kira ada 40 kali pelaksanaan Upacara Khas SDHT. Karena ada 18 kelas, masing-masing kelas kebagian sekurang-kurangnya 4 kali tampil: 2 kali sebagai petugas upacara, 2 kali menghibur di Pentas Kreasi Siswa. Di kedua ‘panggung’ ini yang pertama kali tampil adalah guru-guru. Asyik lho melihat guru-guru tampil ramai-ramai sebagai petugas upacara.

Semua anak sekelas yang mendapat giliran jadi petugas, tampil. Rumusnya adalah anak-anak yang jadi petugas + anak lain dalam paduan suara. Pada kesempatan yang kedua, anak-anak yang menjadi petugas pada kesempatan pertama tidak boleh jadi petugas upacara lagi. Akibat penggiliran demikian dan kebiasaan melaksanakan kegiatan tanpa persiapan yang berarti, upacara di SDHT, sama seperti keadaan kelas sehari-hari, ramai dan bukan serius; meriah bukan syahdu.

Pernah banyak lho di antara kami yang malu dengan keadaan demikian. Bagaimana tidak, lha wong banyak orangtua yang menyempatkan menonton dulu. Dan, suatu kali merebak usul agar upacara jadi serius. Caranya? Seleksi dengan ketat anak-anak yang akan jadi petugas upacara dan adakan persiapan khusus. Kau tahu, inilah kesempatan aku mengobarkan Semangat ’45. Bila hal tersebut terjadi maka upacara tidak lagi akan merupakan bagian program unggulan Panggung Berani Gagal. Penting juga untuk ditekankan dalam menghadapi hal-hal semacam itu untuk meneguhkan komitmen membela kepentingan anak-anak. Acuhkan saja penilaian orang-orang yang tidak tahu arti membela kepentingan anak-anak.

Panggung Khalayak

Bayangkan dampak dari prinsip pengikutsertaan lomba (di luar sekolah) yang menegaskan larangan melakukannya untuk kepentingan mendapat juara. Seru.

Anak-anak di SD Hikmah Teladan, siapapun dia, wajib mengalami mewakili sekolahnya dalam lomba-lomba yang diselenggarakan pihak luar. Lomba apa saja, pokoknya nyali anak-anak tidak hanya jago kandang. Anak-anak SDHT, setidaknya sekali selama di SDHT, mendapat penghargaan untuk mewakili sekolahnya.

Kesempatan berproses untuk bernyali dalam konteks di lingkungan sekolah telah membuat anak-anak SD Hikmah Teladan tidak bermasalah untuk dijadikan utusan perlombaan di manapun. Bagi mereka, ayo saja ikutan lomba apapun, kapan dan di mana pun. Perasaan enteng ini sepertinya sudah mempengaruhi kami, yaitu kebiasaan mengikuti lomba tanpa persiapan. Ini menjadi sedikit bermasalah dengan orangtua yang sudah mementingkan prestasi sehingga persiapan adalah mutlak. Sekolah sebagai sebuah lembaga pun tentu berkepentingan dengan pajangan piala untuk nama baiknya.

Jawaban pada kedua tuntutan itu mudah, yaitu dengan cara mengembalikan pada tujuan. Bahkan, ini perlu dipertanggungjawabkan secara administratif, masih besar kemungkinan ada anak-anak yang lulus dari SD Hikmah Teladan tanpa pernah menjadi perwakilan sekolah pada lomba di luar. Mungkin yang selalu sulit adalah kokohnya kita memegang prinsip sendiri, cemburu dengan prestasi yang lain, atau tergesa-gesa untuk melabelkan pencapaian tertentu pada perkembangan anak.

Kurang beragamnya lomba-lomba yang dilaksanakan di luar menjadi masalah lain bagi kami. Lomba yang begitu-begitu saja, terutama yang bertujuan untuk melombakan keterampilan dan bukan ekspresi (dalam pengertian umumnya), membuat kami kesulitan menambahkan variabel lain (selain menguji nyali) pada anak-anak. Misalnya, sungguh, sangat sulit menjadikan pertemuan sangat intens dalam sebuah lomba dapat melahirkan variabel untuk menjalin persahabatan. Mungkin ini mimpi kali untuk sebuah lomba yang membuat kekalahan identik dengan rasa malu dan membekaskan kesedihan, dan persiapan menuju sebuah lomba untuk mengalahkan yang lain.

Penutup

Mempertahankan dan mempertanggungjawabkan Panggung Berani Gagal (sekadar) untuk menguji nyali ternyata sulit. Sepertinya sepele ya hanya membebankan pada sebuah program unggulan untuk menguji nyali. Ternyata kenyataannya selain kami perlu punya nyali juga harus mau ngotot. Ah, mungkin ini sekedar kabar angin lalu bahwa kita tidak terbiasa menikmati proses atau apa yang disebut pendidikan yang berorientasi karakter. Atau, kita tidak paham bahwa proses yang identik dengan ruang ekspresi bebas tidak pernah menumbuhkan sebuah pohon dengan sebuah cabang, ia pohon dengan jumlah cabang yang banyak dan dengan cabang yang tumbuh tak terduga.

Categories: SekolahKu
  1. Eva Nur Ardiani
    March 30, 2009 at 6:44 am

    Panggung Berani Gagal….
    Wah baru pertama kali nih saya menemukan sekolah yang ada panggungnya seperti itu, biasanya sekolah-sekolah lain (yang saya tahu nih atau mungkin saya kurang gaul) memasang panggung itu setahun sekali pas ada acara pentas tahunan dan itu dipasang mendadak sehari sebelumnya…Wuih kalau di SDHT, udah ada panggung yang terpasang tiap hari di deket perpus dan itu bukan digunakan untuk pentas seni saja, ternyata digunakan untuk berbagai macam kegiatan nah mungkin itu kali yah kenapa panggung itu dinamakan “Panggung Berani Gagal” karena semua anak bisa naik ke atas panggung itu kapan saja tanpa harus bisa mementaskan suatu pertunjukan atau apapun itu, yang penting anak mau mencoba, iya kan??lah wong di belakang panggung itu bertuliskan `Kami Belajar Berani Mencoba`, gitu deh kalo ga salah ya…^_^…Wah HEBAT…gada tuh di sekolah lain yang kayak gini, memasang panggung permanen agar anak tidak asing lagi dengan yang namanya berekspresi dan tampil di depan umum!!Keren deh…SDHT selalu yang terdepan…yang lain pasti ketinggalan….
    Oya belum lagi panggung balok yang ada di setiap kelas, anak juga ga usah harus dibawa ke panggung besar depan perpus, tapi anak juga bisa merasa naik ke atas panggung saat di kelas…Wah…saya juga baru menemukan ini disini di SDHT, di sekolah lain saya rasa belum ada yang seperti ini…oke bangets…ya mudah-mudahan panggung ini bisa dimanfaatkan sebagaimana mestinya…

  2. Helena Agustien
    March 30, 2009 at 10:45 pm

    “Kami Belajar Berani Mencoba”..
    Slogan SDHT yang terpampang besar-besar di atas “Panggung Berani Gagal” itu, selalu terngiang saat saya memasuki gerbang SDHT dan berpapasan dengan anak-anak di depan ruang guru.
    Anak-anak yang lincah ketika pagi dan tetap berseri-seri saat mereka mencium tangan saya ketika berpamitan pulang.
    Wow!!Hebat banget anak-anak di sekolah ini!begitu batin saya.saya saja pada hari pertama kerja capeknya bukan main..
    Apalagi ketika mereka diberitahu bahwa akan ada lomba di “Panggung Berani Gagal”.Waaah..mereka antusias banget..
    loncat kesana kemari..komentar sana sini..
    gak ada rasa malu atau grogi.Mereka semua mencoba tampil mengekspresikan diri.
    Semua ingin mendapatkan perhatian.Semua ingin mendapatkan pujian.Tapi tidak ada yang menanyakan HADIAH.
    mereka turun dari panggung lalu berlari menuju kelas menarik-narik tangan saya sambil berceloteh tentang kegiatan di panggung tadi.ada yang memuji temannya.ada yang memuji dirinya.ada yang bertanya bagaimana teman mereka bisa tampil sebagus itu.semua berputar di topik Kepercayaan Diri, Penghargaan terhadap Diri dan Orang Lain, Pujian, Pujian, dan Pujian.
    saya yang capek menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka akhirnya tersenyum…”oh, gini toh..” batin saya.
    hebat banget efek yang ditimbulkan sebuah panggung sederhana yang dialasi karpet itu.
    bukan sekedar berani mencoba dan berani menghadapi kegagalan.tapi membuat “Pendidikan Karakter” NEMPEL di diri mereka tanpa saya harus panjang lebar menjelaskan di kelas.
    saya sendiri jadi senang memutar otak supaya ada saja kegiatan yang dilakukan di atas panggung balok di kelas.
    biarpun capek,tapi setiap keluar dari kelas saya jadi teringat mimik muka anak-anak kala di panggung dan saat saya tahu bahwa dibalik itu mereka tidak sekedar bermain..capek saya hilang!(^.^)
    siapapun yang mencetuskan pembuatan panggung berani gagal ini patut diacungkan 5 jempol dari tiap orang!(memangnya ada 5 ya?haha)

  3. Atikah
    April 2, 2009 at 4:47 am

    InsyaAllah Panggung berani ggal siap mencetak siswa2 untuk memimpin bangsa. KareNa panggng berani gagal melatih siswa untuk percaya diri berbicara atau tampil di depan temannya minimal dan di depan orang banyak .
    Tetap semangat siswa2 SDHT. masa depan cemerlang menanti anada.
    Berani mencoba, berani gagal. Sukses di depan mata!

  4. dewi
    April 7, 2009 at 1:40 am

    Panggung berani sangat bagus sekali untuk memamerkan karya anak. Setelah cape-cape mereka berusaha dengan senjatanya krayon dan spidol atau entah apa lagi alat-alatnya mereka berkreasi menuangkan ide-ide kreatif mereka. Fantastik mereka berekplorasi dengan sangat tak terduga.Ekspresif dengan spontan tanpa ada paksaan meluncur begitu saja. Anak-anak asik sekali berebut naik panggung.Plok-plok-plok tepuk tangan berhenti, maka deg-deg detak jantung merekapun kembali normal.

  5. ria
    May 4, 2011 at 4:16 am

    it’s great….!!!
    terkadang kita sebagai orang tua terlalu egois dengan menuntut anak menjadi yang terbaik, yang pada akhirnya membonsai kepribadian anak. Terkadang juga orang tua “malas” mengikutkan anak pada lomba – lomba yang diadakan di luar, dengan alasan anak nggak pernah menang. padahal semua itu menjadi petualangan dan pengalaman bagi anak, yang mungkin akan dikenang dalam kehidupannya nanti.saya mendukung untuk panggung berani mencoba…dan panggung2 lainnya yang ada di sdht….. tapi saran ortu demi prestice sekolah tampaknya boleh dijadikan wacana

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: