Home > MuridKusekolah > Anak SD dan Bacaan Serius

Anak SD dan Bacaan Serius

Kenal novel Golden Compass yang difilemkan itu? Novel ini kontroversial karena menyinggung cukup keras pandangan teologi (Kristen) dan mempertanyakan otoritas lembaga agama. Penulisnya yang mengakui sebagai atheis menambah kecurigaan itu. Betul lho, pada banyak kesempatan terutama di buku kedua dan tiga, aku kerap menghentikan keasyikan membaca untuk ‘melawan’ gugatan atau sekadar menegaskan perbedaan sudut pandang. Soal sihir cerita jangan tanya. Aku tak bisa menggeser prioritas membacanya sebagai prioritas pertama dalam kegiatan harianku. Berhari-hari aku terbuai.

Sihir cerita itulah yang membuat aku berpikir apakah novel yang mengksplorasi Fisika Quantum, filsafat dan teologi ini cocok buat anak-anak? Aku secara ilegal bereksperimen. Beberapa anak suka baca yang secara khusus kusediakan pustaka koleksiku untuk mereka baca, menjadi sasaran eksperimen.

“Mana yang kedua?” kemudian “Pak, siapkan yang ketiga. Sebentar lagi tamat.” Hanya kata-kata ungkapan kepenasaran yang tergesa-gesa yang aku dengar. Aku pun bertanya apakah ada yang mengganggu mereka atau sekadar ingin mereka tanyakan. Nihil. Aku pun gundah.

Aku tidak tahu apakah ketika keasyikan membaca hingga terlena; ketika pembaca dapat menceritakan kembali cerita yang dibacanya, sama dengan penerimaan (:terpengaruhi secara disadari atau tidak) terhadap nilai-nilai yang dimiliki cerita tersebut? Di sisi lain aku juga tahu anak-anak yang membaca trilogi “Golden Compass” adalah anak-anak cerdas. Bahkan, di SMP-nya kini mereka jadi bintang dan tetap terhubung denganku dalam urusan meminjam buku. Ah, aku bingung mencari tahu besarnya keterpengaruhan mereka oleh novel yang dibaca.

Anak dengan Pikiran Kontemplatif

Namanya Dila, sekarang kelas 1 SMP. Dila itu anak kutu buku satu-satunya yang tidak terjaring sebagai pembaca novel dan bacaan remaja koleksiku. Kata anak-anak lain, Dila mah cuma membaca buku serius. Ada juga yang menyebutnya buku filsafat. Kata gurunya di kelas 5. Semula kupikir yang disebut buku serius itu buku-buku sastra islami, semisal Ayat-Ayat Cinta, atau buku-buku semacam seri Laskar Pelangi; ternyata kata guru di kelas 5 pun Dila sudah membaca buku tasauf. Dan tentu saja, Dila emoh baca buku fantasi. Ketika “Golden Compass” kupinjamkan, ia selesai membacanya, tapi dengan tegas menolak membaca seri lanjutannya. Dari sinilah pertamakali kudengar teman-temannya mencap Dila sebagai pembaca buku-buku serius.

Anehnya, buku-bukunya serius pun tingkah lakunya tetap anak-anak. Dila yang sejak kelas 4 biasa menghindar ‘malu-malu’ bertemu denganku, hampir terus demikian sampai kelas 6 awal. Waktu sudah SMP dia berkunjung ke SD Hikmah Teladan dan berjumpa denganku, aku memang dibuatnya terkejut. Dila jadi cerewet, centil, nyerocos. Duh. Berubah kah Dila? Kemarin ketika mengedit naskah Majalah Teladan edisi kedua (siapa mau dikirim boleh mengirimkan alamat), aku dibuat terkejut dengan puisi kirimannya. Kupikir ia memang anak yang kontemplatif.

Andai aku peri yang bisa mengabulkan permintaan semua orang  // Pasti akan ku kabulkan apapun permintaan rakyat Indonesia //  Andai aku milyader yang uangnya tak pernah habis  // Pasti akan kubagikan uangku pada rakyat miskin Indonesia // Andai aku Super Hero yang kuatnya tak tertandingi  // Pasti akan kuserang orang-orang yang mengambil kekayaan Indonesia // Andai aku Penyihir yang hebat  // Akan kusihir hingga semua kekayaan Indonesia sebanyak dulu // Andai aku Enstein yang cerdas luar biasa  //  Akan kubuat rakyat Indonesia lebih pintar  // Sayangnya aku bukan mereka //  Aku hanya anak kecil yang belum menjadi apa-apa  // Aku hanya menunggu aku menjadi dewasa  // Sambil mencari ilmu sebanyak-banyaknya walau harus ke negeri nan jauh di sana // Aku hanya bisa berdoa memohon kepada-Nya // Agar orang-orang dewasa di Indonesia tak menyia-nyiakan kesempatan menaikan Indonesia  //  Sampai puncak tertinggi di dunia

Categories: MuridKusekolah
  1. wie
    February 20, 2009 at 4:18 am

    ketika baca nama Dila, aku kok jadi ingat seorang anak yang dulu sangat manja padaku, dan ternyata namanya Dira Ayu Karima (aku rindu dia)
    Dila… apakah Dila yang tubuhnya kecil imut-imut, kulitnya putih bersih?
    ah, yang manapun dia, aku bangga padanya dan semua anak HT.
    BTW, mau donk majalah Teladannya!!

  2. February 25, 2009 at 9:50 am

    Hai, bagi-bagi juga dong, Majalah Teladannya. Kirim ke kantorku ya…

  3. Dila
    March 21, 2009 at 10:14 am

    Pa- meuni nulis dila2 segala . Ih . . Bpa, wkt it teh, bpa minjemin yg e..berta..meus (pkokny itulah) bkan the golden compass.
    Lagian klo yg gtu2 mah enakan ditonton dripda baca..

  4. Dila
    March 21, 2009 at 10:33 am

    Pa, bles komennya! Wajib. . Hehe. Bles ke blog dila:
    diladila.wordpress.com

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: