Home > SekolahKu > Menjual Sekolah

Menjual Sekolah

SD Hikmah Teladan sejak awal diniatkan untuk berbeda. Berbeda dengan sungguh-sungguh berusaha menjadi sebuah alternatif, berbeda sebagai akibat perlawanan, atau sekadar berbeda dengan kemapanan. Semuanya dijajaki.

Resiko bagi pemula bila berbeda adalah rongrongan untuk sesuai dengan yang mapan, yang diterima secara umum. Resiko lainnya, bila konsepnya diterima akal sehat, ia akan dirongrong tuntutan “Itu kan masih katanya. Ini eksperimen yang hasilnya bisa terbukti benar atau salah.” SD Hikmah Teladan pun tak lepas dari kedua resiko ini.

Tampaknya saya juga belum yakin SD Hikmah Teladan, konsepnya, terbukti benar. Tapi tidak lah kalau terbukti salah. Mungkin bukti yang ada belum kuat. Kalau pun masih ditanyakan, “Sampai kapan eksperimennya?”, beberapa eksperimen terbukti berpengaruh baik dan dapat ditawarkan sebagai pembeda yang membanggakan.

Tahap Pertama: Berdalih

Konsep yang dibuktikan benar secara rasional, setidaknya untuk semua yang dinyatakan pada misi dan visi sekolah, adalah apa yang kami miliki pada tahap pertama.

Visi dan misi yang berbeda dengan sekolah pada umumnya, karena dipertegas oleh beberapa kegiatan yang (dapat) jadi rutinitas di SD Hikmah Teladan, mudah diketahui oleh orangtua siswa. Wajar saja mereka yang sudah tertarik dengan konsep SD Hikmah Teladan masih kerap bertanya, “Bagaimana kelulusannya nanti?”

Tentu saja saya tidak tahu. Yang saya tahu pasti kelebihan dan kekurangannya adalah apa yang sudah dijalankan. Biasanya saya berdalih dengan jawaban, “Jangan menunggu kelas 6. Kalau SD Hikmah Teladan tidak meyakinkan untuk masadepan anak sudah diketahui sejak kelas 1. Jangan menunggu 5 tahun lagi. Ini paling baik.” Jawaban ini selain menghindarkan saya untuk menjawab yang tidak diketahui, juga membuat saya berkutat berbicara tentang apa yang sungguh saya ketahui kekurangan dan kelebihannya. Dengan begini saya bisa percaya diri menggembar-gembor konsep sekolah.

Juga, ini cerita tidak fair, konsep yang ditujukan menjadi alternatif (lebih baik) dari sekolah pada umumnya yang sudah mapan, berarti sebetulnya dapat menggunakan realitas pencapaian dan keberlangsungan sekolah pada umumnya sebagai realitas yang diinginkan dengan penegasan “Kita tidak akan seperti itu”. Misalnya, ketika dijelaskan betapa buku paket itu membodohi anak dan membuat guru kehilangan kretifitas dan harga diri, penjelasan yang kuat dan mengena, akan berpengaruh pada pemihakan kepada sekolah-sekolah yang tidak memakai buku paket. Perkara sekolah itu dapat membuat sumber belajar yang lebih baik atau tidak, sungguh ini hal yang akan muncul pada kesempatan dan konteks yang berbeda. Memang sih sejak berhasil mempengaruhi orangtua dengan cara seperti ini, saya jalani hari-hari dengan tekanan yang luarbiasa.

Tahapan Kedua: Menjual Kepercayaan

Ini tahap yang berlangsung selama kami belajar membuktikan apa-apa yang diinginkan konsep kami yang berbeda, termasuk pengganti buku paket yang ditolak mentah-mentah itu.

Bila sebuah konsep (setidaknya dalam hal visi dan misi sekolah) yang diwacanakan dengan konsep lain telah sampai pada pembenarannya, ia segera membuka kebutuhan pada pembuktian. Ini pekerjaan yang dapat berlarut-larut dan karenanya membutuhkan daya tahan. Salah satu yang kerap menyumbangkan energi untuk bertahan dan bergerak terus adalah klaim pada raihan-raihan yang terserak. Ini semacam energi dari rutinitas yang mengemban elemen visioner. Sebagai contoh, pembuatan worksheet yang kadang hanya sebulan sekali dan terbatas pada beberapa mata pelajaran, mungkin hanya 1% dari tanggung jawab seharusnya akibat menolak buku paket. Namun hal ini disebut elemen visioner karena yang sekedar 1% ini secara kualitas adalah ideal. Bahkan pada yang 1% ini kami menemukan kriteria (standar minimal) bagi yang 100%.

Karakteristik yang 1% demikian dapat dipercaya oleh pasar (orangtua, manajemen, dan akhirnya yang membuatnya) sebagai keyakinan bahwa yang 100% hanyalah sekadar masalah waktu. Sayangnya ini cukup pelik untuk diterima. Dalam pengalaman kami, hanya sedikit dari ketiga pihak yang dapat menyadarinya. Tapi memang jangan menyangsikan betapa yang sedikit ini adalah kelompok terbaik. Di SD Hikmah Teladan, mereka yang dapat dihitung dengan jari ini, menjadi corong dan pengiklan yang penuh semangat. Mereka juga dengan sukarela menyebarluaskan keyakinannya kepada orangtua yang lain. Mereka rata-rata tahu betul ‘dalaman’ SD Hikmah Teladan sampai hari ini karena menyekolahkan anak berikutnya di tempat yang sama.

Kepercayaan kepada yang hanya 1% adalah kepercayaan pada kemampuan untuk berubah. 1% hanyalah sesuatu yang bisa diintip, sebab itu sangat penting membuatnya sungguh dikenali semua pihak. Ungkapan berikut khas menjadi daya pikat kami: “Saya sudah keliling ke banyak sekolah. Saya tidak tahu kelebihan dan kekurangan sekolah yang saya kunjungi. Semuanya menjelaskan dengan kata-kata umum yang sama. Sudah, saya sekolahkan lagi anak saya di SDHT. Di sini, setidaknya saya tahu persis kekurangannya.”

Tahapan Ketiga: Percaya dengan yang Dijual

Sejak angkatan pertama yang masuk di kelas 1 (satu gerbong lagi masuk sebagai kelas 3) lulus, kami mulai lebih pede. Kalau mulai sedikit-sedikit pede sih sudah lebih lama, setiap ada anak yang ke luar dari SDHT di tengah jalan, mereka selalu menonjol dalam karakter terkait ekspresi bebas dan (setelah sekitar hitungan bulan) mampu mengikuti tuntutan lingkungan yang berbeda, bahkan berprestasi secara akademis. Ekspresi bebas juga membuat sedikit pede, yaitu mencoloknya ekspresi mereka ketika beraktivitas bersama dengan anak-anak dari sekolah lain atau di tempat-tempat umum.

Saya masih ingat saat dihadapkan pertanyaan –ketika ada guru yang menghukum anak (dengan hukuman yang melanggar visi, misi sekolah) karena si anak tidak menghargai guru dan guru yang beralasan tindakannya diambil agar kewajibannya mengajar dapat terpenuhi–, “Apakah saya perlu membiarkan anak itu dengan resiko kegiatan belajar tidak berlangsung dengan baik dan saya tidak dapat melaksanakan kewajiban?”; saya menjawab bahwa situasi itu biasa terjadi di SD Hikmah Teladan dan ternyata dengan mengalami itu lulusan SD Hikmah Teladan adalah lulusan yang baik dan khas dalam karakter bebasnya. Jadi, biarlah sehari itu dilalui dengan kekacauan dan ayo berpikir serius agar berikutnya tidak berulang atau kacaunya tidak terlalu.

Kini percaya diri itu sangat tercermin dari cara kami melayani para orangtua yang sedang mencari sekolah yang tepat untuk anaknya, yaitu dengan mengajak mereka tour melihat sarana sekolah dan masuk ke kelas 1 yang sedang melangsungkan pembelajaran. Kami tidak perlu banyak menjelaskan sekolah, cukup menyampaikan kekhasan, lalu menemani orangtua tour: mulai dari saung tempat ibu-ibu kumpul arisan, ngaji, ngegosip atau menyiapkan kritik dan protes yang akan disampaikan pada pihak sekolah; laboratorium komputer yang anak-anak bebas menggunakannya di saat istirahat atau sepulang sekolah; perpustakaan yang per hari daftar pengunjungnya rata-rata seratusan anak; laboratorium bahasa, sains dan studio kriya yang sekdar ditunjukkan karena anak-anak kelas 1 belum menggunakannya; terakhir, masuk kelas melihat-lihat bagaimana pembelajaran berlangsung. Biasa lho kalau ada anak yang sedang berlari-lari, berdiri di atas kursi sementara yang lain serius belajar. Saya sampaikan “Ini bukan kejadian hari ini saja. Ya, sehari-hari anak-anak belajar seperti ini.”

Pernyataan saya di atas mungkin karena sudah yakin dengan kebenaran konsep sekolah atau sekadar tak bisa menutup-nutupinya atau memang buat apa memusingkannya kalau kelulusan kami sudah memuaskan orangtua. Entahlah yang mana alasan sebenarnya, tapi sungguh saya sudah percaya yang kami tawarkan adalah sebuah pilihan baik yang dapat dipertanggungjawabkan.

Tahapan Keempat: Pembeli yang Menjual

Contoh tahap keempat terjadi Sabtu, 7 Februari 2009, yaitu pada acara pertemuan orangtua murid kelas 6 dengan perwakilan alumni SD Hikmah Teladan angkatan 2007/2008. Pada acara ini berbagai pertanyaan berkaitan anak-anak kelas 6 dan masa depannya (ketika mereka SMP) disampaikan. Disebut “Pembeli yang Menjual” karena yang menjawab (tanpa intervensi dari pihak sekolah) semua pertanyaan adalah orangtua.

Berdasarkan data awal (yang sengaja diminta di awal semester kelas 6) sebaran sekolah yang direncanakan jadi pilihan anak-anak, kami mulai mencari siapa yang akan kami undang sebagai pembicara. Beberapa kasus khusus (: berkaitan dengan anak-anak berkebutuhan khusus, kasus anak-anak yang ikut test ke luar kota, atau orangtua yang memasukan anaknya ke sekolah yang baru) juga menjadi tambahan orangtua yang kami undang.

Acara berlangsung. Orangtua alumni dipersilahkan bercerita. Semuanya sepakat, termasuk saya rasa pihak sekolah, anak-anak kelas 6 yang tetap ceria, lumayan santai, tidak ada tegangnya, masih belajar dengan ketekunan yang kurang nampak, memang merisaukan. Kemudian, ada yang bercerita panjanglebar tentang anak-anak SD Hikmah Teladan yang harus mendapat saham terbesar dalam menentukan sekolah yang dipilih. Banyak cerita, sehingga kita harus mengatakan pada umumnya, anak-anak SD Hikmah Teladan yang masuk sekolah negeri kerap mengalami shock culture di awal semester. Ini terutama berkaitan dengan hubungan kekeluargaan antara guru dan siswa, keakraban pertemanan dan kenyamanan sekolah. Lamanya pertemuan formal yang berlangsung 3 jam, tentu saja diisi dengan lebih banyak cerita, sehingga paragraf ini perlu diakhiri frase “dan lain-lain”.

Kehadiran orangtua untuk ‘mendagangkan’ sekolah juga terjadi di program sosialisasi penerimaan siswa baru. Bedanya ini bareng-bareng dengan pihak sekolah. Ada waktu di sini, biasanya diwakili ketua komite sekolah, untuk menjelaskan apa saja, terserah maunya yang bersangkutan tentang sekolah. Asyik juga ya kalau di forum ini, orangtua yang sepenuhnya berlakon. Sungguh sebuah prestasi kalau yang memaparkan visi, misi dan program sekolah orangtua. Wuih!

Penutup

Keempat tahap cara yang kami alami dalam “menjual sekolah”, masih berlaku keempat-empatnya sampai saat ini. Bahwa ada pihak-pihak di manajemen, guru-guru dan (banyak) orangtua yang ‘gerah’ dengan kebebasan (yang menjadi nilai inti dari visi, misi sekolah), tak dapat dipungkiri. Artinya, tahap pertama, di mana kebenaran dari konsep sekolah dipertanyakan, dirongrong, masih berlangsung di saat tahap keempat kami alami dengan penuh kebanggaan.

Categories: SekolahKu
  1. seta
    February 17, 2009 at 3:18 pm

    Buat anak kok coba-coba!…..
    (iklan minyak angin)
    he…he..

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: