Home > MH. Aripin Ali > Aku Guru Bukan Pembalap

Aku Guru Bukan Pembalap


Pagi, 3 Februari 2009, aku mulai dengan paralel. Kuceritakan bagaimana membuat buku pegangan siswa yang khas (SDHT). Ditanyakan oleh guru: mata pelajaran apa saja? Apa beda worksheet dengan buku? Lebih sulit yang manakah antara menulis worksheet dan buku? Kriteria apa saja yang membuat sah menyatakan worksheet atau buku sebagai khas SD Hikmah Teladan? Karena guru profesiku, tentu saja aku dapat menjelaskan perbedaan antara membuat worksheet yang merespon dinamika perkembangan siswa dengan menulis buku. Kenapa di SD Hikmah Teladan mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Pendidikan karakter tidak boleh dibuatkan buku, tapi harus berupa worksheet, juga kujelaskan untuk kesekian kalinya.

Selepas paralel aku menyempatkan diri memperpanjang SIM C yang baru kutahu sudah habis masa berlakunya (setahun yang lalu) saat aku kena razia. Begini kisah razia sepulang aku memberi pelatihan “Pendidikan Nilai” pada 136 anak kelas 1 dan 2 SMP Saint Marry Bandung: Persis di depan yang berjaga (yang tidak kulihat) aku menyalip mobil. Tentu saja yang berjaga menyangka aku mau kabur karena punya dosa. Diperiksa semua perlengkapan dan STNK oke. Giliran SIM, aku terperangah ditunjukkan kalau sudah selama setahun ini aku pakai SIM yang sudah habis masa berlakunya. Lupa!

Aku yang memang lupa, mempersilahkan untuk ditilang dan mengikuti persidangan. Pak Polisi menjelaskan biayanya dan prosesnya itu akan lama, “Di sini cepat. Bapak mau bayar berapa?” Aku sih tetap mempersilahkan ditilang saja. Surat tilang dikeluarkan, namaku juga mulai ditulis. Sampai selesai menulis alamat, ia bertanya “Bapak ada uang berapa?” Kutunjukkan 15 ribu perak uangku. Ia terima uangku dan kuterima kembali STNK dan SIM kadaluarsaku. Tak tahu malu, perjalanan sisa sekitar 200 meter ke rumah, kuisi dengan mencoba dapat mengikhlaskan uangku.

Aku balik lagi ceritanya. Aku yang sedang memikirkan mencari tambahan uang untuk membayar hutang, mendadak punya keinginan buat SIM dengan prosedur yang benar. Seperti biasa, loket 1 (yang juga seperti loket yang lain tertera tulisan “Tidak Dipungut Biaya Apapun”) adalah tempat di mana disampaikan penawaran untuk jalur cepat yang dikenal dengan sebutan ‘nembak’. Tawaran yang simpatik. Aku ikut jalur warga negara taat hukum. Kumulai prosedurnya.

Pertama pembuatan sidik jari. Aku bayar 5 ribu. Tidak ada tanda pembayaran. Ah, kan 5 ribu ini.

Kedua, tes kesehatan. Tempatnya lumayan jauh. Dan, sungguh aneh, tempatnya sepi. Perempuan yang seperti cuma kasir melayaniku. Ditanya berat dan tinggi, mengidap penyakit jantung atau tidak, dan diminta menyebutkan angka yang tertulis di permukaan warna-warni berbintik-bintik. Selepas aku menjawab dengan benar, kudengar permintaan, “15 ribu, Pak.” Serta-merta kutanya, “Sudah, Bu?” Anggukan itu berharga 15 ribu. Sekali lagi tanpa kuitansi.

Ketiga, aku bayar 75 ribu. Ini resmi dengan kuitansi.

Keempat, aku ikut tes tertulis. Ada 30 soal dengan waktu 20 menit. Soal yang mudah tersebut akan meluluskan kita kalau dijawab benar 18 soalnya. Aku lulus dan di persilahkan ikut test drive. Kau tahu aku yang sudah berpuluh tahun mengendarai motor tentu saja melenggang dengan percaya diri.

Kami bertiga (kok sebanyak tadi orang bikin SIM yang test drive cuma kami?). Karena yang berdua ikut test untuk kesempatan yang kedua, penjelasan tentang tes hanya ditujukan padaku. Pertama kami melakukan zigzag melewati ‘tiang’ perintang (sekitar 6 tiang) yang jarak masing-masing perintang setengah panjang motor. Kemudian, langsung berputar di angka 8 dengan diameter sekitar 2,5 panjang motor. Kami diberi kesempatan untuk mencoba.

Busyet. Kedua peserta yang mengulang (satu anak muda, satu lagi bapak yang sudah lulus untuk SIM A-nya) gagal di zigzag. Bismillah, aku mengira-ngira dan… gagal juga. Eh, tetap saja cuma satu kali kesempatan mencoba. Sekarang tes beneran. Kedua peserta yang medahuluiku gagal dan lagi tak sampai melewati zigzag. Aku kehilangan percaya diri. Aku yang berhenti ngebut di jalanan setelah istriku yang tiudak dipedulikan peringatannya setengah berteriak, “Ayah memang ingin Ibu mati, ya!”; kini mulai grogi. Aku berhasil melewati zigzag, namun hanya sampai melingkar di bulatan pertama angka delapan, kakiku sudah harus bersegera menahan motor yang terlalu miring. Aku melanggar larangan. Sudah. “Silahkan berlatih dulu, Pak. 2 pekan lagi nanti ditest kembali.”

Berlatih? Kurenungkan medan itu. Kupikir, itu medan untuk pengendara dengan keahlian berkendara di atas rata-rata. Macam pembalap lah. Berlatih pun akan membutuhkan waktu tak sebentar dan perlu pengajar. Kursus? Iya, ini namanya aku harus kursus. Wah, ikut kursus mah nanti aku jadi pembalap beneran.

Sial. Aku lagi sibuk nih tanya-tanya bagaimana mengalihkan prosedur legal ke yang ilegal. Aku sudah kebayang bakalan menggerutu, “Makan tuh duit haram!” Tapi aku janji tidak akan ngomong begitu. Aku janji akan mempermalukan diri karena dengan mengalihkan pada prosedur ilegal sama saja dengan aku sedang memproduksi uang haram. Sial.

Categories: MH. Aripin Ali
  1. February 6, 2009 at 1:36 am

    terima kasih sharing ceritanya….karena saya baru mau urus SIM juga….pernah lihat test prakteknya kayaknya sih mudah tapi mungkin kalo grogi ya kemungkinan besar gagal..

    oiya ada hal yang sebenarnya pada test praktek menurut saya nggak perlu dan perlu dirubah….misalnya melambaikan tangan saat akan berhenti? kenapa pake ini kan sudah ada lampu sein dan itu merupakan hal yang wajib ada di kendaraan…saran untuk kepolisian mungkin sebaiknya di evaluasi lagi tentang test2 untuk mendapatkan SIM

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: