Home > Forum Paralel, MuridKusekolah > Kenyamanan Berkspresi Bebas

Kenyamanan Berkspresi Bebas

Forum Paralel dengan kelas-2 kali ini membahas permasalahan-permasalahan yang diajukan orangtua pada saat sosialisasi program semester 2. Pertanyaan pertama yang dibahas berkaitan dengan perbandingan antara anak-anak SD Hikmah Teladan dengan sekolah “Islam” lain dalam hal akhlak. Katanya anak-anak lain lebih berakhlak, dicontohkan bagaimana anak-anak yang lain selalu mencium tangan gurunya. Pertanyaan kedua tentang anak-anak (kelas 2) SD Hikmah Teladan yang belum baik tulisan (halusnya).

Yang Lain Lebih Berakhlak

Apakah ada anak SD Hikmah Teladan yang tidak mau mencium tangan gurunya ketika pertama bertemu? Ada. Suatu hari seorang anak bisa sebal, marah, atau kesal pada gurunya. Bukan cuma salaman, ia bahkan memalingkan muka saat berpapasan.

Apakah ada anak SD Hikmah Teladan yang lupa mencium tangan gurunya ketika pertama bertemu? Agak banyak. Yang membuat lupa bisa juga karena gurunya yang datang terlambat sehingga tergesa-gesa memulai kegiatan belajar. Guru yang lagi asyik mengajar juga bisa terus asyik mengajar ketika ada anak yang terlambat masuk kelas. Memang banyak kesempatan anak bisa lupa mengucapkan salam dan mencium tangan gurunya.

Apakah ada anak SD Hikmah Teladan yang malas (dan ini keterusan) untuk mencium tangan gurunya ketika pertama bertemu? Ada dong. Anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga tanpa kebiasaan demikian, wajar kalau kagok melakukan hal tersebut atau sekadar malas. Begitu juga dengan anak-anak yang orangtuanya pergi bekerja lebih pagi dari anak-anak pergi sekolah.

Memang ada anak-anak yang tidak mengucapkan salam dan mencium tangan guru ketika masuk kelas, dan mereka punya alasan yang membenarkan kejadian itu. Tidak ada masalah, kan? Ada karena buktinya sekolah “Islam” lain tidak begitu. Pertanyaannya, kenapa sekolah “Islam” lain tidak begitu?

Saya mengajak pada teman-teman untuk bertanya, kenapa setiap hari di SD Hikmah Teladan ada anak yang terlambat (dan masuk ke kelas dengan melenggang)? Kenapa ada anak laki di kelas 3 (seorang saja) yang punya kucir yang cukup panjang? Kenapa di antara anak-anak yang ceria di SD Hikmah Teladan selalu saja ada anak yang tidak pakai seragam? Jawabannya karena hal-hal tersebut tidak dipermasalahkan. Kebayang kan bagaimana anak-anak ini diperlakukan di sekolah (“Islam”) lain?

Adanya anak-anak yang tidak mengerjakan PR, tak mau mengucapkan salam dan mencium tangan guru, berpakaian beda sendiri, berpenampilan semau sendiri, di SD Hikmah Teladan, menjadi bukti tentang adanya kebebasan berkspresi, memilih dan mengambil keputusan.  Sedangkan anak yang berkucir membanggakan kucirnya, yang terlambat dapat melenggang masuk kelas, menjadi beberapa bukti bahwa betapa sekolah menjadi tempat yang memberikan kenyamanan bagi anak untuk menjadi dirinya sendiri. Saya bilang pada teman-teman, betapa hal yang jauh lebih berharga ini telah diberikan teman-teman dan ini sebuah prestasi yang membanggakan. Saya bertaruh betapa hanya sedikit sekolah yang seperti itu. Dan, “Ayo, kamu banggakan semua itu pada orangtua!” pinta saya pada guru-guru yang membuat saya paling ganteng. Ibu-ibu semua sih.

Menulis (Halus) Terbaca Sendiri

“Sia-sia membuat contoh dari a sampai z di papan tulis pun,” celoteh seorang guru. Ia diberondong permintaan: bagaimana kalau begini-begitu; yang aku beda lho; seperti ini bagaimana; atau anak yang asyik sendiri tanpa bicara sekaligus tanpa peduli dengan yang dicontohkan gurunya. Dari tingkah sekitar sembilan puluh anak, keenam guru kelas 2 sepakat membiarkan anak-anak dengan maunya, lalu syarat sebuah tulisan (halus berubah) adalah bisa dibaca (sendiri) dan syarat pelajaran menulis adalah asal anak mau menulis.

Saya yang merenungkan kejadian “menulis halus” ini, sungguh dibuat terpana dengan daya tahan teman-teman memuliakan kebebasan anak-anak. Menjadi guru yang memberikan keleluasaan pada anak untuk mengelola kebebasannya dalam konteks sosial (:sekolah atau kelas) bukanlah perkara mudah. Dan, pada kenyataannya, SD Hikmah Teladan juga bukan sekolah yang mudah dipermalukan (maksudnya dirusak) oleh berbagai stigma: sekolah anak buangan, anak-anaknya tidak tahu sopan-santun, kebebasannya kebablasan, sekuler, dan lain-lain. Artinya, ini sungguh membanggakan, sudah besar kepemilikan teman-teman pada sekolah ini.

  1. quarkie
    February 13, 2009 at 8:13 am

    Saya gak tau apakah ini tipikal anak SDHT atau tipikal anak2 pada umumnya. Setiap kali saya menjawab pertanyaan ananda mengenai suatu hal, maka hampir pasti akan diikuti dengan sidang atas jawaban saya. Sidang ini biasanya berupa pertanyaan2 lanjutan yang (kalau saya perhatikan) menguji variabel-variabel dalam jawaban yang saya berikan. Bagaimana kalau begini, bagaimana kalau begitu, bagaimana kalau yang ini gak ada, siapa bilang begitu, kok tau, kenapa yang ini gak begitu dsb. Sidang ini makin terasa berat ketika saya menjawab ananda yang berada di kelas yang lebih tinggi.
    Apakah ini rasa ingin tahu, atau kebebasan berfikir, atau justru model pemberontakan ananda atas dominasi definisi oleh kaum tua? Saya tidak tau. Lebih tidak tau lagi saya apakah ini karena model pendidikan SDHT atau bawaan. Namun, apapun itu, terus terang saya sangat menikmati pemberontakan ananda. Bahkan ketika mereka mempertanyakan ke-Maha-an Sang Maha Pengatur.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: