Home > MH. Aripin Ali > Katanya 40 (7): 12 Januari dengan 2 Hadiah Istimewa

Katanya 40 (7): 12 Januari dengan 2 Hadiah Istimewa

Tulisan yang terkumpul dalam “Katanya 40” diperuntukan untuk hari ini: 40 tahun yang lalu aku dilahirkan. Beberapa tulisan masih tersimpan di  inbox HP istriku, tulisan “Murtadha Muthahhari dalam Riwayatku”  ceritanya masih dalam pikiranku sementara buku-buku Murtadha Muthahhari yang akan dirujuk kubawa-kubawa kesana-kemari. Aku memang ingin menghadiahi diri sendiri agak serius. Ah sayang tak bisa banyak tulisan kubuat.

Beruntung persis hari ini aku dibahagiakan oleh si Sulung dan beberapa hari sebelumnya oleh diskusi (yang diawali cekcok) antara aku dan istriku yang telah menjadi suami-istri selama 15 tahun. So, selamat ulang tahun MH. Aripin Ali! Kau sudah 40.

Kupesan Buku ke-4 “Breaking Dawn”

Aku suka memaksakan kebaikan yang kupahami dan terutama yang kuamalkan pada anakku. Anakku dinilai dari sudut pandang pencapaian dan idealismeku saat ini. Mungkin beban penolakan terhadap masa lalu lah yang membuatku kurang peka dengan kebutuhannya saat ini sebagai seorang remaja. Masa remaja bagiku memang masa yang kuberi tinta merah, akibatnya, pencegahanku pada Adry agar tidak seperti ayahnya di waktu remaja tak bisa lepas dari aura kemarahan, mugkin kebencian. Hubungan ayah-anak yang mudah tersulut, memang.

Hal yang menyulut hubungan kami menegang, kerap sepele. Cuma ya itu, masa lalu itu sangat kuasa membentuk cara pandang. Aku hanya bisa mentertawakan diri setelah mengalaminya. Namun tetap saja menyebalkan mengetahuinya kerap berulang.

Suatu kali aku menyampaikan kekecewaan karena anakku selama libur menghabiskan waktu dengan membaca buku (Twilgh dan kedua buku lanjutannya) dan tak peduli dengan lingkungan sekitar, hatta untuk bermain dengan tetangga sebelah. Ceritanya, aku khawatir dengan masa depannya. Lho, kalau cuma bergumul dengan ribuan halaman novel tentang vampire bagaimana ia bisa jadi aktivis sosial seperti bapaknya? Anakku sendiri, kayaknya sih, memandangku sebagai pengganggu, sok, menyebalkan, dan aku memang sebal dengan sikapnya yang tak peduli. Ia tak sadar dengan cita-cita ayahnya agar si anak mengambil peran sebagai agen perubahan sosial. Dalam marah, aku menyerah menghadapinya, dan menemui sahabatku untuk curhat.

Tak lebih dari sepekan setelah curhat, aku dan ketiga anakku berencana menemui sahabatku tadi. Melalu telpon kuminta sahabatku untuk mengobrol (tepatnya menasehati) dengan si Sulung. Sampai di kantornya, ia langsung duduk di samping anakku. Setelah menyapa dan sedikit berbasa-basi, ia langsung menceritakan dirinya dari kecil sampai remaja. Ia kuper, suka baca, tak banyak tahu dunia luar, tak menjadi agen dari perubahan sosial, tak berorganisasi. Ia menceritakan tentang dirinya yang sama dengan anakku.”Karena suka membaca,” katanya seraya merengkuh pundak Adry, “ketika kuliah pak Ali ketahuan luas wawasan, mengikuti perkuliahan dengan lancar, menjadi orang yang dirujuk,… Kalau Adry seperti sekarang, nanti keren lho.” Wuih.

Aku mengenal hoby membaca sejak putus kuliah. Jadi aku memang tidak mengenali masa kecil dan remaja bergumul buku. Aku buta tentang ini. Itulah sebabnya rujukanku tentang dunia membaca dan pengaruhnya tidak bisa sejalan dengan kenyataan anakku. Celakanya, memanfaatkan otoritas yang dimiliki, aku memaksakan pilihan. Kupikir hanya buku-buku dari para intelektual-ideolog yang akan melahirkan seorang pejuang. Kuyakini dengan membaca buku-buku pemikiran-pemikiran kritis yang membuat orang membongkar belenggu penindasan. Anakku harus membaca Ahmad Wahid bukan Aa Gym. Membaca Ali Syariati bukan Yusuf Qardawi. Mengenal Che bukan Ary Ginanjar.

Masalahnya, ternyata, sahabatku yang tidak membaca buku-buku yang kurujukkan dan tak beraktivitas  seperti  kuidealkan; tak kurang kepeduliannya pada kaum tertindas, kritis terhadap manipulasi dan kebobrokan, penuh kasih sayang. Sekali lagi, dulunya… ah. Katanya, semua itu dapat menjadi dirinya ketika dewasa (dalam hal ini dimulainya sejak kuliah) karena ayah dan ibunya menjadi teladan untuk itu semua. Sahabatku memang kuketahui selalu dapat berceloteh berlama-lama kalau menceritakan kepedulian sosial ibu-bapaknya. Ya sudah, aku janji akan memberikan kebebasan kepada anakku dengan dunianya dan secara pribadi terus memperbaiki kemampuan berperan untuk sesama, sekali lagi, terutama mereka yang terpinggirkan.

Oh Pak ALi Oh Adry

Setelah sepekan lebih mengisi hari libur sekolah dengan membebaskan dari urusan sekolah, kami berharap beberapa hari menjelang sekolah, anak-anak sudah mulai dengan urusan sekolah lagi. Kembali dengan rutinitas mempersiapkan ujian akhir, kan Adry kelas 3 SMP, Azmi kelas 6 SD. Ternyata, tingkah mereka menolak secara tegas harapan orangtuanya. Begadang setiap hari, bangun kesiangan dan salat subuh seenaknya. Begitu juga pagi yang menjadi saat kesibukan sebuah keluarga, mereka lewatkan dengan tidur yang masih lelap. Kami kesal dan membiarkan mereka begitu saja sebagai pernyataan protes. Terutama ini terjadi dengan Adry.

Eh, 3 hari sebelum masuk ada SMS dari guru Adry yang mengingatkan anakku dengan tugas hari liburnya: bikin filem dokumenter! SMS itu memintaku membantu Adry dalam memilih tema. Aku menyarankan, karena kami tidak punya kamera maupun handycam, membuat dokumentasi Perang Gaza dan melibatkan teman-teman chatingnya untuk berkomentar dengan hasil dokumentasinya. Ia diam dan kurencanakan hari minggu untuk mengumpulkan gambar-gambar Perang Gaza dari internet, sekalian ibunya mengumpulkan bahan-bahan untuk diktat kuliah. Ketika hari minggu, kami melaluinya begitu saja. Ah, tugasnya juga berlebihan kok. Kami yang tidak punya kamera dan handycam, kok diminta bikin filem dokumenter. Kami yang lagi kesal sama Adry tidak mendikusikan alasan ini.

Eh, hari Minggu sore alias beberapa jam sebelum masuk sekolah ada SMS dari guru bahasa Indonesia Adry yang menyampaikan bahwa anakku mau membuat filem dokumenter bagaimana aktivitas penerbitan Mizan. Ini pilihannya. Anakku ingin, karena direkturnya sahabatku, aku yang menyampaikan maksud dan permintaan ijin melakukan itu ke beliau. Katanya supaya lebih mudah. Sungguh sebelumnya aku tidak tahu sama sekali. Si Adry kayaknya tahu betul ayahnya lagi marah.

Kukirim SMS ke pak Direktur sahabatku itu bahwa Adry lagi marahan denganku dan menyampaikan SMS (yang dikutip utuh) yang memintaku menghubungi beliau. “Namun,” kusampaikan keinginanku, “saya berencana meminta Adry untuk mengurusnya sendiri.” Minggu malam datang jawaban, “Dengan senang hati saya akan membantu. Tapi saya akan menolak kalau ayahnya ikutan mengurusi. he, he, he…”. SMS ini kukirim ke guru bahasa Indonesianya beserta nomor kontak beliau.

Tanggal 12-01-2009, pkl 13:14:43, “Adri barusan telepon ke saya untuk izin buat filem dokumenter. Ternyata Adri lebih oke daripada bapaknya ya?” Aku jawab SMS ini baik-baik, “Eh, lebih hati-hati ya kalau memilih kata-kata.” Tak lama kuperoleh jawaban, “Gak ah, Adri lebih pede, bahasanya lebih bagus dan lancar, tidak berbasa-basi, ceria dan mudah dipahami. Beda sekali sama bapaknya. Selamat ya generasi 1 pak Aripin kualitasnya super/unggul.”

“Haha, adry lebih baik daripada ayah, haha. Oiya, salam dari pak ali.” Tahu ini SMS siapa? SMS dari pak Ali memang kukirim ke Adry. Untuk SMS kedua yang merinci kelebihan Adry, ia menjawab “Haha, keren keren, thx bwat pak ali! Haha.” Si Adry ikut-ikutan perlu diajari tuh memilih kata-kata agar bisa menjaga perasaan orang. Dia tidak tahu kalau bapaknya masih sebal, masih malas menyapanya, masih marah-marah menemuinya sore hari dalam keadaan tidur, dan SMS itu sekadar memenuhi desakan hati kecil untuk membuka komunikasi kembali dengannya.

Terlambat Bijaksana

Tulisanku “Katanya 40: Aku dalam Konflik” diprotes teman dekat yang jadi guru ketika aku di Bekasi. Mungkin pada kenyataannya hanya satu dua orang seperti pikiranku, namun demikian, tetaplah sah bila seseorang “gelap pikir” untuk membenarkan kepicikan. Aku saja malu dan terkejut mengalami itu, tapi telah terjadi. Istriku bahkan mengkhawatirkan aku masih demikian. Benarkah?

Categories: MH. Aripin Ali
  1. January 17, 2009 at 12:34 am

    Assalaamu’alaikum.wr.wb. Yah, gak kerasa yach Adri kecil yang dulu Kelas dua Aqsho SDHT, yang dulu pendiam tapi selalu senyum ternyata tumbuh menjadi bocah super hebat. Asa pangling pisan, Yah. Alhamdulillaah saya udah singgah di blog Anda teh. Maaf nich klo masalah EYD gak bagus. Gak enak ngomentarinnya klo pake EYD teh. Mohon do’anya selalu. Pengen banget neh silaturahmi ke Bandung. Azmi juga udah mau masuk SMP lagi ya. Anak kecil mungkil lucu dengan komentar2 yang menggemaskan. Sekali2 singgah donk di Friendsterku. Kasih komentar.
    Untuk awalnya segitu dulu dech. Insya Alloh diusahakan rutin singgah di sini. Browsingnya jarang sih. Skarang kan check email bisa lewat hp. Kalau untuk komentar seperti ini di hp agak ribet. Dah dulu deh. Seneng denger cerita lagi. Jadi terngiang flashback waktu di SDHT. Salam Hormatku selalu untukmu. Senyum manisku untuk ketiga buah hatimu. Dri, kapan maen ke sukabumi? Kayaknya kalo Adri ngobrol sama saya sekarang2 udah laen ya? pasti lebih seru deh!
    Wassalam.

  2. Dianamayasari
    February 6, 2009 at 5:15 am

    Respon:
    Terimakasih tetap menganggap saya teman baik (semoga tidak salah,saya yang dimaksud dalam terlambat bijaksana). Sama sekali bukan gugatan, atas apa yang aa’ rasakan dan nilai selama 3 tahun dibekasi. Justru saya merasa bodoh. 1 tahun terakhir keberadaan aa di Bekasi adalah masa terdekat hubungan kita (atau hanya saya yang merasakan?) tapi saya tidak cerdas membaca bahwa teman dekat saya merasa senantiasa dalam konflik. Saya hanya tau aa kerap “stress”dengan tugas litbang dan tuntutan Perguruan. Karena itu saya coba bawa aa ke dunia lain saat itu , dunia dimana obrolan ringan punya hak untuk disapa, dunia (yang walau untuk sementara) menyadarkan bahwa kita masih berhak tersenyum dan sumringah, dunia yang raib di diskusi-diskusi serius aa tentag peningkatan mutu pendidikan.Begitulah. Paling tidak saya sempat merasa dibutuhkan, atas ucapan bahwa aa’ merasa menemukan sesuatu pada “diskusi” kita, yang tidak ditemukan di dunia aa yang sebenarnya.
    Saya masih bertahan dan sangat menikmati tantangan sampai detik ini, di institusi dimana kita pernah menjadi sahabat. Sempat 3 tahun memutuskan berada diluar, mencari tantangan dan dunia baru, juga karena “berkonflik”.
    Berada diluar, dengan menjadi dosen, ternyata tidak membuat saya lebih menghargai diri saya. Sadar secara spiritual kecerdasan saya merosot tajam, niat untuk berdakwah di tempat yang lebih hedonis malah membuat saya perlu di dakwahi.Dalam sendiri saya rindu tempat saya dulu. Sampai akhirnya sang direktur (yang menurut aa seorang otoriter) menyambangi saya lewat sms, meminta saya kembali, berjuang dan jalani hari bersama rekan rekan di Unit SMA. Mungkin saatnya saya lepas kerinduan pada apa yang pernah begitu lekat selama 7 tahun. Tempat dimana pernah saya rasakan indahnya Ukhuwah, indahnya dinasehati, indahnya dibutuhkan, indahnya bersahabat, indahnya leluasa menyampaikan walau satu ayat, indahnya.
    Sang direktur yang otoriter menurut aa kini jauh lebih humanis dan demokratis, karena sejatinya manusia cerdas akan selalu belajar. SD tempat aa dulu berjibaku dalam konflik menjadi sekolah unggulan dan terbaik se Bekasi Selatan, SMP tempat saya mengabdi hampir 7 tahun adalah berpredikat SSN (dari hanya 2 sekolah d Bekasi) menuju sekolah bertaraf Internasional saat ini, SMA tempat saya mengisi hari-hari sekarang adalah bilingual dengan system sks. Kami begitu diberi keleluasaan mengatur rumah tangga kami di tiap unit, mengembangkan program peningkatan kualitas pikir dan zikir. Jujur saya mengakui sang direktur adalah seorang yang sangat cerdas bahkan jika disandingkan dengan seorang Doktor. (kita abaikan saja sifat buruknya, toh set yakin tiap kita pun puiap kita punya sisi itu)
    Semoga kesempatan bertemu bagi kita masih ada. (terakhir pertemuan kita adalah 8 tahun silam kan?)
    Doa saya untuk bahagia aa, teteh, dan anak-anak. (udah punya perjaka ya?). Last but not least, Happy 40th Birthday. Just enjoy your great 40.

    Mau titip salam untuk sang direktur???

    Maya

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: