Home > terbata-bata > Disiplin dengan Kasih Sayang?

Disiplin dengan Kasih Sayang?

Pukul 06.43.49 WIB, 02-11-2008, saya menerima SMS berisi pertanyaan tentang arti disiplin dan apakah disiplin bisa digabungkan dengan kasih sayang. Ditemani secangkir kopi Aroma, kopinya urang Bandung, saya menikmati pagi dengan mengungkapkan kritik yang sudah lama terpendam tentang disiplin.

Disiplin telah jadi mitos. Jadi tidak perlu lah kita membicarakan artinya. Kita akan menyelisik kenyataan penggunaannya.

Disiplin Berlalulintas

Ungkapan semacam itu biasa digunakan dalam komunikasi sehari-hari. Disiplin pada ungkapan “disiplin berlalulintas” menunjukkan sikap yang seharusnya dalam berlalulintas. Apa yang seharusnya itu sendiri adalah nilai, baik yang ditetapkan (sepihak), maupun yang disepakati. “Berlalulintas” merupakan nilai (: aturan sosial) yang ditetapkan bagi kegiatan kita saat berlalulintas. Sebagaimana nilai mencakup agama, sosial, moral, begitu juga selain disiplin ada banyak sikap terhadap dan dalam melaksanakan nilai: tanggung jawab, kerja keras, kreatif, peka, ramah dan lain-lain.  

Kasih sayang adalah fitrah, sebuah nilai yang diwacanakan dalam agama, kehidupan sosial dan sebagai nilai-nilai moral. Banyak sekali nilai-nilai dicakup nilai kasih sayang, di antaranya menolong, berbagi, dan lain-lain. Kita gunakan kata menolong untuk mengetahui ragam sikap berkaitan dengan nilai: suka menolong dengan lawan sikapnya, tidak mau menolong, mementingkan diri sendiri, kikir; menolong bila menguntungkan; menolong bila tidak merugikan diri sendiri; menolong untuk cari muka, dan entah apa lagi. Entah apa lagi, namun kita sulit menjangkau penggunaan kata dari (sikap) disiplin untuk menolong. Sepertinya, untuk nilai tertentu ada sikap tertentu yang sangat dekat, akrab atau familiar dengannya. Nilai kasih sayang sangat dekat dengan sikap lembut, peduli, maaf, peka, ramah, dan lain-lain. Sedangkan dengan (sikap) kreatif kalaupun dapat terhubung, ia jauh atau membutuhkan konteks yang lebih luas bagi keterlibatan nilai-nilai yang lain.

Disiplin bukan nilai, melainkan salah satu sikap terhadap nilai. Kasih sayang adalah nilai, maka ia menjadi tujuan atau alasan untuk bersikap. Dalam prosesnya, sikap ini juga semacam gerak perasaan di mana perilaku akhirnya dapat dinilai secara psikologis.

Pada pernyataan “disiplin berlalulintas”, kata berlalulintas dapat diganti dengan leluasa oleh aturan sosial yang lain. Sekolah sebagai sosial tertentu pun dapat memajukan nilai yang disepakatinya sebagai aturan sosial. Contohnya pekerjaan rumah (PR) yang pengerjaannya diharuskan. PR menjadi aturan sosial, menjadi sebuah nilai. Dikelompokkan (sikap) siswa berhadapan dengan PR, bergerak mulai selalu mengerjakan sampai tidak pernah mengerjakan. Yang selalu mengerjakan dinyatakan siswa yang bertanggung jawab atau berdisiplin, yang tidak pernah mengerjakan disebutlah tidak bertanggung jawab atau tak punya disiplin. Kalau pun urusannya remeh temeh, semacam keharusan pakai seragam, datang tepat waktu, menyimak ketika guru mengajar, tetap saja ketika menjadi aturan sosial, ia sederajat dengan nilai yang lain. Disiplin mengerjakan PR adalah sederajat dengan disiplin salat pada waktunya. Perbedaan kualitas otoritas (pihak sekolah dan Tuhan) rujukan nilai dinafikan dalam penalaran yang lumrah ini. Di sini nampak bahaya yang akan muncul bila semua pihak di masyarakat kita rakus dalam menyatakan, memutuskan, menetapkan, menyepakati sesuatu hal sebagai nilai. Sekolah berjubel dengan tata tertib, pemerintah menumpuk perundang-undangan, agama mendahulukan fiqh, dan masyarakat disesaki kemunafikan sosial.

Perilaku untuk Diperkuat Bukan Dibatasi

Apa saja contoh menolong itu? Setiap orang yang memberikan contoh akan memiliki kesempatan untuk menambahkan contoh lainnya. Contoh bagi sebuah nilai, dalam hal ini saya menyebutnya perilaku, memang hampir tak terbatas. Bahkan keunikan pribadi menjadikan perilaku yang sama (misal menolong yang tidak mampu) melahirkan beragam versi. Dua hal ini, bahwa perilaku itu hampir tak terbatas dan untuk kategori perilaku yang sama dapat muncul versi sesuai keunikan pribadi dan lingkungan sosial, maka tidak mungkin melakukan pembatasan pada perilaku yang mencontohkan nilai. Upaya yang tepat untuk dilakukan adalah memberikan contoh perilaku sebanyak-banyaknya, memberikan lingkungan, inilah tugas pendidik, yang memudahkan penemuan contoh dan lingkungan yang akomodatif atau ramah pada keragaman versi perilaku.

Kenyataan yang ada aturan sosial (termasuk aturan sekolah) kerap memasuki ranah perilaku. Akibatnya, ruang berpikir, kreativitas, keakuan dan harga diri, dan kebebasan menjadi bahasa yang jarang terdengar berkaitan dengan nilai-nilai. Misalnya, membuang sampah pada tempatnya. Aturan ini adalah perilaku, tapi mencontohkan nilai apa? Bila sebuah perilaku kehilangan keterkaitan dengan nilai yang dirujuknya, maka pikiran dimatikan, kebebasan dibelenggu, dan tidak ada individualitas. Bahkan mungkin lebih dari itu karena perilaku yang melalui mekanisme sosial dijadikan nilai, akhirnya memiliki sistem sendiri. Bukankah kalau aturan perintah membuang sampah pada tempatnya, diikuti oleh suatu kuasa untuk memberikan sangsi, denda, hukuman bila terjadi pelanggaran, berarti ‘perilaku’ itu sudah melebihi ‘kuasa’ nilai itu sendiri? Ia menjadi hegemonik.

Salah satu nilai yang bisa dirujuk “membuang sampah pada tempatnya” adalah empati. Banjir di kota-kota besar terutama karena sampah yang menjejali sungai-sungai dan saluran air. Baik kita yang jadi penonton korban atau korban sendiri tidak serta merta menjadi orang yang terbiasa membuang sampah pada tempatnya. Kita bodoh untuk mengaitkan banjir dengan membuang sampah sembarangan. Kita yang membuang sampah sembarangan, yang (cuma) melihat orang membuang sampah sembarangan, telah butahati dengan penderitaan mereka yang kebanjiran. Itu penderitaan dari nasib mereka, menjadi permakluman yang dilontarkan di antara kita. Kenapa?

Empati sebagai sebuah nilai punya seribusatu wajah (perilaku). Ia punya seribusatu jalan (perilaku) untuk dikenali. Setiap orang dapat mencontohkan (perilaku) berempati sesuai dengan kemampuannya. Jejak antara perilaku kita dengan pengaruhnya pada yang lain menjadi semakin rapat. Jangankan banjir, melihat ‘bungkus rokok’ tergeletak di samping setangkai bunga pun di tempat orang lain, kita akan mengingat keinginan pemilik bunga dengan keindahan, rasa senang. Kita sudah tidak nyaman.

I am Sorry

Mohon maaf saya akhirnya tidak bisa menyelesaikan tulisan ini. Ketika jeda yang ke-4 dalam penulisannya diisi dengan membaca buku-buku seputar filsafat moral, saya malah kehilangan moment. Namun demikian sungguh menyenangkan telah menulis yang membuat saya harus membaca lagi.

Tentu saja saya berharap ada yang sudi berwacana. Dengan hormat saya mengundang teman-teman. Terimakasih.

Categories: terbata-bata
  1. January 6, 2009 at 7:23 am

    Tulisan ini mengingatkan saya pada sebuah kejadian. Kalau saya ke bandung, ke rumah neneknya anak-anak, saya lebih sering bosan. Saya bosan dengan suasana yang itu-itu saja:
    (1) kursi tua yang belum diganti (ini mengingatkan ketakmampuan saya untuk menggantinya karena tak cukup uang);
    (2) adik ipar yang susah diajak bicara agak serius (mungkinkah ini ‘dendamku’ karena di keluargaku aku tak cukup punya suara untuk didengar?)
    (3) ruang tengah yang selalu ramai hatta sudah masuk waktu shalat (ini menjadikanku gundah karena di rumahku anak-anakku sering kubiasakan untuk shalat bareng. tentu saja, agar mereka tak kecanduan nonton tv [seperti aku sendiri sebetulnya]
    Kejadian yang akan kuceritakan ini terutama karena nomor 3. Anak-anakku, karena mungkin merasa didukung lingkungan rumah neneknya, melupakan kebiasaan di rumah mereka sendiri. Waktu shalat, terutama magrib, tetap tak bergeming di depan tv. Aku merasa ‘sakit’, tapi aku tak bisa berbuat lebih. Aku takut ibu mertuaku tersinggung karena bagaimanapun itu adalah rumahnya.
    Akhirnya, aku ajak anak-anak untuk shalat di kamar yang disediakan untuk kami. Karena memang shalat magrib dan isya, maka aku mengeraskan suaraku sewajarnya. Pikirku, ini bisa mengurangi keramaian di luar sana.
    Selepas shalat, aku mengajak anak-anakku untuk menghapalkan doa. Anakku yang nomor dua ini rupanya mengalami kesulitan untuk menghapal sehingga dia menangis.
    Tiba-tiba aku teringat akan kata-katamu–bahwa di Solo, anak-anak dididik dengan metode kebencian dalam menyikapi al-Quran; al-Quran dijadikan hapalan untuk anak-anak yang telat datang ke sekolah–akhirnya, aku menghentikan kegiatan menghapalkan doa itu.
    Aku sudah menzalimi anakku.
    Mengenai “membuang sampah pada tempatnya”, hematku, selain mengajarkan empati, sesungguhnya kita mengajarkan nilai keadilan. Sesuatu yang tidak ditempatkan pada tempatnya akan membawa sesuatu yang buruk.
    Mengajarkan doa secara paksa, mungkin menjadikan anak membenci kegiatan ritual.
    Membuang sampah sembarang mungkin mengakibatkan banjir.
    Jadi, disiplin perlu tetapi metodenya seperti apa, itu yang harus dipikirkan.
    [Terima kasih telah mengingatkan dengan buku-buku dan tulisan-tulisanmu yang menggugah]

  2. sbachrun
    January 8, 2009 at 8:25 am

    Sorry friend, seharusnya hari ini aku ke sekolah Dasar Negeri Depok, sayangnya saat bersamaan adikku masuk ke RS kena DB. Ini peristiwa ketiga setelah anak dan istriku kena penyakit sama.

  3. william
    June 16, 2009 at 2:24 pm

    cibai sohai

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: