Home > darimanasaja > Will to Believe; Pergulatan Batin Seorang Eksistensialis

Will to Believe; Pergulatan Batin Seorang Eksistensialis

Oleh: Muh. Legenhausen

Saya sering kali diminta untuk menjelaskan bagaimana saya menjadi seorang Muslim. Nyaris setiap saat, setelah menjadi Muslim saya mendapatkan sesuatu yang baru. Saya tidak mengada-ngada, namun penerimaan sebuah agama merupakan sebuah perkara yang pelik. Ia mencakup emosi, sejarah pribadi, politik, teologi, filsafat dan banyak hal lainnya. Jadi, meski di sini saya akan fokus pada faktor-faktor filsafat, Anda jangan salah menilai bahwa saya menerima Islam sebagai sebuah hasil murni refleksi filsafat.

Saya membaca buku pertama saya dalam filsafat ketika saya berusia sebelas tahun, hal ini terjadi sekitar tahun 1964. Buku tersebut adalah karya William E Hocking, The Types of Philosophy. Saya kira buku ini merupakan buku yang menarik dan baik untuk dibaca. Setelah membacanya, kemudian saya memutuskan untuk mengkaji filsafat. Saya dibesarkan sebagai seorang Katolik, dan kerisauan yang mendalam terhadap ajaran-ajaran Gereja menggiring saya kepada Filsafat. Idealisme dan mistisme Hocking nampaknya sebuah jalan pengatrol yang membawa saya menggandengkan iman dan akal.

Ketika saya memasuki SMU, saya menjadi seorang penggemar dan pengagum Soren Kierkegaard. Lantaran pada ulang tahunku yang keenambelas, teman-temanku menghadiaiku enam atau tujuh paperback dari Kierkegaard. Saya juga mulai membaca karya-karya Camus dan Sartre, dan ketika studi saya rampung, saya memandang diriku sebagai seorang existentialis. Setahun setelah memasuki the State University of New York di Albany, saya berubah dari eksitensialis beragama menjadi seorang eksistensialis atheis. Sartre and Nietzsche mulai lebih dominan ketimbang Kierkegaard dalam kehidupanku. Saya kecewa dengan perlawanan lemah kepemimpinan Gereja terkait Perang Vietnam, dan melihat keyakinan agama sebagai iman yang buruk dan sebuah candu bagi masyarakat. Saya membaca sedikit tentang Marx, namun kemudian mendapatkan Proudhon dan Kropotkin lebih aku sukai.

Selama akhir-akhir semeseter di fakultas filsafat di Albany, saya mengambil mata kuliah ihwal free will and determinisme yang diajarkan oleh Ken Stern, yang telah selesai belajar di Oxford dan mengambil sebuah pendekatan analitik dalam menjelajah kosmos Filsafat. Logika yang encer dan penekanan terhadap pemikiran yang jelas ibarat sebuah hembusan nafas pada udara segar. Saya mulai membaca segala yang dapat saya temukan melalui WVO Quine, terlepas apakah saya mengerti atau tidak.

Pada saat yang sama, saya temukan geliat atheismeku ditantang oleh TS Eliot. Apakah keberagamaannya hanya merupakan kasus lain dari sebuah iman yang buruk? Tidak juga, mengingat jalan yang sangat besar yang ia hadapi seperti yang tertuang dalam bukunya The Wasteland. Saya mencoba untuk menjaga pikiranku tetap clear dengan memfokuskan diri pada logika.

Saya mulai studi bidang filsafat di Rice University pada 1976. Ketika diberitahu pada semester kedua bahwa tiada keluaran kursus pada modal logika, saya mengundang sesama pelajar sebuah semester dari seminar yang di dalamnya saya mediskusikan fondasi-fondasi filsafat pada modal logika, dengan menggunakan artikel-artikel Carnap, Church, Scott, Thomason dan yang lainnya. Ketertarikanku pada filsafat logika memotivasiku menulis tesis Phd, Matters of Substance .

Saya juga menjadi tertarik pada etika Aristotelian, terstimulasi bacaan After Virtue karya Alasdair MacIntyre. Kritikan MacIntyre terhadap liberal modernisme yang datang pada saat yang sama tatkala saya mulai belajar Islam, terpancing oleh kuriositas tentang revolusi di Iran, dan oleh sekelompok mahasiswa Muslim yang saya jumpai di Texas Southern University, tempat dimana saya mengajar filsafat dari 1979 hingga 1989.

Nampak bagiku bahwa argumen-argumen MacIntyre dapat digunakan pada Islam ketimbang pada Katolik.  MacIntryre membantah bahwa etika-etika hanya dapat dipahami dalam konteks sebuah tradisi yang memberikan kandungan substantif pada gagasan-gagasan moral dan bahkan pada standar-standar rasionalitas. Namun, ajaran Katolik, nampaknya pada sebuah kondisi kemunduran secara berketerusan semenjak serangan pertama modernitas; dan juga acapkali, Gereja nampaknya menyokong sisa-sisa aristokrasi. Islam, di sisi lain, nampaknya bersemangat dan terilhami dengan dengan sebuah spritualitas yang membakar dan berada di barisan orang-orang yang tertindas.

Para mahasiswa Iran memperkenalkan aku pada karya-karya Allamah Tabataba’i, Syahid Mutahhari, Ali Shariati, dan yang lainnya. Namun tiba-tiba saya menemukan karya-karya Seyyed Hossein Nasr dalam sebuah toko buku bekas. Meski saya tidak setuju dengan tradisionalisme yang ditawarkan oleh Nasr, pengenalannya terhadap tradisi-tradisi filosofis dan mistis dalam dunia Islam sangat memesonaku. Dalam esoterik Islam, saya jumpai bahwa tidak hanya mendapatkan ragam kecendrungan filosofis seperti, Illuminasionisme, Peripatetik, dan sesuatu yang disebut sebagai Hikmat al-Mutaaliyah (filsafat hikmah), namun juga puisi, seni, gagasan-gagasan politik, dan aneka mistisisme rasional lainnya, sebagian darinya yang lebur dalam kecendrungan-kecendrungan filosofis, dan kritikan terhadap batasan-batasan dangkal Islam pada masalah-masalah rinci ritual dan ahkam.

Fitur esoterik Islam yang saya temukan sangat menarik umumnya di antara Syiah dan Sufi.  Kaum Syiah juga nampaknya telah memiliki sejarah panjang ketertarikannya pada keadilan sosial. Sumber dari segala gagasan ini adalah dari Ali bin Abi Thalib, saudara sepupu Rasulullah Saw dan Imam Pertama Syiah (semoga Allah melimpahkan rahmat dan kasih-sayang-Nya kepada Muhammad dan Keluarga Muhammad).

Jadi, saya pikir bahwa sekiranya saya menjadi seorang Muslim, saya serta-merta harus menjadi Syiah, sebagaimana para pengikut Ali dipanggil. Satu-satunya masalah yang saya miliki adalah bahwa saya tidak meyakini adanya Tuhan. Saya memutuskan untuk mengajarkan pelajaran filsafat agama pada TSU dimana saya  mereview klaim-klaim agama-agama besar dan pada saat yang sama, menguji kembali argumen-argumen yang pro dan kontra terhadap keberadaan Tuhan. Pengujian kembali terhadap agama-agama dunia ini hanya menguatkan ketertarikanku kepada Islam. Kelihatannya selaras dengan tema-tema dari Yahudi dan Kristen dengan sikap-sikap dalam mistismenya lebih umum ditemukan pada pemikiran agama Hindu dan Budha. Namun evaluasi filosofis terhadap argumen-argumen keberadaan Tuhan membuatku lebih yakin dari sebelumnya bahwa tiada satu pun dari argumen tersebut yang kokoh. Adapun ihwal argumen-argumen yang membantah keberadaan Tuhan, tentu saja tampak bagiku di luar kredibilitas bahwa dunia ini harus memuat sosok akal raksasa tanpa seonggok jasad. Kemudian terlintas dalam benakku bahwa cara saya memikirkan Tuhan sangat terbatas. Apa yang saya tolak dengan atheisme bukanlah Tuhan tanpa sebuah berhala. Filosof-filosof Muslim dan kaum Sufi berkata bahwa Tuhan bukanlah akal, juga bukan sebuah substansi, namun Dia adalah wujud murni

Bahkan jika saya tidak dapat membuktikan sebagai tambahan wujud di dunia ini juga terdapat Wujud, saya tidak dapat menemukan satu pun argumen yang mematahkanya, juga. Mengapa tidak? William James dan “keinginan untuk meyakini” “will to believe” juga memberikan kepadaku keberanian.

Karakter Imam ‘Ali merupakan sebuah karakter yang memberikan inspirasi. Ia merupakan seorang yang gigih berjuang membela kaum lemah dan tertindas, pujangga, khazanah hikmah praktis, seorang teolog, negarawan, teraju keutamaan, keberanian, wawasan, rendah hati, beriman, sabar dan ia memiliki juga selera humor. Bagaimana mungkin ia salah tentang keberadaan Tuhan? Saya boleh jadi mencampur- adukkan argumen-argumen ini, namun nampaknya ia melihat permasalahan ini sedemikian jelas dan benderang sehingga tiada tersisa ruang keraguan. Tentu saja, meniru seseorang seperti ini merupakan sebuah hal yang mulia, namun peniruan seperti ini kurang lebih mulia jika tidak ada tuhan, dan demikian Tuhan harus ada! Pikiran-pikiran seperti ini yang mencekoki pikiranku hingga beberapa konsep “mengapa tidak? Keraguan dalam tingkatan tertentu boleh jadi benar bahwa Tuhan ada mennjadi “OK” hal itu dapat dipandang sebagai benar: dan kemudian “Benar, Tuhan ada!”

Kemudian beberapa kawan Muslim Amerika bertanya bahwa apakah saya seorang Muslim setelah shalat Jum’at di salah satu masjid di Houston, saya membaca deklarasi iman: “Ashyadu an laa ilaha illa Allah, wa asyhadu an Muhammadan Rasul Allah.” (Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan dan rasulullah).

Saya masih menyenangi logika membabat yang dimiliki filsafat analitik, dan kepandaiannya dalam berurusan dengan masalah-masalah paradoks dan membingungkan. Namun acap kali kekurangan spirit, dangkal, kekurangan iman.

Tentu saja terdapat beberapa pengecualian; namun sebagai sebuah aturan, filsafat analitik nampaknya berbagi banyak kejahatan yang menembus masyarakat kontemporer post-industri; terlalu mengandalkan pada keahlian teknis dan over-spesialisasi, terlalu percaya diri dan over-konfinden bahwa sains dapat menjawab seluruh pertanyaan yang patut dan layak dipersoalkan.

Namun saya tidak menjadi seorang muslim lantaran saya memeluknya dari filsafat analitik kepada filsafat Islam, meski saya menjadi tertarik dalam filsafat Islam selama masa-masa konversiku (peralihan dari eksistensialis menjadi muslim). Apa yang nampak paling berharga bagiku dalam filsafat Islam adalah semangatnya, retensinya pada gagasan-gagasan filosof sebagai seorang manusia bijak yang mencari kebenaran dan menuntun pada hidup sederhana. Islam memiliki tipologi tersendiri, sangat tinggi intensitas cita-rasa cintanya khususnya dalam Irfan (gnosis); dan jika filsafat adalah cinta kepada hikmat dan kebijaksanaan, maka filsafat Islam merupakan ekspresi atas intensintas cinta mistikal ini dalam merindukan kebijaksanaan dan pemahaman langsung.

Saya datang ke Iran pada tahun 1990 dan mulai mengajarkan filsafat agama Barat dalam sebuah tradisi analitik namun dari perspektifku sebagai seorang muslim baru. Kuliah pertama yang saya berikan di Teheran telah diterbitkan pada jurnal internasional yang berkedudukan di Qom, al-Tauhid, yang bermula pada tahun 1993. Saya mulai pemikir-pemikir seperti Plantingga dan Alston yang pengalaman keagamaannya sangat memainkan peran penting. Saya membantah mereka dengan berargumen bahwa keyakinan-keyakinan religius tidak berdasar secara proporsional juga tidak dibenarkan pada basis pengalaman keagamaan. Pada saat yang sama, saya berargumen bahwa argumen-argumen tradisional tidak berfungsi pada atmosfer intelektual dewasa ini, dan bahwa apa yang dapat diambil pada suatu waktu sebagai premis-premis swa-bukti tidak dapat lagi digunakan. Alasan-alasan yang memuaskan yang dapat diberikan untuk membenarkan keyakinan agama hari ini harus bersandar pada kata hati dan insight rasional. Keduanya memadai untuk menyuguhkan keyakinan kepada orang beriman, namn mereka tidak dapat meyakinkan orang-orang kafir yang dengan keras kepala menolak untuk mengakui adanya kebutuhan penjelasan-penjelasan agama dimana tiada penjelasan lain yang tersedia. Kemudian, rasionalitas iman seseorang harus dibangun tidak dengan membuktikan kandungannya dengan sebuah demonstrasi logis, namun dengan membuat pandangan plausible dimana agama menyeru dan mengundang kita untuk masuk.

Akhir-akhir ini, saya sedang mempelajari tulisan-tulisan William Hocking, lagi, dan mendapatkan bahwa tulisan-tulisan tersebut masih mengandung wawasan yang berharga yang acapkali nampak dapat berfungsi lebih baik bagi Islam ketimbang teologi Katolik.[AK, www.wisdoms4all.com/ind]

 

Categories: darimanasaja
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: