Home > MuridKusekolah > Tentang Seorang Anak dan Pendidikan Agama

Tentang Seorang Anak dan Pendidikan Agama

Seorang anak, gadis yang cantik, telah sekolah 6 tahun di sebuah sekolah Islam terpadu. Aku tidak tahu apa maksudnya. Yang jelas kurikulum nasional dipatuhi, pelajaran agama diperbanyak. Sehari-hari urusannya berkutat dengan sekolah, sekalipun sudah di rumah. Pekerjaan rumah, belajar untuk menghadapi ulangan, hafalan al-Quran, isian ibadah praktis harian, adalah contoh rutinitas dari sekolah yang mencuri waktu keluarga. Di sekolah jelas sangat serius, tapi tanpa ruang pribadi. Semua yang dilakukan anak adalah manut terhadap ‘perintah’.

Anak cantik yang jarang bermasalah ini, bergabung di sekolah yang aku dampingi. Sejak semula ia dinyatakan tidak bermasalah dan memang tidak bermasalah bila dibandingkan yang lain. Hanya aku yang pernah sangsi. Ini sentimen. Aku tidak percaya anak yang dikekang ‘ruang pribadi’nya dan pula sangat banyaknya penggunaan waktu yang diikat sekolah, akan tidak masalah. Maaf, aku yang menghadiahi anak-anak dengan keluasan ‘ruang pribadi’ dalam proses belajar, memang ingin merasa benar juga.

Tak lama setelah lepas dari sekolah Islam terpadu itu, aku memberinya buku-buku baru untuk remaja, baik buku-buku how to maupun novel. Ibunya terkejut. Seumur si gadis, baru ia tahu anaknya rakus membaca. Sehari bisa lebih dari 2 buku! Aku juga ikut senang. Aku cari buku yang akan membuatnya terpana dengan dunia buku. Kupilih trilogi buku yang seperti Harry Potter, berkaitan dengan dunia sihir. Kini tokohnya remaja putri sepertinya. Aku saja terpana, kupikir ia akan tergila-gila pada buku itu.

Sehari setelah buku itu kuserahkan, ku SMS apakah ia sudh mulai membacanya. Belum. Seminggu ku SMS untuk mengkonfirmasi, “Asyik kan, bukunya?”. Belum dibaca. Berulang aku tanyakan, ternyata ia tak mau membacanya. Kupikir… ah sihir. Buku itu tentang sihir. Mungkinkah identik sihir dengan musyrik telah dikenalnya? Aku hanya menduga. Aku tidak mau mencari tahu karena takut dengan meledaknya kekesalan.

Tadi, sekitar 5 jam aku diskusi dengan guru-guru si gadis, aku ikut nimbrung dalam keributan tentang pelajaran agama. Biasa, ada usulan menghadapi banyaknya masalah berkaitan dengan keburukan moral, pelajaran agama ditambah. Jadi ribut karena ada teman yang mengatakan bahwa kenyataan itu menunjukkan kenyataan ketidakmampuan ‘agama’. Usulnya, bukan ditambah, melainkan ditiadakan. Aku sendiri memandang tetap ada bila terjadi penguatan metodelogi dan, meminjam ungkapan seorang guru, menyinggung kekinian. Aku merindukan agama sebagai pandangan dunia. Agama yang digunakan sebagai mazhab penalaran terhadap kehidupan. Ini belum juga dilakukan, aku setuju tidak perlu pelajaran agama. Suasana masih emosional.

Aku ingat lagi si gadis, kini dengan masalah yang belum lama disampaikan ibunya. Si gadis kini tergila-gila chating. Seharian ia bisa di kamar. Bila mau makan, “Bi, bikinin nasi goreng!”. Bila mau…, “Bi…”, ia sendiri tidak beranjak di depan notebook-nya. Si gadis pun sudah tak apa-apa kalau meninggalkan salat. Maka pada guru agama dan teman-teman aku menyerang, “Buat apa belajar agama kalau melawan chating saja tidak mampu!” Lain lagi dengan anakku yang karena ketidaksukaan pada perilaku satu temannya, ia memberitahukan pada teman chatingnya “orangnya gila, idiot,…”; aku meradang, “Kenapa sudah 9 tahun belajar agama dan keluarganya pun muslim, ia tak mampu sekadar untuk berpikir tentang penilaiannya. Gila kan kalau anak ngomong kayak begitu!” Aku sedih dengan agama yang tak mengukuhkan kehormatan, sehingga anakku tak malu berkata-kata demikian, sehingga anakku tak dapat mempermalukan diri dengan hal demikian.

Terakhir nih. Ketika, mungkin, novel tentang dunia sihir dikaitkan dengan syirik sebagai pengaruh pendidikan agama; pendidikan agama yang sama pula, hanya 6 bulan selepasnya dari sekolah itu, si gadis tergila-gila dengan chating sampai-sampai melupakan salat dan tidak antusias lagi untuk bersosialisasi. Bagaimana ini bisa terjadi? Aku bilang pada teman-teman, seperti itu juga yang dilakukan MUI (dan ummat Islam lainnya) yang gemar dengan fatwa penyesatan, tapi tidak pernah tahu bahwa penyesatan generasi sedang terjadi akibat kurikulum pendidikan agama yang tak bermutu, tak menyinggung kekinian, tak mendidik akal sehat, bahkan menyesatkan.

Categories: MuridKusekolah
  1. hasnildj
    December 24, 2008 at 2:31 pm

    Kang, terus terang, ini topik yang sering saya hindari di muka publik. Yaitu ketika pertanyaannya menjadi “agama (Islam) dalam konteks waktu” atau yang lebih ‘provokatif’ “perlukah agama dire-aktualisasi sesuai jaman?”. Pergulatan ini sering saya simpan sendiri, karena memang saya tidak tahu jawabannya, karena saya khawatir dengan ‘cap’ yang mempertanyakan kualitas religius saya, dan karena saya perlu subyek-subyek tertentu untuk terbuka sebagai bahan dialog saya dengan Sang Pencipta. Saya bukan ahli ibadah, saya bukan orang yang dikenal lingkungan sebagai patron religius, bahkan mungkin hubungan saya pribadi dengan Sang Maha sering diwarnai dengan gugatan dan kemarahan. Memang hubungan cinta kami hanya kami yang tahu. Tapi, sebagaimana sebuah hubungan cinta, saya juga sering takut kehilangan.
    Kang, di tengah ketercerabutan pemahaman kami sebagai orang ‘dewasa’ sering saya pandangi ananda, sambil menerawang,”Apa yang harus kami lakukan untuk menyiapkanmu, nak?” Saya ingat ada ungkapan, atau dari Rasulullah atau dari Ali bin Abi Thalib (yang substansinya kira-kira),”Didiklah anakmu sesuai konteks jamannya” Maafkan kami, nak. Bahkan kami tergagap-gagap menghadapi masa kami. Bagaimana pula kami harus menyiapkan kalian menghadapi konteks masa depan yang tidak kami mengerti?
    Belum puas rasanya kami bingung, ketika prediksi lain menghentak kemampuan kami ‘melindungi’ ananda, “bangsa (atau individu) yang akan bertahan adalah bangsa (atau individu) yang punya motivasi untuk belajar dan berubah”. Lazim bagi murid sekolah menengah di India untuk ‘memaksa’ diri mereka mengambil pelajaran tambahan hingga malam hari di luar jam sekolah reguler. Dan bukan hal aneh, ketika mereka masih berupaya mengusir kantuk mereka dengan kopi sepulangnya dari jam-jam pelajaran tambahan tersebut, untuk kembali ‘menyiksa’ diri mereka untuk belajar kembali di rumah. Mungkin bukan karena sistem, mungkin bukan karena kurikulum (saya bukan ahli didik dan tidak paham kurikulum, apalagi India, mungkin akang bisa cari tahu). Terus terang, saya tidak terlalu tertarik dengan model belajar mereka yang sudah seperti pendekar shaolin dalam cerita silat. Itu netral saja. Netral berubah menjadi kejam, ketika mereka dipaksa. Netral berubah menjadi romantik perjuangan, ketika mereka sendiri yang ingin melakukannya. Saya (selalu) terkagum-kagum dengan kemampuan ciptaan Sang Maha untuk memotivasi diri untuk berubah. Dan konon, (menurut si penulis) mereka melakukan itu semua karena mereka ‘muak’ dengan kondisi mereka sekarang dan ingin mengubah nasib mereka ke depan.
    Kang, ketika agama berarti adalah hubungan vertikal semata, maka saya lihat tidak akan banyak yang dapat kita lakukan. Kecil belajar ngaji, muda wajib shalat dan puasa, dewasa bayar zakat, tua naik haji. That’s all. Apa isi dialog kita dalam masing-masing ibadah itu, hanya kita yang tahu. Namun, ketika agama berarti etika sosial dan etika lingkungan, maka masih sangat banyak yang harus kita lakukan. Sangat sangat banyak serta sangat sangat membingungkan.
    “Maafkan kami, nak. Karena kami baru sampai pada tahapan menyelesaikan ‘konflik’ mengenai wajib tidaknya qunut dalam shalat Subuh.”

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: