Home > MH. Aripin Ali > Katanya 40 (6): Aku dalam Konflik

Katanya 40 (6): Aku dalam Konflik

SDHT adalah tempat dimana aku bersama kedua temanku berbagi kegusaran, berbagi kebingungan dan kebimbangan serta ketidakpastian..:)

Awalnya, aku terkadang menyalahkan Pa Arifin akan perasaan kalutku tersebut. Selama hampir 3 tahun aku diomabang-ambing oleh perasaan tak menentu tentang sekolahan.

Akhirnya aku keluar dari SDHT. …

E-mail dari Eva, 8 Desember 2008, mengejutkanku. Eva, kini kepala sekolah di salah satu sekolah alternatif di Bandung, adalah guru SD Hikmah Teladan angkatan 3. Ia masuk tahun 2002 dan keluar 2005. Sedangkan “kedua temanku” salah satunya dapat kupastikan guru angkatan ke 1. Artinya, aku berkonflik dengan guru (juga dengan pihak yayasan dan sesama konsultan) sejak tahun pertama aku di SD Hikmah Teladan. Kenapa aku meniti keberadaannya dalam konflik? Bagaimana, dalam kasusku, konflik yang pada nyatanya memecah kami dapat kembali mendekatkan kami?

Bukan (Cuma) Lulusan SMA

Aku sempat kuliah tapi tak sempat lulus. Aku merasakan lulus cuma sampai SMA. Lalu bagaimana lulusan SMA jadi ketua penelitian dan pengembangan (Litbang) di beberapa lembaga pendidikan? Jawabannya karena pertemanan.

Di Bekasi aku jadi ketua Litbang sebuah perguruan yang menyelenggarakan pendidikan dari tingkat taman kanak-kanak sampai sekolah menengah pertama, dan kemudian di SD Hikmah Teladan memang karena nepotisme, yaitu pertemanan yang melibatkan orang penting dikedua tempat tersebut.

Di Bekasi, temanku mengenalkan aku langsung pada direkturnya. Direktur yang otoriter (terlalu besar kuasanya) ini membuat semua harus menerimaku. Semua orang mendengarkan dan mencatat dalam kepatuhan semua yang dikenalkan sebagai kepantasan bagi kedudukanku. Aku gelisah tapi membutuhkan. Perkenalan dengan banyak catatan yang pada nyatanya hanya sesuatu yang masih kuharapkan, kubiarkan dengan sengaja. Hanya saja semua ini berarti, harapan itu, esok harus jadi nyata. Mungkinkah? Selain aku harus pandai menyembunyikan diri untuk sesuatu yang aku belum mampu buktikan, aku juga harus pandai menunjukkan apa yang aku sungguh mampu mengerjakannya. Dalam banyak hal, kupelajari seni untuk mengangkat kelebihan sehingga menutup kekurangan. Seni ini secara psikologis memberiku kesempatan dan waktu yang memadai untuk belajar.

Namun sepertinya, mereka memberiku jeda bagi kegelisahan karena ada pertaruhan, yang mereka sendiri senang menghindarnya, yang diarahkan padaku: Aku ditetapkan mengemban tugas utama untuk memastikan kelulusan angkatan pertama sekolahnya. Tanggung jawab yang disampaikan direktur untuk membuat yang hadir menaruh hormat, menjadikan aku dalam himpitan beban yang mencekam. Tak pelak, bisik-bisik yang kelak jadi gosip sudah mulai di hari perkenalanku. Rumor yang mendorong banyak guru menunggui waktu di mana kegagalan bagian dari karirku telah disebarkan di hari pertama.

Beruntung aku ada di negeri yang belajar, apalagi meneliti, cuma berarti disuapi. Banyak hal yang sangat dekat dengan dunia keseharian mereka sebagai guru, tidak diketahui asal-usul kepentingannya, termasuk juga dampaknya pada esok. Perintah, juklak, juknis, semua yang membentuk aktivitas mengajar adalah perintah. Dengan membuka asal-usul dan tujuan, aku membuat rencana sendiri, tak peduli pada ‘perintah’. Dan, aku berhasil, tapi tak cuma itu, keberhasilan mencapai kelulusan yang membanggakan pun sangat mudah dilekatkan pada diriku. Itu pikiranku. Aku dipercaya melakukan yang sama sampai 3 angkatan. Dan akhirnya, tidak ada yang percaya aku cuma lulus SMA. Aku, di mata mereka, adalah pekerja keras, mencintai anak, dan senang bereksperimen.

Kesuksesan “3 angkatan” di Bekasi, inilah yang dijual temanku yang lain agar diterima sebagai Litbang di konsultan yang mendampingi SD Hikmah Teladan. Namun kini tidak ada Sang Direktur yang otoriter, aku masuk ruang negosiasi. ‘Kami adalah…’ bernegosiasi dengan ‘aku adalah…’. Karena tahun pertama aku bekerja belum ada kelas 6, maka apa yang dapat aku kerjakan? Aku harus membangun konsep. Aku harus berbicara yang keluar dari kisah suksesku. Aku kembali diragukan, didesak pertanyaan tentang kompetensi yang dibandingkan dengan tuan rumah. Tak pelak semua tersodor, termasuk aku cuma lulus SMA.

Situasi di SD Hikmah Teladan membuatku perlu sumber otoritas lain. Ini kisah tak enak, kisah yang aku berulang kali meminta maaf pada sejarah. Aku memperlawankan kekuatanku dan kelemahan yang lain. Kepahamanku terhadap kurikulum yang bertolak belakang dengan teman-teman yang 100% tidak memakai kurikulum, kubuat berhadap-hadapan. Aku datang dengan memanfaatkan kenyataan bahwa nilai tes siswa SD Hikmah Teladan terhadap meteri sesuai standar kurikulum nasional, sangat di bawah rata-rata. Kutegaskan karena mengacu pada ‘belajar’, baik mengikuti kurikulum nasional atau 100% tidak, kemampuan berpikir yang terekam pada saat penyampaian materi pelajaran akan menjadi kemampuan dasar untuk mengolah informasi. Aku bahkan berkeyakinan jalan 100% kebebasan akan melahirkan kemampuan dasar ini. Ada diskusi di antara kami tentang kualitas guru.

Ada agenda yang tak kukenali (akhirnya berbelok arah) sebagai akibat pemikiran tentang 100% kebebasan: 1. Jalan masuk penerimaanku dengan menumpang ‘kebenaran’ kurikulum, bertolak belakang dengan penolakanku sendiri terhadapnya; 2. Penemuanku tentang kelemahan teman-teman dalam hal kurikulum, dipadukan juga dengan kekurangan pengalaman dalam penggunaan metode pembelajaran di 100% tidak sesuai kurikulum, akhirnya; 3. 100% kebebasan, berarti kebebasan dalam menentukan metode pembelajaran. Pada praktiknya, ini berarti kebebasan untuk mengelola kurikulum dengan tantangan bahwa kelayakan keberhasilannya diperjelas.

Pertaruhan

Mungkin karena sudah menyentuh batas pertahanan diri, aku bersiasat tanpa akal sehat. Nilai-nilai moral tak dijadikan lagi parameter untuk menentukan baik-tidaknya tindakanku. Alasanku hanya bagaimana bisa mempertahankan diri dan kemudian mencoba memasuki kancah pertarungan.

Karir di Bekasi mendekatkanku dengan orang pusat kurikulum (Puskur). Dia lah yang kubawa untuk mengukuhkan, memberi argumentasi, dan mendekatkan wajah kekuasaan pada kesalahan teman-teman berlepas 100% dari kurikulum nasional. Kemenangan (yang menyakitkan yang lain ini) kuperoleh. Jalanku untuk bekerja sudah lapang. Aku tak peduli dengan duri yang bertebaran sepanjang jalan.

“3 tahun di Bekasi” selain tugas pokokku, aku juga bertugas menyeleksi buku-buku yang akan dipakai sekolah. Tugas ini membuatku sangat mengenali isi dan pengelolaan buku di negeri ini. Mau berapapun penerbit buku untuk kurikulum yang sama, jangan harap menemukan keragaman pengelolaan isi dan perbedaan sudut pandang dala pengayaannya. Aku juga menunjukkan kepada teman-teman, bahwa keragaman itu dilakukan oleh banyak negara lain. Di banyak negara, jumlah penerbit bisa sepenuhnya berarti jumlah yang sama yang mewakili keragaman. Di Bekasi pula aku membuat beberapa contoh untuk membuktikan bahwa itu bukan perkara sulit. Ini sekadar tidak ada niat baik. Kepentingan bisnis komandonya.

Kau tahu tawaranku yang memalukan pada teman-teman SD Hikmah Teladan? Menjalankan sekolah sesuai kurikulum nasional dengan memperbanyak eksperimen untuk menemukan berbagai model pengelolaan kurikulum. Pengelolaan kurikulum di negeri ini dapat disebut berpijak pada kemampuan sendiri adalah berarti menolak buku paket dan sistem administrasi pendidikan yang birokratis. Kenapa demikian? Sampai saat ini penafsir tunggal kurikulum nasional di negeri ini memang hanya satu: kolusi birokrasi pendidikan dan penerbit buku. Simpulnya, aku tawarkan pada teman-teman untuk menjejaki perjalanan panjang “membuat buku sendiri”. Logis, tapi licik.

Tawaran yang kusampaikan dengan analisis yang kuat itu masih disebut licik karena aku tidak peduli dengan kesiapan teman-teman memikulnya. Aku hanya peduli dengan tegaknya otoritasku. Aku penguasa di kancah ini. Pengalaman dan keahlianku memadai. Sementara teman-teman sebaliknya. Selain itu, sebagai guru, pergulatan dengan anak-anak yang punya kebebasan sangat luas untuk mengekspresikan diri, sungguh sekira 99% kapasitas mereka di sekolah diperuntukkan untuk mengajar dan berinteraksi dengan anak-anak. Telah terjadi pertandingan yang tidak fair. Artinya, dalam situasi demikian, kemungkinan untuk menang yang terus kuperbesar sama dengan memperbesarkan ketidaktahuanku pada dirinya sendiri.  

Kemenangan yang terus diperbesar adalah dalam kapasitasku untuk mengelola dan memproduksi mandiri sumber belajar yang kami gunakan. Pada akhirnya, dalam belenggu kesombongan, aku mengambil alih pekerjaan tersebut. Bahkan, aku pula yang menghadapi semua dampak dari keputusan ini yang disampaikan oleh orangtua. Aku jadi tameng menghadapi kekhawatiran, kekesalan, kekecewaan dan kemarahan orangtua. Lelah dan kuakui ketakutanku pada situasi itu, tapi inilah sumber kebanggaan: menghadapi yang orang lain takut menghadapinya.

Suatu waktu, dibagikan kuisener pada guru-guru SD Hikmah Teladan. Salah satu pertanyaannya, “Apakah keberadaan Litbang masih diperlukan?”. Dari semua guru yang banyak itu, hanya satu yang menjawab “diperlukan”. Aku gamang dan dipaksa menyusuri kembali yang lalu.

Kuceritakan saja cukup pelajarannya: jangan licik. Saling melukaipun bertandinglah dengan fair. Aku lelah euy. Tidak peduli sekecil apapun kapasitasmu, pertandingan yang fair akan memperbesarmu dengan caranya sendiri. Hargai diri dan terima keadaan apa adanya, ayo ikuti pertandingan.

Kini, mungkin 2 tahun ini, aku yang dibesarkan dan dijerumuskan oleh konflik, tetap menyukai konflik. Kubolehkan berkonflik dengan guru, sesama teman di manajemen, dengan orangtua, juga dengan kepentingan yayasan atau dinas pendidikan, kalau alasan untuk semua itu adalah membela kepentingan anak. Sejarahpun telah mengukuhkan keyakinan agar aku mempermalukan diri kalau berkonflik karena masalah pribadi, tarik-menarik kepentingan atau hal-hal semacam itu.

Keseluruhan SMS: Semoga Kabar Baik

Aku ingun berterima kasih padamu, Guruku….(Pa Arifin)
SDHT adalah tempat dimana aku bersama kedua temanku berbagi kegusaran, berbagi kebingungan dan kebimbangan serta ketidakpastian..:)

Awalnya, aku terkadang menyalahkan Pa Arifin akan perasaan kalutku tersebut. Selama hampir 3 tahun aku diomabang-ambing oleh perasaan tak menentu tentang sekolahan.

Akhirnya aku keluar dari SDHT. Namun, ternyata diluar SDHT baru aku temukan esensi yang ingin Pa Arifin sampaikan padaku. Makna tentang mengajarkan nilai hidup pada anak-anak. tentang kehidupan itu sendiri dan tentang mimpi yang harus diraih oleh setiap manusia.
Sunggih dahsyat… aku temukan semuanya.

Maafkan aku karena pernah menyalahkanmu waktu dulu (maklum dulu masih muda..hehe..). Sekarang aku baru menyadari betapa berartinya nilai-nilai yang ingin bapak sampaikan.

I miss u all

With Love
Eva

Categories: MH. Aripin Ali
  1. wie
    December 19, 2008 at 5:21 am

    konfliklah yang seringkali membesarkan seseorang. karena dengan berkonflik kita “dipaksa” berpikir keras untuk bisa menghadapinya, bisa menghadapinya. dan “mungkin” dengan berpikir keras potensi dan kabisa kita jadi muncul. so, supaya menjadi tambah besar, tetaplah membuka ruang-ruang konflik, tetaplah menjadi pa aripin yang selalu keukeuh membela hak anak sehingga harus selalu berhadapan dengan orang-orang yang selalu berpihak pada birokrat.
    BTW, bu eva sudah jadi Kepsek?

  2. hasnildj
    December 26, 2008 at 4:19 pm

    Kang, kebetulan saya menemukan kutipan berikut dari Azim Premji, pebisnis yang dijuluki ‘Bill Gates’ dari India:
    “Bayangkan sebuah sekolah yang melihat anak-anak sebagai benih yang perlu dirawat – disini sang guru adalah juru kebun yang membantu mengeluarkan potensi yang sudah ada di dalam sang anak. Ini sangat berbeda dengan pandangan sekarang yang melihat anak sebagai lempung yang bisa dibentuk-bentuk. Ada peribahasa Cina kuno yang mengatakan,”Berikanlah benih kepada seorang pembuat tembikar dan anda akan mendapatkan sebuah bonsai”.
    Para orang tua yang terhormat, inilah permintaan saya kepada anda. Jangan menyerahkan masa kini anak anda untuk mendapatkan masa depannya. Berikanlah anak anda kebebasan untuk menjelajahi kehidupan dengan sungguh-sungguh. Jika anda melakukan hal ini, anda akan melihat anak anda berkembang menjadi manusia yang kreatif dan sensitif. Dan ketika ini terjadi, yang lainnya – uang, kesuksesan sosial, keamanan – akan datang dengan sendirinya. Biarkan anak anda menjadi seorang anak.”

  3. Yeyen
    January 26, 2009 at 5:11 am

    Pak Aripin.., meski telat saya mengucapkan selamat 40 tahun ya.. semoga selamat dunia akhirat .., saya baru pulang keliling nih.., Bandung, Tasik, Surabaya dan Bitung (Sulawesi Utara).., anak saya sekolah di Tasik (SMP Al Muttaqin) dititip di adik saya..karena itu maunya dia, saya tadinya mencoba bertahan dengan konsep saya agar anak saya tetap nyantri.., akhirnya saya ga tega karena dia makin ingin menyalurkan hobi komputer dan matematikanya itu.., tinggal doa saja yang menyertainya…
    Tentang teori kebebasan di SDHT saya ingin terus belajar.., seperti apa sih intinya, kurikulum nasionalnya di SDHT sudah diolah seperti apa? kurikulum di MI (madrasah Ibtidaiyyah)apa masih layak dipakai ? (pelajaran dari Depag dan Diknas mani numpuk..) teman-teman didaerah masih mengunakan MI…

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: