Home > MH. Aripin Ali > Katanya 40 (5): Suami Takut Istri

Katanya 40 (5): Suami Takut Istri

Aku memimpikan seorang teman, teman dekatku yang cukup lama. Dalam mimpi yang langsung membuatku khawatir itu, temanku sudah bercerai. Aku khawatir karena sudah lama tak mengingatnya, bahkan seperti tak menginginkan pertemuan. Ini semua mendesakku untuk mengusik sisa hari dengan gundah. Kupanjatkan doa, kukirimkan kabar kerinduan, kucoba menyapanya per telepon. Kecuali yang pertama yang tidak kuketahui pengabulannya, kedua upaya lainnya gagal. Kegundahan semakin unjuk gigi.

Sialnya, kelelahan dengan harapan membuatku membela diri. Aku menduga-duga, gerangan kenapa harapanku tidak berbalas? Aku mengingat perjalanan mereka yang terseok-seok, tak hanya sekali tergelincir. Sudah melonggar ikatan mereka, demikian talinya pun semakin melar. Seperti menunggu waktu saja terjadi apa yang dikabarkan mimpiku. Namun bukankah aku demikian? Kurasa demikian. Kuingat komentarnya kalau aku suami takut istri. Inilah yang bisa dilihat orang dari luar. Tentu saja kau benar bila menduga ketimpangan kuasa dalam pembagian peran suami-istri, timbangan itu lebih berat pada istriku. Hanya kupastikan jalanku sudah tak oleng lagi. Terjerambab yang berkali-kali terjadi, membuatku bangun lebih cepat. Yang olengpun bila terjadi tak lepas berdua menjalaninya. Sedangkan dari 2 teman yang kutemui mengenal mereka dekat, kutukan yang lalu menodai lekat perjalanan mereka.

Sudahlah. Kan pada semua cerita manusia, kita tidak tahu alur untuk esok. Engkau punya harapan. Mari kuceritakan yang lalu karena padanya siapa pun bisa dapat pembenaran, syukur kalau kebenaran.

Karena Kelemahanku Sendiri

Aku menilai diri tidak sepadan untuk istriku. Inilah kesimpulan dari setumpuk variabel ‘derajat’ manusia secara umum: ia dari keluarga kaya aku sebaliknya; aku putus kuliah dari perguruan ecek-ecek, ia dari kampus yang kini jadi salah satu dari 5 perguruan tinggi yang mendapat akreditasi baik dari 50 perguruan tinggi yang ikut diakreditasi; keluarganya sukses, sedangkan kakak dan adikku tak lebih baik dariku; dan lain-lain yang terlalu pribadi. Lalu aku bertahan dengan apa?

Pada periode inilah dikenalnya aku sebagai Filsuf Abad Kegelapan. Aku bertahan dengan julukan ini. Beberapa janji atau ambisi muncul dari julukan ini. Sekalipun benar dengannya aku sedikit dapat menitipkan pada dirinya harga diri, pada nyatanya janji dan ambisi itu tidak berhasil dicapai dalam satu periode. Ternyata pengakuan teman-teman terdekatku akan kegelapan pikiranku, tidaknya mereka mempermasalahkan kemiskinan eksistensiku, dan adanya tempat yang nyaman di seputar mereka bagiku menyembunyikan diri; adalah hal sebenarnya yang membuatku bertahan. Bertahan, walau sayup, mengabarkan pada istriku “Aku suamimu!”.

Siapapun yang waras tentu saja akan lelah pada janjinya, aku tak dapat menghindar sampai pada kekalahan. Tak sekali kukatakan pada istriku kalau ia menginginkan perpisahan, jalan itu tak kuhalangi. Yang mengejutkan adalah kukuhnya ia menjaga larangan masa lalunya: tak mengulang tragedi robohnya bangunan cinta sebuah keluarga. Aku diuntungkan. Lebih dari itu, perjalanan ke depan mencekam. Aku diburu membangun harga diri. Baju kehormatan sebagai suami yang sudah compang-camping, perlu kutata lagi. Dua pertanyaan, bisakah aku menata diri dan akankah istriku dapat bertahan? Sungguh, silahkan kau bayangkan, betapa ku dicengkram banyak takut yang berurut menjadi sebab dan akibat.

Karena Mengalah

Aku senang merenung. Segala yang lalu yang ingin kusingkirkan, untuk diri sendiri, kurenungkan hanya jalan ke depan. Sebaliknya, kini yang baik dari istriku, masa lalu istri menjadi kancah perenunganku. Kau tanya banyak hal, peristiwa dan kejadian yang dialami istriku, aku akan memberikan cerita selancar istriku bertutur. Namanya juga merenung, dari masa lalu, aku menjawab berbagai pertanyaan saat ini tentang kepribadian istriku. Setidaknya 2 sifat istriku terkait dengan kenapa aku nampak sebagai suami takut istri: ia egois dan biasa menyimpan kesal, kecewa, marah, salah dan kurang yang lain untuk memperbesar kekuatan serangannya pada yang lain. Benar, terutama padaku.

Mungkin ungkapan mengalah untuk menang, adalah caraku menghadapi kedua sifat terkuat istriku, yang tentu saja menjadi sifat terkuat karena akibat relasi dengan keterbatasanku. Istriku itu bisa tiba-tiba marah. Kemarahan yang membuat aku terpana. Betapa tidak. Aku yang belajar tahu diri dengan selalu menjaga suasana hatinya, tentu saja terperangah menjadi tertuduh dengan kesalahan yang tidak bisa ditebak asal usulnya. Beberapa kesempatan hanya membuatku terpana, beberapa kesempatan lain membuatku menggugat.

Aku belajar mengalah setelah istriku sempat mengurai tuduhannya. Bila kemarahan itu seumpama sepiring nasi, istriku mengumpulnya sebutir-sebutir. Lama, tekun, dan mengesankan. Itulah istriku. Aku tak bisa mengelak. Jika ia marah besar yang tak kukenali penyebab (langsungnya pada diriku), kurayukupuja ia untuk mau bercerita: Konon aku pernah melakukan… ; one upon times aku menyinggungnya… ; syahdan aku melupakan… . Ih, dia suka tersenyum menontonku mengumpul fakta, menabung argumen.

Karena Aku Memujanya

Ibu mertua cukup lama melecehkanku. Aku paham akan duka yang harus dipikul seorang ibu yang putrinya ditelantarkan. Aku menerimanya. Sampai cerita aku bekerja sebagai anggota redaksi sebuah majalah anak dan bergaji cukup. Melihat anaknya sudah membeli kebutuhan sehari-hari dan menitipkan uang untuk makan sehari-hari, ibu mertua mencatatkan bahwa aku bisa berubah. Ada catatan untuk harapan anaknya ditemani suami yang punya tanggung jawab. Saat-saat aku pulang adalah saat aku tergesa ditanya, “Ayah mau dimasakin apa?” Bukan dari istriku, tapi dari ibu mertua.

Setelah kebanggaanku sebagai suami dan menantu pulih, istriku menilai aku siap untuk mendengar sebuah peristiwa yang ia sembunyikan rapat-rapat selama hampir 2 tahun. Aku masih marah.

Sekitar 2 tahun yang lalu, keluarga istriku sudah terhina (kali) mengetahui anggota keluarga yang dinilai paling berhasil, istriku, dibawa hidup menggelandang. Aku memang sedang hidup dengan bertumpu belas kasih. Kami berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Aku hanya bisa menjadi jongos biar mungkin yang menerima punya alasan untuk tulus. Ternyata semua diketahui keluarga besar istriku. Ia pun diculik. Suatu sore, saat aku pulang ke rumah yang kami singgahi, secarik kertas melukai hatiku teramat dalam. Istriku dibawa beramai-ramai oleh keluarganya pulang ke Tasikmalaya. Di kota kelahirannya ia segera mengikuti sidang dengan agenda, memintanya untuk bercerai.

Hari itu, hari kedua saat aku pulang ke Tasikmalaya dan selepas menikmati “Sayur Lodeh” ibu mertua, istriku menceritakan semuanya. Pula menceritakan kemarahannya, karena ada yang berani mengusik ikatan di antara aku, dia, dan si kecil tercinta. Kau tahu yang kubawa dalam kehinaan, yang kumiskinkan kebutuhannya, yang kuterlantarkan kehidupannya, mempertontonkan dengan gagah pembelaan padaku. Aku tak bisa mengelak memujanya. Aku tak menghindar menghamba untuk keriangannya.

Jawabannya

Memang ada beberapa orang mengatakan aku suami takut istri. Betulkah? Kutanyakan saja demikian pada istriku. Ia menjawab: Rasanya Ibu tidak menakutkan. Bagaimana menakutkan kalau ketemu kecoa saja jerit-jerit.

Ada banyak hampir yang menakutkan bagi kehidupan rumahtanggaku. Namun demikian, sampai saat ini, hanya satu nama yang kerap membuat aku gusar pernah sungguh dapat mencintai. Aku memang terus belajar lebih mencintai, namun aku hanya punya satu yang dipuja.

Categories: MH. Aripin Ali
  1. December 10, 2008 at 8:51 am

    Membaca cerita ini membawaku pada kesimpulan bahwa apa yang tampak secara lahiriah sesungguhnya realitasnya tidak sepadan dengan apa yang kita persepsi.
    Rasa syukur atas setiap karunia yang kita terima, sejatinya akan menghilangkan rasa dengki. Ah, aku mau komentar banyak. Tetapi lisanku terlalu kelu. Mungkin aku jarang merenung. Aku sedikit bertanya. Perenunganku, seringnya menjadikan aku tertidur (sic!). Maka itu, aku lebih sering melakoninya tanpa bertanya. Pernah kubertanya atas semua yang kujalani, buntutnya aku stres dan jalan di tempat.
    Itulah, makanya aku menikmati pertemanan ini karena kau sering menjadikan merenung. Setidaknya, dengan membaca blog ini, aku ikut merenung, kawan.
    Semoga kautabah.

  2. sbachrun
    December 12, 2008 at 6:11 am

    Berapa banyak suami yang berjanji ke istrinya. Tertatih-tatih mencoba merealisasikan, gagal, dilecehkan, dan terluka kehormatannya?
    Aku ingat sinetron seorang supir metromini. “Kau harus tidak bermalu lagi, ingat anak istrimu.”
    Tapi ada banyak ungkapan kegalauan mengiringi…..bernada ideal..materi.. nyatanya gak bisa…

    Mudah2an aku bisa merasai..!

  3. September 27, 2013 at 1:31 am

    nice infoh gan

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: