Home > Forum Paralel, MH. Aripin Ali > Katanya 40 (3): Raja Ali Muhammad Raihan (1)

Katanya 40 (3): Raja Ali Muhammad Raihan (1)

Sejak anak yang pertama, aku sudah tahu hadis yang mengatakan anak usia 0-7 tahun itu raja. Aku juga meneguhkan selama itu, raja ya raja yang sangat berkuasa seperti halnya raja-raja yang dikenal masyarakat Arab saat itu, bukan raja dengan catatan ini dan itu seperti halnya Sultan Hamengkubuwono, Raja Thailand, Ratu Elizabeth. Karena kebodohanku dan keterbatasanku, saja pada anak ke-1 dan 2 aku (dan istriku. {Dalam kurung karena aku belum konfirmasi}) raja itu. Kalau raja (dan ratunya)nya lagi romantis, anak berada dalam lingkungan demokratis; kalau rajanya stress, dan pada saat 0-7 tahun anak yang pertama inilah yang menjadi sebagian besar pengisi perjalanan hidupku, maka anak jadi budak. 

Ali Muhammad Raihan, nama anakku yang ketiga yang hari ini sedang di Palembang mengikuti ibunya yang kembali bertugas di UNSRI. Raihan terambil dari Raihanatain yang merupakan salah satu nama panggilan Ali bin Abi Thalib. Nama Muhammad pun diapit nama Ali. Artinya persis seperti itu. Tafsirnya silahkan duga. Dan, dialah yang pada usia menjelang 4 tahun leluasa menyebutnya sebagai raja. Berikut ini beberapa peristiwa yang mendorongku menyandangkan gelar raja pada Ali.

Franklin di Rumah Sakit

Sewaktu aku bercakap-cakap via handphone dengan istriku, terdengar sangat jelas (maklum mereka kost di kamar ukuran 2,5M – 3 M) suara Ali yang membaca buku “Franklin di Rumah Sakit”. Aku juga tahu isi bukunya, maka terheran-heran aku setelah membenarkan pergerakan dari satu halaman ke halaman lain. Aku juga baru tahu ia bisa ‘membaca’ dengan intonasi yang mengikuti arah makna teks. Kok?

Istriku menceritakan kalau Ali memang sedang gandrung membaca. Setiap halaman dia ‘baca’ nyaring dengan bahasanya sendiri dengan 2 catatan: kata-kata kuncinya digunakan dan kadang-kadang membaca persis sebuah kalimat. Buku-buku Franklin yang halamannya berkisar antara 20-30 halaman, katanya untuk kasus buku “Franklin di Rumah Sakit”, Ali bisa ‘membaca’nya sampai selesai.

Aku perlu tegaskan bahwa hal tersebut tidak terjadi sebelumnya. Selama di Cimahi, karena buku, juga filem punya Ali banyak, aku hanya dapat mengatakan tak ada hari tanpa ‘membaca’ buku atau nonton DVD filem. Jenis bukunya beragam, tidak hanya cerita seperti Franklin, ada juga buku-buku pengetahuan, atau buku ‘orang dewasa’ yang ibunya sedang baca namun membacanya nyaring. Ali nimbrung. Nah, karena alasan ke Palembang tidak diantar suami, hanya 1 buku yang dapat dibawanya. Buku masih lumayan 1 dibawa, kalau filem semuanya ditinggal.

Kurasa dunia buku berpengaruh banyak pada Ali. Perhatikan apa pengaruh buku pengetahuan populer tentang pesawat pada Ali, seperti tergambar dari SMS istriku, 10-11-2008: Ali terlalu semangat mau naik pesawat, jadi dia nyaris tidak tidur sejak pergi dari rumah. Nyampe bandara kepagian, 03.30. Gantian sama Ali ke WC, sakit perut. Ali makin semangat ketika di ruang tunggu setelah check in dan lihat banyak pesawat dengan jelas. Tapi setelah masuk jadi agak bete karena harus pake sabuk pengaman.

Analisis

Kenapa dalam hitungan sekitar 3 pekan Ali jadi bisa ‘membaca’ nyaring dengan intonasi yang benar buku “Franklin di Rumah Sakit”? Penyebabnya ternyata karena Ali cuma bawa satu buku ke Palembang. Cuma satu-satunya buku ini menyebabkan kebiasaan ‘membaca’ (:memain-mainkan buku, melihat-lihat gambarnya, kerap dibacakan buku atau mendengarkan dongeng, menebak gambar yang dibacakan, atau merujukkan peristiwa keseharian dengan buku, dan lain-lain) dan rasa senang yang biasa tertumpah kepada banyak buku dengan beragam tema dan jenis, kini harus ditumpahkan semuanya pada “Franklin di Rumah Sakit”.

Jawabannya sudah ketahuan dan tak perlu analisis. Cuma karena tak sengaja tadi kusampaikan peristiwa ini di Forum Parallel kelas 3, aku dipaksa mencari penjelasan akan relevansi ceritaku dengan forum ini, dengan urusan persekolahan. Kayaknya di kesempatan ini aku menganalisis. Pertanyaan analitik pertama adalah manakah yang lebih baik buat Ali, berkutat dengan satu buku sehingga ia bisa ‘membaca’ atau berkubang dengan banyak buku sebebasnya atau suka-sukanya sendiri?

Banyaknya buku dalam jumlah, bentuk dan jenis yang memenuhi hasrat Ali untuk suka-sukanya sendiri bergaul dengan buku, telah membuatnya menjalankan ritual (membaca buku) yang menyenangkan. Ritual dengan penghayatan yang emosional. Inilah dunia buku dengan budayanya. Karena jadi ritual dan rasa senang yang berkelanjutan, aku sungguh dalam tingkat yakin untuk mengatakan bahwa ‘budaya baca’ sudah ada pada anakku. Kapasitas otak manusia, dalam hal ini Ali sebagai anak-anak, ternyata mampu untuk menjejak (baru langkah awal, lho!) ‘budaya baca’ telah terbukti; maka adalah kerugian besar dan kebodohan kalau ‘budaya baca’ yang baru langkah pertama dijejakinya, tidak digunakkan untuk melangkah tak terbatas, untuk menantang akal membuktikan kemuliannya.

Hai, kau tahu, ketika aku menyebutkan “Banyaknya buku dalam jumlah, bentuk dan jenis yang memenuhi hasrat…”, aku seperti menyebutkan bahwa alam semesta, kenyataan sosial, diri sendiri, dan agama adalah sumber pengetahuan yang given bagi kita. Suka-sukaku, inilah yang kini menjadi sangat sempit menjadi apa yang disebut mata pelajaran. Sedangkan ketika aku menyatakan “kebiasaan ‘membaca’ (:memain-mainkan buku, melihat-lihat gambarnya, kerap dibacakan buku atau mendengarkan dongeng, menebak gambar yang dibacakan, atau merujukkan peristiwa keseharian dengan buku, dan lain-lain)”, bila kubayangkan suasana emosinya, aku teringat dengan budaya belajar. Di sana ada rasa ingin tahu, kebebasan berekspresi, kesenangan bertanya dan berpendapat, kosentrasi, suka mencoba-coba, bosanan, dan kerja keras alias ngotot. Suka-sukaku juga, ketika pengetahuan yang given dikerdilkan sebagai mata pelajaran, budaya belajar mengkerdil menjadi kewajiban belajar, belajar menjadi formal, mekanik. Hati yang bergejolak, emosi yang meriah, juga kesyahduan harapan sudah pupus.

Dunia sekolah saat ini adalah dunia yang terpana dengan “Franklin di Rumah Sakit”, terpana dengan mata pelajaran. Dunia sekolah saat ini adalah dunia yang berbangga diri karena ‘bisa membaca’ buku “Franklin di Rumah Sakit”. Mereka iklankan ini seraya mengikis budaya belajar. Mereka buat standarisasi ‘bisa membaca’ buku “Franklin di Rumah Sakit” dengan menepiskan etos keilmuan. Anehnya, setelah kini diketahui akibat buruknya, semuanya seperti sudah terlanjur. Atau sebenarnya, memang kita kekurangan kebahagiaan, sehingga alih-alih kembali ke buku-buku Ali di Cimahi, kita malah mencoba menggantikan buku “Franklin di Rumah Sakit” dengan buku lain yang dibawa melalui jalan yang sama.

  1. eva
    December 8, 2008 at 3:01 pm

    Ooo.. Ali sekarang ada di Palembang?

    Senang sekali membaca ketakjuban perubahan pada diri Ali. Sejauh perkenalan saya dengan Ali,
    Kecerdasan dan rasa ingin tahu Ali memang sudah nampak sebelum Ali ke Palembang.

    Good Bless U

  2. eva
    December 8, 2008 at 3:03 pm

    Oooo.. Ali sekarang ada di Palembang?

    Senang sekali membaca ketakjuban perubahan pada diri Ali. Sejauh perkenalan saya dengan Ali. kecerdasan dan rasa ingin tahu Ali memang sudah nampak sebelum Ali ke palembang.🙂

    God Bless U

  3. quarkie
    December 19, 2008 at 2:33 pm

    Saya masih ingat buku pertama yang bisa saya baca sendiri. Sebuah kumpulan cerita anak-anak yang mengajarkan makna budi pekerti. Saya masih ingat kekaguman ayah ketika saya baca buku sejarah dunia di umur 8. Saya masih ingat koleksi buku sosialisme yang saya jadikan kitab suci, ketika saya kehilangan makna hidup. Saya masih ingat buku-buku mana yang saya pinjam selamanya dan dari perpustakaan yang mana. Saya bahkan masih bisa mengingat dengan jelas ilustrasi yang begitu menarik dari buku-buku impor yang sering dibacakan ibu ketika saya bahkan belum mengenal huruf. Saya yakin kelak ananda akan ingat buku-buku bergambar yang dicoret-coret dan dirobeknya ketika ia masih balita.

  4. aripin
    December 22, 2008 at 2:28 am

    Apakabar, Pak?
    Saya sudah merasa akan kehilangan teman yang kritis setelah beberapa kesempatan kehilangan komentar. Terimakasih mengunjungi saya lagi.
    Saya sebaliknya euy, tidak melalui masa kecil dengan buku, juga tidak satu kali pun didongengi. Buku saya sungai, kolam, sawah, kambing dan belantara. Istri saya sekalipun kutu buku, itu setelah dia bisa membaca, tertular dari kakaknya yang perempuan. Kami berdua tidak dapat mengenang orangtua yang membacakan buku, mendongeng, atau yang kerap keliatan membaca buku. Kami hanya mengenal kebiasaan membaca untuk diri sendiri.
    Menarik untuk diamati munculnya kesenangan membaca di ketiga anakku. Adry mengalami periode yang betul-betul bisa disebut bermain dengan buku: teksnya kadang dibacakan, gambarnya sungguh memikat, kertasnya bisa diraba, dihamparkan, disobek-sobek, dan (ensiklopedi yang sudah lusuh dan lembaran-lembarannya berlepasan). Entah kenapa, Adry menjadi perintis di keluarganya sebagai penggila komik. Beberapakali ia bolos sekolah karena nongkrong di taman bacaan, lupa solat karena tak mau jeda menamatkan berjilid-jilid komik, dengan komik Adry banyak bikin sensasi. Adry membaca novel di kelas 6. Ia kini pembaca apa saja. Tidak ada minat, tidak punya ‘pandangan hidup’ yang memilih dan memilah bacaan.
    Azmi seperti Adry tidak didongengi, sangat jarang dibacakan buku, namun Azmi juga kehilangan eknsiklopedi lusuh kakaknya yang sudah dirapihkan dan terlupakan pada sebuah kardus. Azmi hanya melihat ayah-ibu dan kakaknya membaca. Sampai saat ini Azmi kelas 6, ia masih sulit diajak membaca novel, padahal komik pun dia tidak suka. Buku sekolah saja yang dibaca Azmi. Buku lain hanya bisa dikatakan sesekali dibaca dan tanpa antusiasme. Mengetahui kecerdasan bahasa dan interpersonal Azmi yang menonjol, saya tentu saja berkepentingan membuat bahasa baginya adalah kedalaman pikiran, tafsiran kebenaran, dan lontaran hikmah. Saya sempat memaksakan Azmi menyukai buku. Bukan ini yang diperoleh, malah saya dikejutkan dengan Azmi (ketika membaca komik Budha) penolakan ideologis Azmi terhadap teks. Dalam membaca, Azmi juga bertualang bukan bertualang dengan makna tapi dengan kata. Dalam membaca ia harus mengerti setiap kata, dan menyerap penggunaannya dalam kalimat, kemudian dengan kecepatan dan ketepatan konteks yang mencolok dibanding kami (juga dikenali demikian di sekolahnya), ia menghidupkannya saat berkomunikasi lisan. Saya masih ada ganjalan dengan kecenderungan Azmi.
    Ali, jalannya seperti Bapak. Bukunya berlimpah, hampir setiap hari bersentuhan dengan buku, juga setiap hari membuat ibunya lelah karena minta dibacakan lebih dari satu buku.
    Bapaknya ketiga anak itu, mengenali membaca ketika remaja. Celakanya (sama kali dengan beruntungnya) buku yang mengubahnya catatan harian Ahmad Wahib. Di sini mmembaca sama dengan mempertanyakan, bahkan memberontak. Membaca “Ahmad Wahib” juga sama dengan tumbuhnya kepenasaran pada kebenaran yang lain.
    Salam.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: