Home > MuridKusekolah > Anak-Anak 10%

Anak-Anak 10%

Istilah “Anak-anak 10%” muncul dalam diskusi dengan teman-teman Semesta Hati mengenai proyek yang sudah mereka jalankan. Memang, salah satunya, aku bertanya kenapa laporan pelaksanaan proyek itu dipresentasikan oleh guru kepada orangtua yang bahkan tidak disertai anak-anak mereka, bukan langsung oleh anak-anak. Sebelumnya di rumah aku juga sempat bertanya kepada anakku apakah pekerjaannya berkaitan dengan proyek sekolah yang kerap membuatnya belajar dan mengerjakan sampai larut malam pernah dipresentasikan di depan teman-temannya. Jawaban “tidak” sungguh mengejutkanku. Namun dalam diskusi, kritikku tak terlontar ketika disebutkan oleh kepala sekolah “Itulah anak-anak kita. Masih 10%.” Guru-guru yang hadir menguatkan.

10% itu berarti banyak. Kasus di Semesta Hati adalah fokus kegiatan sekolah pada masalah psikologis anak. Boleh lah disebut yang penting anak-anak senang sekolah dulu. Di sebuah sekolah lain anak yang sebelumnya tidak naik kelas, seharusnya tidak naik kelas lagi, kecuali setelah ia menjadi juara 3 Bulutangksis tingkat propinsi. Seperti 10% itu berarti ada hal lain setelah tidak adanya kelayakan akademis.

10% yang Dihargai

Anak-anak 10% biasanya merata kurang di seluruh akademis, kepercayaan diri sangat rendah, dan semua ini, menyebabkannya tidak mendapat dukungan sekolah. Keengganan berteman dengan mereka, pengucilan, dan seperti dikeluhkan orang tua “Anak saya jadi jongos”, juga penindasan adalah perlakuan yang biasa diterima anak-anak 10%. Kalaupun tentunya bukan tindakan masal, sebuah sekolah yang mempersilahkan anak dengan catatan apapun jadi siswanya, tidak dapat menghindar dari kenyataan adanya anak yang menikmati kelemahan dan kekurangan yang lain. Begitu juga adanya orangtua yang aneh dan takut dengan kekurangan (psikologis dan mental) dari anak yang lain, sekaligus berbangga diri dengan anaknya yang siapa dulu ibunya. Persis hanya guru yang tidak boleh diskriminatif, berprasangka buruk, terus mendidik, terus meyakini bahwa kehidupan memberi tempat yang sama layak bagi yang kekurangan.

Di SD Hikmah Teladan juga di Semesta Hati aku menemukan guru-guru demikian. Namun ada perbedaan dalam hasilnya. Ini pengalamanku dengan anak-anak 10% yang semula siswi SD Hikmah Teladan kemudian menjadi siswi SMP Semesta Hati. Anak yang pertama, kini kelas 3 SMP, masuk ke SD Hikmah Teladan saat kelas 4. Katanya ia hypersensitif secara sosial. Sebagaimana kami menerimanya dengan senang hati, kami pun memberikan perhatian dan penghargaan. Sayang si anak masuk ke kelas dengan beberapa teman yang senang membangun konflik, seperti di senetron yang aku sebal melihatnya itu lho. Tiada hari tanpa menangis, tiada hari tanpa keributan, inilah akibat pertemuan yang satu terlalu lemah yang satu lagi terlalu kuat. Semua lelah. Si anak diputuskan untuk bersekolah di rumah yang dijalaninya setahun lebih. Setahun lebih tidak menginjakkan kaki ke sekolah dan belajar di rumah pun tidak terlalu sering, jarang serius alias guru seringnya jadi tempat curhat; menakjubkan, ketika ikut ujian nasional sebagai siswa SD Hikmah Teladan, ia lulus dengan upayanya sendiri. Ia juga hebat bisa diterima di MTs Asih Putera. Sayang hanya kuat beberapa bulan, lalu dengan beberapa temanku ia kembali sekolah di rumah selama hampir 3 tahun. Ia tetap anak yang tidak mau menjalin komunikasi, menghindar keramaian, penakut, semua penguasaan akademis di bawah rata-rata.

Anak yang kedua masuk SD Hikmah Teladan kelas 2. Biasa ditolak di sekolah lain, kami yang menerima. Biasa dinyatakan tidak akan naik kelas kecuali kalau pindah, SD Hikmah Teladan yang menerima. Aku saat itu mengajar Matematika. Aku mengenalnya baik. Apa yang sungguh kuingat? Raut wajahnya keras, kaku, tanpa ekspresi. Tak bisa ia menyungingkan senyuman untuk sebuah kegembiraan. Tak bisa ia cemberut kalau digoda. Berhubungan dengan anak ini, bukan pengalaman bagaimana mengajarnya Matematika yang aku ingat, tapi kebiasaanku mengoda, mengelitiknya, bertahun-tahun mengharapkan senyuman. Bagaimana dengan teman-teman sekelasnya yang sekitar 25 orang dan 2 kelas lain dengan jumlah masing-masing sekitar itu?

Aku tidak tahu persis karena angkatan ini memang sangat banyak menyodorkan masalah yang hebat-hebat. Dua perempuan yang sama-sama memimpin geng, masing-masing pernah mengembangkan konflik yang melibatkan kedua orangtua mereka. Kemudian juga ada anak laki yang paling pandai, cukup ganteng, namun dengan latar belakang keluarga dengan kekerasan rumah tangga, tak pernah kekurangan ide untuk mempengaruhi dan mengatur teman-temannya membuat kericuhan. Anak ini beberapa kali aku yang menangani (berarti guru sudah berlepas tangan). Jadi, tokoh kita memang tidak terlalu terdengar. Namun sekali terdengar, sungguh itu memekakkan telinga. Anak itu mendapat perlakuan yang membuat banyak guru-guru marah mendengarnya. Marah bahwa itu bisa terjadi di SD Hikmah Teladan.

Kedua anak kami ini mendapat perhatian, tapi sekolah kami memang dengan kelas klasikal sehingga perhatian pada yang lain sama diberikan. Memberikan perhatian pada 2 pihak yang berbeda secara ekstrem adalah sulit. Membuka ruang konflik dan kemudian merubah konflik menjadi wacana, menjadi cara yang mendekati asas keadilan. Cuma banyaknya konflik yang tidak terkontrol oleh guru dan pihak sekolah, termasuk dalam hal ini yang terjadi di rumah dan lingkungan sosial anak, tetap saja penguatan kepada anak-anak 10% cukup sulit.

10% yang Dipandang Sebelah Mata

SD Hikmah Teladan adalah contoh sekolah yang telah bergulat dengan anak-anak 10%. Banyak sekolah yang mengabdi pada birokrasi pendidikan (bukan mengabdi pada kemanusian) tidak mungkin punya ruang untuk bergulat demikian. Bila pada umumnya anak-anak 10% kurang dalam hal akademis, sementara kebanyakan sekolah menerima begitu saja mata pelajaran apa yang harus ada di sekolah, menegakkan prinsip-prinsip penilaian yang menapikan di luar mata pelajaran atau apa yang ditentukan kurikulum, sejak awal dipancangkan pengumuman “Anak-anak 10% dilarang masuk”. Memaksakan masuk adalah menjemput penderitaan. Bahkan ketika dulu strata intelektual dibuat dengan nilai rata-rata dan rangking, kini sekolah diwajibkan memberlakukan Kriteria Ketuntasan Minimal di mana nilai terendah yang boleh terjadi beraroma demi gengsi.

Bukan cuma di dunia pendidikan saja anak-anak 10% dipandang sebelah mata, hal yang sama juga terjadi dalam kehidupan sosial kita. Ini mungkin malah membuat kita miris. B Josie Susilo H, Kompas, 29 November 2008, mengingatkan kepada kita “Meskipun fana, dunia tidak pernah mengecualikan… Dan, hal itu menjelaskan, mengapa dari atas kursi roda, teori ledakan besar ditemukan.” Namun demikian yang ditulisnya sedemikian rupa sehingga ia memberi judul “Mereka Bukanlah Aib…”. Inilah masyarakat kita, masyarakat yang terlatih menilik kelemahan yang lain dan menggunakannya untuk membedakan.

Aku mau menulis kembali SMS yang menceritakan tentang anak-anak yang dipandang sebelah mata, tentang anak-anak yang tidak dimuliakan dengan “10%” kasih Tuhan padanya.

Hari ini kami dipanggil sekolah dengan agenda SOS syarat kenaikan kelas. Kami sudah pasrah karena secara akademik bila sesuai target kurikulum Ammar gak mencapainya. Di sela-sela perbincangan yang mengupas sisi kekurangan Ammar dan disaat kami putus asa campur marah karena tidak ada sedikitpun di mata gurunya, Ammar punya potensi, guru BK-nya yang selama ini membenci dan menolak kehadiran Ammar, bercerita dengan menangis bahwa 2 minggu yang lalu guru tersebut sudah kewalahan terhadap perilaku siswa. Teman-teman Ammar cuek bahkan ada yang bersorak karena merasa menang dapat membuat gurunya menangis. Ammar membimbing guru tersebut masuk ke dalam ruangan, kemudian ditenangkan dan dinasehati, yang intinya agar sabar dan tetap doakan agar meraka dapat hidayah. Setelah itu (guru yang lain) cerita bahwa setiap hari Ammar memberi uang kepada tukang parkir yang bisu dan tuli. Tingkat empati yang begitu tinggi benar-benar membuat kami bersyukur. Bisakah bapak/ibu membantu kami untuk memberikan program untuk pengembangannya?

Selesai membaca SMS tersebut aku sungguh dibuat marah. Sungguh memalukan bagiku para pendidik bisa melakukan hal tersebut? Apakah agama Islam juga akan mengijinkan hal tersebut? Heran sepertinya kalau bagian dari tanggung jawab kita sebagai pendidik ditentukan oleh negara, kita kehilangan akal sehat untuk menilai kebenarannya, pun tidak peduli menaati ‘hukum’ itu berarti menistakan nilai-nilai kemanusiaan. Aku juga tidak mengerti pada orang-orang yang dikenal kesalehannya, sisi agama yang dengan begitu indahnya memuliakan manusia dapat terlupakan? Bukankah ini cerita tuhan-tuhan kecil yang mengambil alih kewenangan Tuhan?

10% yang Diistimewakan

Diceritakan Pastor Ferry temanku, tentang anak yang mungkin “nol koma sekian” persen. Ia sungguh tidak berdaya, seperti halnya Stepen Hawking namun dengan ‘kebodohan’ akalnya. Sebagai seorang anak, ia 100% bergantung pada pelayanan dan perlakuan orangtuanya. Dalam bahasa yang tidak sopan, ia ada untuk menyusahkan doang. Sebagai seorang kakak, adiknya lah yang membantu segala keperluannya termasuk menyuapi sang kakak.

Singkat cerita, si Adik yang ganteng sudah kuliah. Ia naksir gadis idola kampus. Jelas lah cantik. Si gadis yang sudah memberikan lampu hijau, sudah mau diajak berkencan, suatu hari dibawa berkunjung ke rumahnya. Di rumah, di ruang tamu di mana si Kakak berada, si Gadis menjadi serba salah. Ia risi. Coba kau gambarkan bagaaimana kalau seorang intelek menyembunyikan bahwa ia jijik dengan yang terlalu berbeda dengan dirinya. Hari itu juga, setelah mengantar pulang, sang Adik memutuskan hubungannya, membiarkan bunga di hati yang bermekaran layu. Ia memenangkan cinta kepada sang Kakak, tapi juga skeptis ada yang mau menerima kenyataan kakaknya.

Singkat cerita lagi, untuk urusan yang lain, kayak kita dulu kerja kelompok, ia membawa seorang perempuan ke rumahnya. DI ruang tamu, sebelum duduk ia menyapa si Kakak seadanya. Aku ceritakan saja ya kemudian mereka diskusi. Di tengah diskusi si Adik meminta waktu untuk menyuapi kakaknya. “Aku saja,” kata sang Tamu. Kata-kata itu menyihir gairah pada ketulusan menjadi kobaran cinta. Si Adik berhutang pada kakaknya untuk seorang istri yang memberikan kedamaian dan anak-anak.

Cerita Pastor Ferry membuatku yakin bahwa kesempurnaan penciptaan manusia selalu terkait dengan kemuliaan. Sebagaimana kesempurnaan penciptaan, kesempurnaannya juga hadir pada ‘bagian-bagian’, aku yakin kemuliaan manusia punya seribusatu wajah. Ada seribusatu jalan menuju kemuliaan sebagai manusia. Aih serius euy.

He Ah Lee, pianis yang menjadi bukti kemuliaan ciptaan Tuhan, adalah contoh lain. “10%” He adalah lahir cacat dengan jari capit, kaki setinggi lutut, dan dengan gangguan mental. Karena hati di balik mata yang hanya melihat keistimewaan, He sungguh jadi anak istimewa, sang Ibu pun kehadirannya teramat istimewa.

Dari SD Hikmah Teladan ke Semesta Hati

Permasalahannya guru yang peduli tidak ada 1% dan mereka ini termasuk guru yang tidak disukai pembuat kebijakan, karena mereka tidak mau academic orientid saja sebagai indikator sukses pembelajaran. Kedua, teman-teman Ammar social sensenya amat rendah, sehingga kurang bisa menghargai sikap Ammar, sehingga Ammar dikucilkan temannya dengan alasan sok alim, tak gaul dan tidak level. Jadi Ammar mempunyai dualisme sistem nilai. Moral values kurang terbebtuk di sekolah.

Bayangkan, hai teman-temanku, “anak-anak 10%” hanya dipedulikan 1% guru. Kupikir 0% kalau apakah sistem pendidikan kita menghargai mereka atau tidak. Namun demikian, kucatat di sini bagian yang sangat penting dari SMS di atas, yaitu urusan fair play. Mari kita balik dulu ke 2 siswi SD Hikmah Teladan yang tadi dibicarakan.

Kedua siswi SD Hikmah Teladan didukung guru-guru dan sistem sekolah pun membuat nyaman proses belajar mereka. Sekalipun sampai menjelang akhir tahun di kelas 6, posisi mereka berhadapan dengan mata pelajaran sama dengan saat kenaikan, yaitu tidak layak untu naik kelas, namun akhirnya, ya itu tadi, mereka sampai kelas 6. Pertanyaannya kenapa tidak ada perubahan signifikan? Kenapa hanya diceritakan perubahan yang remeh-temeh? Kenapa ada anak yang kami temani selama 7 tahun, hanya begitu-begitu saja perubahannya?

Guru-guru yang baik, sekolah yang mendukung, dan orangtua yang peduli dan sayang, adalah tempat yang memberikan kenyamanan. Anak menerima dirinya. Tetapi, aku lupa ini, kemampuan anak untuk mengeluarkan “10%” kapasitasnya berkaitan dengan keberadaannya di antara teman-teman sekelas. Jika dari teman-teman sekelas kenyataannya ia mendapat beban yang lebih besar, energi perubahan yang “10%” akan tersumbat lagi. Ia masih harus berada di lingkungan yang nyaman untuk mengenali “10%” dirinya yang berbeda dengan yang lain. Seharusnya ia punya kesempatan mengenali yang lain dengan didahului penerimaan pada dirinya sendiri. Ia harus mengenali teman sekelas dari teman dekat yang menghargainya. Ia belajar menerima kenyataan lingkungan sekolah setelah lingkungan keluarga memberinya kemampuan bersosialisasi. Jadi bingung. Intinya, anak-anak SD Hikmah Teladan yang semua punya ruang mengekspresikan diri adalah kenyataan yang sungguh pelik untuk dipahami anak, apalagi untuk berkomunikasi dalam lingkungan demikian beragam.

Sederhanya, aku sudah cape, di Semesta Hati, dalam ungkapan seorang anak “Di sini tidak ada yang iri.” Dia hanya punya satu dua teman sekelas, dan baik-baik pula. Tidak ada yang menghalanginya untuk memperkenalkan diri lebih jauh: Inilah Aku.

Lalu apa yang dimaksud fairplay? Sekolahkan Ammar di sekolah yang 100% guru mendukungnya, sistem sekolah memberikan rasa aman yang seluas-luasnya, sekolah berpihak dan melakukan pembelaan, dan kelas kecil. Kelas kecil yang aman adalah hal yang lama kulupakan.

Categories: MuridKusekolah
  1. truntum
    December 3, 2008 at 5:09 am

    saya rasa para guru dan juga pengasuh di dalam sebuah komunitas anak-anak perlu menyadari kembali tujuan pendidikan yang berujung pada perubahan pada anak, perubahan ke arah yang lebih baik. anak-anak yang dianggap 10% dalam pengertian apapun justu harus diberi perhatian bukannya dipinggirkan. tentu saja kita perlu meningkatkan kemampuan untuk menangani anak-anak.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: