Home > MH. Aripin Ali > Katanya 40 (2): My Girl dan Tukang Baiat

Katanya 40 (2): My Girl dan Tukang Baiat

Pada penerimaan guru SD Hikmah Teladan tahun 2003 lolos seleksi seorang yang pernah menjadi ketua PII (Pelajar Islam Indonesia) Jawa Barat. Karena aku juga pernah aktif di PII, aku pun serta merta mengenalkan diri. Nama, periode aktif, kenal dengan itu dong, kenal dengan ini dong. Beberapa hari kemudian, ia menyampaikan pesan kakaknya yang juga aktivis PII: hat-hati dengan kang Aripin. Tukang baiat.

Baiat itu sumpah setia. Sampai PII dibubarkan karena tidak mengakui Azas Tunggal, PII di kabupaten Tasikmalaya memang identik dengan sebuah gerakan bawah tanah yang atas nama permintaan istriku kusebut saja “Makar”. Yang disebut aktivis PII hampir dapat dipastikan telah berbaiat ke “Makar”. Aku sendiri berbaiat waktu SMA bersama-sama dengan teman seangkatan di Pantai Pangandaran. Jangan tanya alasan dan ketulusan. Aku setia kawan saja pada teman-teman pengajian. Kenyataan inilah yang membuat aku terperangah dengan cap Tukang Baiat. Bila untuk dirinya sendiri tak ada ketulusan dan penyerahan diri dalam berbaiat bagaimana aku jadi Tukang Baiat?

Yang Hampir Mempermalukan

Membaiat itu mudah. Panduan yang berisi ayat-ayat politik (tentang kehidupan berjamaah) yang selalu menggiring orang pada pengenalan bahwa ini (“Makar”) jalan ke Surga, yang lain jalan ke neraka, membuat orang terjebak. Namun pertanyaan bagaimana mungkin orang Muslim yang bukan “Makar” masuk neraka, terkubur oleh surga yang ditawarkan sebagai hak eksklusif. Hanya karena aku sempat mengingat ibuku yang kerap kubuat lelah dan sedih belum berbaiat, aku tak percaya Tuhan bermain-main dengan memasukan ibuku ke neraka karena hal murahan.

Aku menyetujui kekuatan dan kemenangan membutuhkan kehidupan berjamaah, tapi ini berlaku umum. Ini yang membuatku, sekalipun sebagai salah satu pendakwah untuk kalangan anak-anak SMA, tak pernah sekedar hendak pun membaiat seseorang. Sedangkan menggiring orang untuk hidup berjamaah, aku pernah 2 kali. Pada sekelompok anak-anak perempuan tingkat SMP dan SMA, di mana yang kelak jadi istriku salah satunya, dan pada sekelompok anak laki-laki usia SMA yang kini beberapa di antara mereka yang tak mempermasalahkan pemurtadanku oleh “Makar” menjadi sahabat-sahabat terbaikku.

Kelompok perempuan yang akan kudakwahi hanya satu, dua yang kukenal. Yang lain kukenal darimana kelompok asal mereka datang. Satu yang sama sekali tak kukenal sebelumnya, dialah yang kini jadi permaisuriku. Aku mulai dengan materiku. Semua diam. Mereka memang tinggal mengikuti jalan yang sudah ditapaki keluarganya. Aku hanya bagian dari ritual saja. “Silahkan sekarang kalian tinggal menentukan pilihan,” kataku seraya mengangkat pantat untuk menemui teman-teman. Aku duduk kembali saat suara yang baru kukenal samar terdengar, “Saya mau bertanya!”

Semua materi yang kusampaikan dipertanyakan dengan merunutnya kembali ke awal. Kenapa? Apa gunanya? Bagaimana? Siapa? Entahlah. Yang jelas yang semula doktrin kini jadi wacana, yang semula dogma kini jadi tafsir. Di tempat yang temaram itu, kami seakan jadi hanya berdua. Aku pun memoles jalan ragu dengan akal sehat. Sebuah permulaan, juga dapat dijadikan asal dari alasan pemberontakkanku.

Si penanya tak pelak menanamkan kebanggaan padaku sebagai orang yang berpikir. Akibatnya, buku-buku yang membicarakan agama dengan pisau filsafat menjadi buku yang kuburu. Bukan cuma itu, sepertinya aku tak mau kehilangan pikat si Penanya. Kegelisahanku kini menjadi gengsi. Membaca buku filsafat pun sudah mulai dipertontonkan.

Filsuf Abad Kegelapan

Membaca buku (di luar buku akademik) adalah pengalaman baru dalam hidupku. Membaca buku filsafat adalah peristiwa tiba-tiba dalam hidupku. Aku cuma kena teluh si Penanya. Juga, aku mengikut bawah sadarku yang menunjukkan kecintaan pada dialektika, mungkin juga pada pemberontakan. Terlonjak dalamkegembiraan bila aku menemukan yang berbeda dengan pandangan resmi lembaga (kelompok kecil kami yang mengkaitkan diri dengan “Makar”). Yang berbeda itu, bukan kuasaku sungguh memahaminya. Kepada doktrin dan nilai-nilai lembaga, aku kerap mengatakan ada yang lain, ada yang berbeda, ada yang lebih kupahami, ada penjelasan lebih baik, dan kadang kuakhiri dengan ada yang lebih baik. Sayang seribu sayang aku memang bodoh untuk menjelaskan kelebihbaikan yang lain itu. Akibatnya, aku melahirkan kelompok peragu, kelompok tak loyal. Aku digelari Filsuf Abad Kegelapan.

Namun kegelapan dapat jadi temaram bila aku disangsikan dengan pertanyaan. Kau kuberitahu, Si Penanya lah yang menemani perjalanan batinku dengan menjelma menjadi si Penyangsi. Ia yang dulu 3 SMA ketika jadi si Penanya, kini sebagai si Penyangsi adalah mahasiswi ITB. Kau dapat menebak tentunya kalau jati diriku yang menikmati kegelisahan dan pencarian mendapat prestis baru. Ah, mengingat kebanggaan yang menggelegak ketika kudapat menjelaskan pemikiran Ali Syariati tentang manusia kepadanya (dan beberapa teman lain yang di antaranya menaruh hati padaku), aku seperti harus mengingat-ingat kembali saat-saat mencuri-curi pandang.  

Categories: MH. Aripin Ali
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: