Home > Forum Paralel > Pembagian Kerja yang Kabur atau Bekerja Masing-masing

Pembagian Kerja yang Kabur atau Bekerja Masing-masing

Hari ini, 25 November, Forum Parallel dengan guru-guru kelas 2. Ibu-ibu, tentu saja muda-muda, semuanya cerewet. Forum dengan mereka bisa kesana-kemari arah obrolannya. Bebas saja. Namun kondisi seperti ini yang kerap membuat kejutan. Pembicaraan sebenarnya tentang beberapa target program semester yang kemungkinan tidak terpenuhi. Kejutan terlontar saat aku selesai menjelaskan beberapa alternatif untuk memenuhi target itu. Yaitu, tentang pengelolaan Baca Tulis Al-Quran.

1. Metode Membaca Al-Quran

Metode membaca (secara umum) berkisar pada 3 pendekatan: membaca huruf, membaca suku kata, membaca kata. Dalam penggunaan di sekolah atau secara umum, membaca huruf latin (selanjutnya disebut membaca) hanya mengenal metode membaca huruf; sedangkan membaca Al-Quran (selanjutnya disebut mengaji) setelah metode membaca huruf, muncul “Iqra” yang memakai metode suku kata. Sebelum “Iqra” tidak dikenal metode membaca sukukata.

Membaca memang mengenal beberapa metode selain metode membaca huruf: metode membaca kata yang digembar-gemborkan dapat membuat bayi bisa membaca; metode membaca huruf dengan konteks kata yang kutemukan digunakan di beberapa sekolah di Selandia Baru. Kenapa tidak dikenal metode sukukata, karena suku kata sama seperti huruf tidak memiliki rujukan faktual. Rujukan faktual inilah pijakan imajinasi. Secara alamiah sebuah ‘kata’ akan menimbulkan pembayangan.

Lalu kenapa muncul “Iqra” yang, bahkan, menjadi metode mengaji yang diapakai secara umum? Iqra ramai dipakai karena membuat yang belajar mengaji, jauh lebih cepat bisanya. Membaca sebagai keterampilan lah yang dipercepat Iqra. Apakah suasana belajar menjadi lebih menyenangkan, belajar menjadi kontekstual, rasa ingin tahu dan kreativitas lebih dihargai, bukan lah yang disentuh pencapaian target keterampilan membaca. Mungkin ini alasan kenapa “Iqra” berkembang pesat di negeri ini, tapi metode membaca suku kata tidak dikenali di negara-negara yang pendidikannya liberal.  

2. Iqra dan Metode Mengaji Suku Kata Lainnya

Mengaji (sebelum ke Al-Quran) di SD Hikmah Teladan memakai buku Iqra (1-6). Tahun ajaran yang lalu, di kelas 1 dicobakan buku A Ba Ta Sa yang juga memakai pendekatan membaca sukukata. Perbedaan kedua buku ini terutama dari cara ‘menulis’ Al-Quran, termasuk cara menuangkan kaidah membaca dalam tulisan. Buku Iqra merujuk Al-Quran versi (mushaf) Indonesia yang digunakan sebagian besar warga negara Indonesia; sedangkan A Ba Ta Sa merujuk Al-Quran versi Timur Tengah sebagaimana disebutkan teman-teman.  Apa yang terjadi akibat perbedaan versi penulisan Al-Quran ini?

“Anak saya di rumah sudah Al-Quran. Di sekolah buku A Ba Ta Sa buku 2 pun tak lulus lagi, tak lulus lagi.” Keluhan seorang ibu ini menjelaskan betapa perbedaan versi Al-Quran yang dirujuk memberikan pengaruh besar. Masalahnya, pada umumnya Al-Quran yang tersedia adalah versi Indonesia. Bahkan untuk keterampilan mengaji yang ‘hanya bisa’ mengaji tanpa mengenali tatabahasanya, perpindahan versi Indonesia ke versi Timur Tengah dapat menyebabkan kita seperti belajar mengaji lagi, setidaknya meraba-raba lagi bacaan tepatnya. Dengan demikian, penggantian buku Iqra oleh buku A Ba Ta Sa mendorong keperluan untuk mengganti versi Al-Quran dan untuk pembaca dengan keterampilan standar perlu belajar lagi mengaji.

Aku masih ingat alasan yang kuberikan pada saat orangtua atau kursus mendorong sekolah belajar Matematika-nya memakai Kumon, Sempoa, Mental Aritmetika, Jarimatika. Kataku, mudah kok Matematika tingkat SD itu. Waktu mempelajarinya juga teramat banyak. Secara keseluruhan palajaran Matematika juga mendorong pengalaman bernalar yang kuat dan logis. Boleh jadi yang baru itu lebih mudah, hanya saja ia tetap saja tambahan. So, kenapa aku tidak menolak A Ba Ta Sa dengan alasan yang sama?

3. Siapa Bertanggung Jawab?

Semua manajer kelas (MK) 2 pun mengeluhkan buku A Ba Ta Sa. Mereka sepertinya sama denganku, kemampuan mengajinya tidak sampai dengan penguasaan tatabahasanya. Mereka mengeluhkan berbagai tanda baca yang tidak mereka kenali. Oh ya, khusus untuk pelajaran mengaji yang pelayanan anaknya individual, MK pun dibebankan tugas mengajar berbagi dengan guru agama. Tentu saja guru agama sendiri tidak bermasalah secara pribadi dengan buku A Ba Ta Sa, tapi bahwa mereka menghadapi masalah yang disodorkan anak-anak, jawabannya ya.

Ah, kalau masalah yang ditimbulkan pergantian buku Iqra dengan buku A Ba Ta Sa itu banyak, lalu kenapa sampai dilakukan? Bapak yang bertanggung jawab! Riang lho kalau teman-teman memprotesku. Karena aku tidak tahu menahu, tentu saja ini tersimpan dalam hati, bertanyalah, “Apakah tidak pelatihan dulu?” Keputusan memakai buku A Ba Ta Sa di kelas 1 (hanya kelas 1) tahun ajaran 2007-2008 (yang sekarang kelas 2) diawali dengan pelatihan penggunaan buku A Ba Ta Sa. Cuma, 2 MK sedang cuti ketika pelatihan berlangsung, MK lain mengeluhkan itu sudah setahun yang lalu. Ya, mereka tidak mendapat pelatihan lagi.

Aku terkejut, dalam tumpukan masalah, dikeluhkan pula oleh MK bahwa waktu pelajaran mengaji berkurang dari 4 hari menjadi 3 hari. Hebatnya yang 1 hari (per hari 1 jam pelajaran) itu dipakai pelajaran Agama Islam (sesuai Kurikulum Nasional). Padahal tidak pernah pelajaran Agama Islam jadi masalah. Lha wong kurikulum agama Islam itu 100% koginitf, tidak mungkin lah menimbulkan masalah. Tahun-tahun sebelum ini SD Hikmah Teladan malah tidak definitif menyatakan jam khusus pelajaran agama Islam. Lalu kenapa dan siapa yang mengambil keputusan?

Dalam Forum Parallel dengan kelas 6 hal sama dimunculkan juga dan juga lagi-lagi tidak ada yang tahu kenapa dan siapa yang membuat keputusan itu. Masalahnya, siapa yang bertanggung jawab kalau kejadian seperti sekarang bahwa target mengaji dan (di kelas 4, 5, 6) target hafalan tidak bisa tercapai? SD Hikmah Teladan jadi kelihatan aslinya kalau menjawab masalah seperti ini: ada yang cuci tangan, ada yang membebankan pada dirinya apa yang bukan tanggung jawabnya, yang berlepas tangan sambil menunjuk ke sana-ke mari, dan ada yang bersemangat sekali membongkar permasalahannya.

Sampai hari ini aku tidak tahu sebaiknya bagaimana menghadapi semuanya. Kadang, atau memang begitulah aku, aku menikmati perjalanan menemani dan memprovokatori teman-teman untuk berpikir, menemui kesempatan menguji arti kepemilikan, menikmati keragaman dan kekayaan perspektif, dan belajar mengenal diri sendiri (sebagai akibat ‘diri sendiri’ yang lain muncul) dan berprasangka akan kepribadian orang. Banyak juga kan yang dipelajari kalau pun sekedar perjalanan menemukan permasalahan, mengungkapkan dan berpendapat tentang masalah itu?

Categories: Forum Paralel
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: