Home > MH. Aripin Ali > Katanya 40 (1): Kuasa Tuhan dan Tetangga Sebelah

Katanya 40 (1): Kuasa Tuhan dan Tetangga Sebelah

Anak laki yang dibesarkan di kampung yang perempuannya masih mandi di tempat terbuka, wajar ya kalau pernah ngintip. Walau wajar, tetap saja nakal. Ah, si anak kecil yang sembunyi di balik pepohonan itu dagdigdug dengan apa yang dilihatnya: takut ketahuan dan takut dengan apa yang kini diketahuinya.

I

Di musim kemarau, ladang-ladang yang tidak ditanami, kepemilikannya jatuh pada kami, anak-anak. Kami akan menghabisi waktu sepulang sekolah dengan berburu berbagai macam jamur, sisa umbi-umbian, jengkrik atau menikmati apapun sebagai pemilik baru lahan. Begitu juga sungai Citanduy yang surut menjadikan nyali kami pesta air di kolam pak Haji beralih tempat. Tak perlu lagi khawatir ketinggalan celana karena pak Haji muncul mendadak dan membuat kami terbirit-birit. Oh ya, di kampungku, juga biasanya di kampung lain, haji itu banyak. Hanya anak-anak menyebut seseorang dengan panggilan haji kalau orang yang memang sudah berhaji itu kikir, galak, pokoknya musuhan deh sama anak-anak.

Suatu sore saat kami sudah puas bermain di Leuwi Kalapa Tilu sungai CItanduy, aku tidak pulang dengan teman-teman sebaya, tapi dengan kakakku, kakak ipar, dan beberapa teman lainnya. Bersama para pemuda ini, jalan pulang pun tak biasa, yaitu melalui tebing. Tidak berbahaya, malah lebih asyik. Berbeda dengan jalan biasa yang berakhir di pematang sawah, jalan tebing berakhir di kebun Abah Akung. Kebun dengan cukup banyak pohon-pohon besar dan berbuah ini, berpagar. Mencurigakan memang. Tapi ini sore, waktu Abah Akung sudah selesai mengontrol kebunnya. Demikian juga pagar kebun yang dijalari tumbuhan rambat membuat kami yang di dalam kebun tak mudah terlihat. Tak perlu khawatir dan jangan merasa dicurigai. “Stt. Tiarap euy!” seru kakak ipar mengejutkan kami semua yang kini sudah tiarap. “Lihat itu.” Mata kami semua tertuju ke mana telunjuk mengarah. Sepasang muda-mudi berjalan di luar kebun menuju sungai. Sore, yang kami pun terlambat pulang lho. Siapa tidak curiga.

Kami, benar-benar seperti sedang mengintai pergerakan musuh, ke luar dari kebun saat mereka meniti jalan menurun ke arah sungai. Karena sudah jelas akan ke mana, kami mengambil jalan pintas di antara pepohonan liar. Tempat kami bersembunyi sangat strategis. Mereka tidak akan menduga bahwa kami leluasa melihat tangan yang berpegangan itu melompat dari satu batu ke batu lain dan berhenti di sebuah batu yang besar dengan sebagian permukaannya agak datar. Setelah merasa yakin tidak ada orang lain, tapi tetap diawali dengan melihat sekeliling, satu per satu pakaian dilepas. Tanpa terhalang, sekadar ilalang pun, dibagian yang akan melegenda di kepalaku, terekam untuk pertama kalinya adegan senggama. Aku duga saat itu aku kelas 3 sekolah dasar. Memang anak ingusan.

Memang anak ingusan? Aku mengalami suatu periode di mana peristiwa itu sangat aku ingat. Hanya karena kejadian-kejadian pemicunya negatif dan peristiwa itu aku gunakan sebagai pembenaran, aku mulai mencurigai dirinya sendiri. Jangan-jangan ini cuma fantasi anak kecil yang tak malu mengintip. Kecurigaan ini mendapat kesempatan dibuktikan saat kakakku yang lama bekerja di Malaysia pulang. Kutanyakan apakah benar peristiwa itu terjadi?

Bukan hanya jawaban pembenaran yang kudapatkan, melainkan segala keriangan yang tertangkap dari suaranya dan keterpesonaan sorot matanya, membuatku terhenyak. Khayal para pemuda mendapatkan kisah, sementara khayalku hanya tahu itu semata cuplikan kejadian.  

II

Orangtuaku keduanya guru agama. Sudah sepantasnya aku mengenal hukum perbuatan dosa besar dan apa saja yang termasuk dosa benar. Berjinah sama dengan membunuh tanpa alasan. Berjinah dikelompokkan sebagai dosa besar bersamaan dengan kemurtadan. Latar belakang kakek dan ayahku yang dekat dengan gerakan pembaharuan dan pemberlakuan syariah, tentu menambahkan kepadaku koleksi yang cukup dari perilaku, budaya, kelompok ‘yang lain’. Kuingat pula komik-komik pada saat aku sekolah tingkat dasar awal yang dengan sangat gamblang menggambarkan kehidupan di neraka. Pelaku jinah yang selangkangannya terbuka lebar ditusuk benda sebesar paha orang dewasa gemuk, bagian komik yang kini masih kuingat.

Yap, di kepala anak ingusan itu ada 2 peristiwa yang secara normatif dinyatakan tak terpisahkan. Peristiwa “sungai Citanduy” menyebabkan turunnya kutukan Tuhan. Namun bukan itu yang terjadi, apa yang ada di kepala si anak ingusan tentang perbuatan jinah dan horor akibatnya, ternyata bagi kedua penjinah, bagi kampung kami, bagi sungai Cintanduy di musim kemarau, adalah kehidupan sehari-hari berjalan seperti biasa.

 Seperti biasa, rumahku dengan rumah si perempuan hanya terpisahkan jalan kampung dan 2 halaman. Adiknya, si Tatang, temanku main dan adik kelas di sekolahan. Aku mudah dan leluasa main ke rumahnya. Si lelaki sebatas kuketahui ia tinggal dengan neneknya, persis di pertigaan di samping bale desa. Cuma, rumah itu berhadap-hadapan dengan warung tempat aku jajan dan ibuku belanja. Jaraknya sekitar 100M dari rumah kami. Lain lagi hubunganku dengan ibu si lelaki. Inilah rumah di mana untuk pertama kali aku mengenal seorang “ibu yang lain” yang menyayangiku.

Semua kedekatan yang komplek itulah yang menjadi teror dalam hidupku. Aku tak bisa mengelak ulangan peristiwa “sungai Citanduy” saat ketemu si Tatang. Apalagi saat ketemu kakaknya, helai kain si perempuan itu tak menghalangi khayalku mengelana tubuhnya. Khayalku liar saat langkahku mendekat ke warung di dekat bale desa. Kesunyian jalan pulang lewat belakang, kolam-kolam, hamparan sawah dan pepohonan, membebaskan aku bertanya tentang kehidupan seks pria dewasa. Lain lagi di rumah “ibu yang lain”, di rumah yang terletak di pertengahan jarak 100M, pertanyaan tentang arti kasih sayang berhamburan saat aku menikmati dimanja “ibu yang lain”, tepatnya pikiran yang mencoba menghubungkan kasih sayang seorang ibu dengan anaknya yang berjinah.

Teror lain lebih serius dari teror para tetangga. Aku punya pertanyaan kemudian, tentang kuasa Tuhan, tentang kuasa agama. Setiap masa kecilku dikhianati ‘keindahan’ khayal kakak si Tatang, aku disakiti oleh pengetahuan keagamaanku. Dipertontonkan padaku Tuhan yang hanya mengancam, menakuti, menjanjikan hukuman, merencanakan balasan. Tuhan yang membiarkan yang membangkang kepada-Nya lewat melenggang. Tuhan yang kehilangan jangkauan ke bumi. Bagiku, peristiwa “sungai Citanduy” menyatakan bahwa agama telah kehilangan Tuhan yang memilikinya.

III 

Ada alasan yang mengalir di sepanjang sejarahku yang mengabsahkanku sebagai penggelisah. Bahkan telah kujalani hidup sebagai pesakitan kegelisan. Aku tak nyaman dengan hati yang damai. Saat seperti ini, akan kucari berbagai jalan yang dapat melukai hatinya. Kerinduan kepada Tuhan pun kucari dengan jalan pelanggaran. Seringkali, sebetulnya, kupertontonkan menapaki 2 jalan berseberangan pada sebuah langkah. Kegelisahan adalah udara yang kuhirup sebagai syarat aku hidup.

Ah, seperti imam al-Ghazali, kuinginkan kegelisahan yang menemukan Kebenaran. Hai, kau juga tahu, aku sedang mencoba jalan yang tak bercampur, jalan kebenaran untuk Kebenaran. Kucoba terus jalan kegelisahan yang menjadi berkah.

Categories: MH. Aripin Ali
  1. November 24, 2008 at 3:29 am

    Membaca tulisan ini membuka sebuah keburukan moral yang pernah menimpa saya sewaktu kecil. Saya berusaha untuk tidak mengingat-ingat kembali karena rasanya merusak pikiran saya.
    Saya berbaik sangka saja sama Dia bahwa Dia memaafkan orang-orang yang belum kena taklif hukum. Cuma memang tak mudah untuk melupakan itu. Entahlah.

  2. sbachrun
    November 24, 2008 at 7:04 am

    Aku selalu berada ditengah pergumulan dua hal. (1) “Saklek” menerapkan kaidah norma pada setiap perbuatan {yang susah sekali untukku} dan (2) Kebebasan penuh untuk mengartikulasikan kegelisahan {yang lalu dan saat ini} dengan memperbaiki diri secara menerus. Dua-duanya menyisakan pertanyaan tunggal “bener ngga ya?”

  3. truntum
    November 25, 2008 at 2:44 am

    Kita semua pernah melakukan kesalahan. Tapi Tuhan itu maha penyayang. Dia juga pemaaf.
    Hidup ini sebuah peziarahan dengan kegelisahan kita masing-masing. Menerima kegelisahan sebagai bagian dari hidup menjadi langkah awal untuk masuk ke dalam kebenaran dan menyembuhkan luka-luka masa lalu. Sebagai orang dewasa, kita perlu membuka ruang dialog untuk anak-anak agar mereka dapat menyuarakan kegelisahannya. Anak-anak sering merasa sendiri dan tidak pernah dimengerti oleh orang dewasa.

  4. kusekolah
    November 26, 2008 at 6:32 am

    Jerrold Lee Shapiro, “The Goodfather”, mengatakan, “Orang-orang yang tidak pernah menyadari sakit hati dan penolakan yang dipendamnya sejak masa kanak-kanaknya, tanpa sadar cenderung menurunkan perasaan tersebut kepada anak-anak mereka. Introspeksi diri dan memahami motivasi serta sejarah pribadi merupakan prasyarat untuk menjadi ayah yang baik.” Memang keinginan menjadi ayah yang baik, hal yang masih jauh dari yang kuharapkan, aku menulis tulisan ini. Ha, ha, aku juga memudahkan jalan bagi yang curiga, ada yang tidak baik dariku, merugikan, bahkan berbahaya, silahkan mengambil jalan perpisahan.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: