Home > terbata-bata > Kebebasan Belajar

Kebebasan Belajar

Ditanyakan padaku melalui SMS: Saya ingin menerapkan kebebasan belajar pada anak-anak. Maksudnya, kalau anak-anak itu sama sekali gak suka pelajaran tertentu, ya gak usah dipaksa. Bagaimana menurut Bapak?

Entah kenapa aku seperti terganggu untuk menjawabnya. SMS yang dikirim tanggal 30 Oktober 2008, baru kubalas tanggal 12 Nopember 2008, dan ini pun dengan pertanyaan, “Apakah kebebasan itu mencakup pelajaran agama?” Pertanyaan dengan jawaban yang sudah kuduga, tapi tetap kuajukan sekadar berharap mendapat kejutan. Jawabannya, “Atuh eta mah fardu aen, maksud saya ilmu yang lain, karena ada anak yang sukanya hands on aja, gak mau nulis kecuali diary super singkatnya, terutama bahasa.”

Aku lah yang membuat kejutan, bagiku sendiri, juga bagi Ibu yang biasa dengan busana Muslim yang menampakkan mata semata. Bagiku ternyata tidak ada kebebasan pada setiap anak untuk memilih belajar pelajaran tertentu dan menolak yang lainnya. Alasannya, ternyata keharusan belajar itu hegemonik. Rezim ‘pendidik’ itu otoriter. Inilah beberapa rincian alasan yang sempat terpikir:

1. Alasan norma agama. Berbeda dengan salat, misalnya, kewajiban belajar itu tanpa perintang. Tidak ada ketentuan diwajibkan setelah baligh karena belajar dimulai setelah kelahiran kita. Kemiskinan yang menggugurkan kewajiban membayar zakat, tidak berlaku dalam belajar. Menstruasi yang menetapkan perempuan dilarang menjalankan kewajiban salat, tidak bisa ditetapkan dalam belajar. Bahwa belajar wajib, tak terhalang apapun. Lalu sikap bagaimana yang seharusnya bagi kewajiban agama yang utama seperti itu? Kalau tidak membayar zakat saja negara bisa mengambil secara paksa, tentu lebih dari itu yang seharusnya dilakukan negara terhadap warganegara yang tidak memenuhi kewajiban belajar. Kalau negara tidak mengambil peran ini, pemahaman kita terhadap ushuluddin (prinsip-prinsip agama) pun sudah sepantasnya menempatkan hal ini pada prioritas pertama.

2. Konsekuensi dari alasan norma agama. Kemuliaan ilmu juga terkait dengan keutamaan pencarinya dan kemuliaan harkat yang mengajarkannya. Kewajiban belajar yang lebih utama berarti kewajiban menghormati ‘guru’ yang teramat ditekankan. Ini semata konsekuensi logis dari penilaian kita terhadap norma agama saja.

3. Ketaatan kepada orangtua. Dalam Islam, ketaatan pada orangtua (terutama ibu) benar-benar ditekankan sehingga diletakkan setelah ketaatan pada Allah. Maka jika aku dan istriku menyekolahkan anakku, anak-anak tidak hanya berhadap-hadapan dengan harapan orangtua, namun juga pemenuhan harapan itu adalah bukti ketaatannya pada orangtua.

4. Faktor sosial. Secara sosial lebih rumit lagi. Penilaian sosial pada umumnya negatif untuk mereka yang tidak sekolah, putus sekolah, atau bahkan bersekolah di sekolah yang (dijadikan) tidak bermutu saja sudah dapat dipandang sebelah mata. Pendidikan informal dan non formal yang pada kenyataan peruntukan pada umumnya bagi mereka yang gagal dalam pendidikan formal, merupakan contoh lainnya; juga berlakunya strata sosial pada sekolah-sekolah kita, membuktikan betapa sekolah kuasa menentukan identitas.

Begitu hegemoniknya ‘dunia belajar’ pada anak-anak kita, membuatku menolak kemungkinan kebebasan dalam memilih untuk belajar atau tidak. Belajar adalah wajib. Menghormati guru adalah wajib. Belajar semua mata pelajaran yang yang ditentukan pihaksekolah adalah wajib. Mengikuti aturan sekolah adalah wajib. Lalu, dapatkah belajar menjadi menyenangkan? Dapatkah membicarakan belajar yang memerdekakan orang?

Seperti halnya ketulusan kita menghambakan diri dikarenakan kelayakan Tuhan disembah; kewajiban yang hegemonik dalam belajar semata menegaskan kriteria kelayakan yang teramat tinggi untuk mengajar. Ah, mutu pendidikan yang terselenggara kini tak layak keberadaannya merujuk pada dalil agama. Pun menurutku, bagaimana menjadi guru di negeri ini, perjuangan dan pengorbanannya tak mengikuti sekadar arah perjuangan dan pengorbanan seorang ibu (: mencintai tanpa syarat). Guru dapat punya alasan tak layak ditaati. Bahkan negara yang tak beres ini pun menjadi semacam ijin bagi warga negara untuk mencari jalan subversif. Duka atuh.

Karena wajib adalah wajib, menurutku sekolah seharusnya tidak mengambil banyak hal secara serius. Segala ketaklayakan, kekurangan, keterbatasan harus dilayakkan dulu, dilengkapi, disempurnakan dulu. Pelayakan diri sebagai guru dan lain sebagainya, inilah belajar. Dan sungguh, bagi kenyataan pendidikan saat ini, kewajiban guru belajar jauh teramat besar dibandingkan kewajiban belajar pada anak. Implikasinya sederhana, kalau anak belajar sehari melebihi 6 jam, guru harus lebih dari melipatgandakannya. Tanpa menambah waktu terlalu banyak, setiap guru yang dapat belajar sambil mengajar dan belajar pada setiap anak (: menegaskan semua anak di kelas unik), dapat dikatakan telah memenuhi kewajibannya.

Belum Kusimpulkan

Di Korea Selatan yang merupakan negara peringkat kedua terbaik penyelenggara pendidikan, tidak masuk universitas negeri sudah diidentikan dengan masa depan suram. Negara abis-abisan memajukan pendidikannya, termasuk abis-abisan mengatur dan menentukan perkara remeh-temeh. Namun demikian, bagi setiap warga negara ‘bersekolah’ bagai meniti jalan takdir. Lalu bagaimana dengan negara kita?

Di negeri ini, negara dengan mutu penyelenggaraan pendidikan peringkat boncot, memaksakan untuk diperlakukan sama dengan Korea Selatan. Jangan teringat arogansi mereka terkait kontroversi ujian nasional, penjelasan ujian (ulangan) harian pun, dilindungi oleh undang-undang dan peraturan menteri. Di negeri ini, intervensi negara itu sampai pada apa yang berlangsung sehari-hari, yang diajarkan guru yang dipelajari anak, bahkan sampai buku pelajaran yang memberatkan tas anak. Tidak tahu malu memang. Dan sebetulnya lebih tidak tahu malu kepatuhan yang diberikan para penyelenggara pendidikan, para guru, juga kita pada umumnya. Namun jangan dipolitisir. Maksudku, penolakkan untuk tunduk, tetap -tanpa bisa ditawa-tawar- dihadapkan pada kewajiban menjamin terselenggaranya mutu pendidikan yang baik. Maka aku pun sedih karena betapa sedikit yang menolak kurikulum nasional, menolak diatur oleh birokrasi yang bebal dan korup; dan lebih sedikit lagi, dari yang menolak itu, dapat memberikan pendidikan yang lebih baik buat anak-anak kita.

Tentang guru-guru aku sih tidak bermasalah. Kalau ada teman yang mengikuti pikiranku menyebut aku itu sekuler, rasanya dalam hal ini aku memang melakukan sekulerisasi. Aku tidak mengijinkan otoritas guru dipahami sebagai akibat keutamaan belajar (dengan merujuk dalil-dalil agama); otoritas guru adalah akibat kompetensi pribadi semata, dengan kata lain, penghargaan dan penghormatan anak pada guru, semata bersesuaian dengan kelayakan pribadi guru. Namun kini, kekuasaan (norma agama, norma sosial, kenyataan sosial, dan lain-lain) kerap dipertontonkan saat kalayakan pribadi tak mencukupi mengakibatkan penghormatan dan pengikutan. Perlu kusampaikan, kekuasaan paling besar yang menjadi senjata guru-guru untuk menguasai anak-anak adalah belenggu birokrasi pendidikan. Guru-guru sebagai pelaksana dan operator birokrasi pendidikan, tentu saja tidak akan melahirkan lingkungan belajar sebagai ikatan antara aku guru dan aku anak yang bebas dan autentik. Tidak ada kuasa pada guru untuk memilih dan menentukan apa yang terbaik buat anak didiknya dari semua yang ditentukan negara. Akibatnya, tidak pernah guru mendengarkan apa yang lebih utama bagi anak didiknya. Guru, anak, kelas, sekolah, adalah bagian dari mesin birokrasi pendidikan, bukan bagian dari idealisme “kebaikan dunia dan keselamatan akhirat” yang hanya bisa dicapai karena ilmu.

Secara sosial, saat ini, lebih rumit lagi. Semula lingkungan sosial menghakimi sekolah hanya dalam kategori-kategori yang terikat kata “bodoh” dan “pintar”, kini sudah disertakan kategori-kategori agama (dengan banyaknya sekolah-sekolah bernuansa agama) dan ekonomi. Tahu lah sendiri akhirnya bagaimana sekolah menjadi lahan terbuka pada berbagai pihak untuk melakukan perbudakan pada anak-anak.

Categories: terbata-bata
  1. quarkie
    November 26, 2008 at 2:07 pm

    Ketika belajar menjadi ‘kewajiban’ … jangan2 tawuran pelajar sekolah menengah sampai mahasiswa merupakan model pemberontakan salah arah atas hegemoni pendidik yang membebani mereka …
    Ketika belajar menjadi ‘kewajiban’ … jangan2 anak2 tahu banyak hal namun tidak pernah tahu apa2 …
    Ketika belajar menjadi ‘kewajiban’ … jangan2 kita cuma akan menjadi negeri para tukang dan tak pernah menjadi negeri orang merdeka …
    Ketika belajar menjadi ‘kewajiban’ … jangan2 anak2 hanya tahu nama tanpa bisa menangkap makna …
    Banyak teman sekantor yang mengernyitkan dahi ketika saya menjawab pertanyaan mereka, mengapa saya mau bersusah-susah sekolah lagi. “Saya lakukan karena saya senang” kelihatan asing bagi mereka. Jadi saya biarkan saja mereka asyik menyimpulkan sendiri dengan paradigma mereka bahwa saya sedang menyiapkan karir ke depan dsb dsb.
    Saya tidak heran dengan analisis teman2 saya. Atau setidaknya, saya maklum. Tapi saya heran mengapa orang tidak bisa menerima alasan bahwa ketika belajar menjadi hobi, bisa saja orang memperlakukannya seperti hobi2 lainnya. Pengorbanan ekonomi, pengorbanan waktu dll. Ada juga sih yang berkomentar agak ‘terlalu’ berbobot, “harta minta dijaga, tapi ilmu akan menjaga”. Saya cuma bisa manggut2 saja karena bingung harus bilang apa. Terus terang, niat saya tidak seindah atau seideal itu. Pingin sih, tapi jujur saja bukan itu alasan yang terpikir waktu keputusan itu diambil.
    Tapi, apa peduli saya kalau orang tidak mengerti bahwa belajar itu bisa menjadi begitu menyenangkannya lho. Ada kepuasan yang sulit digambarkan ketika kita serpihan pengetahuan yang kita kumpulkan memperbaiki sedikit pemahaman kita mengenai ‘wajah’ Tuhan … betapapun sedikitnya itu…

  2. November 29, 2008 at 3:03 am

    Wah, pertanyaan ini juga sulit saya simpulkan! Jawaban saya untuk pertanyaan-pertanyaan semacam ini selalu ambigu. Anak tidak mau belajar apakah harus dipaksa?

    Di satu sisi, saya percaya minat dan motivasi dari dalam diri anak adalah sumber belajar yang tidak pernah ada habisnya. Karena waktu selalu terbatas, tentunya lebih baik memprioritaskan waktu anak untuk mengikuti minatnya. Dengan demikian, motivasinya untuk belajar terus terpicu karena dia berhasil mengkonstruksi pengetahuan-pengetahuan baru dan menemukan pertanyaan-pertanyaan baru.

    Namun di sisi lain, ada pengetahuan-pengetahuan dan ketrampilan-ketrampilan tertentu yang penting untuk diketahui – walaupun mungkin tidak sedalam pengetahuan atau ketrampilan kita tentang dan dalam ilmu dan bidang yang kita minati. Karena dalam hidup kita tidak selalu bisa memilih untuk menjalani semua yang nyaman dan sesuai dengan keinginan diri, saya juga merasa ada nilai pendidikan yang tinggi dari upaya untuk menggeluti sesuatu yang kurang atau tidak kita minati.

    Untuk menimbang diantara kedua polaritas tersebut diperlukan bukan saja pengetahuan, tapi juga kebijakan. Yang pertama saja sudah sulit untuk didapatkan, apalagi yang belakangan🙂

  3. December 2, 2009 at 3:08 pm

    terima kasih banyak

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: