Home > Kurikulum Esdehate, SekolahKu > Lesson Study: Tinjauan Umum (1)

Lesson Study: Tinjauan Umum (1)

Beberapa hal di SD Hikmah Teladan baru terbaca pada saat pengamatan Lesson Study (LS) sepekan yang lalu. Salah satunya mengenai perbedaan beban antara guru bidang studi dengan manajer kelas (: semua manajer kelas adalah guru kelas).

Guru bidang studi mencakup mata pelajaran IPA, Olahraga, KTK, bahasa Inggris, bahasa Sunda, Seni Musik, Pendidikan Agama Islam, Komputer. Kecuali Olahraga (karena diparalelkan) dan Komputer, guru bidang studi mengajar sendirian, MK kelas 1 dan 2 setiap mengajar berdua karena kelas 1 dan 2 memang per kelas dikelola 2 MK, sedangkan MK kelas 3, 4, 5, 6 masing-masing kelas hanya seorang. 

Penjelasan Pengantar

Kenapa mata pelajaran IPA, PAI, bahasa Inggris, bahasa Sunda, KTK, Komputer, Olahraga, Seni Musik dikelola guru bidang studi?

1. Mata pelajaran IPA dipegang guru bidang studi karena SD Hikmah Teladan mengharuskan pelajaran ini berbasis praktek. Gurunya harus belajar lagi. Seperti bagaimana proses belajarnya, lingkungan belajar dan cara penilaian, sumber belajar, juga pengelolaan kelas yang agak berbeda perlu dipelajari lagi.

2. Bahasa Inggris dan bahasa Sunda (juga bahasa Arab untuk kelas 4, 5, 6) ditetapkan untuk dikelola guru bidang studi karena jarangnya guru yang menjadi pengguna kedua bahasa tersebut. Kondisi guru-guru kami sampai saat ini pun masih demikian.

3. Saat kami merekrut guru untuk mata pelajaran Olahraga, Seni Musik, Komputer, KTK, sangat memperhatikan latar belakang pendidikan dan keahlian. Ya, 2 hal ini pada mereka ditekankan lebih dibandingkan dengan guru lain.

4. PAI (: Pendidikan Agama Islam, bahasa Arab, Mengaji, Hafalan Juz ‘Ama) dipegang guru bidang studi selain alasan yang sama dengan guru Olahraga dan lain-lain, juga karena akhirnya mata pelajaran ini atau agama diinginkan jadi keunggulan SD Hikmah Teladan.   

Kenapa MK kelas 1 dan 2, 2 orang, sedangkan MK kelas 3, 4, 5, 6 hanya 1 orang? Aku tidak tahu pasti jawabannya. Biar saja lah yang sudah asyik (MK kelas 1 dan 2) jangan diganggu. Hanya, kenapa MK kelas 3, 4, 5, 6 tidak diberikan kesempatan untuk asyik juga? Ini sepertinya khas di SD Hikmah Teladan. Yaitu, tanggung jawab mengajar mata pelajaran tertentu pada kelas paralel. Misalnya, di kelas 5 yang ada 3 kelas separalelnya, MK 1 mengajar bahasa Indonesia di 3 kelas, MK 2 mengajar IPA di 3 kelas, MK 3 mengajar Matematika di 3 kelas. Akibatnya, masing-masing MK bukan hanya mengenali kelasnya melainkan mengenali pula kelas lainnya, dan kami mewacanakan kergaman ini di Forum Paralel setiap hari Jumat selama 2 jam pelajaran.

Perbedaan Itu

SD Hikmah Teladan sebagai sekolah inklusi dan sekolah yang memberikan kenyamanan kepada anak-anak untuk mengekspresikan diri, beresiko dengan hadirnya anak berkebutuhan khusus, anak-anak dengan keragaman dan kesenjangan daya pikir yang kerap mencolok, dan, ini lebih banyak, anak berperilaku khusus (APK). Pada penanganan anak dengan daya pikir di level bawah (lambat belajar) dan di level atas, dan penanganan APK inilah perbedaan itu terjadi.

Di kelas 5 saat LS pelajaran bahasa Sunda, ada lebih dari 5 anak yang tidak menyerap materi pokok yang disampaikan guru dan akibatnya, tidak dapat mengerjakan latihan. Waktu yang tersisa untuk latihan dan kenyataan bahwa ia hanya sendiri di kelas, hanya sempat 1 anak yang memperoleh bimbingan individual. Tentu saja ini masalah serius karena anak yang lainpun memiliki hak yang sama untuk dilayani. Apakah anak yang lain, terekam dalam ‘catatan’ guru untuk ditangani pada kesempatan mengajar berikutnya? Apakah keterbatasan ini juga dialami MK? Apakah ada komunikasi untuk melakukan pembagian penanganan di antara guru-guru dan MK?

Selain menjajagi berbagai kemungkinan penggunaan metode mengajar, aku punya usul, masalah ini dikelola kepala sekolah. Memanfaatkan data umum tentang anak-anak yang perlu ditangani individual, kepala sekolah menawarkan kepada guru-guru “siapa akan menangani siapa”.

Berbeda dengan kejadian bahasa Sunda, MK lebih dimasalahkan dengan penanganan APK dan menjembatani kesenjangan dalam kecepatan belajar. Komunikasi yang intensif di antara MK, secara alamiah menempatkan mereka untuk menangani masalah kelas bersama-sama. Kejadian yang dialami guru bidang studi, mereka alami hanya pada anak yang bermasalah di semua bidang studi yang mereka pegang dan pada anak dengan APK yang juga lambat belajar. Di sini kepala sekolah perlu mengambil peran mengelolanya, setidaknya mengontrol bahwa hak anak untuk belajar dan mendapat pelayanan dipenuhi.

Perbedaan yang Lain

Adakah perbedaan di antara pelajaran dengan guru bidang studi? Ternyata di mata anak-anak ada pelajaran yang, sebagai mata pelajaran, menyenangkan dengan sendirinya dan kurang. Yang menyenangkan dengan sendirinya adalah, KTK, Olahraga, Komputer, IPA (untuk kelas 1, 2. Kelas lain belum diamati. Seni Musik juga belum diamati). Sedangkan PAI, bahasa Sunda, bahasa Inggris cenderung anak lalui (belajar) sebagai hal yang tidak dapat mereka tolak terang-terangan.

Aku ingat pada saat LS pelajaran Tahfiz (hafalan surat-surat pendek al-Quran) bagaimana anak-anak memperagakan berbagai ekspresi kebosanan sepanjang kegiatan belajar berlangsung. Di akhir waktu saat guru menyebutkan setelahnya, anak-anak belajar Komputer, keriangan merebak, celetuk kegembiraan terlontar. Persis saat kegiatan belajar diakhiri, anak-anak berhamburan ke luar kelas, berlomba lebih sampai duluan di Kelas Komputer.

Untuk mata pelajaran yang sebagai mata pelajaran pun sudah disenangi anak-anak, berkaitan dengan peran guru, aku setuju dengan guru KTK dan Komputer yang mengharuskan diri untuk memberikan kenyamanan dan rasa senang pada anak-anak. Kelas mereka benar-benar santai, penuh kegembiraan, dan rasanya tidak nampak tekanan pada mereka untuk mencapai target pembelajaran.

Bagaimana untuk pelajaran Tahfidz, bahasa Sunda, dan lainnya yang dinilai anak membebani? Intervensi metode pembelajaran yang dapat membuat anak-anak gembira, senang, sangat terlibat, menjadi sebuah keharusan. Yap, begitu juga dengan media belajar dan sumber belajar. Agenda perubahannya banyak euy. Pembelaan atau keberpihakan, termasuk hal yang mendesak untuk mendorong perubahan pada mata pelajaran PAI dan bahasa Sunda (sebagai bahasa ibu).

  1. quarkie
    November 23, 2008 at 2:16 pm

    Kembali saya tertarik dengan ungkapan akang,”…anak-anak dengan berbagai ekspresi kebosanan…” ..hehe.. ungkapan itu menggambarkan suatu hal yang gak asing dengan kita – atau minimal dengan saya …
    Saya cuma berandai-andai nih, bisa gak ya tahfiz dibawakan dengan ‘agak bermain’ … misalnya, ada game untuk menebak kelanjutan ayat … atau model cerdas cermat … atau yang lebih seru lagi, anak2 dengan berkelompok dikasih ‘clue’ yang tersebar di area sekolah berupa ayat2 tahfiz buat nyari harta karun … terus terang, anak2 saya yang notabene siswa2 SDHT biasanya senang kalo diajak bermain model harta karun begini nih … gimana juga saya tetap berpendapat, anak2 perlu senang dulu dengan format supaya bisa menangkap substansi … jangankan anak2, saya aja yang udah tua begini kadang2 begitu juga …
    Nah, tentang basa sunda … buat kami2 yang ibunya tidak berbahasa sunda, hal ini bisa jadi problem … apalagi apabila anak2 sehari2 tidak menggunakan bahasa sunda, kebayang lah sulitnya pelajaran yang satu ini. Tapi ini bukan berarti pelajaran ini gak perlu, kang … saya pribadi ingin anak2 mahir berbahasa sunda biar gampang gaul dengan lingkungan masyarakatnya … tapi mungkin sekali lagi formatnya aja yang perlu disempurnakan…
    Begini, saya ambil contoh pelajaran bahasa inggris dasar … mungkin akang ingat waktu belajar bahasa inggris pertama kali, kita gak disajikan cerita lalu diberi pertanyaan bacaan … seingat saya, dulu saya diajari dulu kata2 benda dan kalimat standar seperti: book – this is a book, pencil – this is a pencil … dst. Coba liat buku pelajaran bahasa sunda … wow, di awal pelajaran aja udah langsung disuguhi berparagraf-paragraf cerita dengan bahasa sunda yang kadang2 orang sunda sendiri gak tau …
    Lagipula, apa sebenarnya tujuan pembelajaran bahasa sunda di SD sebagai muatan lokal? … apakah anak2 mau diarahkan jadi ahli tata bahasa sunda? … tentu tidak semua anak akan sependapat dengan itu … saya duga (karena saya bukan orang Diknas, nih) supaya anak paham kultur lokal … nah, kembali lagi soal format … kenapa tidak anak2 diajak misalnya jalan2 ke pasar cimindi (anak2 pasti senang bagian yang ini nih) melihat penggunaan bahasa sunda dalam transaksi … atau belajar mengenal nama2 buah dalam bahasa sunda … atau (bagi yang sudah advanced) bertanya jawab dengan tukang kupat … atau di area sekolah, bikin game dengan clue dalam bahasa sunda (tentu disertai kamus atau dalam satu kelompok ada anak yang sudah biasa berbahasa sunda) … ditanggung seru deh, kang …
    Jadi, menurut saya mah, pelajaran itu netral … gak ada yang menyenangkan atau menyebalkan … yang menyenangkan atau menyebalkan itu adalah persepsi anak terhadap berbagai variabel yang menyertai pelajaran itu … seperti: guru, suasana belajar, alat belajar, metoda belajar, kelas, teman, dan kecenderungan talenta anak itu sendiri …

  2. kusekolah
    November 26, 2008 at 8:34 am

    Seperti sejarah versi Orde Baru yang diarsiteki Noegroho Notosoesanto yang kini diketahui luas perlu diluruskan, saya juga menilai pelajaran agama Islam itu perlu diluruskan. Alias tidak netral kali ya. Tepatnya ‘agama Islam” netral, tapi pelajaran agama Islam tidak lah netral.
    Sejak dari hulunya, dari Kurikulum Nasional, pelajaran agama Islam gak bener. Berbeda dengan Katolik dan Kristen yang kurikulumnya dibuat oleh ahli agama masing-masing, kurikulum agama Islam cuma dibuat oleh pegawai di Pusat Kurikulum. Karena menggandeng undang-undang, mereka tidak dikontrol, tidak diteliti kebenarannya, tidak diusik mazhabnya, dibiarkan begitu saja kriteria kualifikasi keilmuan yang seadanya. Banyak euy.
    Berbeda dengan Katolik misalnya yang mengawal kurikulum sampai ketingkat pembuatan naskah buku pegangan siswa; selepas dokumen kurikulum nasional, urusan dikendalikan penerbit buku. Di sini sedang terjadi tawar-menawar dalam jual beli agama. Jadi betapa beratnya kerjaan menetralisasi pelajaran agama Islam itu. Inilah yang membuat saya gamang, ragu, setengah hati dalam mengurusi pelajaran agama Islam. Kadang yang tercuat malah pikiran untuk menghilangkan pelajaran agama.
    Kalau secara umum Di SDHT, “persepsi anak terhadap berbagai variabel yang menyertai pelajaran itu … seperti: guru, suasana belajar, alat belajar, metoda belajar, kelas, teman, dan kecenderungan talenta anak itu sendiri …” sangat dijaga, tidak demikian dalam hal pelajaran agama. Bagaimana atuh?
    Pelajaran Karakter (materi dan metodologinya) sementara ini, itulah yang diusung untuk menetralisasi pelajaran agama Islam. Semoga.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: